
Azka baru saja selesai menghadiri beberapa rapat hingga waktu makan siang. Azka sudah berda didalam ruangannya bersama Attaya dan juga Devan, mereka masih meneruskan pekerjaan yang tadi hingga ketukan pintu membuat aktivitas mereka terhenti.
Tok tok tok
"Masuk!" perintah Azka.
"Permisi, pak... saya mau mengantar pesanan bapak," kata Lena sambil membaqa paper bag coklat.
"Hmm,"
Lena meletakan paper bag itu diatas nakas, kemudian ia pamit keluar untuk istirahat. Devan menatap Azka seolah sedang bertanya apa isi paper bag itu.
"Makan siang!" singkat Azka kemudian menaruh berkas yang ia baca diatas meja.
"Tau aja kalau lagi laper!" kata Attaya bahagia sambil membuka paper bag itu.
Plak!
Satu tamparan pada punggung tangan Attaya terdengar jelas diruangan itu.
"Apa sih, sakit tau gak!" geram Attaya.
"Bukan buat lo," cibir Azka.
"Lalu?" tanya Attaya.
"Gue lah, kan gue yang pesen... kalau lo mau sana pesen sendiri," kata Azka sambil mengeluarkan isi paper bag itu.
Attaya memutar matanya malas, sedangkan Devan tertawa melihat raut wajah Attaya yang kesal.
"Emang apa isinya?" tanya Devan.
Azka hanya diam sambil membuka kotak makannya itu, terlihat ada sayur-sayuran yang direbus, irisan telur dadar, serta ditaburi bawang goreng dan kerupuk. Sayur-sayuran ditambahkan dengan bumbu kacang atau saus dari kacang tanah yang telah dihaluskan yang kemudian diaduk merata.
"Gado-gado!" hampir saja Attaya dan Devan bersamaan berkata seperti itu.
Azka mengangguk sambil menyuapkan satuk sendok penuh gado-gado kedalam mulutnya, membuat Attaya menelan slavinanya terlihat begitu menggoda saat Azka yang memakannya.
"Aa dikit, Ka! Gue pengen," kata Attaya sambil membuka mulutnya.
"Mau?" tanya Azka, Attaya mengangguk patuh seperti anak kecil.
Azka menyendokkan lagi gado-gadonya, kemudian ia menyodorkan sendok itu didepan mulut Attaya.
"Serius?" tanya Attaya tidak percaya.
"Sure!" kemudian Attaya mendekat dan hap satu sendok gado-gado masuk kedalam mulut bukan mulut Attaya melainkan Azka. Azka tidak seriua untuk menyuapi Attaya ia hanya mengerjai Attaya saja.
"Hahahaa, astaga inget umur. Liat kalian berdua udah kaya anak Tk aja," kata Devan yang tidak bisa menahan tawanya.
"Temen lo itu, pelit!" kesal Attaya sambil.melipat tangannya didepan dada.
"Temen lo juga kan?" saut Devan.
"Tuh masih ada kalau mau," kata Azka sambil menujuk papar bag coklat.
"Bilang dong dari tadi, kan gue juga mau." kata Devan yang langsung mengambil satu kotak gado-gado.
__ADS_1
Sebenarnya Azka memang sudah memasan tiga porsi gado-gado. Ia hanya sengaja mengganggu Attaya, karena itu sangat menyengkan.
"Lo gak mau, Ta?" tanya Devan.
"Biarin aja kalau gak mau buat gue semua, Ka." lanjut Devan mecoba mengambil kota satunya.
Set!
"Gue mau banget!" rebut Attaya sebelum diambil alih oleh Devan.
Mereka bertiga lahab memakan gado-gadonya hingga habis tak terisisa.
"Alhamdulilah kenyang," kata Attaya, dan diangguki oleh Attaya dan Devan.
"Weh tumben ada buah disini?" tanya Devan sambil mengambil satu buah apel merah.
"Hast lo gak tau ada drama tadi pagi gara-gara apel merah," gerutu Attaya jika mengingat tadi pagi.
"Drama apel merah?" tanya Devan.
"Tuh, si bos minta dibeliin apel tapi gak bilang apel merah, yaudah gue beliin apel hijau aja kan murah eh suruh tuker minta yang merah. Gue nyebrang lagi kan mana dadakan lagi mintanya," jelas Attaya sedangkan Devan mendengarkan dengan nyaman sambil memakan apel itu.
"Kasian banget sih, Ta," kata Devan sambil terkekeh.
"Cih, tawa aja terus!" geram Attaya sedangkan Azka hanya diam saja sambil bermain game didalam ponselnya.
"Aneh sih, tumben.. jangan-jangan?" ucap Devan tergantung.
Attaya dan Devan saling bertatapan seolah apa yang mereka berdua pikirkan sama.
"Nyidam?" ucap Attaya dan Devan kompak bahkan mata mereka hampir keluar karena melotot.
"Lo hamil?" tanya Attaya.
"Gak!" saut Azka cepat, ia menatap heran Attaya dan Devan.
"Iya lo hamil, pantes." Attaya memunjuk wajah Azka.
"Gue gak hamil, ya kali cowok hamil." ketus Azka.
"Bukan hamil, Ta. Tapi nyidam," saut Devan.
"Nyidam?" ulang Azka.
"Iya nyidam, em gimana ya jelasinnya," ucap Devan sambil berfikir.
"Lo jadi pengen makan apa gitu gak? Dan harus saat itu juga gak bisa ditunda nanti-nanti kalau pas pengen?" tanya Attaya.
"Iya!" Azka mengangguk.
"Fiks lo hamil! Eh nyidam maksud gue," jelas Attaya, Devan yang ditatapa mengangguk meyakinan.
"Bukannya kalao nyidam itu isrinya kenapa jadi gue?" tanya Azka tak paham.
"Kalau nyidam biasanya emang istri, tapi kadang juga istrinya gak nyidam tapi malah suaminya," jelaa Attaya
"Lo kok paham banget, Ta?" tanya Devan.
__ADS_1
"Pacar gue calon dokter," ucap bangga Attaya.
"Iyelah, oh iya masa Azkia gak ada tanda-tanda gitu?" tanya Devan.
"Tanda-tanda apa?" tanya Azka polos.
"Ternyata ada saatnya ceo yang dingin tidak tahu apapun selaim strategi bisnis," ledek Devan.
"Gue cuma manusia biasa, wajar!" bela Azka pada dirinya sendiri.
"Haha yalah," saut Devan.
"Pusing mual muntah, biasnya itu aih gejala yang paling jelas," kata Attaya.
"Kia sehat kok, gak muncul gejala yang lo bilang," kata Azka sambil memgingat jelas kwsehatan Azkia.
"Lo beli aja alat yang buat tes kehamilan," saut Attaya.
"Nah bener itu!" kata Devan.
"Alat apa?" tanya Azka.
"Kehamilan lah masa alat tulis, gimana sih kan Azkia hamil bukan mau sekolah," jelas Attaya.
"Maksud gue alatnya apa yang buat tes itu," jelas Azka.
"Makanya kalau ngomong jangan irit biar kita paham," ucap Attaya sambil terkekeh.
"Tes, tespek bukan sih?" tanya Devan.
"Kok lo tau?" selidik Attaya.
"Jangan bilang lo beliin buat Devira?" tuduh Azka.
"Mana ada, gue tau soalnya pas diapotik ada yang beli kaya gitu," jelas Devan.
"Ohh!"
Akhirnya pulang kerja mereka mampir ke apotik untuk membeli alat itu, selama di perjalan mereka bertiga saling berdenat siapa yang akan beli. Azka menyuruh Attaya dan Devan untuk membelinya tapi mereka menolak dengan tegas. Walaupum Azka mengancam, mereka tidak perduli kerena itu untuk istri Azka sehingga mereka menolak dengan alibi harus suaminya yang membeli.
Alhasil disini lah Azka saat ini, sedang berdiri didepan apotik sambil menatap setiap orang yang berlalu-lalang. Sesekali Azka menengok kebelakang dimana Attaya dan Devan memunggu, mereka mengibaskan tangannya seolah menyuruh Azka untuk segera masuk kedalam apotek.
Setelah menghela nafasnya kasar akhirnya Azka masuk kedalam apotek, ia sempat kesusahan mengucapkan barang yang akan dibeli. Tapi dengan cepat Azka mengucapkan alat itu, sehingga membuat beberapa orang disana kaget dan menatap Azka.
Melihat tatapan aneh dari mereka membuat Azka angkat suara.
"Buat istri saya!" jelas Azka, karyawan apotik itu hanya mengangguk paham.
Setelah itu ia langsung masuk kedalam mobil, pintu mobil ia tutup dengan sangat keras. Membuat Attaya dan Devan tersentak kaget.
"Alus om!" canda Attaya.
"Dapet?" tanya Devan.
"Pulang!" Azka tak menjawab pertanyaan Devan, ia hanya menunjukkan kanong kresek bewarna putih yang membuat isi dalam kreaek itu terlihat.
Devan dan Attaya hanya bisa menahan tawanya melijat wajah Azka yang sulit diartikan, Dia malu? pasti. Kesal? Tentu, tapi semua buat Azkia jadi ia tidak terlalu ambil pusing. Hanya perkataan ibu-ibu yang ada disana membuat Azka tersenyum tipis.
__ADS_1
"Suami yang perhatian," gumam ibu-ibu.
...----------------...