
Azka dan Azkia memilih pergi ke tempat wisata yang bisa dibilang cukup ramai, tempat yang sedang diburu dari berbagai kalangan karena tempatnya yang mampu menarik perhatian masyarakat.
Setelah membayar tiket masuk Azkia langsung berlarian seperti anak kecil, menuju wahana yang ingin ia naiki.
Tempat wisata ini seperti taman bermain untuk beberapa kalangan dari anak-anak hingga orang dewasa, hanya saja lokasinya yang membedakan dari taman wisata lainnya. Karena tempat wisata yang diberi nama Safari Park ini berlokasi dipinggiran pegunungan yang memberikan pemandangan yang memanjakan mata. Ditambah lagi dengan udara yang sejuk bercampur dengan kabut tipis membuat siapapun betah berlama-lama disini.
Azkia menuju wahana bike zipline alias sepeda gantung. Kegiatan ini punya banyak nama, mulai dari sky cycling, sky bike, dan zip bike.
Sebenarnya, konsep bike ziplining mirip dengan flying fox. Bedanya adalah tambahan sepeda yang sudah dimodifikasi sehingga bisa melaju di atas tali besi dengan stabil. Ditambah lagi dengan background pemandangan pohon pinus dan pegunungan yang mampu membuat wahana ini diminati banyak orang.
"Ayo naik ini," ajak Azkia sambil menarik tangan Azka seperti anak kecil.
"Gak mau!" tolak Azka.
Dengan wajah kesal Azkia menatap tajam laki-laki didepannya itu.
"Kenapa?" tanya Azkia sambil melipatkan kedua tangannya didepan dada.
"Banyak orang," singkat Azka.
"Terus apa hubungannya coba?" kesal Azkia.
"Nanti pada liatin kita," ucap Azka sambil menggapain jemari Azkia.
"Punya mata kok jadi bisa liat lah, pokoknya mau naik itu... kalo kamu gak mau yaudah aku sendiri aja!" kesal Azkia sambil berjalan kearah petugas bike ziplining.
Mau tidak mau akhirnya Azka mengikuti Azkia, dia tidak akan membiarkan Azkia bermain wahana itu dengan orang lain.
Setelah menunggu, kini giliran mereka berdua menaiki wahana bike ziplining. Awalnya Azkia sangat antusias namun saat akan menaiki wahana ada rasa takut didalam hatinya. Bagaimana tidak di bawahnya itu banyak pepohonan pinus yang menjulang tinggi, tanah yang tidak rata dan juga cukup tinggi dari tempat Azkia berdiri.
"Kenapa, takut?" tanya Azka yang sudah siap akan menaiki wahana.
"Dikit hehe," ucap Azkia malu.
"Tenang aja, paling jatuh berdarah doang," canda Azka.
"Itu juga sakit kali," gerutu Azkia sambil ngeri melihat kebawah.
"Tenang ada gue!" tangan Azka merangkul bahu Azkia.
Azkia mengangguk sambil tersenyum melihat Azka, kemudian ia memberanikan diri untuk menaiki wahana. Perlahan kaki mereka menggoes sepeda itu hingga sampai ditengah-tengah mereka berdua berhenti.
Tali besi itu sedikit bergerak membuat Azkia panik, dengan cepat ia merah lengan Azka agar tidaj terjatuh.
Terdengar suara dari petugas wahana yang memberikan instruksi kepada mereka berdua, selain menikmati pemandangan wahana ini juga menyewakan jasa pemotretan. Sehingga mereka bisa mengabadikan setiap moment.
__ADS_1
Dengan takut-takut Azkia mengikuti semua instruksi petugas wahana, begitu juga dengan Azka. Ia membuang rasa malunya karema menjadi tontonan untuk pengunjung lain.
Setelah puas berfoto sepeda mereka ditarik kembali agar menuju ketepian tempat sebelumnya.
Azkia terlihat sangat senang saat melihat semua hasil foto mereka yang terlihat bagus, terlebih lagi Azka yang cukup berkerjasama untuk menyingkirkan muka temboknya.
Azkia menyukai semua foto-foto itu, namun yang paling Azkia sukai saat tangannya dicium oleh Azka dengan wajah kaget Azkia terlihat sangat natural sekali. Hal itu tidak pernah Azkia bayangkan sama sekali, dihadapan banyak orang Azka berani melakukan hal seperti itu. Membuat para pengunjung yang berada tidak jauh dari mereka berdua berteriak histeris.
Flashback On
"Mbak mas tangannya buat bentuk hati!" teriak petugas wahana.
Klik!
"Oke bagus, sekarang saling bergandengan tangan kaya mau nyebrang gitu!" teriaknya lagi saat sudah mendapatkan foto.
Karena ingin cepat selesai akhirnya Azka dan Azkia hanya pasrah mengikuti instruksi dari photographer.
Klik!
Klik!
Klik!
"Bagus, sekarang gaya bebas terserah kalian!" teriak photographer.
Namun saat hitungan ketiga Azka mengambil tangan Azkia lalu menciumnya. Hal itu membuat Azkia yang sedang memikirkan gaya terhenyak kaget melihat gerakan Azka.
Bahkan para pengunjung yang sedang mengantri pun ikut kaget saat melihat hal itu, membuat mereka berteriak histeris khususnya para jomblo.
"Yah mau dong jadi mbaknya," ucap salah satu pengunjung.
"Ke bucinan apalagi ini yang menodai mataku!"
"Jadi pengan cari doi, biar bisa ngbucin."
"MBAK, TUKERAN POISIS YUK... KAMU YANG DISINI JADI PENONTON, AKU YANG DISITU BERSANDING DENGAN PACARMU!" teriak salah satu perempuan yang membuat mereka semua tertawa dan greget mendengar perkataannya.
"Huuuuuuu!" sorakan para pengunjung.
Flashback Off
"Ayo!" ajak Azka yang menyadarkan Azkia dari kejadian saat berfoto tadi.
"Eh, ayo kemana?" tanya Azkia bingung.
__ADS_1
"Cari makan dulu, laper," ajak Azka sambil menggandeng tangan Azkia.
Azkia nurut saja dengan ajakan Azka karena dia juga merasa lapar, hawa dingin membuat mereka cepat merasa lapar ditambah lagi Azka yang belum sarapan karena sibuk memilih baju.
"Duduk sini dulu!" perintah Azka, Azkia hanya mengangguk saja.
Azka pergi begitu saja tanpa menanyakan keinginan Azkia, membuat Azkia mencebikkan bibirnya.
Setelah beberapa saat Azka kembali dengan mie kuah lengkap dengan telur mata sapi dan sayur sawi. Aroma dari mie kuah itu membuat Azkia semakin lapar, apalagi kabut yang mulai turun. Membuat menu sederhana itu terasa sangat spesial.
"Usap tuh ilernya sampai mau netes," canda Azka yang sudah duduk di depan Azkia.
"Ih gak ada ya!" kesal Azkia.
"Yaudah dimakan, dingin-dingin gini cocoknya makan mie kuah ditambah telur setengah matang.. eemmm," ucap Azka.
Azkia yang sudah tergoda hanya bisa menelan ludahnya saat mendengar perkataan Azka.
"Tapi kan mie gak sehat, Ka!" protes Azkia.
"Yaudah kalo gak mau, buat gue semua," ucap Azka sambil menarik kembali mangkuk mie milik Azkia.
Glek!
Mie kuah itu masih panas sehingga asap yang keluar dari mie pun masih terlihat jelas. Dan aroma itu semakin membuat perut Azkia keroncongan.
"Mauu!" ucap Azkia sambil merebut mie kuahnya.
Pertama-tama Azkia menyendok kuah mie, lalu meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas. Saat dirasa sudah cukup, satu suapan itu masuk kedalam mulutnya.
"Eeemmm, enaknya... emang pas ditemani semangkok mie kuah, tapi sayang kurang pedes," ucap Azkia sambil menyendok kembali.
"Nih." tangan Azka menyodorkan sebotol saos pedas yang sudah Azka siapkan.
"Makasih!"
"Jangan banyak-banyak nanti sakit perut!" cegah Azka sebelum Azkia kebablasan memasukan saos.
Saat sudah tercampur semua, satu suapan masuk kedalam mulut Azkia.
"Emm, nikmat mana lagi yang akan kau dustakan," ucap Azkia.
Azka hanya menggeleng saja melihat kelakuan calon istrinya itu, yang terkadang terkihat dewasa dan kadang juga terlihat manja seperti anak kecil.
Teh anget dan juga mendoan yang melengkapi makan siang mereka berdua, bersama dengan dinginnya kabut yang menyelimuti sekitar mereka.
__ADS_1
......................
Hal sederhana namun sangat membekas dihati ~ E H