
Langkah kaki Devan terhenti tanpa aba-aba, membuat seseorang yang mengikuti langkahnya tanpa sadar menabrak punggung Devan. Karena cukup keras membuat Devira sedikit terpental kebelakang saat membentur punggung Devan. Dengan cepat Devan menarik tangan Devira, tangan satunya berada dipinggang Devira.
Mata mereka berdua saling bertatapan, seolah lewat mata mereka bisa mengungkapkan apa yang tidak bisa diungkapkan lewat bibir.
"Ra," panggil Devan dengan lembut.
"Hmm?" saut Devira yang masih terpaku pada mata hazel Devan.
"Lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Devan.
"Gue—"
"Gue beneran serius sama perasaan gue, Ra ... gue gak main-main, jadi gue harap lo juga rasain apa yang gue rasain," kata Devan.
Deg!
"Gila, gue harus gimana ini ... duh siapapun tolong!" batin Devira.
"Mungkin gue gak sebaik cowok-cowok yang deketin lo, bahkan bisa di bilang gue jauh dari kata sempurna... tapi demi lo gue mau kok berubah," kata Devan yang melihat keraguan di mata Devira.
Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar, perlahan tangannya melepaskan pinggang Devira. Tangan hangat itu beralih memegang pipi Devira, matanya menatap Devira dengan tatapan sendu.
"Gue bisa jadi apapun yang lo inginkan, Ra ... lo mau kan jadi pacar gue?" ulang Devan.
Untuk beberapa saat Devira terdiam, pikirannya kembali menerawang waktu yang sudah ia lewati. Semua tertuju pada Devan yang selalu ada saat Devira kesusahan, bahkan tidak jarang Devan memeperhatikan hal-hal kecil tentang Devira. Memang benar selama ini Devan mampu diandalakn, ia masih tetap bertahan disamping Devira dengan sifat Devira yang keras kepala. Tidak jarang Devira marah-marah tidak jelas kepada Devan, namun ia masih tetap aabar menghadapi Devira.
Devan sempat ingin kelain hati namum tetap saja, hatinya sudah terisi oleh satu nama yaitu Devira Ramania. Sehingga membuat Devan terus memperjuangan perasaannya untuk meluluhkan hati Devira.
"Kalo lo belum siap, gue bisa—" ucap Devan namum terpotong oleh Devira.
"Gue mau!" seru Devira yakin.
"Nunggu sampe lo mau," ucap Devan bersamaan dengan Devira.
"Iya lo mau," ulang Devan yang belum menyadari perkataan Devira.
Devira mengangguk dengan senyum yang merekah dibibir merahnya. Matanya terlihat berbinar.
"APA, LO MAU JADI PACAR GUE?" teriak Devan karena tidak percaya.
"Iya gue mau jadi pacar lo, Devan Narendra!" jawab Devira setelah meyakinkan hatinya yang sempat ragu.
"Serius, gue gak mimpi kan?" tanya Devan sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Devira terkekeh melihat tingkah Devan, ya itu menjadi hiburan tersendiri untuk Devira. Hingga ia melupakan kekesalannya kepada Siska.
"Lo gak mimpi, gue nyata di hati lo," canda Devira.
Mendengar perkataan Devira membuat nafas Devan bergemuruh, jantungnya serasa ingin keluar dan berlarian.
"Akhirnya, cinta gue terbalaskan juga!" ucap Devan.
__ADS_1
Tanpa sadar ia memeluk Devira yang sedang berdiri di hadapannya.
"Makasih, Ra ... makasih lo udah terima gue!" bisik Devan sambil memeluk erat tubuh Devira.
"Ciieeeeeeed cieeee!" seru mereka semua bersamaan membuat Devan dan Devira tersipu malu.
"Akhirnya sohib kita ketemu pujaan hatinya," ucap Attaya sambil menyenggol lengan Azka.
"Selamat, Ra!" teriak Azkia dan juga Nayla.
"Ko, tinggal kita berdua yang jomblo ini," ucap Bobo sambil memeluk Ciko.
"Apaan sih lepasin gak!" bentak Ciko karena kesal dipeluk oleh Bobo.
"Gak, gue juga mau dipeluk ... biar samaan sama mereka!" rengek Bobo sambil menunjuk Devan dan Devira.
"Samaan ya samaan tapi gak usah peluk gue juga!" kesal Ciko.
Melihat tingkah mereka berdua membuat yang lainnya tertawa.
"Berati kita.... " ucap Attaya terhenti sambil melihat kekanan dan kekiri seolah meminta mereka untuk menjawabnya.
"Makan-makan!" seru mereka semua kecuali Azka.
"Pulang sekolah kita makan-makan," ucap Devan membuat mereka berseru bahagia.
"Yes makan gratis!" seru Bobo.
"Hemat uang jajan, yank!" seru Nayla kepada Attaya.
"Lah kok gue, kan lo yang jadian," protes Azka.
"Sekali-kali lah bos!" saut Ciko.
"Terserah!" ucap Azka sambil meninggalkan mereka semua.
"Artinya apa itu?" tanya Bobo bingung.
"Artinya terserah mau makan apa, Azka yang bayar!" ucap Attaya.
Membuat mereka semua bersorak bahagia, sedangkan Azka hanya diam saja karena ia sudah tidak mendengarkan apapun yang sahabatnya katakan.
.....
Siska marah-marah tidak jelas mengingat kejadian tadi di kantin. Devan yang membela Devira sedangkan Azka dengan sigapnya melindungi Azkia.
Hal itu membuat hati Siska sakit, kenapa Siska tidak mendapatkan perhatian seperti apa yang teman-temannya dapatkan. Siska merasa iri akan hal itu.
"Arrrgghhh! Kenapa, kenapa gak ada satu orang pun yang perduli sama aku ... gue kurang apa, hah!" teriak Siska dipinggiran lapangan basket.
Sesekali terdengar isak tangis dari teriakan yang menggema itu. lapangan itu terlihat sepi tidak ada seseorang pun.
__ADS_1
Tapi siapa yang menyangka ternyata ada seorang cowok yang sedang tiduran dibangku pinggir lapangan basket. Siska tidak menyadari keberadaannya, karena amarah dan iri sudah menyilaukan matanya.
"Gue juga pengen, gue pengen diperhatiin dilindungiin ... gue jadi jahat juga karena pengen diperhatiin, terutama sama lo, Ka!" ucap Siska sambil menangis.
Hatinya terasa pilu, melihat seseorang yang ia cintai lebih memilih orang lain dari pada dirinya. Padahal dia yang lebih dahulu mengenal Azka, tapi tetap saja dia tidak bisa mendapatkan hatinya.
"Cih!" seseorang yang sedang tertidur itu merasa terganggu dengan teriakan dan tangis Siska.
Dengan terpaksa memaksanya untuk bangun dan melihat siapa yang sedang menangis.
Ia masih duduk di bangku, sambil mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul semua. Terlihat samar seorang perempuan dengan rambut panjang sedang berjongkok membelakanginya. Sesekali terdengar umpatan disela-sela isak tangisnya.
Perlahan ia melangkah menghampiri gadis itu, ia berdiri di depan gadis yang sedang berjongkok lalu tangannya memegang pundak gadis itu dengan perlahan.
"Siska?" panggil laki-laki itu.
Siska yang mendengar namanya dipanggil langsung mendongak melihat siapa yang memanggil namanya.
"Mikael?" suara paruh Siska terdengar serak.
"Lo kenapa nangis, gara-gara Azka lagi?" tanya Mikael.
"Gak usah ikut campur!" jawab Siska sambil menepis tangan Mikael.
Siska hendak melangkah meninggalkan Mikael, namun sayangnya langkahnya terhenti saat tangan Siska digenggam erat oleh Mikael.
"Lo bisa gak buka mata lo!" ucap Mikael yang berusaha menahan emosinya.
"Ada orang yang tulus sayang sama lo, tapi apa? Lo malah milih seseorang yang gak perduli sama lo! Harusnya lo coba buka hati lo buat orang baru!" lanjut Mikael, tangannya masih menggenggam erat lengan Siska.
Siska hanya bisa diam membisu mencerna setiap kata yang di ucapkan Mikael. Perkataan itu ada benarnya, Siska harus membuka matanya karena banyak orang yang menyukainya namun ia hanya terfokus pada Azka yang jelas tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.
"Buka mata lo, Sis! Gue gak tega lihat lo seperti ini, hati gue ikut sakit! Sadar, Sis ... sadar!" ucap Mikael sambil menarik Siska dalam pelukannya.
Siska hanya diam saja, isak tangisnya semakin terdengar.
"Gue sayang sama lo, Sis!" bisik Mikael sambil melepaskan pelukannya.
Tangan Mikael merapikan helain rambut yang menutupi wajah Siska.
Tetlihat wajah cantik yang sudah memerah karena menangis sejak tadi, bahkan matanya terlihat sembab.
"Please, buka hati lo buat gue!" pinta Mikael.
Siska hanya diam saja menatap wajah tampan Mikael yang terlihat serius. Ada guratan khawatir yang mampu Siska tangkap saat melihat wajah tampan itu.
Hati Siska sedikit luluh, lebih tepatnya ia sudah membuka hatinya untuk Mikael sejak Mikael selalu membantunya. Namun, Siska selalu menyanggahnya. Karena Siska mengira hatinya hanya untuk Azka.
Namun hati terdalamnya sudah terisi oleh Mikael, hanya waktu saja yang akan menyadarkan Siska.
.......................................
__ADS_1
...Percayalah, banyak orang yang menyayangimu! Seperti aku yang selalu menyayangimu dalam diamku :)...
...~Mikael / E H ~...