Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Rencana Tak Terduga


__ADS_3

Mereka semua sudah berada di area parkiran sekolah, hari ini Azka tidak bisa mengantar Azkia pulang karena Azka mendapat telepon dari sang papa yang menyuruhnya mampir ke kantor sebelum pulang kerumah.


Azka berdiri didepan pintu kemudi mobil Azkia, ia mengatar Azkia sampai masuk kedalam mobil. Entah kenapa rasanya tidak tega melihat Azkia pulang sendiri.


"Ngapain?" tanya Azkia yang sudah duduk dikursi kemudi sambil menatap Azka.


Azka hanya diam saja dan terus menatap Azkia, tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Azkia.


"Maaf gak bisa nganterin pulang," ucap Azka.


"Iya, udah sana... pasti udah ditungguin om Yudha." Azkia mencoba menutup pintu mobilnya namun ditahan oleh Azka.


"Kenapa lagi?" tanya Azkia sambil memiringkan wajahnya.


"Hati-hati!" singkat Azka.


Azkia menganggu sambil tersenyum manis, agar Azka mengerti jika dia baik-baik saja pulang sendiri.


Azka menyodorkan tangannya didepan wajah Azkia, membuat Azkia bingung.


"Salaman," ucap Azka.


Azkia menyambut tangan Azka, lalu dengan gerakan cepat Azka mengarahkan tangannya agar dicium oleh Azkia.


"Iih kok gitu sih!" gerutu Azkia sambil menarik tangannya dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Azka sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ya salaman biasa aja kenapa harus pake acara cium tangan segala, kek suami istri aja!" gerutu Azkia sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


Azka sedikit menunduk agar sejajar dengan Azkia.


"Kan kamu calon istriku, sayang," ucap Azka tepat ditelinga Azkia, membuat Azkia memelototkan matanya.


"Belajar dari sekarang biar nanti gak kaget!" lanjut Azka sambil terkekeh.


Hal itu membuat Azkia salah tingkah, pipinya pun sudah bersemu merah. Seakan disekeliling Azkia muncul bunga yang bermekaran.


"Hmm, yaudah sana langsung pulang gak usah belok kemana-mana," ucap Azka sambil menepuk pucuk kepala Azkia.

__ADS_1


"Kalo gak belok nanti nabrak dong," seru Azkia sambil menatap Azka.


"Maksudnya jangan belok ke cafe atau kemana pun, langsung pulang!" gertak Azka.


"Huhh, Iya-iya langsung pulang kerumah!" kesal Azkia.


Padahal sebelumnya Azkia berniat untuk mampir ke Cafe tempat biasanya, namun ia urungkan karena ancaman dari Azka.


"Kamu kalo mau kemana-mana harus sama aku, kalau gak mau gak usah keluar rumah!" ucap Azka dengan tegas.


"Kok gitu?" tanya Azkia.


"Mau protes?" tanya balik Azka.


Azkia menarik nafasnya panjang lalu membuangnya secara perlahan, ia sedang berusaha agar tidak marah dengan Azka.


"Iyaaaaa," ucap Azkia.


Azka tersenyum manis menatap Azkia.


"Kalau sudah sampai rumah kabarin!" perintah Azka sambil menutup pintu mobil milik Azkia.


Setelah melihat mobil Azkia hilang dari pandangannya, Azkia langsung pergi menuju kantor papanya.


Tidak butuh waktu lama Azka sudah sampai dikantor, dia langsung saja menuju ruangan sang papa. Karena sudah sering ke kantor jadi Azka tidak butuh bertanya terlebih dahulu. Ia tidak menghiraukan tatapan dari karyawan yang dilewatinya, karena ia masih mengenakan seragam abu-abunya tanpa menggunakan jaket.


Tok tok tok.


"Masuk," ucap seseornag dari dalam.


Azka langsung membuka pintu setelah disuruh masuk.


"Kamu sudah datang, duduklah sebentar papa masih ada berkas yang harus ditanda tangani." kata Yudha sambil membuka berkas didepannya.


Azka sama sekali tidak menyauti ucapan sang papa, ia langsung duduk disofa yang ada didalam ruangan itu.


Tangannya sibuk memainkan benda pipih yang sejak tadi sudah bergetar, sesekali terlihat senyum yang terlukis indah disudut bibir Azka.


Terlihat pesan dari Azkia yang mengatakan bahwa dirinya sudah sampai dirumah, bahkan Azkia mengirimkan sebuah foto selfinya. Hal itu Azkia lakukan agar Azka mempercayainya.

__ADS_1


"Ehhmm." deheman sang papa menyadarkan Azka dari kegiatannya bermain ponsel.


Azka hanya melirik sekilas kearah papanya yang sedang duduk disofa. Beliau menydorkan satu buah amplop besar berwarna coklat didepan meja Azka.


Perlahan Azka membuka amplop itu, tertera sebuah nama universitas diluar negeri yang cukup dikenali banyak orang. Setelah selesai membacanya, Azka meletakkan kembali amplop itu diatas meja seperti semula.


"Maksudnya apa?" tanya Azka.


"Papa sudah daftarkan kamu ke Universitas itu, jadi nanti setelah kamu lulus bisa langsung kuliah disana." jelas Yudha papanya Azka.


"Apa! Kaka gak salah denger, pah?" tanya Azka sambil beridiri dari duduknya matap tajam kearah Yudha.


"Gak, kamu gak salah denger, ini semua sudah papa rencanain jauh-jauh hari," jelas Yudha yang ikut berdiri merapikan jasnya.


"Hah, kenapa papa selalu lakuin sesuatu tanpa bilang sama Kaka dulu, KENAPA!" kesal Azka.


"Ini semua de—"


"DEMI KEBAIKAN AZKA IYA!" bentak Azka yang sudah muak dengan semuanya.


"Demi kebaikan Kaka atau demi reputasi papa!" lanjut Azka lagi.


Azka menghembaskan tubuhnya di sofa yang tadi ia duduki, amarah dan kecewa semua menjadi satu dalam hati Azka. Karena ia tidak habis pikir dengan papanya yang selalu saja memutuskan sesuatu tabpa meminta pertimbangan Azka terlebih dahulu. Padahal yang akan menjalani itu Azka sendiri bukan papanya atau orang lain.


"Ini semua demi kebaikanmu nanti, Ka... karena perusahaan dan bisnis yang papa miliki sekarang ini semuanya akan kamu yang menghendel, apa papa salah ingin yang terbaik buat kamu.. buat masa depan kamu, ingat Ka. Kamu udah besar tau mana yang harus kamu pilih kedepannya, dan ingat kamu juga punya tunangan yang nantinya akan jadi istri kamu." ucap Yudha dengan lembut namun seperti ancaman bagi Azka.


"Tapi kenapa harus di luar negri, pah? Azka kuliah disini saja bisa kan, toh sama saja!" bantah Azka.


"Beda, disana kamu akan bertemu banyak ornag dari berbagai negara... kamu akan memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman disana, inget kedepannya kamu harus mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakmu kelah. Buat mereka bangga memilikimu sebagai kepala keluarga, Ka!" nasehat Yudha membuat Azka berfikir keras.


"Pikirin baik-baik omongan papa, papa mau rapat dulu," ucap Yudha melangkah keluar dari ruangannya.


"Haaaahh!" Azka menarik nafasnya dengan kasar, lalu ia mengacak-acak rambutnya.


Pusing itulah yang Azka rasakan sekarang ini, ia mendapatkan dua pilihan yang sulit. Dan nasehat yang papanya berikan memang ada benarnya juga, jika di luar negri Azka akan mendapatkan banyak teman dari berbagai negara. Azka bisa belajar banyak hal disana, tapi disisih lain Azka tidak bisa berjauhan dengan Azkia. Rasa sayangnya kepada Azkia sudah melebihi apapun, tapi ini semua nantinya juga untuk Azkia.


Tiba-tiba saja Azka langsung berdiri dari duduknya, seperti sudah menemukan jalan keluarnya.


"Ah, siapa tau manyun mau ikut kuliah di luar negeri," gumam Azka terlihat memiliki harapan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2