
Matahari sudah menampakan cahayanya setelah pagi tadi cuaca mendung hingga diguyur hujan. Azka tertidur hingga siang hari, kini badannya sudah terasa lebih enakan dari sebelumnya. Kemudian Azka teringat akan kejadian tadi pagi, sehingga dia langsung bangun dari tempat tidurnya dan mencari mamanya.
"Tadi pagi bukan mimpikan..?" batinnya
"Mah! Mamah.. Pah! Papah.." teriak Azka sambil menuruni tangga menuju ruang keluarga.
"Maahh! Paahh!" ucap Azka saat membuka pintu kamar Mamanya.
"Hah kosong? Jadi tadi gue cuma mimpi..?" tanya Azka pada dirinya sendiri.
"Maah! Mamaahh.." teriak Azka lagi yang masih mencoba memastikan kehadiran mamanya.
"Paahh..?" panggil Azka saat mengehatahui jika di dapur ada seseorang.
"Iya den kenapa?" tanya Bibi, ternyata yang berada di dapur adalah Bibi bukan papa atau mamanya.
"Gaakk.." ucap Azka sambil kembali ke ruang keluarga.
Azka membaringkan badannya di atas sofa, menutup matanya dengan lengan tangannya. Tiba - tiba saja bibi datang membawakan makan siang dan juga jus untuk Azka.
"Den di makan dulu, jangan lupa obatnya juga.." kata bibi sambil menaruh nampan yang berisi makanan di atas meja.
"Taruh situ aja Bi.." kata Azka dengan malas.
"Tadi orang tua den Azka pulang, tapi ada telephone kalo cabang yang di Bali ada masalah jadi tadi langsung terbang ke Bali.." jelas Bibi yang mengetahui jika Azka kecewa.
"Hmmm..."
"Yaudah bibi ke dapur dulu, kalo perluh apa - apa panggil Bibi aja.." ucap Bibi sambil berjalan ke arah dapur sedangkan Azka hanya diam saja.
"Jadi lebih penting kerjaan dari pada anaknya yang sedang sakit..." batin Azka.
Karena saat seperti ini Azka hanya butuh orang tuanya berada disisihnya, seperti kemaren di rumah Azkia mamanya Azkia merawatnya dengan baik. Sedangkan sekarang dirinya di tinggal lagi.
Yudha Pratama Aldirc, yang kerap disapa Yudha Aldric adalah ayah dari Azka. Beliau seorang pebisnis di bidang properti yang memiliki cabang dimana - mana. Kayla Lestari adalah seorang perempuan cantik tangguh dan juga pintar, beliau selalu membantu Yudha dalam menangani bisnis mereka. Hingga waktu untuk mengurus anak pun terbuang karena terlalu sibuk bekerja.
Otaknya kembali mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat Azka masih di bangku sekolah dasar.
__ADS_1
*Flashback*
Saat itu Azka masih berumur 11tahun, dia masih di bangku sekolah dasar kelas lima. Orang tuanya sedang berada di luar kota, Azka di rumah hanya dengan Bi Mira saja. Kebetulan waktu itu Azka terkena demam yang lumayan tinggi, dokter sudah di panggil bahkan sampai di bawa kerumah sakit namun tetap saja Azka masih sakit belum juga muncul tanda - tanda sembuh. Bi Mira yang khawatir memberitahu kedua orang tua Azka namun sayang, saat itu tepat sekali pekerjaan mereka tidak bisa di tinggal bahkan di wakil kan juga tidak bisa. Padahal Azka hanya merindukan mereka, sampai membuat Azka sakit pun tetap tidak membuat kedua orang tuanya pulang.
Sehingga Azka melewati semuanya hanya berdua dengan Bi Mira saja, karena sampai beberapa hari Azka di rawat di rumah sakit orang tuanya belum juga kembali. Sejak saat itu Azka yang hangat kepada siapapun menjadi pendiam dan menutup hatinya untuk siapapun. Bahkan sikapnya menjadi dingin sedingin Es, Azka bahkan tidak bisa terbuka kepada siapapun. Tertawa pun sangat jarang, namun sekarang sudah lebih hangat dari pada dulu.
Seorang anak hanya ingin kasih sayang dari orang tuanya, apalagi jika sedang sakit. Hanya butuh perhatian kecil seperti sudah minum obat belum? Mau makan apa? Sebenarnya hal - hal seperti itu saja sudah membuat Azka bahagia, tapi kenyataanya tidak sesuai dengan bayangan Azka. Disudut mata Azka keluar cairan bening saat memikirkan itu semua, membuat Azka terlelap lagi dalam tidurnya, bahkan dia tidak mengetahui jika sahabatnya datang.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk oleh seseorang, dengan cekatan Bibi menuju pintu utama untuk membuka kan pintu. Ternyata Attaya Devan juga Azkia Devira dan Nayla mereka semua datang untuk memastikan Azka sudah berada di rumah atau belum.
"Assalamualaikum Bi, Azkanya ada Bi?" tanya Attaya sopan saat bibi membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, ada kok den Azka di dalam.. Ayo masuk saja.." ucap Bibi sambil mempersilahkan mereka semua masuk.
"Azka di mana bi?" tanya Devan
"Di ruang keluarga, kalian langsung kesana saja.. Bibi buatkan minum dulu.." ucap Bi Mira sambil berlalu ke arah dapur.
"Gak usah repot - repot Bi, kalo perlu jajannya juga ya wkwkwk..." canda Attaya, Bibi yang sudah akrab dengan Attaya dan Devan pun tidak masalah dengan candaannya.
"Biariin weks" ucap Attaya sambil menjulurkan lidahnya, sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
Mereka semua menemukan Azka yang terbaring di sofa, terlihat makanan dan juga obat berada di meja masih utuh tanpa ada bekas di sentuh sedikit pun.
"Cih.. ini pasti Azka gak mau minum obat lagi.." kata Devan sambil melihat jenis obat apa yang ada di atas meja.
"Kenapa?" tanya Devira
"Dia tuh kao minum obat susah pake banget, kalo bisa sembuh kenapa harus minum obat gitu katanya.." jelas Attaya kepada ketiga temannya.
"Ki, bangunin Azka suruh minum obat!" perintah Nayla
"Kok gue sih? Lo aja kenapa?" bantah Azkia
"Udah buruan kita mau nyusulin bibi dulu mau minta makan." ucap Devira sambil memberi kode kepada Devan Attaya dan Nayla untuk meninggalkan Azkia.
__ADS_1
"Eh ta-tapi kan gue juga laper.. masa gue ngurusin ini bocah.." kesal Azkia
"Nanti kita bawain makanan okeee.." ucap Nayla sambil mengedipkan sebelah matanya
"Hmmm..." Azkia menarik nafas panjang, pasrah saja dengan kelakuan teman - temannya.
Azkia mencoba membangunkan Azka yang sedang tertidur, digoyangkan badan Azka pelan namun tidak bangun. Sehingga Azkia mencoba menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Azka, membuat Azka terbangun dan kaget di depannya ada seorang wanita.
Azkia juga kaget saat Azka tiba - tiba bangun, membuatnya hampir jatuh mengenai meja. Tapi untung saja Azka menangkapnya sebelum Azkia benar - benar jatuh. Dan sekian kalinya Azkia terpesona akan wajah Azka.
"Hmmm..."
"Eh maaf.." ucap Azkia sambil melepaskan Azka.
"Ngapain disini?"
"Kita jenguk loh lah masa mau karaoke.." jawab Azkia
"Aaaa.." ucap Azkia lagi sambil menyodorkan sesendok nasi didepan Azka.
"Gaakk." tolak Azka sambil memegang tangan Azkia agar tidak menyuapinya.
"Udah buruan, Jangan kaya anak kecil mau sebuh gak..?" ucap Azkia yang langsung menyuapkan nasi itu kemulut Azka tanpa pesetujuan dari Azka. Mau tidak mau Azka menerima suapan itu.
Setelah habis, Azkia memberikan obat kepada Azka untuk diminumnya tapi Azka menolaknya. Azkia memiliki banyak cara agar Azka mau meminum obatnya. Dan dengan susah payah akhirnya Azka meminum obatnya, membuat Azkia bangga karena sulit sekali membujuk Azka untuk minum obat.
"Anak pinter.." ucap Azkia sambil mengacak rambut Azka, Azka yang kesal di perlakukan seperti itu oleh Azkia langsung saja menarik tangan Azkia membuatnya terjatuh di dalam pangkuan Azka.
"Heh mau ngapain lo? Lepasin gak.." brontak Azkia karena takut Azka berbuat macem - macem terhadapnya.
"Diam! Biar kaya gini bentar, Oke?" ucap Azka sambil menyandarkan kepalanya di bahu Azkia dan memejamkan matanya.
"Oh Oke.." jawab Azkia canggung.
"Kasian banget sih lo, Azka Aldric.." batin Azkia sambil mengusap pelan kepala Azka, iya Azkia sudah mendengar cerita kenapa Azka menjadi seperti ini. Dari dapur terlihat mereka berempat sedari tadi mengintip Azka dan Azkia, ini juga salah satu rencana mereka agar Azka dan Azkia menjadi lebih dekat.
.
__ADS_1
..."Kau mesti tahu, cara paling baik untuk merasa bahagia seutuhnya adalah dengan menerima setiap kekurangan, mensyukuri setiap kelebihan "...
........................