Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Bersyukur Punya Kamu


__ADS_3

"Sudah selesai?" tanya Azka.


"Udah kok," jawab Azkia yang sedang membenarkan rambutnya.


"Kita cari makan dulu, sebelum pulang," kata Azka.


"Ta-tapi aku gak laper kok, kamu aja yang makan." Azkia merasa tidak nyaman dengan sikap dinginnya Azka sehingga ia ingin cepat-cepat pulang kerumah.


"Yakin?" tanya Azka.


"Ya—"


Krucuk krucuk


Suara dari perut Azkia terdengar sangat jelas, membuat Azka sebisa mungkin untuk menahan tawanya.


"Hehe aku lapar," ucap Azkia malu.


Tanpa basa-basi lagi Azka menggandeng tangan Azkia menuju mobil setelah selesai dengan urusan pakaian yang akan dikenakan saat hari H. Azkia merasa canggung sekali, ia tidak habis pikir kenapa perutnya tidak bisa diajak konpromi.


Suasana sangat tenang, bahkan hanya terdengar suara tlakson kendaraan lainnya. Azkia ragu untuk memulai percakapan dengan Azka, terlebih lagi Azka masih terlihat marah.


Azkia hanya diam saja sambil menatap jalanan yang mereka lewati, Azkia sibuk memikirkan bagaimana membuat Azka tidak marah lagi pada dirinya.


"Turun!"


Hingga suara Azka menyadarkan Azkia dari lamunannya.


Azkia segera bergegas turun dari mobil, ia menghampiri Azka yang sedang menunggunya.


"Udah lama gak kesini," gumam Azka sambil menatap Cafe yang berada didepannya saat ini.


"Aku sering kesini, apalagi kalau lagi kangen kamu," jawab Azkia tanpa sadar.


Azka menoleh kesamping, melihat Azkia dengan senyuman yang terlihat sedih.


"Sekarang gue udah disini, makanya jangan coba-coba cari yang lain," ucap Azka dengan tegas.


Dengan kuat Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menahan tangisnya agar tidak jatuh saat itu juga.


"Udah, nanti pusing!" tangan kekar Azka menepuk pelan pucuk kepala Azkia.


Hal itu membuat pipi Azkia merona, sudah sekian lama ia rindu dengan kehangatan yang Azka berikan.


Setelah memilih tempat duduk, mereka memesan makanan yang mereka suka. Hening, itulah yang terjadi saat ini. Tanpa ada niatan untuk mengajaj bicara, Azka tentunya masih sedikit kesal dengan Azkia. Sehingga ia memilih diam, menahan emosinya agar tidak menyakiti Azkia.


"Permisi ini pesanannya," kata seorang pelayang sambil menurunkan makanan yang mereka pesan.


"Makasih," ucap Azkia, palayan itu hanya mengangguk sambil tersenyum lalu membiarkan mereka menikmati makanannya.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas Azkia yang terasa berat.


"Kenapa? Makanannya gak enak?" tanya Azka.


"Gak kok, eh bukan... makanannya enak koo," saut Azkia gelagapan.


"Terus?" tanya Azkia.


"Ma-maaf soal tadi, aku beneran lupa... dan soal kak Rayhan, kami gak sengaja ketemy tadi," jelas Azkia.


"Hmmm,"


"Aku beneran gak ada apa-apa sama dia," ucap Azkia sambil menunduk.


Ia akan lemah jika dihadapkan dengan Azka, bahkan ia tidak berani menatap mata Azka. Karena Azkia pasti akan menangis saat menatap mata Azka.


"Hmmm, buruan dimakan katanya lapar," ucap Azka.


Entahlah ia sepertinya sedang malas untuk membahas masalah tadi. Kepalanya berdeyut dengan semua masalah ia pikirkan, ditambah lagi pekerjaannya dikantor.


Azka tidak berselera makan, ia mengajak Azkia makan karena tahu jika Azkia belum makan apapun. Azka menyodorkan satu sendok spageti didepan mulut Azkia.


Membuat Azkia menyerkit bingung, lalu ia membuka mulutnya karena tangan Azka tidak mau pergi dari hadapannya sebelum Azkia meneria suapan itu.


"Enak?" tanya Azka.


"Enak," jawaban Azkia membuat Azka tersenyum tipis.


"Sini," ucap Azka sambil menunjuk piring steak yang ada di hadapan Azia. Steak itu belum tersentuh sedikit pun oleh Azkia.


Dengan berat hati Azkia menggeser steak miliknya hingga berada di hadapan Azka. Tanpa banyak bicara Azka memotong steak itu dalam ukuran kecil. Sehingga memudahkan Azkia saat memakannya.


Azkia ingin sekali menolak saat Azka akan menyuapinya tapi setelah melihat wajah dingin Azka ia urungkan niatannya. Alhasil dua piring makanan itu habis tak tersisa.


"Lagi?" tanya Azka.


"Udah cukup, udah kenyang banget!" tolak Azkia sambil menutup mulutnya seperti anak kecil.


"Manisnya," batin Azka, namun dengan cepar ia bisa menguasai dirinya lagi.


Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Soal cincin yang akan digunakan saat akad akan diambil sendiri oleh Azka. Karena mereka sudah menyerahkan ukuran jari manis mereka pada toko mas yang sudah menjadi langganan mama Kayla.


.......


Mereka berdua sudah sampai dihalaman rumah milik Azkia, terlihat sepi karena kedua orang tua Azkia tengah sibuk mempersiapkan kebutuhan pernikahannya. Karena waktu pernikahan memang tinggal beberapa hari lagi.


"Masuk gih, terus istirahat," ucap Azka lembut.


Namun, Azkia tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ia masih berdiri disebelah Azka yang tengah menyenderkan tubuhnya dipintu mobil.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Azka bingung.


"I-itu anu itu," ucap Azkia terbata-bata.


Entahlah, Azkia juga tidak mengerti kenapa dirinya yang selalu berani dan terlihat bar-bar akan menjadi seperti ini saat didepan Azka. Terlebih lagi saat Azka marah karena dirinya.


"Apa?" tanya Azka sambil menaikkan aebelah alisnya bingung.


"Bo-boleh gak, aku pe-peluk kamu," ucap Azkia ragu.


Azka hanya diam saja, sebenarnya didalam hatinya sedang tertawa bahagia.


Azkia memberanikan diri mendongak melihat seseorang yang ada dihadapnya ini karena tak kunjung ada jawaban dari Azka.


Terlihat tangan Azka direntangkan dengan lebar, kepalanya sedikit dimiringkan seolah sedang bertanya "jadi peluknya gak?".


Dengan cepat Azkia menghampur dalam pelukan Azka, pelukan yang membuatnya merasa nyaman dan tengan. Seolah semua masalah dan bebannya hilang begitu saja saat dalam pelukan Azka.


Tanpa sadar mata Azkia memanas, membuat butiran air jatuh dari pelupuk matanya. Azkia menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Azka. Pelukan itu semakin mengerat membuat Azkia heran.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Lima menit aja, biarin aku kaya gini," lirih Azkia.


Azka pasra saja, ia membiarkan Azkia seperti itu sampai dia tenang. Mungkin pernikahan yang tiba-tiba ini membuatnya sedikit syok. Namun, ini lah yang terbaik buat mereka setelah pertunangan mereka beberapa tahun lalu.


Jika bisa, Azka akan menikahi Azkia saat itu juga dan membawanya ke luar negeri akar bisa kuliah bersama. Namun, banyak hal yang menjadi pertibangan sehingga Azkia tidak bisa ia bawa keluar negeri. Dan setelah Azkia terbiasa sendiri, tiba-tiba ia harus segera menikah. Mungkin itulah yang membuat Azkia belum siap secara batin.


Karena Azkia berfikir setelah menikah ia tidak bisa melakukan apapun yang ia suka. Ia harus menjadi ibu rumah tangga yang siap mengurus suami dan anaknya kelah.


"Nanti kalau udah nikah, lo boleh lakuin apapun yang lo mau," ucap Azka seolah tau apa yang sedang menggangu pikiran Azkia.


Azkia mendongak menatap wajah Azka, "Serius?" tanya Azkia.


Azka mengangguk sambil tersenyum, "Asal jangan melupakan kewajiban seorang istri," bisik Azka membuat pipi Azkia memerah.


"Iya," jawab Azkia.


Azkia mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin Azka lepas darinya. Begitu juga dengan Azka, ia tidak akan membuat Azkia merasa terbebani dengan gelar istri.


"Aku bersyukur banget punya kamu," lirih Azkia yang masih dapat didengar oleh Azka.


Azka tersenyum bahagia mendengar hal itu, ia yakin jika dihati Azkia hanya ada dirinya bukan laki-laki lain.


"Love you, calon suami," ucap Azkia.


"Me too," Azka mencium pucuk kepala Azkia cukup lama.


...----------------...

__ADS_1


Vote gratisnya jangan lupa kaka :)


__ADS_2