Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Tanpa jejak


__ADS_3

"Sial banget sih, pake acara bocor segala... mana ponsel lowbet," gerutu Azkia yang sedang menatap kesal pada ban mobilnya yang kempes.


Terlebih lagi jalan ini jarang di lalui kendaraan umum, terlihat hanya kendaraan pribadi yang berlalu-lalang


"Nanti kalo gue telat pasti kena hukum ini,"


Azkia baru menyadari jika dia tidak membawa ban cadangan, begini lah akibatnya jika tidak mendengarkan perkataan sang mama untuk menservice mobilnya.


Tin tin


Tiba - tiba saja terdengar tlakson mobil dari belakangnya, membuat Azkia terpelonjat kaget.


"Astaga, bikin jantung orang mau keluar aja!" kesal Azkia.


Terlihat seseorang keluar dari dalam mobil berwarna putih yang tengah berhenti di sebelah mobil Azkia. Seketika membuat tubuh Azkia menjadi diam membeku, wangi parfum yang tercium sama persis dengan yang ia temui di cafe waktu itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" suara lembut yang sangat Azkia kenali menyapanya.


DEG!


Tiba-tiba saja air mata Azkia lolos begitu saja dari pelupuk matanya, membuat Azkia semakin menunduk. Ia menangis tanpa bersuara, mulutnya terasa kelu saat dia mendengar suara dan wangi parfum yang sangat ia rindukan.


"Mobilnya kenapa?" tanyanya lagi.


Orang itu heran melihat Azkia yang tengah berjongkok membelakanginya, Azkia memeluk lututnya sangat erat.


"Kamu gak papa?" tanyanya lagi sambil memegang bahu Azkia.


Siap tidak siap Azkia harus melewati ini, karena pertemuan ini lah yang Azkia tunggu. Tangannya mencoba mengusap air mata yang telah jatuh agar tidak terlihat jika Azkia menangis.


Azkia mendongak melihat seseorang yang tengah berdiri dihadapannya ini.


"Kak An-Andre?" sapa Azkia sambil terus menatapnya.


"Kia!" kaget seseorang itu yang bernama Andre.


"Ap-apa ka-kabar?" tanya Azkia, antara bahagia dan canggung bercampur menjadi satu.


"Baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Andre dengan seulas senyum.


"Ya, gitulah," kata Azkia.


"Mobilnya kenapa?"


"Bannya bocor, mana gak bawa ban cadangan," saut Azkia sambil melihat sekeliling untuk mencari kendaraan, namun sayangnya nihil.


"Yaudah aku anterin sekolah, udah jam segini nanti terlambat," kata Andre sambil melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangannya.


"Tapi—"


"Sekalian ada yang mau aku omongin," potong Andre.


Terpaksa Azkia menuruti perkataan Andre, ia masuk kedalam mobil Andre setelah mengambil tas dan ponselnya. Andre sudah menghubungi temannya yang memiliki bengkel mobil untuk mengambil mobil Azkia.

__ADS_1


Canggung itulah yang di rasakan mereka berdua, Azkia ingin sekali menanyakan semua hal yang selama ini menghantuinya.


"Kamu," kata mereka berdua bersamaan.


"Lady's first," saut Andre lagi.


"Gak kamu aja duluan," tolak Azkia.


Andre mencoba menguasai hatinya, ia menarik nafas panjang setelah itu mengekuarkannya perlahan.


"Maaf, Kia aku minta maaf buat semuanya," ucap Andre.


"Apa?" tanya Azkia sambil menatap Andre.


"Maaf waktu itu aku pergi gitu aja tanpa pamit sama kamu, aku gak ngabarin kamu sama sekali selama hampir dua tahun ini," ucap Andre dengan raut wajah sedih.


"Kenapa?" tanya Azkia.


"Kenapa apa?"


"Kenapa kamu lakuin itu sama aku, Kak... kamu kan tahu sendiri gimana perasaanku." Azkia sudah tidak mampu membendung tangisnya yang kini sudah membasahi pipinya lagi.


"Aku punya alasannya, Kia," ucap Andre dengan nada yang terdengar merasa bersalah.


"Apa! Kamu ilang gitu aja tanpa ada kabar sedikit pun, kamu tau gak kak aku nyariin kamu... semua tempat yang pernah kita datanganin, sampai rumah kamu aku datangin, masih gak nemuin kamu!" Azkia terisak sambil sesegukan mengucapkan semua kata yang selama ini dia pendam.


"Maaf,"


"Maaf, Maaf aku bisa jelasin semuanya," ucap Andre sambil menggenggam jemari Azkia namun dengan cepat Azkia menarik tangannya.


"Jelasin!" perintah Azkia.


"Waktu itu oma kasih kabar kalau orang tua ku dirawat dirumah sakit... seketika itu aku panik, tanpa kasih tau siapapun aku langsung terbang kesana," cerita Andre.


"Terus kenapa kamu gak ada hubungin aku sama sekali, Kak?" tanya Azkia.


"Maaf, ponselku hilang saat aku di bandara... aku gak bisa hubungin siapapun disini apalagi perbedaan negara yang sulit untuk mengurus ponselku yang hilang dan selama disana aku sibuk merawat ayahku agar cepat pulih," ucap Andre, terlihat jelas kesedihan di dalam matanya.


"Maaf aku gak tahu kak, maaf aku gak ada disaat-saat kamu butuh seseorang," ucap Azkia sambil menunduk.


"Gak apa, aku seneng liat kamu baik-baik aja dan aku baru tahu kalo kamu pindah kesini," saut Andre sambil mengusap pelan pucuk kepala Azkia.


"Terus, sekarang gimana keadaan ayah kakak?" tanya Azkia.


"Sekarang udah jauh lebih baik, dan sekarang ayah ikut aku tinggal disini," kata Andre sambil menghentikan mobilnya yang sudah sampai di depan gerbang sekolah Azkia.


Sebelumnnya Andre sudah menanyakan dimana alamat Azkia bersekolah.


"Syukurlah," ucap Azkia, ada senyum disudut bibirnya yang dirindukan oleh Andre.


"Buruan turun gih, udah sampa ntar telat loh," ucap lembut Andre.


"Eh iya, ma-makasih kak!"

__ADS_1


Namun sebelum Azkia benar-benar membuka pintu mobil, tangannya di tahan oleh Andre.


"Soal hubungan kita?" tanya Andre ragu-ragu.


Deg!


Pertanyaan Andre membuat Azkia tersadar akan satu hal, ya dia sekarang sudah memiliki hubungan dengan Azka yang jauh lebih pengertian dibandingkan Andre.


"Hubungan kita sudah berakhir sejak kakak hilang tanpa kabar sedikit pun, dan makasih udah jelasin semuanya walaupun terlambat akhirnya bisa membuang rasa penasaranku selama ini,"


Andre hanya bisa diam membisu mencerna semua perkataan Azkia, karena benar dialah yang membuat Azkia menjadi seperti sekarang. Andre lah yang membuat hati Azkia retak dan sekarang dia harus menerima semua ini dengan lapang dada.


"Makasih juga atas tumpangannya," ucap Azkia sebelum menutup rapat pintu itu.


Andre masih saja diam mengamati punggung Azkia, sakit namun harus bagaimana lagi. Tidak seharusnya dulu Andre pergi tanpa berpamitan kepada Azkia.


Azkia berhenti sejenak dan berbalik menatap mobil Andre, ia tersenyum semanis mungkin sambil melambaikan tangan kepada Andre. Membuat Andre tersenyum.


"Nyun!" teriak seseorang membuat beberapa orang menatap kearahnya begitu juga dengan Azkia.


"Apa tembok," ucap Azkia sambil terkekeh.


Azka menghampiri Azkia yang masih berdiri ditempatnya, Azka meraih tangan Azkia dan menggandengnya.


"Sama siapa, kok ponselnya mati?" tanya Azka sambil menoleh kearah mobil putih yang mengantar Azkia.


"Lowbet, dah lah ayok!" ajak Azkia.


"Itu mobil siapa?" tanya Azka yang penasaran.


Belum sempat Azkia menjawab suara cempreng dari belakang mereka membuat kaget.


"HEY! KALIAN BERDUA MAU MASUK APA MAU JADI PATUNG SELAMAT DATANG!" teriak Devira yang membuat beberapa siswa terkeheh.


"Dah ah ayo, nanti kita beneran dikirain patung selamat datang loh!"ajak Azkia sambil tertawa.


"Hmm,"


"Eh mana bisa tembok jadi patung hehe." tawa Azkia mengiringi langkah mereka berdua.


Setelah Azkia benar-benar benar tidak terlihat lagi barulah Andre menjalankan mobilnya.


"Semoga kamu bahagia, Kia!" gumam Andre.


.................................


Besok crazy up! :)


Satu persatu masalah mereka berdua terselesaikan dan Besok Azka akan ketemu sama seseorang, siapa kah dia?


Jangan lupa di like, dan di promoin ke temennya kalo suka sma karya author :)


...Tetep stay with me yak!!...

__ADS_1


__ADS_2