
Wajah Azka masih saja terlihat masam tapi ia juga sangat penasaran dengan keadaan Azkia. Ia dia sadar jika beberapa hari ini ada keinginan untuk makan makanan tertentu dan harus saat itu juga.
Dengan langkah lamban Azka menaiki anak tangga, ia masih bingung bagaiamana caranya berbicara dengan Azkia mengenai alat yang ia beli itu. Azka bingung harus memulai dari mana agar tak membuat Azkia tersinggung. Terlebih lagi beberapa hari ini mood Azkia sangat buruk.
Sesekali Azka mengacak rambutnya frustasi, kedua temannya sudah pamit pulang. Mereka tidak ingin mengganggu Azka.
Sebelum masuk ke dalam kamar Azka menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
Clek!
Pintu kamar terbuka terlihat Azkia yang masih sibuk berkutat dengan kertas-ketas dan juga laptopnya. Ia tersenyum manis dan menghampiri Azka. Seraya tangannya terulur untuk bersalaman dengan Azka, Azka yang paham langsung meresponnya. Punggung tangan Azka sekarang berada di jidat Azkia, lalu menciumnya sekilas. Azka hanya tersenyum sambil mengacak rambut Azkia.
"Baru pulang?" tanya Azkia sambil memeluk Azka.
"Iya," sautnya mengusap pelan punggung Azkia.
Azkia masih membenamkan wajahnya pada dada bidang Azka, "nyaman sekali," gumam Azkia.
Setelah seharian penat dengan semua kertas skripsi kini ia berada didalam pelukan Azka seolah hilang semua penat dan pusing yang ia rasakan. Begitu juga dengan Azka, setelah seharian bekerja dan rapat, pelukan dari sang istri mampu menghilangkan semua lelahnya.
"Manja!" Azka mencubit pelan hidung Azkia, ia hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku mandi dulu," kata Azka melepaskan pelukannya.
Azkia masih tidak bergeming, ia masih diam saja bahkan tangannya masih melingkar di pinggang Azka. Azka menaikkan sebelah alisnya bingung dengan sikap Azkia kali ini.
Cup!
Cup!
Dua ciuman mendarat mulut dikedua pipi Azkia, sontak saja membuat Azkia kaget dengan serangan Azka yang tiba-tiba. Azka tersenyum tipis melihat wajah Azkia yang terkejud bercampur malu.
"Bentar, ya!" Azka mengusap pelan pucuk kepala Azkia lalu ia bergegas menuju kamar mandi. Badannya sudah tidak nyaman.
Sedangkan Azkia ia menepuk-nepuk pelan pipinya sendiri, ia maish tidak percaya dengan apa yang ia lakukan sejak Azka pulang tadi.
Entahlah, ketika melihat Azka rasanya ingin sekali memelukanya lama. Bahkan jika boleh Azkia tak mengizinkan Azka mandi, tapi apa boleh buat ia melepaskan Azka begitu saja.
"Kenapa jadi manja gini sih?" gumam Azkia.
Setelah menyiapkan baju santai untuk Azka ia bergegas menuju daput untuk membuat teh hangat. Dengan cekatan Azkia membuat dua cangkir teh rasa vanila, harum wangi teh tercium hingga ruang tamu.
Setelah itu Azkia membawa dua cangkir teh masuk kedalam kamar, bertepatan dengan Azka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit basah, hingga akan menetes ke lantai.
"Kan udah dibilangin, keringin rambutnya dulu sebelum keluar kamar mandi. Nanti lantainya basah gimana? Terus kalau aku jatuh gimana?" cerocos Azkia tanpa henti.
Azka hanya diam saja sambil duduk disebelah Azkia, ia menggosokkan handuk kecil yang terkalung dileher pada rambutnya.
Cup!
Satu ciuman mendarat tepat di bibir Azkia, menurut Azka cara itu sanga ampuh membuat Azkia berhenti mengoceh. Dan benar saja, Azkia diam seketika setelah Azka menciumnya.
Hening!
Untuk beberapa saat tidak ada suara dari mereka berdua, hanya detak jam dinding yang terdengar begitu jelas.
"Nyun!"
__ADS_1
"By!"
Bahkan sekalinya berbicara, mereka terdengar bersamaan.
"Kamu duluan," kata Azka mengalah.
"Gak, kamu aja." tolak Azka.
"Hmm, kamu gak pengen makan apa gitu?" tanya Azka.
"Gak tuh, kenapa emangnya?" tanya Azkia sambil menatap Azka.
"Pusing gak?"
"Gak," saut Azkia cepat.
"Mual?" Azkia menggeleng.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Azkia penasaran.
"Aku nyidam!" ucap Azka.
"Hah Apa? Kok bisa?" kaget Azkia.
"Kata Attaya sama Devan gitu." jujur Azka.
"Kok bisa!" Azkia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kan beberapa hari ini aku tiba-tiba pengen makan ini itu, apalagi makanan yang biasanya aku gak suka ini jadi suka." kata Azka.
"Ngidam anak siapa?" polos Azkia.
Mendengar hal itu membuat kedua bola mata Azka seakan akan keluar dari tempatnya.
"Anak kamu lah, Nyun!" tegas Azka.
"Tapi aku gak hamil," saut Azkia.
Lalu Azka mengeluarkan alat pengecek kehamilan yang tadi ia beli diapotek. Azka meletakan alat itu diatas meja sambil menatap Azkia.
"Cek pake itu!" pinta Azka.
"I-ini si-siapa yang beli?" tanya Azkia tidak percaya.
"Aku," singkat Azka.
"Jadi coba cek, biar kita tahu kebenarannya kenapa aku seperti orang nyidam." jelas Azka.
Azkia mengambil alat itu dan membaca cara menggunakannya, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi sambil membawa alat tespek.
Azka menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, ia berharap jika Azkia benar-benar sudah hamil. Tapi kembali lagi jika belum ia juga tidak mempermasalahkannya.
Clek!
Terlihat Azkia keluar dari dalam kamar mandi, raut wajah yang tidak bisa diartikan. Membuat Azka semakin gelisah.
"Gimana?" tanya Azka.
__ADS_1
Azkia menoleh dan menatap Azka, ia tidak berbicara apapun hanya mengulurkan hasil dari alat tadi. Azka menerimanya lalu melihat alat tespek itu.
"Garis dua, maksudnya?" tanya Azka yang tidak paham.
"Maksudnya apa ini?" tanya Azka lagi.
"Positif,"
"Hah, positif apa?"
"Hamil,"
"Hamil apa?" tanya Azka spontan.
"Eh, hamil? Serius?" tanya Azkia setelah menyadari ucapannya Azkia.
Azkia mengangguk sambil menatap Azka air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja membasahi pipinya, dengan cepat Azka menarik Azkia masuk dalam pelukannya.
"Terimakasih," bisik Azka, ia sangat bahagia bahkan kebahagiaannya tidak bisa diutarakan lagi.
"Terimakasih, Nyun!" Azka mencium pucuk kepala Azkia lama, sedangkan Azkia masih belum menyangka jika ia akan menjadi seorang ibu.
Terkejut? Pasti, karena Azkia tidak merasakan tanda-tanda jika ia sedang hambil. Tapi memang beberapa hari ini moodnya sangat labil, mudah sekali marah dan bahagia.
"By, coba deh cubit aku... ini gak mimpi kan?"
Dengan senang hati Azka mencubit pipi Azkia.
"Auhh, sakit!" keluhnya.
"Berarti ini gak mimpi sayang," Azka memeluk Azkia lagi.
"Nanti kasih tau mama sama papa, ya! lanjut Azka. Sedangkan Azkia hanya mengangguk saja.
Azka memberikan teh hangat yang sudah dingin itu kepada Azkia. Perlahan Azkia meminum teh dingin itu, tiba-tiba saja Azkia langsung berlari menuju kamar mandi.
Ia memuntahkan semua isi yang ada diperutnya, wajahnya terliat sedikit pucat.
"Kamu gak apa-apa, Nyun?" tanya Azka.
"Mual,"
Azka membantu Azkia berjalan menuju bibir ranjang, ia menyodorkan segelas air putih pada Azkia. Azka merasa kasihan melihat sang istri yang terlihat lemas, pucat. Jika bisa Azka mau menggantikan sang istri aeperti itu, tapi bagaimana lagi ia tidak bisa.
"Mau makan?" tanya Azka lembut.
Azkia menggeleng, "Mau kamu!" katanya sambil tersenyum manis.
Azka menurut saja dengan perlakuan snag istri yang memeluknya sambil tiduran diatas kasur. Tangannya sibuk memainkan hidung Azka, sesekali Azkia mencium pipi sang suami.
...----------------...
Hayo lohh!
...Jangan lupa mampir di karya author yang "KETUA OSIS POSESIF" ...
...Like + Favorite + Comemt! Thanks...
__ADS_1