Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Penyesalan di akhir


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, awan mendung menyeliputi langit. Terasa dingin menyapa kulit wajah yang terkena hembusan angin, mereka semua masih setia menunggu Azka.


"Ki, lo pulang aja dulu... biar gue sama Attaya yang jagain Azka." saran Devan.


"Tapi gue mau jagain Azka." kata Azkia.


"Pulang aja dulu kasian itu abang lo, pasti capek dia... mana belum istirahatkan." kata Attaya.


Benar saja sejak dari badara tadi Axel belum juga pulang kerumahnya, terlihat wajah lelah dan babak belurnya akibat beradu fisik dengan Azka.


"Tapi—." ucapan Azka terpotong oleh Devan.


"Nanti gue kabarin perkembangannya Azka, lo pulang aja dulu istirahat... nanti kita gantian jagain dia." bujuk Devan menyakinkan Azkia.


"Baiklah kalo ada apa - apa segera hubungin gue." pinta Azkia, kemudian dia berjalan kearah pintu ruang rawat inap Azka.


"Hai beruang kutub, jangan lama - lama tidurnya ya... aku kesepian ini gak ada yang gangguin." ucap Azkia, percayalah siapaun yang mendengar perkataan Azkia akan tersayat hatinya.


"Aku pulang dulu, nanti aku kesini lagi... dan saat aku balik ku harap kamu udah bangun. Love you." ucap Azkia sambil meraba pintu kaca di depannya itu, seolah dia sedang membelai pipi mulus Azka. Air matanya kembali menggenangi sudut mata lentiknya itu.


Azkia mencoba menguatkan dirinya sendiri, kemudian menghampiri Axel dan mengajaknya pulang kerumah. Namun sebelum itu dia sempat berpamitan kepada sahabat Azka begitu juga dengan Axel.


Setelah kepergian Azkia, Bobo dan Ciko yang dari kantin pun menghampiri mereka berdua.


"Loh Azkia mana?" tanya Ciko yang melihat hanya ada Attaya dan juga Devan.


"Gue suruh pulang dulu istirahat, kalian berdua juga pulang aja dulu nanti kita gantian jagain Azka." jawab Devan sambil menerima minuman yang Bobo berikan.


"Gak usah lah gue ikut jagain Azka aja disini... lagian sepi juga dirumah." kata Bobo.


"Gue juga." kata Ciko yang duduk di sebelah Attaya.


..........


Hujan pun turun membasahi bumi ini, seolah langit juga ikut bersedih. Kini mereka berempat sudah berada di dalam ruangan Azka, karena kata dokter tadi kondisi Azka sudah mulai stabil jadi mereka di perbolehkan menjaganya di dalam. Namun tidak boleh mengganggu pasien.

__ADS_1


Devan membaringkan tubuhnya diatas sofa bersama Ciko, Bobo sedang berada di toilet sedangkan Attaya dia duduk di sebelah Azka sambil mengamati wajah Azka dengan lekat.


Tiba - tiba saja pintu ruang itu terbuka dengan sangat keras membuat semuanya kaget, disana berdirilah wanita cantik dan seorang pria di belakangnya.


"Azka!" teriak wanita itu kemudian berlari kearah bangkar Azka.


"Azka ini mama nak, bangun jangan buat mama khawatir." ucapnya sambil memeluk tubuh Azka yang terbaring lemas.


Disebelahnya seorang pria berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan, atara sedih dan kaget karena dia bertemu dengan anaknya yang terbaring lemas.


"Azka ini papa, bangun nak." katanya sambil memegang erat tangan Azka. Suasana yang tadi tenang seketika menjadi sedih dan haru.


Attaya yang tadinya duduk disebelah bangkar Azka pun mundur kebelakan, membiarkan dua orang itu menempati posisi yang tadi Attaya duduki.


"Papa janji gak akan marah - marah lagi sama kamu, tapi bangun ya nak." ucap Yudha papanya Azka.


Devan tadi sudah menjelaskan semuanya tentang kondisi Azka saat dirinya menghubungi orang tua Azka.


"Ka, lo harus bangun... liat ortu lo begitu menyayangi lo, mereka sangat khawatir dan lo harus liat ini, Ka?" batin Attaya sambil menatap nanar sahabatnya itu.


"Azka sayang bangun ya, katanya mau kerumah nenek bareng papa mama... jadi Azka bangun ya hiks hiks." ucap mama Kayla lagi.


Terlihat jelas dari raut wajah Yudha dan Kayla ada penyesalan yang tidak bisa mereka ungkapan kepada Azka. Mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis mereka hingga melupakan jika ada Azka yang masih butuh kasih sayang dan perhatiannya.


Uang memang penting namun masih dapat dicari sedangkan waktu yang telah terlewat tidak mungkin bisa terulang lagi. Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin agar nanti tidak menyesalinya.


Mama Kayla terus menangis sambil memegangi jemari Azka, sesekali jemari Azka ia usapkan ke pipi putihnya itu. Sedangkan papa Yudha berdiri tegak di sebelah istirnya itu.


"Maafin mama, Kaka... maafin!" ucapnya.


"Kaka bangun ya, nanti mama masakin makanan kesukaan Kaka." lanjutnya lagi. Kaka adalah panggilan yang biasa orangtua Azka panggil untuk dirinya.


Sahabat Azka hanya bisa diam melihat kejadian di depannya itu, sedih haru khawatir semua bercampur menjadi satu.


"Kita harus sabar mah, kita doain Kaka supaya cepat pulih ya." ucap Papa Yudha sambil mengusap pelan bahu mama Kayla.

__ADS_1


"Tapi pah, mama gak tega liat Kaka seperti ini... kalo bisa lebih baik mama yang terbaring disini gantiin Kaka, pah." ucap mama Kayla, matanya terlihat sembab karena sudah memangis sepanjang perjalanannya menuju rumah sakit.


"Papa tau, tapi kalo kita seperti ini itu akan membuat Kaka sedih... Kaka kuat kok mah, dia pasti bisa lewatin ini semua." ucap papa Yudha mencoba menguatkan istrinya.


"Kalo tau bakalan seperti ini, mama gak akan ninggalin Azka sendirian pah.. mama akan temenin dia kerumah nenek." penyesalan Kayla yang sudah terlambat.


"Iya - iya papa tau." papa Yudha memeluk erat istirnya itu, mencoba menyalurkan kekuatan batin pada istirnya agar tegar menghadapi kenyataan ini. Walaupun hatinya sendiri tidak bisa menerima ini semua.


Azka adalah anak semata wayangnya dia sangat menyayangi Azka namun caranya salah, karena Azka tidak mau harta yang melimpah jika tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Rumah yang besar dan mewah itu terasa sunyi saat hanya Azka yang menempatinya, jadi tak heran jika teman - teman Azka sering menginap dirumahnya. Itu semua hanya untuk menghibur diri dari rasa kesepiannya.


Azka menjadi anak yang suka berbuat rusuh bukan karena Azka mau, melainkan karena Azka hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja. Jika prestasi yang Azka dapatkan hanya bisa di puji lewat pesan singka, mungkin dengan dia berbuat ulah bisa membuat orang tuanya tinggal dirumah.


Namun semuanya sudah terlambat, hanya penyesalan yang kini mengahantui mereka, dan berharap Azka lekas pulih.


Setelah sedikit tenang orang tua Azka berterimakasih kepada sahabat Azka yang setia menemani Azka dalam keadaan apapun.


"Kalian pulang saja dulu, biar om sama tante yang jagain Azka." ucap Yudha kepada sahabt Azka.


"Biaklah om, kalo ada apa - apa langsung hubungi kita saja om." ucap Devan sambil berdiri dari duduknya dan melangkah mengahampiri bangkar Azka.


"Iya, makasih ya kalian udah jadi temen Azka... udah mau menenin Azka pas kita sibuk." ucap Kayla sendu.


"Iya tan, Azka udah kita anggap saudara sendiri tan... jadi jangan sungkan ya." jawab Attaya sambil tersenyum. Sedangkan orang tua Azka mengangguk, hatinya tersentuh melihat anaknya memiliki teman - teman yang selalu ada untuknya sedangkan mereka tidak bisa melakukan hal itu.


"Ka, gue sama anak - anak balik dulu ya... lo buruan sadar masih banyak tempat liburan yang belum kita datangin." ucap Devan disebelah Azka.


"Gue balik ya manusia tembok." ucap Attaya tertawa getir.


"Lo jahat Ka, buat gue nangis lagi gara - gara lo." ucap Bobo yang di tertawakan oleh mereka.


"Jangan tidur mulu, gue kangen lo ngomelin gue." kata Ciko.


Setelah itu mereka berempat menyalami kedua orang tua Azka untuk berpamitan.


Tinggallah orang tua Azka yang menatap iba putranya itu, sesekali papa Yudha melihat ponselnya untuk mengecek laporan dari asistennya.

__ADS_1


Pekerjaannya semua diserahkan kepada asisten pribadinya, tujuannya agar bisa fokos mengurusi Azka. Jika ada kepentingan mendesak barulah papa Yudha yang menangani.


......................


__ADS_2