Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Pawangnya Ken!


__ADS_3

Kini Azka dan Ken sudah sampai di bandara kedatangan, setelah pengecekan barang semunya selesai mereka berdua langsung keluar dari bandara untuk mencari keberadaan Devan.


Dengan wajah dinginnya Azka berjalan menuju parkiran bandara, terlihat banyak orang yang mengagumi mereka berdua. Bahkan ada yang sampai menabrak orang di depannya karena terlalu fokus melihat Azka dan Ken.


Terlihat mobil sport warna hitan terpajang cantik di depan pintu parkir kedatangan bandara. Terlihat seorang laki-laki sedang bersandar pada mobil sport itu, satu tangannya ia masukkan dalam saku celananya. Dan tangan satunya sibuk bermain ponsel, ia bahkan tidak menyadari jika Azka sudah berdiri di depannya.


"Eheem," deheman Ken membuyarkan keseruan Devan bermain ponsel.


Devan melirik sekilas terlihat dua pasang sepatu berdiri dihadapannya, perlahan matanya bergerak naik hingga terlihat dua wajah yang sudah tidak asing lagi bagi Devan.


"AZKA, KEN!" teriak Devan sambil memeluk mereka bersamaan.


"Lepasin malu diliatin orang-orang," gerutu Ken sambil mencoba melepaskan pelukan Devan namun sulit, karena pelukan itu terlalu erat.


"Bodo amat, gue kangen sama kalian berdua... udah lama gak nongkrong, gak balapan bareng juga!" kesal Devan sambil mempererat pelukkannya.


"Le-lepasin! Sesak nafas gue," kesal Azka.


"Eh maaf!" mendengar itu Devan langsung melepaskan pelukannya, ia menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.


"Gak berubah ya, lo?" ucap Ken sambil melihat penampilan Devan.


"Lo kira gue power ranger apa bisa berubah!" gerutu Devan.


"Maksud gue penampilan, lo... dari dulu gini-gini aja." Ken memutari badan Devan sambil meremehkan.


"Biarin, dari pada lo playboy cap kadal... udah berapa banyak cewek sana yang udah lo patahin hatinya?" tanya Devan menyindir.


"Cih, jelasin Ka!" perintah Ken.


"Dia udah tobat!" singkat Azka sambil terkekeh.


"HAH! LO TOBAT? GAK MUNGKIN!" teriak Devan, dengan cepat Ken menutup mulut Devan dengan tangannya.


"Lo gak usah berisik bisa gak?" geram Ken.


Devan mengangguk patut karena mulutnya masih dibekam oleh Ken.


"Awas aja kalau sekali lagi teriak, gue patahin tangan lo!" ancam Ken sambil melepaskan tangannya.


"Siapa yang bisa buat lo tobat?" tanya Devan.


"Bentar lagi lo akan tau," jawab Ken santai tidak lupa tangannya ia lipat di depan dada dengan sombongnya.


"Lo di jemput?" tanya Azka sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Pastilah, dia takut gue ilang dibawa tante-tante," kata Ken sambil terkekeh.


"Heleh!" Azka mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Siapa yang jemput, lo?" tanya Devan penasaran.


"Tuh!" Ken menunjuk sebuah mobil yang baru saja menghampiri mereka bertiga.


Seorang gadis cantik dengan celana jins sedikit sobek dibagian kedua lututnya, di padukan dengan sweter oversize warna biru muda yang membuat penampilannya terlihat tomboy namun cantik.


"Waow cewek cantik dari mana ini?" tanta Devan setelah melihat gadis itu mendekati mereka.

__ADS_1


Gadis itu tidak menghiraukan perktaan Devan, ia melewati Devan begitu saja dengan sangat gesit saat Devan mencoba mengajaknya berkenalan.


"****! Gue di kacangin!" kesal Devan.


"KEN SAYANG!" teriak gadis itu sambil memeluk Ken erat.


Devan langsung membalikkan badannya tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Ken sayang?" ulang Devan sambil menatap Azka meminta penjelasan.


"Pawangnya Ken," jawab Azka yang paham akan tatapan bingung dari Devan.


"Van, kenalain calon ibu dari anak-anak gue," ucap Ken sambil memberi kode pada gadis itu agar berkenalan dengan Devan.


"Amanda!" kata gadis itu sambil menjabat tangan Devan.


"Devan!"


"Udah, woy jangan lama-lama inget dia punya gue... awas aja kalau berani nikung, gue gak segan-segan lagi," ancam Ken.


"Cih! Gue juga punya doi kali, gak usah baper!" ucap Devan.


"Bagus deh." lega Ken.


"Gue cuma penasaran aja cewek seperti apa yang bisa buat lo berubah, ternyata dia emang selera lo banget!" kata Devan lagi.


"Indomi kali," celetuk Azka.


"Hah?" bingung Devan.


"Udah ayo balik, pasti capek kan?" ajak Amanda.


"Yuk lah sayangku, udah kangen banget ya pengen berduaan?" tanya Ken sambil mencolek dagu Amanda.


Sedangkan Amanda hanya mengangguk malu-malu, membuat Devan merinding melihat hal itu.


"Ka, Van... gue duluan, ya!" Ken menyalami mereka berdua ala-ala anak motor seperti biasanya.


"Hmm," saut Azka.


"Awas dijaga baik-baik Amandanya, nanti ilang nangis!" ledek Devan yang membuat Ken memukul perut Devan pelan.


"Duluan, Ka!" pamit Amanda.


"Loh sama gue kok gak pamit," keluh Devan.


"Lo, siapa?" tanya Amanda sambil terkekeh membuat wajah Devan masam.


Kini Ken dan Amanda sudah berada di dalam mobil dengan Ken yang mengemudikan mobilnya. Tapi sebelum mobil itu melaju, Ken membuka kaca mobil yang berada di dekat Amanda, ia memiringkan kepalanya agar terlihat oleh Azka.


"Kaa! Inget pastiin jantung lo baik-baik aja atau gak setelah ketemu dia!" teriak Ken.


Azka mengaguk mematuhi perkataan Ken, setelah itu Ken benar-benar hilang dengan mobilnya yang melaju kencang.


"Jantung lo kenapa?" tanya Devan penasaran.


"Jangan di pikirin ucapan Ken, dia suka bercanda!" elak Azka yang sudah masuk kedalam mobil Devan.

__ADS_1


Devan hanya mengendihkan bahunya, lalu ikut Azka masuk kedalam mobil.


"Mau pulang atau kemana dulu?" tanya Devan.


"Azkia dimana?" tanya Azka tanpa menoleh kearah Devan.


"Lah, kan lo pacarnya... kenapa nanya sama gue?" tanya Devan heran.


"Gue gak bilang sama dia kalau pulang sekarang," jawab Azka.


Devan hanya mendengus, "Azkia mungkin di kampus, gue dengar dia lagi nyelesain tugas akhirnya!" Devan menyalakan mesin mobilnya dan melaju pelan.


"Ke kampus!" perintah Azka.


"Baiklah, tuan Azka.. saya siap mengantar anda kemana saja!" canda Devan seperti seorang supir.


Butuh sekitar satu jam mereka sampai di kampus tempat Azkia kuliah, tepatnya di fakultas jurusan yang Azkia pilih.


Azka turun dari mobil sport itu dengan mengenakan kaca mata hitam, ia tidak langsung pulang ke rumah terlebih dahulu. Karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih hatinya.


Azka menatap lingkungan sekelilingnya, mengamati setiap sudut kampus tempat kekasihnya menuntut ilmu. Terdengar suara Devan yang menyadarkan Azka.


"Siap belum?" tanya Devan memastikan.


"Siap lah, dimana ruangannya?" tanya Azka sambil menutup pintu mobil Devan dengan kasar hingga menimbulkan suara.


BRAK!


"Alus ngab, astagfirullah mobil gue!" gerutu Devan sambil mengelus mobil sportnya seperti pacarnya sendiri.


Azka mengabaikannya, ia memilih melangkah terlebih dahulu meski tidak tahu dimana ruangan Azkia.


"Lo tau jalannya?" tanya Devan sambil menyerahkan buket bunga mawar yang tadi Azka beli saat perjalan ke kampus.


"Gak!" Azka menerima buket bunga itu, lalu mengikuti langkah kaki Devan tang berada di depannya sebagai petunjuk jalan.


Selama di koridor kampus mereka berdua tidak luput dari tatapan mengangumi dari kaum hawa. Terlebih lagi Azka yang baru pertama kali mereka lihat.


"Itu ada pangeran dari mana?" celetuk salah satu mahasiswi yang sedang bergerombol dengan teman-temannya.


"Ya allah pacar gue!"


"Eh itu pasti lagi nyariin gue!"


"Gantengnya, punya siapa itu?"


"Romantis banget sih, pake bawa buket bunga segala!"


"Ini gak lagi shooting ftv kan?"


"Cool banget sih, bikin hati ikut membeku!"


Begitulah ungkapan kekaguman dari mahasiswi yang masih berada di lingkungan kampus saat melihat Azka. Azka tidak menghiraukan mereka, ia lebih memilih fokus mengikuti langkah kaki Devan. Hatinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Azkia.


"Gak sabar liat ekspresi mu, Nyun!" gumam Azka.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2