
Banyak kegiatan lomba yang telah di laksanakan dalam dua hari ini, seperti saat ini yang sedang berlangsung lomba memasak, lomba cerdas cermat, lomba voly bahkan ada lomba membuat mading tiga dimensi. Namun semua kegiatan itu tidak satupun yang bisa membuat Azka tertarik untuk melihatnya, dia lebih memilih berada di taman sekolah merebahkan tubuhnya diatas bangku yang kosong.
"Kenapa gue jadi seperti orang bodoh gini sih, dari kemaren uring - uringan gak jelas." batin Azka sambil menghalangi matanya yang terkena cahaya matahari.
Dia tidak memperdulikan keributan yang ada di dalam kelasnya, saat semua temannya tengah sibuk mempersiapkan siapa yang akan mewakili kelas mereka untuk berpartisipasi dalam lomba.
Drrrtttt drrrttt
Ponselnya terus berdering namun Azka sangat malas untuk menerima panggil masuk tersebut. Azka tahu jika panggilan itu mungkin dari salah satu sahabatnya karena sewaktu Azka keluar dari kelas tidak ada satu pun yang mengetahuinya.
"Ka!" panggil seseorang.
Dengan malas Azka menjauhkan tangannya yang sedari tadi dia gunakan untuk menutupi matanya yang terkena cahaya.
"Gue mau ngomong sama lo." ucapnya lagi, yang masih berdiri memandangi Azka.
"Hmm." ucap Azka malas.
"Lo beneran udah jadian sama cewek baru itu?" tanya Siska, iya orang yang menghampiri Azka di taman adalah Siska.
"Iya." singkat Azka.
"Kenapa? Kenapa lo lebih milih dia dari pada gue, Ka.... gue itu kurang apa?" bentak Siska yang mulai kesal dengan kenyataan yang sudah dia dengar sendiri dari mulut Azka.
"Harus berapa kali gue bilang sama lo, kalo gue gak suka sama lo!" ucap Azka dengan malas, karena Azka sudah berulang kali menjelaskannya kepada Siska.
"Lo gak mau mencoba buka hati lo buat gue, Ka!" teriak Siska.
"Gak bisa, gue tau lo tuh gak cinta sama gue!" bentak Azka yang sudah mulai terpancing emosinya.
"Heh! Itu cuma perasaan lo aja yang gak peka, gue itu cinta banget sama lo, Ka. Jujur sakit banget tau gak, saat liat lo jalan sama dia dan gak memperdulikan gue yang selalu berusaha buat rebut hati lo!" ucap Siska sambil menangis tersedu - sedu, Azka hanya diam saja mendengar semua isi hati Siska yang di tujukan kepadanya.
"Lo tau, Ka? Gue sampai gila gara - gara lo... gue sampai lakuin semua cara agar bisa lebih dekat dengan lo, tapi apa semuanya gak pernah lo anggep, Ka!" lanjut Siska lagi.
"Jangan - jangan gue juga udah gila gara - gara Kia." batin Azka saat mendengar penuturan Siska.
__ADS_1
Hiks hiks hiks
Tangis Siska membuat siapa saja yang melihat itu menjadi kasihan kepadanya, sejahat - jahatnya orang pasti orang tersebut juga pernah mengalami masa paling sulit yang bisa membuatnya terpuruk.
Azka tidak tahu dia harus berbuat apa, namun dia juga kasihan melihat Siska yang seperti ini. Biasanya Siska selalu bertingkah manja dan menunjukkan senyumannya bahkan sampai emosi pun tidak pernah terlihat rapuh seperti ini.
Azka berdiri dari duduknya, saat akan berjalan meninggalkan Siska dengan cepat Siska menghampiri Azka lalu memeluknya dengan erat. Tangisnya seakan tumpah disana, namun Azka hanya diam saja tanpa mau membalas pelukan Siska.
Saat di rasa tangis Siska sudah mulai reda Azka mulai melepaskan pelukan Siska, kemudian meninggalkan Siska. Namun sebelum itu Azka mengatakan sesuatu kepada Siska tepat di telinganya.
"Menyerahlah dan carilah orang lain yang mencintaimu!" ucap Azka sambil berlalu meninggalkan Siska, yang masih sedikit sesegukan.
Siska memandang punggung Azka yang mulai menjauh darinya, kemudian dia menghampiri seseorang dan menanyakan sesuatu kepadanya.
"Bagaimana?" tanya Siska.
"Tenang saja semuanya beres." ucap orang tersebut yang tidak lain adalah Rima.
"Hahaa permainan baru di mulai Azkia dan selamat menikmatinya." ucap Siska sambil tertawa jahat.
......................
"Gimana?" tanya Azkia kepada Devan.
"Nihil." kata Devan sambil menggelengkan kepalanya. "Kalian lagi berantem ya, gue liat dari pagi Azka kesal mulu." tanya Devan karena penasaran dengan sikap Azka pagi tadi.
"Gak tuh, baik - baik aja kemaren kan kalian liat sendiri." jawab Azkia sambil menerawang kejadian kemaren.
Tiba - tiba saja Azkia mengingat kejadian tadi malam saat Azka terus menghubunginya, namun Azkia tidak menanggapinya.
"Atau jangan - jangan dia marah, soalnya habis pulang dari rumah Azka gue bantuin mama masak.... terus belum sempat balas pesan Azka, gue ada panggilan telepone, habis itu makan ponsel gue tinggal... tapi gue masih sempet bales pesan dia." jelas Azkia kepada Devan, sedangkan Devan mengangguk mengerti.
"Bisa jadi gara - gara itu, Ki.... lo tau tadi pagi motornya saja menjadi sasaran amarahnya Azka... gokil kalo lo liat sih ahhaha." cerita Devan kepada Azkia sambil tertawa.
"Haha segitunya... eh itu Azka, gue samperin dulu." ucap Azkia saat melihat Azka berjalan kearahnya dan juga Devan.
__ADS_1
Azkia menghampiri Azka, lalu berjalan mensejajarinya. "Dari mana?" tanya Azkia sambil menoleh ke arah Azka.
Namun Azka hanya diam saja dan terus berjalan menuju kantin karena perutnya terasa sangat lapar, sedangkan Azkia masih mengekori Azka.
"Azka.... jangan ngambek kaya anak kecil lah." kata Azkia sambil memegang tangan Azka, namun Azka menepisnya. Dia bersikap dingin dan acuh lagi kepada Azkia, namun sebenarnya hatinya tidak mau seperti ini. Mungkin karena ego dari Azka yang sangat tinggi membuatnya seperti ini.
"Azka, jangan jadi manusia es lagi, nanti aku kedingin gimana coba? Terus aku sakit gara - gara kedingin, emangnya kamu mau punya pacar sakit - sakitan?" canda Azkia yang mencoba menghibur Azka.
Azkia bingung harus bagaimana lagi untuk membujuk Azka agar tidak marah lagi. Kemudian Azkia menghentikan langkah Azka dengan cara dia berdiri tepat di depan Azka.
"Beruang kutub, i love you!" ucap Azkia tepat di depan Azka sambil tersenyum manis, membuat pertahanan Azka menjadi goyah.
Azka membuang wajahnya ke arah samping untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah menahan senyuman bahagia, mau bagaimana pun seseorang yang sedang marah tidak akan bisa terlalu lama mendiamkan seseorang yang dia sayangi.
"Jangan marah lagi, kemaren aku beneran lagi sibuk sampai tidak sempat memegang ponsel.... jadi maaf ya jangan marah lagi, oke!" kata Azkia lagi saat dirinya melihat Azka yang sedang menahan senyumannya.
"Janji gak akan gitu lagi." ucap Azkia sambil menunjukkan puppy eyes, dan tidak lupa Azkia mengacungkan jari tangannya membentuk huruf V.
Untuk beberapa saat Azka hanya diam sambil menatap Azkia, kemudian dia mengambil nafasnya panjang lalu membuangnya dengan kasar.
"Baiklah, tapi janji jangan mengabaikan pesan ataupun panggillan dariku... apa kamu paham?" tanya Azka.
"Siap bos! Akan aku usahakan hehe." ucap Azkia sambil memberikan hormat kepada Azka seolah sedang melaksanakan ucapara bendera.
"Harus di usahakan, bukan akan!" ucap Azka sambil mencubit hidung Azkia.
"Aawhh.. baiklah, kamu menang dasar manusia es susah di tebak." gerutu Azkia sambil mengusap hidungnya, bibir Azkia terus mengerucut yang semakin membuatnya terlihat imut.
"Dasar tukang mayun!" ejek Azka sambil mengacak - acak rambut Azkia dengan pelan, setelah itu dia berjalan mendahului Azkia.
"Biarin dari pada manusia es, yang wajahnya udah kayak patung jalan..wle" ucap Azkia sambil menjulurkan lidahnya yang terlihat tidak mau kalah mengejek Azka, kemudian Azkia menyusul langkah Azka menuju kantin.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka berdua.
......................
__ADS_1
..."Katanya cinta bisa membuat seseorang menjadi gila dan bodoh., seperti saat ini aku yang terus berjuang meski aku tahu hasilnya apa."...
...— Siska Kumalasari —...