
Azka mendengus saat terdengar pesawat yang ia tumpangi akan segera lepas landas. Itu menandakan ia harus berpisah dengan gadis pujaannya. Terlihat Azkia yang tetap berusaha tersenyum sambil menahan air matanya, ia tidak ingin dianggap lemah oleh Azka. Tapi bagaimana juga air mata tidak dapat dipaksa untuk berhenti begitu saja, karena itu alami akan jatuh saat hati merasakan gejolak yang berbeda.
"Nyun?" lirik Azka.
"Iya, pergilah... belajar yang rajin, ya!" kata Azkia sambil menyungingkan senyuman manis untuk Azka.
Hati Azka bergetar, ia benar-benar lemah jika dihadapkan dengan Azkia. Azka menarik Azkia masuk kedalam pelukannya.
Azkia menepuk-nepuk punggung Azka, seolah sedang memberikan Azkia kekuatan Tapi kenyataannya mereka berdua sama-sama rapuh dan tidak rela. Namun keadaan yang memaksanya.
"Udah sana, kan gak ada ceritanya pesawat nunggu penumpang hehe." canda Azkia, agar Azka bisa kuat meski dirinya juga tidak bisa.
Azka menarik nafasnya dalam, mencoba menguasai hatinya dengan berusaha menerima semua ini. Azka melepaskan pelukan itu. Kedua matanya terpejam, tangannya memegang erat kedua lengan Azkia.
Perlahan wajahnya mendekati Azkia, melihat itu Azkia ikut memejamkan matanya. Terasa ada sesuatu yang hangat menempel pada kening Azkia, Azkia tahu apa yang sedang Azka lakukan.
Cukup lama Azka melakukan itu, hingga suara public information service terdengar lagi.
"Panggilan terakhir kepada penumpang pesawat tujuan Indonesia-Amerika dimohon segera boarding, karena pintu keberangkatan sudah dibuka."
Azka menepuk pelan pucuk kepala Azkia lalu mengacak-acak rambutnya. Dari arah belakang terlihat ketiga sahabatnya yang datang mendekat. Azka berpamitan kepada mereka, satu-satu Azka peluk kecuali Devira.
"Hati-hati, Ka!" ucap Devan sambil melepas pelukannya.
"Hmmm."
Azka beralih memeluk Attaya, seseoramg yang selalu membuatnya naik darah tapi Azka suka.
"Jangan kangen sama gue, ya!" ucap Attaya sambil menepuk punggung Azka.
"Gak kebalik?" ucap Azka sambil terkekeh.
Azka dan Devira saling bersalaman karena saat akan memeluk Azka. Devira mendapatkan tatap tajam dari Devan dan juga Azkia.
"Baik-baik disana! Inget jangan mendua, kalau lo sakitin temen gue.. habis lo!" Devira memberi peringatan pada Azka.
"Tenang, hati gue udah mati rasa buat orang lain selain Azkia!" ucap Azka yang membuat Azkia tersenyum. Hatinya merasa hangat saat mendengar hal itu.
"Uhuuk, masih sempet-sempetnya ngbucin!" sindir Attaya.
"Nitip Azkia, ya... kalau dia nakal kasih tau gue!" Azka tak menghiraukan perkataan Attaya.
"Siaapp!" jawab Devira.
__ADS_1
"Yaudah semuanya, sampai jumpa!" Azka melambaikan tangannya pada mereka semua.
Tatapan Azka tidak teralihkan dari Azkia, kemudian ia melangkah kan kakinya. Tangan kirinya menarik sebuah koper berwarna hitam, sedangkan tangan kanannya sibuk memakai kacamatanya kembali.
"AZKA!" panggil Azkia, ia sedikit berlari menyusul Azka. Tangganya menarik baju Azka membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Kalau udah sampai sana jangan lupa kabarin, jaga kesehatannya!" lirih Azkia yang masih bisa di dengar Azka.
"Iya sayang," jawab Azka.
"I love you more," ucap Azkia.
"Love you too, Nyun!" setelah itu Azka memeluk Azkia sekilas, lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
Sesekali Azka menoleh kebelakang sambil melambaikan tangannya. Sambil berusaha tetap tersenyum meski sulit.
Azkia? Jangan ditanya, ia sudah menangis tersedu-sedu sambil memeluk Devira. Air matanya terus jatuh begitu saja, tanpa ada niatan untuk berhenti. Sesak itulah yang Azkia rasakan. Jiwanya seperti hilang setengah saat melihat pesawat yang Azka tumpangi sudah lepas landas.
"Azka," lirih Azkia.
"Dia pasti kembali, Ki... lo harus kuat!" Devira mencoba menguatkan Azkia.
"Gue tahu, Ra! Tahu! Tapi entah kenapa rasanya hati gue juga ikut pergi bersama Azka, hati gue rasanya perih, Ra! Gue gak nyangka saat gue bener-bener sayang sama orang dan dia juga sama, kita harus berpisah. Hiks hiks hiks!" Azkia terus menangis hingga matanya bengkak.
Kemudian Devira memapah Azkia menuju parkiran, kali ini Azkia akan pulang bersama Devira naik mobil milik Devan. Sedangkan motor Devira akan dibawa oleh Attaya.
Jika bertanya dimana orang tua Azka, mereka tadi juga ikut mengantar Azka. Tapi pergi dahulu sebelum Azka take off, karena itu Azka bisa berganti penerbangan untuk bertemu Azkia.
......................
Setelah sampai di rumah Azkia langsung masuk kedalam kamarnya, ia berjalan seperti zombi. Tatapannya kosong, bahkan Azkia tidak menghiraukan pertanyaan sang mama dan juga tantenya. Hal itu membuat sang mama khawatir.
Tok tok tok
"Sayang, mama masuk, ya?" ucap mama Lala sambil membuka knop pintu kamar Azkia.
"Kia pengen sendiri dulu, mah!" jawab Azkia dari dalam. Suaranya terdengar menyedihkan bahkan masih terdengar isak tangisnya.
Mama Lala mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Azkia, beliau membiarkan Azkia menenangkan dirinya.
"Iya, kalau ada apa-apa panggil mama aja!" ucap mama Lala yang menutup kembali pintu kamar Azkia yang sempat ia buka.
"Iya." ucap Azkia sendu.
__ADS_1
Azkia meneluk lututnya erat lalu membenamkan kepalanya pada lutut itu. Ia masih saja menangis, meski sudah lelah rasanya air mata itu tidak akan habis.
Azkia mengingat jelas setiap waktu yang sudah ia lalui bersama Azka. Bahkan ia mengingat pertemuan pertama mereka, hingga kemarin Azka memberikannya semua hadiah jam tangan.
"Hampa, hati gue bener-bener kek ada yang hilang gitu. Ka!" gumam Azkia.
Sesekali Azkia melihat layar ponselnya, mungkin saja Azka sudah menghubunginya. Azkia berjanji tidak akan mematikan ponselnya meski sedang dicharger. Dia tidak ingin terlewat waktu bersama Azka walau hanya lewat pesan singkat atau panggilan telepon.
Azkia tidak perduli jika nanti ia diberi gelar bucin oleh sahabatnya, karena memang itu yang Azkia rasakan.
Di lantai bawah masih ada Attaya, Devan dan juga Devira yang sedang mengobrol dengan mamanya Azkia. Disebelahnya ada tante dan juga si kecil Zeo, mama Lala merasa khawatir dengan keadaan Azkia saat ini.
Sehingga mama Lala menyuruh mereka bertiga untuk sering-sering main kerumah, setidaknya mereka bisa membuat Azkia tidak merasa sendiri setelah keberangkatan Azka. Mama Lala tidak tahu apa rencana Yudha yang memaksa Azka kuliah diluar negeri.
"Kalian sering-sering main kesini, ya! Biasanya Azka yang dateng tiba-tiba main sama Azkia, mungkin dengan adanya kalian suasana hati Azkia bisa lebih baik." pinta mama Lala.
"Iya tante, Ira akan sering main kesini kok... nanti Ira aja Nayla dan yang lainnya juga." jawab Devira sambil memegang tangan mama Lala.
"Iya tante, untuk sementara Azkia biar tenangin hatinya dulu... dia masih belum bisa menerima hubungan jarak jauh." kata Devan.
"Kita nanti juga akan masuk Universitas yang sama tan, biar tetap bersama meski beda jurusan." kata Attaya.
"Heleh, modus... bilang aja biar deket terus sama Nayla," cibir Devan.
"Sirik aja lo, lo sendiri juga sama kan." ucapan Attaya sepenuhnya benar membuat Devan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terimakasih, ya... kalian emang teman baik." mama Lala mengusap punggung tangan Devira.
"Iya tan, kita juga udah janji buat jagain Azkia biar gak di culik senior hehe." canda Devira.
"Pasti Azka ya yang nyuruh?" tanya mama Lala.
Mereka bertiga kompak mengangguk dengan tersenyum.
...--------------------------------...
"Baru kali ini aku mencintai seseorang dengan tulus, Dan baru kali ini aku harus berperang dengan jarak dan waktu... Jaga hati, ya!"
-Azkia A (E H)-
...----------------...
Gimana kalian juga rasain apa yang Azka Azkia rasain gak? LDR? sulit untuk mereka yang terbiasa bersama harus terpisah. Tapi tetap semangat buat kalian yang LDR, ini ujian untuk saling dewasa :)
__ADS_1