
Suara alarm yang terus menggema diseluruh kamar Azka, membuat tidur nyenyaknya terusik. Dengan mata yang masih terpejam Azka meraba-raba keberadaan ponselnya. Setelah menemukannya Azka mematikan alarm itu.
Sayup-sayup mata Azka melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7:00 pagi. Ia segera bangun, lalu melaksanakan rutinitasnya dipagi hari yaitu mandi.
Sekitar dua puluh lima menit Azka berada di dalam kamar mandi, aroma mint menyapa penciuman saat Azka keluar dari kamar mandi. Ia sudah rapi dengan pakaian casualnya, karena hari ini Azka akan pergi ke kampus.
Azka mengambil ponselnya yang tergeletak diatas kasur, bibirnya melengkung ke atas saat melihat pesan singkat yang dikirim oleh Azkia. Semalam tanpa sadar Azka terlelap dalam tidur, hatinya tenang sudah mendengar suara Azkia. Mungkin bagi Azka, suara Azkia adalah lagu tidur yang paling ampuh saat dia insomia.
Perlahan tangan itu menari diatas benda pipih yang sekarang sangat penting untuknya.
"Maaf, semalam ketiduran... ini aku mau berangkat kuliah dulu, kamu jangan nakal ya!"
"Jangan lupa makan," lanjut Azka lagi.
Begitulah isi pesan singkan yang Azka kirim untuk Azkia. Setelah itu Azka turun kebawah untuk mencari sarapan karena ia sedang malas untuk membuat sarapan sendiri.
Saat berada di dalam lift tiba-tiba saja ada tangan yang menghalau pintu lift sehingga pintu itu terbuka kembali.
Terlihat gadis cantik dengan cardigan yang tidak terpakai rapi pada tubuhnya. Gadis itu terlihat sangat buru-buru sampai tidak menyadari jika lipstick yang ia pakai belepotan.
Tanggannya sibuk memegang roti isi, gadis itu makannya sambil berjalan.
Azka hanya diam saja sambil menatap lurus kedapan, ia tidak terganggu bahkan tidak perduli dengan gadis itu. Karena yang ada di hati Azka hanya Azkia saja. Seolah orang lain tidak terlihat dimata Azka.
gadis itu merilik Azka sekilas, lalu melanjutkan makannya lagi. Ia tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Namun semakin lama gadis itu merasa risih, ia berinisiatif bertanya pada Azka.
"Mereka kenapa liatin gue kaya gitu?" gadis itu menyenggol lengan Azka sehingga mau tidak mau Azka menoleh ke arah gadis itu.
Hanya sekilas saja Azka menoleh, tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Sombong amat sih!" gerutu gadis itu.
Sedangkan beberapa orang disebelahnya terus saja menatap gadis itu dengan tatapan menghina, sesekali mereka menertawakannya.
Pintu lift itu terbuka, mereka sudah sampai di lantai dasar. Beberapa orang itu keluar dengan berdesakan sehingga membuat gadis disebelah Azka terhuyung hingga menabrak tubuh Azka.
Bruk!
Reflek saja Azka membantunya karena kejadian itu sangat tiba-tiba. Gadis itu terus terpaku akan kegantengan Azka. Sedangkan Azka hanya menyerkitkan alisnya menatap tajam gadis yang terus membeku menatapnya.
__ADS_1
"Sampai kapan?" suara Azka membuatnta tersadar.
"Hah? Apa? Apanya?" tanya gadis itu bingung.
Dengan cepat Azka melepaskan tangannya yang memegang bahu gadis itu. Membuatnya terjatuh dilantai.
"Jahat banget sih, main lepasin aja! Kasih kode dulu lah kalau mau dilepasin biar gak sakit!" gerutu gadis itu sambil berusaha berdiri.
Azka hanya diam saja sambil melangkag melewati gadis itu, ia malas berurusan dengan seseorang yang tidak jelas.
"Astaga bukannya bantuin, main pergi gitu aja.. gak punya hati banget sih!" kesalnya sambil menarik lengan Azka.
Azka menghentakkan lengannyan agar terlepas dari gadis itu. Kemudian Azka melangkah keluar dari dalam lift. Azka berhenti sejenak, tanpa menoleh ia mengucapkan beberapa kata yang membuat gadis itu tersadar.
"Mau keluar, ngaca dulu!" setelahnya Azka benar-benar pergi dari hadapan gadis itu.
"Hah maksud lo apa?" tanya gadis itu.
"Gue disuruh ngaca? Mungkin dia terpesona oleh kecantikan gue," gumam gadis itu sambil mencari keberadaan cermin riasnya yang ada di dalam tas.
"ASTAGA MUKA GUE KENAPA KAYA GINI?" teriak gadis itu, dengan cepat ia menarik beberapa lembar tissu lalu mengusapkan pada bibirnya.
*Pantes aja mereka tadi ngrtawain gue," gerutunya.
Bagaikan memiliki magnet, dimana pun Azka berada ia pasti menjadi pusat perhatian. Seperti saat ini, Azka tengah berjalan menuju fakultasnya dengan gaya cool. Membuat beberapa perempuan itu mengaguminya. Bisa di bilang perempuan disini lebih agresif dari pada waktu Azka sekolah dulu.
Disini ia benar-benar dibuat pusing, karena pergi satu muncul yang lainnya dan seterusnya begitu.
Azka lebih memilih mendengarkan musik melalui earphonenya. Setidaknya hal itu bisa membuatnya rileks.
"Heh!" ucap seseorang sambil menepuk bahu Azka.
Azka menoleh sambil melepaskan earphonenya, terlihat wajah berkeringat dengan nafas tersengal.
"Capek ngejar terus, mau berhenti terlanjur sayang!" ucapnya sambil mengatur nafas.
Azka menyerkitkan alisnya, ia tidam paham maksud perkataan Ken. Ya orang itu adalah Ken teman Azka balapan, ia juga kuliah di tempat yang sama dengan Azka saat ini. Bahkan Ken juga magang di kantor yang sama dengan Azka, entah suatu kebetulan atau jodoh.
"Ngomong apa?" tanya Azka melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Lupain aja!" kesal Ken namun tetap saja mengikuti langkah Azka.
"Eh, liat tuh cewek cantik banget... kulitnya putih, rambutnya panjang, badannya waow," kata Ken sambil merangkul bahu Azka.
Azka hanya melirik sekilas kemudian kembali menatap lurus kedepan.
"Cih dasar tembok!" gerutu Ken, Azka sangat malas menanggapinya sehingga ia hanya diam saja.
"Ka?" panggil Ken.
"Hhmmm?"
"Lo beneran gak tertarik sama mereka gitu, kurang apa mereka?" tanya Ken sambil melambaikan tangan pada perempuan-perempuan yang mengagumi mereka.
"Gak!" jelas Azka.
"Disini lo mau cari cewek model apa aja ada, Ka! Lo jangan sia-siain tanpang ganteng lo, lah!" bujuk Ken.
"Gak minat!" singkat Azka.
"Lagian belum juga cewek lo disana setia," kata Ken asal.
Hal itu membuat langkah Azka terhenti, ia menatap Ken seperti ingin membunuhnya. Perkataan yang hanya bercanda namun dianggap serius oleh Azka.
Azka menarik kerah baju Ken, tangannya terkepal kuat dan hampir saja Azka lepas kendali untuk memukul Ken.
"Kenapa, kan yang gue bilang kemungkinan besar.. lo kan jauh dari dia, gak tau dia jujur gak sama lo, kali aja dia punya simpenan." Ken sebenarnya hanya bercanda saja dengan perktaannya itu. Namun yang di bilang Ken ada benarnya juga.
"Kia gak seperti itu!" kata Azka penuh dengan penekanan.
"Oke-oke santai aja," ucap Ken sambil mengangkat kedua tangannya.
Bukannya Ken takut tapi ia malas bertengkar dengan Azka hanya karena perempuan.
Azka melepaskan cengkrannya itu, wajahnya sudah memerah. Karena Azka berusaha keras untuk menahan amarahnya.
"Cih!" Azka berdecak kesal.
Tidak dipungkiri perkataan Ken itu mampu membuat hati Azka gundah, pikirannya menjadi tidak karuan. Karena Azka tidak tahu persis keadaan Azkia, ia hanya menaruh kepercayaan yang sangat besar terhadap Azkia.
__ADS_1
Ken hanya diam saja sambil mengikuti Azka. Kenapa Ken seperti itu karena ia geram dengan Azka yang selalu menolak perempuan cantik yang ingin dekat dengannya. Menerut Ken, Azka sudah mesia-siakan kesempatan bagus.
...----------------...