Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Ada kamu, Semangatku!


__ADS_3

...Kamu itu seperti magnet yang membuat siapapun selalu tertarik untuk mendekatimu.....


...-Azkia (E H)-...


...________________________________...


Azka merebahkan tubuhnya diatas kasur, ia masih mengenakan seram sekolahnya. Tepat pukul sepuluh malam tadi, Azka baru bisa pulang ke rumah.


Berkas yang diserahkan oleh sekertaris papanya harus diselesaikan hari ini juga, alhasil membuat Azka harus menetap di kantor. Ponselnya sedari tadi terus bergetar hingga membuat Azka yang hampir terlelap menajdi terusik.


Azkia yang sejak pulang sekolah tidak mendapatkan kabar dari Azka menjadi khawatir, terlebih ia tidak bisa menghubungi Azka sama sekali.


Entahlah sudah hampir berapa pesan yang Azkia kirim namun tetap saja masih centang abu-abu yang menandakan belum di baca oleh Azka. Ponsel Azka berdering lagi memaksanya untuk menerima panggilan itu.


"Azka, kamu kemana aja sih kenapa gak bisa dihubungin dari tadi? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Azkia saat Azka sudah menerima panggilannya.


"Hmmm," saut Azka dengan mata terpejam.


"Kamu capek ya, udah mandi belum?" tanya Azkia lembut.


"Hmm," saut Azka.


"Kok cuma hmm hmm doang sih, kamu lagi dimana udah pulang belum sih?" kesal Azkia.


"...."


"Ka, Azka?" panggil Azkia namun tidak ada balasan dari Azka.


"Sayang?" panggil Azkia sekali lagi.


Hanya terdengar hembusan nafas Azka dengan teratur, ia sudah terlelap dalam mimpinya.


"Capek banget ya, sampai ketiduran... nice dream sayang," ucap Azkia disebrang sana, kemudian ia menutup panggilan itu membiarkan Azka terlelap dalam tidurnya.


.........


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tapi Azka masih diperjalan menuju sekolah. Sesekali ia menguap karena masih terasa mengantuk, baru sehari saja badannya sudah terasa capek. Ia tidak bisa membayangkan jika nanti dia harus sekolah dan mengurus kerjaan kantor.


Azka memakirkan mobilnya di tempat biasa jika ia terlambat kesekolah, lalu memanjat pagar samping agar bisa masuk ke lingkungan sekolah. Untung saja sepi sehingga tidak ada yang mengetahui aksi Azka kali ini dan dia akan terbebas dari hukuman.


Azka sudah terlewatkan satu jam palajaran dan untung saja hari ini tidak ada guru yang mengajar hanya di beri tugas saja. Guru piket pun tidak ada, dengan santainya Azka duduk dibangkunya mengacuhkan tatapan teman-temannya.


"Telat mulu ngab!" sindir Attaya.


"Ka, nanti aku bareng ya... soalnya mobil aku lagi di bengkel," ucap Sinta yang menghampiri Azka.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Azkia menatap tajam kearah Azka, seolah sedang bertanya maksudnya apa?


Azka menghela nafasnya, ia baru saja datang dan sudah diintrogasi oleh Azkia. Dengan sabar Azka menceritakan semuanya kepada Azkia dan juga sahabatnya, kenapa Azka bisa bersama Sinta.


Dari mulai permintaan papanya yang memaksanya belajar bisnis, hingga Sinta yang menjadi patnernya di kantor.


"Kenapa bisa dia?" tanya Devan yang seolah mewakilkan pertanyaan Azkia.


"Bokap gue yang nyuruh, gue udah nolak tapi bokap ngancem gue," kata Azka.


"Katanya gue akan jadi suami jadi harus belajar mandiri," ucap Azka sambil menatap lekat kedua manik mata Azkia.


"Kenapa harus sama Sinta?" tanya Attaya.


"Sementara waktu sama dia, soalnya bokap gue belum nemuin patner yang cocok buat gue," jelas Azka.


"Kamu gak aneh-aneh kan sama dia?" tanya Azkia menyelidik.


"Gak, Nyun... murni belajar bisnis, ini juga buat masa depan kita," ucap Azka yang membuat Azkia tersenyum malu.


"Duhh berat masih pagi bahasannya masa depan," ledek Devan.


"Oh iya, kemaren kak Rayhan nolongin aku," ucap Azka sambil menunduk ia takut jika Azka marah.


Azka hanya diam saja menunggu Azkia melanjutkan perktaannya.


"Hmm?"


"Kemaren aku berantem sama Siska, terus gak sengaja siram dia pake minuman ku... dia balas siram pake kuah bakso untungnya ada kak Rayhan yang nolongin jadi kuah bakso yang masih panas itu gak kena wajah ku," ucap Azka pelan sambil memegangi rok abu-abunya.


Azka hanya diam saja sambil menatap lekat Azkia, dia sebenarnya kesal kenapa harus Rayhan yang menolongnya. Kenapa bukan sahabatnya, tapi sebisa mungkin Azka menutupi kecemburuannya itu.


"Lo gak ada yang luka kan?" tanya Azka sedikit dingin.


Azkia menggelengkan kepalanya,"Gak ada kok, kamu jangan marah ya?" pinta Azkia.


Karena Azkia paham betul sikap Azka yang protektif terhadapnya, Azka tidak akan membiarkan Azkia dekat-dekat dengan seseorang yang menyukai Azkia.


"Gak kok, Nyun," saut Azka sambil tersenyum tipis.


............


Istirahat sudah tiba, terlihat Kevin sudah berdiri didepan pintu kelas IPS 1. Kevin menunggu Sinta, ia ingin mengajak Sinta makan bersama. Dan juga ingin menanyakan soal kepindahannya waktu itu apakah ada hubungannya dengan Azka, jika ia mungkin Kevin tidak akan memaafkan Azka.


Azka sebenarnya malas untuk istirahat di kantin, sehingga kali ini dia memilih taman sekolah untuk istirahat. Didepannya sudah ada laptop yang sengaja ia bawa dari rumah, karena mulai hari ini Azka akan serius belajar bisnis.

__ADS_1


Dia tidak mau jika nanti calon istrinya kekurangan sesuatu, sehingga Azka bersungguh-sungguh dalam belajar mengelola bisnis.


Azka menjadikan Azkia sebagai semangatnya untuk serius belajar bisnis.


Saat Azka tengah serius mempelajari proposal dan berkas-berkas di dalam laptopnya, hingga ia tidak menyadari kehadiran Azkia.


Azkia menutup kedua mata Azka dari belakang, membuat Azka menghentikan aktivitasnya. Azka hanya diam saja, karena dia tau persis siapa yang sedang berdiri dibelakangnya sambil menutup mayanya dengan kedua tangan.


"Ih gak asik, masa cuma diem aja gak brontak atau gak nanya siapa gitu," ucap Azkia yang kesal dengan Azka yang hanya diam saja seperti tembok.


"Harusnya gimana?" tanya Azka polos.


"Ya nanya ini siapa gitu, kalo gak berontak gitu kaya di film-film... lah ini diem aja dasar tembok," gerutu Azkia yang ikut duduk disebelah Azka.


"Yaudah ulang!" seru Azka sambil terkekeh.


"Gak mau, udah gak mood," tolak Azkia dengan mencebikkan bibir merahnya.


"Gak usah ngambek jelek tuh, senyumnya mana senyumnya" ucap Azka sepeti sedang berbicara dengan anak kecil.


Mau tidak mau membuat Azkia tertawa dengan tingkah Azka.


"Mana bisa aku marah lama-lama sama kamu, walaupun nyebelinnya selangit!" batin Azkia.


Azka kembali fokus pada berkasnya, membaut Azkia kesal karena dicuekin. Namun Azkia juga merasa bahagia melihat Azka yang serius melakukan sesuatu seperti saat ini.


"Tumben semangat?" tanya Azkia.


"Kan ada kamu, kamu itu semangatku," ucap Azka lembut.


"Hilih gombal mulu," gerutu Azkia namun hatinya sudah berbunga-bunga.


"Yasudah kalo gak percaya," saut Azka.


"Ini orang kalo lagi serius nyebelin," batin Azkia.


Tangan Azkia terulur menyuapkan sesuap nasi berserta lauknya, dengan senang hati Azka menerimanya. Kebetulan perutnya terasa lapar karena sejak kemaren ia belum makan sama sekali.


"Lagi?" tanya Azkia.


"Lagi dong," ucap Azka sedikit manja menbuat Azkia gemas.


"Lucu banget sih jadi sayang," ucap Azkia sambil menyuapkan lagi ke mulut Azka.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia membuat beberapa orang yang melihatnya merasa iri, termasuk Sinta yang sejak tadi melihat kemesraan Azka dengan Azkia.

__ADS_1


"Aku kurang apa sih di banding dia?" gumam Sinta sambil menggengam erat tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat memerah.


..............................


__ADS_2