
Tidak terasa waktu terus berlalu, hari demi hari telah mereka lewati bersama. Hingga tiba saat-saat yang paling menentukan hasil belajar mereka selama tiga tahun di SMA JAYA.
Segala cara telah mereka lakukan dari mulai berlatih soal, kuis, hingga tambahan waktu belajar menjelang ujian sudah mereka tempuh. Bahkan semua soal prediksi UN sudah mereka rampungkan.
Kini tinggal waktunya mereka bertempur dalam waktu kurang lebih empat hari kedepan, perjuangan selama beberapa bulan ini yang akan menentukan nasib mereka lulus atau tidak.
Suasana pagi ini sedikit berbeda dari biasanya, koridor sekolah terlihat sangat tenang. Bahkan tidak ada satu siswa pun yang terlihat. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang berjalan menuju kelas, ditangan mereka terlihat sebuah amplop besar berwarna coklat yang masih tersegel rapi.
Di halamanan sekolah terpapang papan yang cukup besar bertuliskan 'HARAP TENANG ADA UJIAN'. Ya hari ini adalah hari dimana kerja keras selama tiga tahun harus diuji, hari ini mereka melaksanakan ujian nasioan khususnya untuk kelas dua belas.
Azka terlihat biasa saja, berbeda dengan Bobo yang wajahnya terlihat panik. Pikiran-pikiran negatif muncul begitu saja membuat Bobo down, ua takut jika tidak bisa mendapatkan nilai yang cukup sehingga ia harus mengulang tahun depan. Itu akan membuat orang tuanya marah besar. Sedangkan Devan ia masih saja membuka catatan yang pernah Devira berikan untuk sekedar mengulang materi.
Trerrtt!
Suara bel berbunyi menandakan waktu ujian akan segera dimulai. Tas dan buku mereka taruh didepan kelas, tidak boleh ada apapun selain alat tulis serta kartu ujian.
Terlihat guru pengawas sudah memasuki ruang kelas, membuat suasana semakin mencekam. Hari pertama ujian adalah Bahasa Indonesia, dengan soal yang panjang-panjang membuat kita harus bisa memahaminya. Bahkan perlu membaca soal lebih dari satu kali agar tidak salah menjawab.
Setelah mengucapkan salam dan berdoa kini mereka di beri waktu hampir dua jam untuk mengerjakan soal.
Suasana dalam kelas sunyi dan senyap, hanya terdengar suara goresan penghapus pada kertas. Dan suara seperti tawon yang tak lain dari mereka yang membaca soal dengan suara pelan.
Azkia terlihat lancar menjawab setiap soalnya, sesekali ia menoleh kesamping kirinya. Bangku sebelah terdapat Azka yang tanpa ekspresi memandangi soal Bahasa Indonesia itu, hingga Azkia tidak bisa mengetahui Azka dapat mengerjakan soal atau tidak.
Melihat selama mereka belajar bersama Azka cukup cepat mengerti dengan penjelasan yang diberikan Azkia, bisa dibilang kemampuan Azka memang baik. Ia dapat dengan mudah mengerti hanya dengan sekali penjelasan dari Azkia.
"Semangat calon imam," lirih Azkia yang tidak dapat didengar oleh siapapun.
Namun ternyata Azka mendengarnya saat tanpa sengaja Azka melirik Azkia sekilas. Tanpa sadar bibir tipisnya terangkat sedikit membentuk setengah lingkaran. Seoalah semangatnya terisi penuh dengan bisikan Azkia tadi. Tangannya yang sejak tadi hanya diam saja, kini dengan lincahnya menari-nari diatas lembar jawab yang sejak tadi masih belum Azka sentuh.
.....................
Tanpa terasa waktu sudah hampir habis, lima belas menit lagi mereka harus segera menyudahi mengerjakan soal. Wajah panik terlihat dari wajah Bobo, ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Karena masih ada beberapa soal yangg belum ia jawab.
"Ko, nomer 14 apa?" bisik Bobo.
Ciko hanya memberikan kode melalui jemarinya jika jawabannya A maka ia akan menjulurkan jari telunjuknya. Jari tengah dengan huruf B, jari manis hutuf C dan jari kelilingking D.
"Nomor 20, 21, 22 sama 23 apa?" tanya Bobo lagi.
Pertanyaan Bobo membuat Ciko berdecak kesal, karena sekali bertanya sampai beberapa nomor.
__ADS_1
"Suutt, jawabannya apa?" tanya Bobo lagi.
Dengan malas Ciko memberikan jawabannya kepada Bobo. Tepat saat Bobo selesai menjawab mereka disuruh keluar meninggalkan lembar jawabnya diatas meja.
"Waktu habis, silahkan keluar!!" ucap guru pengawas yang berdiri di depan kelas.
Terdengar helaan nafas dari mereka semua, mengingat ujian kali ini adalah penentuan kelulusan mereka.
Azka berjalan terlebih dahulu disusul Azkia dan yang lainnya, disebalah kelas mereka tampak Devan dan Devira juga sudah keluar. Sedangkan dibelakang mereka area Nayla yang wajahnya terlihat putus asa.
"Kenapa beb?" tanya Attaya saat menghampiri Nayla.
"Aku pesimis," jawab Nayla lemas.
"Gak bisa ngerjain?" tanya Attaya.
"Bisa cuma ragu aja gitu, gimana ya susah sekali memahami yang panjang-panjang kaya gitu," gerutu Nalya sambil terduduk lamas.
"Jangan ragu dong, yakin aja!" saut Devira.
"Nanti nilaiku jelek gimana?" tanya Nayla.
"Udah yang tadi gak usah dipikirin lagi, yakin aja.. sekarang kita fokus mengulang buat mapel besok." ucap Azkia sambil mengusap punggung Nayla.
Mereka tidak langsung pulang kerumah melainkan menuju rumah Azka terlebih dahulu. Seperti hari-hari sebelum ujian mereka semua akan belajar bersama di rumah Azka, bahkan orang tua Azka mendatangkan guru les untuk mereka. Orang tua Azka sangat berharap nilai putranya itu memuaskan sehingga bisa membanggakan mereka.
"Hah! besok matematika.. gue lemah soal hitung-hitungan!" keluh Attaya, ia menyandarkan tubuhnya diatas sofa ruang tamu milik Azka.
"Sama," keluh Devan.
"Apalagi gue," ucap Bobo yang ikut menyandarkan tubuhnya bersama Attaya dan Devan.
Mendengar itu mereka bertiga saling bertatapan dan menghela nafas lagi.
Azka yang baru saja turun dari kamarnya, ia menatap heran ketiga temannya itu.
"Kenapa?" tanya Azka menunjuk mereka bertiga dengan dagunya.
"Biasalah, apalagi kalo bukan mengeluh," ucap Bobo yang sejak tadi diam saja sambil membaca buku catatannya.
"Pacar gue kemana?" tanya Azka saat tidak melihat keberadaan Azkia.
__ADS_1
"Mereka tadi kedapur, mau buat minuman katanya," ucap Ciko sambil melihat Azka sekilas.
Azka sibuk dengan ponselnya hingga tidak menyadari jika Azkia sudah berada di belakangnya.
Duk!
Tanpa sengaja kaki Azkia menabrak pinggiran meja membuatnya terhuyung kedepan. Azka yang duduk disebelah Azkia pun dengan cepat menangkap tubuh Azkia, sehingga ia tidak jadi terjatuh. Namun, kedua tangan Azkia yang sibuk membawa dua gelas orange jus tumpah begitu saja saat Azkia terhuyung.
"Ceroboh banget sih!" kesal Azka, kedua tangannya melingkar erat dipinggang Azkia.
"Maaf, hehe." ucap Azkia sambil memasang wajah memelas agar Azka tidak marah.
"Hmm, jangan diulangi lagi," ucap Azka.
"Siap bosku!" Azkia sudah berdiri tegak dan Azka sudah melepaskan pelukannya.
"ASTAGA!!!" teriak Azkia saat menyadari orange jus yang ia bawa mengenai wajah Attaya, Bobo dan juga Devan.
Mereka bertiga hanya diam saja sejak tadi menyaksikan live striming kemesraan Azkia dan Azka tanpa menyadari jika gelas yang berisi orange jus telah kosong.
"Kenapa?" tanya Devira dan Nayla berlari dari dapur.
Azkia dengan ragu-ragu menunjuk kearah Attaya dan Devan. Mereka semua mengikuti arah tangan Azkia, kemudian mereka menutup mulut karena tidak percaya.
Setelah dua detik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak, karena melihat wajah ketiga orang yang duduk disofa basah kuyup.
"Loh loh kalian habis nyebur dimana, kenapa basah gitu haha." ucap Devira, tanggannya sibuk mengusap air yang berada dipelupuk matanya.
"Ka-kalian kaya tikus kecebur digot, hahahaa!" ucap Nayla.
"Lucu!" kesal Devan.
"Bahagia, bahagia liat kita kek gini?" tanya Attaya.
"Luntur kegantengan gue," ucap Bobo dengan mengibaskan kepalanya kekiri dan kanan.
"Cih! Percaya diri sekali lo!" cebik Ciko.
"Lah emang gue ganteng," ucap Bobo dengan percaya diri.
Sedangkan Azka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya.
__ADS_1
Setelah itu mereka membuka buku catatan untuk mengulang pelajaran yang sudah mereka pelajari selama beberapa bulan yang lalu, hanya untuk mengingat materi.
...--------------------------------...