Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Bukan Mimpi


__ADS_3

Tidak terasa satu minggu sudah berlalu, Azka sudah satu minggu ini sibuk dengan urusan kantor hingga ia jarang berkumpul dengan sahabatnya. Sesekali mereka juga main kerumah Azka, namun sama saja Azka lebih fokus pada berkas-berkasnya.


Kali ini Azka bersungguh-sungguh untuk belajar bisnis karena yang ada dalam benak Azka semua usahanya ini nanti untuk Azkia. Untung saja ada adik dari Yudha yang membatu Azka dalam belajar bisnis, jadi ia tidak hanya berdua dengan Sinta.


Terlebih lagi sikap Azka yang semakin dingin kepada Sinta membuatnya sedikit menjauhi Azka. Ia sadar karena kesalahannya dulu yang membuat jarak diantar mereka berdua semakin jauh.


Sebenarnya Azka adalah orang yang cepat paham, sehingga Azka cepat mengerti saat mengikuti semua arahan dari om Yusuf. Seesekali Azka pergi perusahaan untuk menyerahkan berkas yang akan di periksa oleh Yusuf.


Azka memiliki tekad untuk berubah, agar tidak mengecewakan Azkia. Dia berusaha selalu memperhatikan saat guru menerangkan, perubahan Azka membuat sahabatnya tidak mempercayainya. Mereka beranggapan Azka berubah seperti itu hanya bertahan beberapa minggu saja, setelahnya kembali menjadi Azka yang biasnya.


Sedangkan Rayhan sudah mulai melaksanakan ujiannya yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah. Ia sudah mendaftarkan dibeberapa kampus dalam negeri, karena tak mendapatkan ijin dari orang tuanya jika harus meneruskan pendidikan di luar negeri.


.......................


Hari ini rumah Azkia terlihat sibuk, banyak orang yang berlalu-lalang. Sebuah dekorasi minimalist namun terlihat indah dan elegan terpajang rapi diruang tamu rumah Azkia. Dengan nuansa putih membuat dekorasi itu tampak serasi dengan banyak hiasan-hiasana yang membuat ruang tamu itu semakin cantik.


Tidak kalah sibuknya orang-orang yang sedang berada di dapur, mereka memasak berbagai macam hidangan yang cukup menggugah selera siapapun yang milihatnya.


Azkia tengah asik mewarnai kukunya dengan cat kuku yang berwarna transparan sehingga tidak terlihat jika ia sedang mengenakan cat kuku. Disebelahnya ada kedua sahabatnya yang sibuk mencari gaun yang cocok untuk menemani Azkia malam nanti.


"Arrrgghh!" kesal Azkia yang membuat Nayla dan Devira terkejut.


"Kenapa, Ki?" tanya Nayla.


"Cepat bilang, kalo gue lagi mimpi... ini gak nyata kan?" ucap Azkia sambil menggoyangkan tubuh Nayla.


"Apaan yang mimpi?" tanya Devira yang tengah asyik menatap layar ponselnya.


"Gue lagi mimpi kan, tunangan nanti malam... haha cepat cubit gue, Ra!" perintah Azkia sambil mengulurkan tangannya ke wajah Devira.


Dengan senang hati Devira melakukan hal yang di minta Azkia.


"Awwhh, sakit!" pekik Azkia sambil mengusap lengannya.


"Lah katanya minta dicubit, giliran udah dicubit teriak-teriak gitu." protes Devira.


"Lo itu gak mimpi, Ki... nanti malam lo resmi jadi tunangan pangera Azka." ucap Nayla sambil membayangkan wajah Azka.


"Bawa kuda gak?" tanya Azkia sambil terkekeh.


"Inget cowok temen lo itu, jangan disikat juga," kata Devira sambil melempar bantal ke wajah Nayla.


"Bayangin dikit doang, gak apa kan, Ki?" kata Nayla sambil terkekeh.


"Atta mau lo kemanain?" tanya Azkia.


"Gue karungin biar gak liat," canda Nayla.


"Tapi serius ya, gue deg-degan banget ini... masih gak nyangka kalo mau tunangan sama badboy sekolah," ucap Azkia sambil memegang dadanya.

__ADS_1


"Badboy yang udah bisa ambil hati lo, yang udah mati rasa itu," sindir Devira.


"Gitu-gitu dia most wantednya sekolah kita, mungkin kalo anak-anak yang lain tau hari ini lo tunangan sama Azka... hari ini akan jadi hari patah hati nasional," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Untungnya gue udah minta papa buat rahasian acara ini," batin Azkia.


"Yak! Betul itu hari patah hati nasionalnya si badboy, apalagi si nenek sihir itu bakalan nangis-nangis dia," ucap Devira sambil tertawa membayangkan wajah Siska.


"Hust! Nanti lo disihir jadi katak loh," canda Azkia membuat mereka semua tertawa bersama.


Hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore, make up yang di panggil mama Lala pun sudah datang. Mereka langsung menuju kamar Azkia untuk merias wajah Azkia terlebih dahulu, kemudian kedua sahabatnya.


...........


Dirumah Azka.


Sejak tadi Azka hanya diam saja sambil melipat kedua tangannya didepan dada.Azka mengamati setiap gerak gerik dari kedua sahabatnya itu yang sedang sibuk mencicipi beberapa makanan yang dimasak oleh mama Kayla dan juga dibantu beberapa asisten rumah tangga.


"Ini enak banget, tan," ucap Attaya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Heh! Kalo ngomong tuh makanannya dikunyah dulu, muncrat ini!" kesal Devan.


"Dikit doang, Van... marah-marah mulu lo tuh," gerutu Attaya sambil mencomot beberapa potong kue dihadapnnya.


"Udah weh, nanti habis lo makan!" ucap Devan sambil memukul tangan Attaya.


"Tuh dengerin, GAK APA!" ucap Attaya dengan penekanan di dua kata terakhir.


"Dahlah!" Devan pergi dari dapur dan menghampiri Azka yang sejak tadi hanya diam saja.


"Tegang ngab?" tanya Devan yang sudah duduk di sebelah Azka.


Kemudian disusul Attaya yang masih membawa toples makanan ditangannya.


"Gak," singkat Azka.


"Terus kenapa diam aja dari tadi, sakit gigi?" tanya Attaya.


"Gak!"


"Lo lagi bayangin malam pertama ya?" tanya Devan.


"Pikiran lo kejauhan!" kesal Azka.


"Canda doang, marah-marah mulu," kata Devan.


"Efek mau tunangan tuh, jadi uring-uringan mulu," saut Attaya.


"Gue itu lagi mikir, nanti pas tunangan gue harus ngapain?" ucap Azka.

__ADS_1


"Tuker cincin kan?" saut Devan.


"Inget ngab, cincinnya lo masukin ke jari manisnya jangan ke jempolnya," ucap Attaya sambil terkekeh.


"Itu gue juga paham," saut Azka sambil merebut satu toples kue kering yang Attaya bawa.


"Heh kalo mau ambil sendiri!" teriak Attaya.


"Bodo!" kata Azka sambil melangkah menuju kamarnya.


Devan hanya menggeleng melihat kelakuan kedua sahabatnya, kemudian menyusulnya sambil membawa setelan tuksedo yang akan di kenanakan oleh Azka dan dirinya.


Brak!


Devan membuka pintu kamar Azka dengan kasar, membuat Azka yang sedang melamun terpelonjat kaget.


Hal itu memberikan hiburan tersendiri untuk Devan dan Attaya, mereka berdua sangat senang jika melihat Azka kesal dari pada wajah dinginnya.


"Cih, kalo pintu gue rusak lo ganti!" ucap Azka.


"Pintu doang, kecil ngab... hati lo aja bisa gue ganti," canda Devan.


Azka menatap tajam sahabatnya itu, entahlah hari ini Azka sangat mudah marah. Apa saja yang sahabatnya lakukan selalu salah dimata Azka, seperti saat ini Azka marah hanya gara-gara hal sepele.


"Ka, jangan panik lah.. tetap stay cool, jangan marah-marah mulu nanti muka lo cepet tua loh!" kata Attaya.


"Tauk lah!" ucap Azka.


"Sini duduk sini," pinta Devan.


Azka nurut saja seperti anak kecil, ia duduk ditengah-tengah Devan dan Attaya. Tubuhnya ia sandarkan pada sofa, perlahan tangan Devan menutup mata Azka.


"Mau ngapain?" tanya Azka.


"Udah nurut aja!" perintah Devan.


Azka hanya diam saja menuruti permintaan Devan, dengan lembut tangan Devan memijat kepala Azka agar rileks. Dari menekan pelipisnya hingga diantara mata Azka, membuatnya terbuai akan pijatan lembut Devan. Tanpa sadar Azka terlelap dalam tidurnya, membuat Devan dan Attaya bernafas lega.


"Lo darimana belajar kaya gitu?" tanya Attaya.


"Internet lah, emangnya lo makan mulu yang ada dipikiran lo!" ucap Devan.


"Makan itu kebutuhan!" ucap Attaya sambil terkekeh.


Devan mengabaikannya, ia lebih memilih ikut menyadarkan tubuhnya pada sofa sama seperti Azka yang sudah terlelap.


.............................


kalian mau author up Rayhan disni apa di apk sblh?

__ADS_1


__ADS_2