
Azkia yang menyadari jika Azka hanya diam saja melihat makanannya, lalu buka suara lagi. "Ayo dimakan, dijamin ini enak." ucap Azkia.
Sedangkan Azka hanya menggelengkan kepalanya seolah enggan memakannya.
"Ak—." ucap Azka terpotong karena mulut Azka sudah penuh dengan lele bakar beserta nasi tidak lupa ada sedikit sambal.
Mau tidak mau Azka mengunyahnya perlahan, sedangkan Azkia setia memandangi Azka karema ingin melihat bagaimana reaksi dari Azka.
"Em lumayan." batin Azka sambil terus mengunyah dan menelannya perlahan.
"Enak kan?" tanya Azkia sambil memakan lagi lele bakarnya.
"Enak apalagi disuapin pake tangan kamu langsung." ucap Azka dengan polosnya.
Uhuukk
Azkia tersedak karena perkataan Azka barusan dan juga wajahnya sudah memerah bukan karena sambal yang pedas melainkan karena blushing.
Dengan cepat Azka menyodorkan es jeruknya didepan Azkia, karena kasian melihat Azkia yang tersedak di tambah lagi sedang makan - makanan pedas.
"Hati - hati kalo makan." ucap Azka sambil mengelap bibir Azkia dengan jarinya karena ada sedikit lele yang menempel di pipi Azkia, bukan membuangnya melainkan memakan sisa lele tersebut membuat Azkia menjadi salah tingkah.
"Ih apaan sih, kenapa di makan?" tanya Azkia dengan mengambil tissu lalu mengelap bibirnya sindiri, Azkia berusaha keras menutupi salah tingkahnya agar tidak ketahuan oleh Azka.
"Gak papa enak kok." ucap Azka polos sambil memakan lele bakarnya sendiri dengan lahab. Azkia tersenyum senang melihat Azka yang menghabiskan lele bakarnya, bahkan dia menambah satu porsi lagi.
Setelah mereka kenyang barulah memutuskan untuk pulang, karena hari sudah mulai sore. Hari ini cuaca cerah sehingga nampaklah warna senja yang indah di ujung barat sana, warna orange kemerahan ditambah sedikit warna violet memberikan kesan hangat dan damai. Terlihat juga burung - burung berterbangan kesana - kemari seolah akan pulang ke rumah mereka juga.
Hari yang panjang mereka lalu bersama, Azkia menempelkan dagunya di bahu Azka. Suasana seperti ini membuatnya mengantuk, terlebih lagi mereka habis makan banyak.
"Beruang kutub." panggil Azkia pelan tepat di sebelah telinga Azka yang terhalang oleh helm namun masih bisa terdengar oleh Azka.
"Hmm?" ucap Azka sambil melirik Azkia dari kaca spionnya, dia tersenyum manis saat menyadari jika Azkia sudah tertidur dalam pundak Azka.
"Dasar panda kecil." gumam Azka sambil melajukan motornya dengan kecepatan perlahan agar Azkia tidak terjatuh, sesekali Azka memegangi pinggang Azkiq agar tidak terjatuh.
Azka menarik tangan Azkia agar melingkar di pinggangnya, dengan begitu Azkia tidak akan terjatuh karena kihilanhan keseimbangan saat tidur.
Setelah menempuh waktu yang memakan hampir empat puluh lima menit akhirnya meteka berdua sampai di depan rumah Azkia, perlahan Azka menyandarkan motornya agar tidak jatuh dengan kedua kakinya. Setelah itu pwrlahan memanggil Azkia agar terbangun dari tidurnya.
"Nyun... manyun.. hey mayun bangun udah sampai rumah." ucap Azka sambil menepuk pelan pipi Azkia, namun siempunya pipi tidak ada pergerakan sama sekali.
__ADS_1
"Sayang hey bangunlah, nanti tidurnya di terusin di kamar." ucap Azka lagi namun tetap saja Azkia tidak terbangun. "Sayang!" teriak Azka membuat Azkia kaget dan langsunv bangun dari bahu Azka.
"Apa, kenapa?" tanya Azkia dengan suara khas orang bangun tidur, dia juga tidak malu menggeliatkan badannya yang terasa pegal karena tidur di bahu Azka saat perjalanan pulang.
"Sudah sampai rumah nyonya Azka, silahkan turun terus mandi baru tidur lagi." ucap Azka seolah dirinya seperti sopir pribadinya Azkia.
"Eh udah sampai cepet banget." ucap Azkia sambil mengumpulkan nyawanya, perlahan dia turun dari motor Azka lalu diikuti oleh Azka.
"Bukan cepet sampe tapi kamunya yang terlalu nyaman tidru di bahuku." godaAzka sambil terkekeh.
"Bukan karena nyaman tapi capek!" bantah Azkia, sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada seolah sedang ngambek.
"Iya deh iya, nyamannya buat orang lain aja kalo gitu." canda Azka sambil melepaskan helm yang di kenakan Azkia.
Mendengar itu membuat Azka mendapat tatapan tajam dari Azkia, seolah dalam tatapn itu Azkia akan membunuh Azka jika dirinya berani memberikan kenyamanan untuk orang lain.
"Berani?" tanya Azkia seolah marah.
"Yaa.... mana mungkin berani, kalo ibu negara secemburu ini hehe." ucap Azka sambil mencubit hidup Azkia dengan pelan.
"Hist gak lucu tau gak!" kesal Azkia sambil cemberut.
"Siapa yang cemburu coba, itu kan fakta." ucap Azka dengan mengerlingkan sebelah matanya kepada Azkia."Gila ganteng banget kalo kayak gitu." batin Azkia sambil memukuli lengan Azka.
"Ih bomat ya! Mulai berani jailnya, mana nih si beruang kutub yang mukanya dah kaya patung hidup." sindir Azkia, pasalnya jika sedang bersama dengan Azkia maka Azka akan terlihat banyak tersenyum dan menjadi cerewet melebihi Azkia.
"Oh jadi mau aku bersikap dingin sama kamu, nyun?" tanya Azka dengan mode dinginnya.
"Terserahlah, capek mau mandi... udah pulang sana dah mau petang." ucap Azkia sambil memanyunkan bibirnya sedikit kesal.
"Iya - iya bawel." ucap Azka sambil mengajak - acak rambut Azkia karena gemas, setelah itu Azka memakai helm dan menyalakan motornya namun setelah beberapa saat belum juga pergi dari rumah Azkia.
"Kenapa gak di gas pulang motornya?" tanya Azkia yang mulai gemas dengan Azka, ingin sekali Azkia melempar Azka hingga sampai dirumahnya sendiri.
"Gak mau bilang sesuatu gitu?" tanya Azka yang membuat Azkia bingung.
"Bilang apa?" tanya Azkia sambil menaikkan sebelah alisnya.
"I love you, nyun." ucap Azka sambil mengerlingkan sebelah matanya lagi tidak ketinggalan tangannya yang membentuk hati seperti oppa - oppa korea, blush wajah Azkia menjadi merah merona mendengar ucapan Azka.
*Deg!
__ADS_1
Deg!
Deg*!
Perlakuan Azka juga membuat detak jantung Azkia berdetak dengan cepat, hingga dia tidak menyadari jika Azka sudah sampai digerbang rumahnya. "Damagenya, astaga bikin jantung mau loncat aja!" gumam Azkia sambil memegangi dadanya.
"Pacar gue kenapa ganteng banget sih." kata Azkia yang masih memandangi jalan yang sudah tidak kelihatan Azkanya.
Saat asik memikirkan Azka tanpa Azkia sadari mamanya sudah berada disebelahnya, dan memandangi Azkia dengan heran. Sudah berkali - kali Azkia di panggil namun tidak nyaut juga, malah Azkia terlihat senyum - senyum sendiri.
"Kia! Azkia!!" teriak mamanya sambil menepuk bahu Azkia.
"Eh iya mah, kenapa?" tanya Azkia yang sudah menyadari keberadaan mamanya.
"Obat habis dek?" tanya mamanya sambil memegang jidat Azkia.
"Iihh mama apa - apan sih, Kia tub gak sakit ya!" kesal Azkia sambil melangkah masuk kedalam rumah.
"Terus kenapa senyum - senyum sendiri, di panggil juga gak nyaut... Kalo gak obat habis terus apa?" canda mamanya.
"Entahlah mah, rasanya tuh di sekeliling Kia ada banyak bunga yang tumbuh gitu." ucap Azkia sambil membayangkan Azka tadi.
"Ha! Bunga mana gak ada tuh.... jangan bilang kamu lagi jatuh cinta, dek?" tanya mamanya, namun Azkia tidak menjawab dia tengah asik dalam alam pikirannya sendiri.
"Bener - bener sudah gila ini anak gara - gara jatuh cinta." gumam mama Lala sambil menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang sedang tersenyum sambil menaiki tangga.
"Awas jatuh!" teriak mama Lala, dan benar saja Azkia terpeleset saat menaiki tangga terkahir menuju kamarnya. Dengan cepat Azkia bisa menyeimbangkannya lagi, "Fiuh.. untung saja gak jatuh." batin Azkia.
"Syukurlah... hati - hati!" teriak mamanya sambil mengelus dadanya lega anaknya tidak sampai terjatuh.
"Oke mah, Kia kekamar dulu mau mandi." ucap Azkia kemudian berlalu ke dalam kamarnya, sedangkan mama Lala bersiap untuk masak makan malam.
......................
..."..Empat kata yang bisa...
...membuatku Gila.."...
...***...
...I love you, nyun!...
__ADS_1
...—Azkia A—...