
Setelah semalaman diguyur hujan, pagi ini matahari masih bersembunyi dibalik awan hitam. Udara dingin menyapa mereka yang sedang bergegas berangkat ke sekolah, tidak jarang terlihat mereka menggenakan jaket agar tidak terasa dingin.
Mikael yang sejak pagi sudah berangkat lebih memilih duduk diam di dalam mobilnya sambil menunggu kedatangan Azka. Mikael setia mengamati gerbang, ia tidak ingin kecolongan oleh Azka.
Bruum brumm.
Suara tiga motor sport memasukin area parkir sekolah. Kali ini mereka berangkat bersama dengan pasangannya masing-masing.
Azkia turun dari motor Azka, lalu melepaskan helm yang ia pakai. Devira dan Nayla menghampiri Azkia sambil menunggu pasangan mereka masing-masing.
Pemandangin ini membuat siapa saja memiliki rasa iri, karena kekompakan mereka.
Mikael yang mengetahui Azka sudah datang, ia langsung bergegas menghampiri Azka yang baru saja melepaskan helm fullfacenya.
Bruk bruk!
Dua tinjuan mendarat di mulus perut Azka, membuatnya jatuh tersungkur dilantai. Devan dan Attaya yang berada dekat dengan Azka pun langsung mengamankan Azka agar tidak terjadi perkelahian, mengingat ini masih dilingkungan sekolah.
"Mau lo apa sih?" tanya Devan yang menghalangi Mikael.
"Kalian gak tau kan, gara-gara Azka ... Siska mau melakukan percobaan bunuh diri dan sekarang dia lagi dirawat dirumah sakit. Kalau aja kemaren gue telat bawa dia kerumah sakit, gue gak tau lagi apa yang akan terjadi!" teriak mikael sambil menunjuk-nunjuk wajah Azka.
Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian mengingat ini masih pagi, banyak siswa yang menghentikan niatnya menuju kelas hanya untuk menonton perkelahian mereka.
"Salah gue?" tanya Azka tidak percaya.
"Iya! Salah lo! Kalau aja lo gak buat dia cinta sama lo, dia gak akan seperti ini!" bentak Mikael.
Mendengar perkataan Mikael membuat rahang Azka mengeras, ia tidak terima dengan tuduhan Mikael. Karena, faktanya Siska lah yang selalu saja mengejar Azka sejak dulu. Azka sudah menggunakan cara halus maupun kasar agar Siska mengerti jika dirinya tidak menyukai Siska. Tapi apa, Siska seolah tidak melihat semua itu. Siska terus saja mendekati Azka padahal dirinya sendiri tahu didalam hati Azka ada siapa.
BRUK!
Azka meninju wajah mulus Mikael yang mengakibatkan kelur darah segar dari sudut bibirnya.
"Azka!" teriak Azkia yang mulai panik, tapi sayangnya Azka seolah tidak mendengar teriakan Azkia dan teman-temannya.
"Cih!" Mikael mengelap sudut bibirnya.
"Harus berapakali gue bilang, gue gak pernah buat Siska suka sama gue!" bentak Azka sambil mencengkram kuat kerah Mikael.
Mikael hanya tersenyum meremehkan ucapan Azka, membuat Azka semakin naik darah.
__ADS_1
"Sikap gue ke dia, apa belum cukup nunjukin kalo gue gak ada perasaan apapun sama dia!" bentak Azka, tangan kanan yang sudah mengepal hampir saja mengenai wajah mulus Mikael.
"Kenyataannya dia cinta sama lo, sampai berani lukain dirinya sendiri! Lo, gak pernahkan ada diposisi dia." Mikael melepaskan cengkraman Azka.
"Lo gak pernah rasain gimana rasanya cinta sama orang yang gak cinta sama lo. Apapun yang lo lakuin gak akan terlihat dimata dia, walaupun lo mati sekalipun dia juga gak akan perduli. Karena dihatinya ada orang lain!" entah kenapa dengan mudahnya Mikael mengungkapkan semua isi hatinya yang ia rasakan selama ini didepan Azka.
Azka hanya diam saja sambil mendengar semua perkataan Mikael.
"Gue yang udah berjuang selalu ada buat dia, dan gue juga udah minta buat dia lupain lo! Tapi apa, dia cuma bilang 'akan gue coba'dan sampai detik ini masih lo yang ada dihatinya," ucap Mikael sambil tersenyum miris.
"Gue benci sama lo, gara-gara lo gue gak bisa dapetin orang yang gue cinta!" teriak Mikael sambil menonjok rahang Azka.
Azka terhuyung kebelakang, pikirannya menjadi kosong dengan semua perkataan Mikael.
"Apa salah gue kalau mereka ada perasaan sama gue, apa gue pantas dicintai... sampai orang tua gue cuma sibuk kerja dari pada ngurus anaknya." batin Azka.
BRUK!
lagi tinjuan itu mendarat diwajah Azka, Devan dan Attaya mencoba memisahkan mereka berdua karena Azka juga melawan walaupun pikirannya sedang kosong.
"AZKA, STOP!" teriak Azkia membuat Azka tersadar bersamaan dengan suara yang tidak asing bagi mereka semua.
Azka hanya diam saja sambil memegangi wajahnya yang sudah memar, disebelahnya ada Azkia dan Attaya. Sedangkan Mikael masih dipegangi oleh Devan.
"Azka, Mikael, Devan dan kamu Attaya ikut keruangan saya sekarang!" bentak pak Slamet.
"Saya gak salah, pak!" ucap Attaya.
"Jelaskan nanti diruangan saya, sedangkan kalian bertiga cepat kembali ke kelas!" ucap tegas pak Slamet.
"Baik pak!" ucap ketiga cewek bersamaan, setelah itu mereka kabur dari hadapan pak Slamet.
"Kalian kenapa masih disini, cepat keruangan saya!" teriak pak Slamet membuat mereka menutup kuping.
_________
Setelah hampir setengah jam mereka mendapatkan ceramah pagi dari pak Slamet, kini mereka berempat dipaksa untuk hormat ditiang bendera hingga jam istirahat.
Devan dan Attaya sejak tadi sudah mengeluh, karena mereka berdua tidak ada sangkut pautnya dengan perkelahian. Tapi mereka ikut dihukum.
"Kalo gini caranya mending tadi ikut berantem, orang berantem gak berantem sama aja dihukum," ucap Attaya.
__ADS_1
"Bener, tau gitu kita berantem aja gak usah pisahin mereka berdua," ucap Devan sambil melirik Azka dan Mikael.
Drrttt drttt!
Ponsel Mikael terus berdering menandakan ada panggilan masuk. Setelah menoleh kekanan dan kiri, akhirnya Mikael mengangkat panggilan itu yang ternyata dari mamanya Siska.
"..."
"Baik tante, saya usahakan.. iya!" jawab Mikael setelah menerima telepon.
Setelah panggilan diakhiri, Mikael memasukan ponselnya lagi kedalam saku celan. Mikael takut jika ketahuan pak Slamet, bisa-bisa dia akan mendapatkan hukuman tambahan.
"Ka?" panggil Mikael namun pandangannya masih lurus kedepan.
"Hmmm?" saut Azka dengan malas.
"Nanti pulang sekolah ikut gue, Siska gak mau makan kalo gak ketemu lo!" ucap Mikael sambil menahan kekesalannya.
"Bukan urusan gue!" tolak Azka.
"Please, gue mohon sama lo... kasian anak orang Ka, dia lagi terbaring lemah dirumah sakit. Masa lo tega?" bujuk Mikael.
"Tega!" singkat Azka.
"Gak punya hati, lo!" kesal Mikael.
"Kalo gue datang dia makin berharap masa gue, muncul masalah lagi.. males gue!" Azka melirik sekilas kearah Mikael.
Sedangkan Devan dan Attaya hanya diam saja sambil menyimak setiap oborolan mereka berdua.
"Lo yakinin dia, biar dia move on dari lo! Biar gue bisa bener-bener masuk dalam hati dia, gue gak tega liat dia sakit kek gini, Ka." dari suara Mikael terlihat jelaa ia sedang putus asa dan sedih.
"Liat nanti," saut Azka.
Azka harus memberitahukan ini semua kepada Azkia terlebih dahulu, jika Azkia mengizinkan Azka akan berangkat. Tapi jika tidak, Azka juga akan menurut perkataan Azkia. Karena Azka takut jika Azkia akan salah paham terhadapnya, Azka tau jika Azkia tidak akan seperti itu. Tapi lebih baiknya bicarakan dulu dengan Azkia.
......................................................................................................
Berharap dan Kecewa adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan,
~Mikael
__ADS_1