
Tidak terasa empat hari berlalu dengan begitu cepatnya, kini mereka semua sudah menyelesaikan ujian dan kini tinggal menunggu waktu pengumuman berlangsung.
"Alhamdulillah!" ucap mereka bersamaan ketika keluar dari dalam ruang kelas.
"Semoga nanti hasilnya memuaskan, ya?" ucap Nayla.
"Amiiin!" kompak mereka semua.
"Cari makan, kuy. Laper ini habis mikir berat!" ucap Bobo sambil mengusap perutnya.
"Cih, mikir berat apa? Orang situ tinggal nanya gak mikir!" cibir Ciko sambil menatap sinis Bobo.
Bobo mendekat dan merangkul pundak Ciko, ia tertawa cengengesan saat mendengar penuturan Ciko.
"Jangan gitulah, ngab! Kita kan harus saling bantu teman yang kesusahan ya kan, jadi gak ada salahnya lo bantuin gue hehe," ucap Bobo.
Ciko hanya memutar bola matanya dengan malas saat mendengar ucapan Bobo.
"Nyun!" panggil Azka.
Azkia menoleh kearah Azka, sambil menyerkitkan keningnya karena Azka hanya memanggil Azkia tanpa mengucapan sepatah kata lagi.
"Kenapa hmm?" tanya Azkia.
"Gue gak ikut kalian, ada urusan!" ucap Azka sambil mengusap pelan kepala Azkia
"Urusan apa?" tanya Devan.
"Kepo!" singkat Azka.
"Dasar manusia tembok, gue itu gak kepo cuma mau tau aja lo kemana... kali aja butuh bantuan gue!" kesal Devan.
Azka tidak mengindahkan perkataan Devan, ia memilih pergi begitu saja. Namun sebelum itu ia sempat mengirimi sebuah pesan kepada Azkia.
"Nanti gue mampir kerumah!" isi pesan itu membuat Azkia menyunggingkan senyumannya.
"Azka kenapa sih, akhir-akhir ini gue liat dia selalu pergi duluan dan kalau kumpul bareng kita banyak diemnya?" tanya Attaya.
"Emang dia irit ngomong kan," ucap Nayla.
"Bukan lagi irit, tapi pelit ngomong!" imbuh Devira.
"Mungkin lagi sibuk," saut Bobo.
"Entah, tapi gue rasa ada yang dia sembunyiin dari kita semua," ucap Devan yang membuat mereka semua menatap Devan.
"Apa? Kan gue gak salah ngomong." bela Devan pada dirinya sendiri.
Azkia sedikit murung saat mendengar hal itu, karena dia tahu apa yang membuat Azka seperti itu. Azka sedang berusaha membujuk sang papa untuk memberinya kebebasan dalam memilih universitas yang akan dia tempuh.
"Lo tau sesuatu, Ki?" tanya Attaya.
"Se..sebenarnya Azka lagi bujuk om Yudha," lirik Azkia.
"Kenapa?" tanya mereka sambil memandangi Azkia seoalah sedang penasaran apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Azka, dia..."
"Dia apa?" tanya Bobo tidak sabar.
"Dia disuruh kuliah di luar negeri, katanya udah di daftarin sama om Yudha... makanya beberapa hari ini Azka sibuk rayu papanya supaya boleh diizinin kuliah disini," ucap Azkia sedih.
"LDR dong nanti!" kata Bobo.
"Hah, masa? Astaga segitunya om Yudha sama anaknya sendiri." ucap Devira.
"Terus Azka nya mau?" tanya Attaya.
"Kenapa dia gak cerita sama kita?" tanya Devan.
"...." Azkia hanya diam saja.
"Eh kalian jangan kasih pertanyaan yang gak bisa di jawab sama Kia dong, harusnya kalian nanya langsung sama yang bersangkutan!" Nayla memeluk Azkia.
"Mungkin Azka punya asalan sendiri jadi belum cerita sama kalian," ucap Devira.
__ADS_1
"Kasih waktu Azka nanti dia juga akan cerita sama kalian," kata Azkia sambil menahan tangisnya.
"Duh yang mau LDR an, semangat ya kakak!" ucap Bobo sambil menepuk bahu Azkia.
"BOB!" teriak Devira dan juga Nayla.
"Apa apa, gue gak denger!" seru Bobo sambil cekikikan.
"Lo mah gak tau situasi, lagi ada orang sad jangan di bercandain," ucap Ciko acuh.
"Kan niatnya buat hibur dia, biar gak sedih," bela Bobo.
"Ya tapi gak gitu juga, bob!" ucap Attaya sambil memukul kepala Bobo.
"Alamak kenapa gue salah mulu," gerutu Bobo.
"Yaudah kita pulang aja, biar Azkia nenangin dirinya." saran Devira.
"Yah gak jadi makan bareng dong," keluh Bobo.
"Makan mulu pikiran lo, tuh temen lo lagi gak ***** makan!" kesal Devan.
"Alus bos, santai... jangan marah-marah nanti keriput loh," canda Devira sambil memegangi lengan lengan Devan.
"Kesel beb, kaya orang gak pernah punya doi aja si bobo!" gerutu Devan.
"Lah emang gue gak pernah punya doi, jomblo dari lahir ini... lo kalo ngejek jangan jujur-jujur amat dong!" gerutu Bobo.
"Mengsedih ini gue!" lanjut Bobo sambil memegangi dadanya seoalah sedang sakit.
"Dih alay woy!" teriak Attaya.
"Beb, mereka jahat sama aku!" ucap Bobo sambil menaruh kepalanya di pundak Ciko dengan manja.
"Pergi gak!" bentak Ciko kesal.
"Jangan galak-galak sama aku yank, nanti kamu tak tutuk loh!" ucap Bobo manja.
"Jijik woy!" teriak mereka semua, kemudian tawa mereka pecah.
"Sampai ke sel darahnya tuh, Ra!" imbuh Nayla.
Azkia sedikit terhibur dengan kelakuan bar-bar sahabatnya itu. Setidaknya Azkia tidak sendirian disaat ia butuh seseorang untuk teman ceritanya.
......................
Rumah Azkia.
Azkia tengah sibuk melihat drama favoritnya yang sedang ongoing, ini adalah salah satu cara Azkia untuk menghilang semua kesedihannya.
Tanpa ia tahu Azka sudah berada dibawah bersama dengan Bima, mereka berdua sedang berkap-cakap.
"Gimana ujiannya, lancar?" tanya Bima.
"Lumayan lah om," jawab Azka.
"Kok lumayan, bisa ngerjain kan?" Bima menyesap secangkir kopi yang masih panas.
"Bisa om!" Azka hanya menjawab pertanyaan Bima seadanya. Azka bukan tipe orang yang pandai mencari topik pembicaraan. Bima sudah paham akan hal itu, jadi ia memakluminya.
"Denger-denger dari Yudha, kamu mau lanjutin kuliah di luar negeri?" tanya Bima sambil menaruh secangkir kopinya diatas nakas.
Azka hanya diam saja sambil menatap Bima.
"Papa kamu udah cerita semuanya sama om, menurut om rencanan papa kamu ada bagusnya juga... kamu bisa dapat pengalaman ya lebih banyak dari pada disini," ucap Bima serius.
"Tapi om," ucap Azka.
"Om tau, kamu gak bisa jauh kan dari anak om?" tanya Bima sambil tersenyum menatap Azka.
Azka hanya diam saja sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaha, om juga pernah muda, Ka. Om juga pernah ngalamin masa-masa yang sulit bareng papa kamu, jadi om paham." Bima tertawa renyah.
"Masa sih, Om?" tanya Azka tidak percaya, karena Azka jarang mendengar cerita masa muda papanya.
__ADS_1
"Kamu gak percaya sama calon papamu ini?" tanya balik Bima sambil menyipitkan matanya.
"Hehe percaya kok pah, eh om."
"Panggil papa aja biar enak didengar." perintah Bima, Azka mengangguk patuh.
"Kamu cuma akan terpisah jarak dan waktu, kalau om dulu terhalang restu orang tua," ucap Bima sambil mengenang masa lalu.
"Lalu?" tanya Azka penasaran.
"Ya kita berjuang bersama dari nol hingga sampai sukses dan akhirnya orang tua merestui kita." ucap Bima sambil menyesap secangkir kopinya lagi.
Azka mengangguk mengerti,"penuh perjuangan." gumam Azka.
"Kia kenapa gak boleh kuliah luar negeri pah?" tanya Azka yang sudah fasih memanggil Bima dengan sebutan papa.
"Tuh, mamanya Azkia gak mau jauh dari anak perempuannya... kalo papa mah terserah anaknya, tapi ya gitu namanya juga anak perempuan satu-satu jadi mamanya gak mau jauhan." jelas Bima kepada Azka.
Terdengar suara langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga, terlihat Azkia bersama sang mama.
"Nunggu lama?" tanya Azkia.
"Lumayan," saut Azka.
"Yaudah sana kalau mau jalan-jalan, tapi inget jangan pulang kemaleman," ucap sang mama.
"Yaudah kami berangkat dulu pah, tante." Azka menyalami Bima dan Lala bergantian.
"LOH!" teriak Azkia tidak percaya saat Azka memanggil orang tuanya dengan panggilan yang sama dengan dirinya.
"Kok tante, ya mama dong," ucap Lala sambil terkekeh.
"Iya mah, Azka pamit dulu sama Kia." ulang Azka.
"Iya hati-hati, ya!" ucap Lala sambil melambaikan tangan didepan pintu rumah.
Azka sibuk membukakan pintu mobil untuk Azkia, setelah Azkia masuk dan duduk dengan rapi ia berjalan mengitari mobil untuk duduk dikursi kemudi.
Azkia sejak tadi hanya diam saja sambil menatap Azka membuatnya risih.
"Kenapa?" tanya Azka tanpa melihat Azkia.
"Sejak kapan manggil orang tua ku papa, mama?" tanya Azkia.
"Tadi," singkat Azka.
Azkia memanyunkan bibirnya sikap Azka yang dingin dan acuh kembali lagi, padahal tadi saat bersama orang tuanya terlihat ramah.
"Cih, sama pacarnya sendiri dingin banget kek es... giliran sama camernya udah kek temen sendiri," gerutu Azkia yang bisa didengar oleh Azka.
"Deketin orang tuanya baru anaknya," canda Azka sambil sedikit tertawa.
"Pacarain aja papa sama mama!" gerutu Azkia.
"Ngambek?" tanya Azka.
"Gak, ngapain nganbek!" ucap Azkia sedikit nggas.
"Nanti jelek loh," ucap Azka sambil menoleh kesamping dengan senyuman yang mengembamg di sudut bibirnya.
"Biarin!" ucap Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.
Azka memiringkan kepalanya sedikir sambil tersenyum manis, tidak lupa mengerlingkan sebelah matanya menatap Azkia.
"Tapi makin lucu kalau ngambek!" ucap Azka.
Blush! Pipi Azkia memerah dengan sempurna mendengar godaan Azka.
"Ihh apaan sih, gak lucu. Oh iya! satu hal lagi." ucap Azkia sambil mencubit lengan Azka.
"Awwh, apa?" tanya Azka sambil merentih kesakitan.
"Jangan senyum semanis itu, buat gula darahku jadi naik... apalagi gak bagus buat jantungku!!" ucap Azkia sambil menepuk-nepuk pipinya.
Azka mengacak-acak kepala Azkia gemas,"ada-ada aja sih, Nyun!"
__ADS_1
...--------------------------------...