Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Cepet Pulang, Aku Rindu!


__ADS_3

Setelah banyak pertimbangan akhirnya Azka menerima panggilan masuk itu. Ia sedikit menarik nafasnya sesaat sebelum menggeser keatas tombol warna hijau pada layar ponselnya.


"Azka!" terdengar suara gelisah dari seberang sana.


Azka hanya diam saja, seolah sedang mengacuhkan Azkia. Padahal kenyataannya ia sangat bahagia bisa mendengar suara gadis yang sejak tadi membuat hatinya gundah.


"Azkaaa?" panggil lembuat Azkia.


"...."


"Kamu dengerin aku gak sih? Kamu marah sama aku?" tanyanya bingung.


"Hmmm." singkat Azka.


"Jangan hmm doang, maaf tadi ponselku lowbet.. gak ada maksud buat gak ngabarin kamu kok." jelas Azkia membuat Azka menyungingkan senyumannya.


"Tadi habis selesai kelas aku langsung ke toko buku, banyak buku yang harus aku cari." tanpa diminta Azkia menjelaskan semua kegiatannya.


Ia paham dengan pesan yang Azka kirim kan tadi, sehingga Azkia lebih mememilih menjelaskan lewat telepon. Karena jika ia ikut menjelaskan lewat pesan singkat, yang ada akan membuat masalah itu semakin panjang.


"Kamu tau kan aku sendirian, Nayla sama Ira kan beda jurusan sama aku.. dan hari ini jadwal mereka kuliah siang, kalau aku nungguin mereka yang ada toko bukunya tutup," ucap Azkia ia tidak perduli Azka mau mendengarkannya atau tidak. Yamg terpenting saat ini, adalah menjelaskan semuanya kepada Azka.


"Hmmmm," saut Azka.


"Kamu marah?" tanya Azkia.


"Gak!" singkat jelas padat itulah jawaban Azka.


"Jangan bohong, aku tau kalau kamu kaya gini pasti marah, kan?" ucap Azkia.


"Hmmm," dengus Azka.


"Maaf, jangan marah lagi nanti cepet tua loh!" canda Azkia.


"Biarin!"


"Nanti aku cari yang lain kalau kamu tua, aku kan gak mau sama yang keriput... hehee!" goda Azkia sambil terkekeh.


"Kamu berani?" tanya Azka penuh ancaman.


"Yaa...." ucapan itu terjeda beberapa saat membuat Azka kesal, "ya gak berani lah!" lanjutnya.


"Untung paham!" judes Azka.


"Paham dong, nanti pacar aku marah kan serem... tapi kalau dia marah tuh lucu-lucu serem gimana gitu," ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Hmmmm, kamu tadi macem-macem, gak?" Azka sedikit menguap karena sudah cukup larut malam ditempat Azka.


"Gak sayang, aku tadi cuma ke toko buku habis itu ini mampir di Cafe yang biasanya kita datangin itu loh... habisnya makanan disini itu favoritku semua," jelas Azkia.


Azkia memang sedang berada di Cafe Rindu, mungkin bisa di bilang tiap hari Azkia akan mampir ke Cafe itu. Selain suasana dan menu yang memiliki banyak pilihan, di Cafe itu banyak kenangannya bersama Azka. Hal itulah yang membuat Azkia sering berkunjung ke Cafe.


Azka hanya tersenyum mendengar Azkia sangat menyukai Cafe Rindu itu. Cafe yang belum diketahui siapa pemiliknya oleh Azkia, karena Azkia sempat mencurigai jika Cafe itu milik Azka. Namun para pegawai itu mengatakan jika mereka tidak mengenal nama Azka. Sehingga Azkia malas mencari tahu lagi. yang terpenting adalah ia suka Cafe itu.


"Kapan kita bisa makan bareng lagi? Aku kangen makan bareng manusia tembok," ucap Azkia sambil terkenao mengingat bagaimana tampang Azka yang dulu saat belum sebucin ini dengan Azkia.


"Nanti, tunggu aku kembali," jawab Azka.


"Buruan balik, ya? I really miss you ice man," ucap Azkia kemudian terdengar helaan nafasnya.


"Me too, Nyun," jawab Azka matanya sudah hampir terpejam.


"Aku iri sama Devira tiap hari dia bisa barengan sama Devan, kemana-mana berdua... udah kaya anak ayam yang gak bisa lepas dari induknya." itulah kebiasaan Azkia yang selalu menceritakan apapun kepada Azka.


"Tau gak temanmu si kutu buku itu sekarang lagi pendekatan sama cewek satu jurusan sama dia, eh gak taunya ternyata dia dulunya satu sekolah sama kita. Aku gak nyangka banget seorang kutu buka bisa punya penggemar yang cantik." Azkia terus bercerita hingga dia tidak menyadari jika Azka sejak tadi hanya diam saja.


"Azka, sayang?" panggil Azkia namun tidak ada jawaban.


"Beruang kutub, kok diem aja sih... kamu dengerin aku cerita gak? Direspon gitu, jangan diam aja!" kesal Azkia, ia sudah bercerita panjang lembar tapi Azka hanya diam saja.


"Kamu di kampus gimana? Lancar gak, gak ada masalah kan di perusahaan?" tanya Azkia.


Kemudian terdengar suara hembusan nafas yang teratur, membuat Azkia sadar jika mereka memiliki perbedaan waktu uang cukup lama.


"Hmmm, kamu ketiduran ya? Capek banget pasti, maaf ya aku lupa kalau kita berbeda waktu," ucap Azkia lembut.


"Nice dream, my ice bear! Love you," ucap Azkia dengan tulus.


Setelah itu Azkia mematikan teleponnya secara sepihak. Ia tidak ingin menganggu Azka yang sudah tertidur pulas.


"Dia pikir gue lagi dongeng kali, ya? Bisa langsung tidur gitu," gumam Azkia.


Ia terus menatap layar ponselnya sambil tersenyum membayangkan wajah tampan Azka.


"Cepet pulang, aku rindu!" kata Azkia, setelah itu ia kembali menyibukkan diri dengan setumpuk buku yang sudabh ia beli tadi.


Saat tengah asyik membaca buku, Azkia merasa jika sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Namun, saat ia menoleh tidak ada siapapun yang memperhatikan. Karena orang-orang di Cafe itu sibuk dengan urusannya sendiri.


"Perasaan gue doang kali, ah!" guman Azkia sambil melanjutkan membaca buku.


Saat Azkia larut dalam buku yang sedang ia baca, tanpa sadar sudah ada seseorang yang berdiri disebelahnya sambil menatap Azkia. Orang itu memastikan jika yang dihadapnnya saat ini benar Azkia atau bukan.

__ADS_1


"Ehemm," deheman itu membuat Azkia mendongak.


Terlihat seorang laki-laki tampan tengah berdiri di hadapnnya sambil tersenyum manis.


"Azkia?" tanyanya memastikan.


"Loh, kaka ngapain disini?" tanya Azkia tidak percaya.


Karena sudah lama Azkia tidak melihatnya, bahkan seperti kehilangan jejaknya begitu saja setelah kejadian waktu itu.


Mungkin kenyataan memang berat untuknya namun bagaimana lagi itulah yang terbaik. Dari pada harus memberikan harapan palsu yang pada akhirnya akan lebih menyakitkan.


"Sama siapa disini?" tanyanya.


"Berdua," canda Azkia.


Orang itu melihat sekeliling namun tidak nampak siapapun yang biasanya bersama Azkia.


"Berdua sama siapa?" tanyanya.


"Sama bayanganku sendiri, hehe." canda Azkia yang membuatnya juga ikut tertawa.


"Boleh duduk?" tanya orang itu.


"Boleh, kak.. kan ini bukan Cafe ku," jawab Azkia yang memang benar kenyataannya.


"Azka mana?" tanya orang itu setelah duudk dan meletakan buku yang ia bawa.


"Dia lagi tidur," jawab Azkia jujur.


"Ohh, pantes sendirian," ucapnya sambil membuka sebuah buku.


"Hehe, kaka kuliah jurusan apa?" tanya Azkia penasaran.


"Kedokteran," jawabnya singkat sambil menunjukkan sampul depan buku yang sedang ia baca.


"Waah keren dong, nanti kalau Kia sakit gratis, ya?" canda Azkia.


"Boleh, kalau kamu jadi istriku." candanya sambil terkeheh.


Hal itu membuat Azkia diam membisu, pasalnya ia mengingat kejadian satu tahun lalu. Azkia yang mematakhan hati seseorang di depannya ini demi perasaanya pada Azka.


Melihat Azkia hanya diam saja membuat orang itu buka suara lagi, "bercanda kok, jangan di ambil hati!"


"Eh, i-iya kak," jawab Azkia tidak enak.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2