
Ting Tong Ting Tong
Nayla yang sedang sibuk didapur langsung saja menuju pintu utama saat mendengar bel berbunyi. Tanpa melihat siapa yang datang Nayla langsung membukakan pintu.
Cklek!
Terlihat seseorang tengah berdiri didepan pintu dengan buket bunga yang menutupi seluruh wajahnya. Nayla bingung pasalnya ia tidak memesan buket bunga itu.
"Maaf pak, saya gak pesan buket bunga itu. Mungkin bapak salah alamat," ucap Nayla.
"Gak salah kok, alamatnya bener disini!" buket bunga itu perlahan turun dan menampakan wajah tampan seseorang.
"Attaya!" ucap Nayla tidak percaya.
Tanpa basa-basi lagi Nayla langsung memeluk Attaya, ia sangat rindu dengan pacarnya ini. Tanpa sadar air mata Nayla jatuh begitu saja membasahi pipi mulusnya.
"Kenapa nangis?" tanya Attaya panik.
"Kangen, aku gak nyangka bisa ketemu kamu," kata Nayla sambil menatap Attaya.
"Sama kok, makanya aku kesini." Attaya mengusap butiran air mata Nayla menggunakan ibu jarinya.
"Tumben, bukannya kamu kerja?" tanya Nayla.
"Ini gak diperbolehin masuk atau gimana?" tanya Attaya, karena mereka berdua masih didepan pintu.
"Eh iya, ayo masuk. Udah lama kan gak kesini, sampai ditanyain mama." Nayla menggandeng jemari Attaya agar mengikutinya.
"Duduk dulu, aku buatin minum!" perintah Nayla sedangkan Attaya duduk dengan patuh.
Setelah beberapa saat Nayla kembali dengan segelas es jeruk untuk Attaya. Ia meletakannya diatas nakas depan Attaya lalu duduk disebelahnya.
"Tumben bisa ketemu?" tanya Nayla.
"Jadi gak mau nih ketemu aku?" tanya balik Attaya.
"Bukan gitu sayang, kan ini bukan hari libur biasanya masih dikantor apalagi sekarang kamu jadi asisten pribadi Azka." Nayla memandang Attaya dengan penuh tanda tanya.
"Jangan bilang kamu kabur?" ucapnya sambil terkekeh.
"Mana ada kaya gitu, ini tadi Azka sendiri yang izinin pulang. Yaudah kan aku langsung pulang sebelum dia berubah pikiran." jelas Attaya.
Nayla hanya menggangguk paham, "Kia apa kabar? Lama gak jalan bareng dia," ucap Nayla sambil meminum es jeruk miliknya.
__ADS_1
"Dia hamil!" dua kata yang membuat Nayla kaget dan menyemburkan es jeruknya pada Attaya.
"Mau jadi dukun, yang!" kesal Attaya.
"Maaf-maaf, gak sengaja! habisnya jawabanmu bikin kaget." Nayla mengambil tissu lalu mengusap wajah Attaya yang terkena semburannya.
"Hmmm,"
"Kok bisa hamil?" tanya Nayla polos.
"Cih, bisa lah kan Kia ada suami gimana sih. Kamu itu perawat kenapa hal kaya gitu aja gak tau," gerutu Attaya.
"Oh iya, hampir lupa!" Nayla menutup wajahnya sendiri karena malu.
Attaya mengacak rambut Nayla gemas, "Kamu gak pengen?" tanya Attaya dengan wajah serius.
"Pengen apa?" tanya Nayla bingung.
"Dedek bayi!" goda Attaya sambil membisikannya ditelinga Nayla.
PLAK!
Satu tamparan mendarat dipipi mulus Attaya membuatnya meringis kesakitan sambil memegangi pipinya.
"Ka..ka..kamu ngomong apa!" geram Nayla yang gugup dan kaget dengan jawaban Attaya.
"Stop! Jangan mendekat," kata Nayla waspada.
"Kenapa sayang, aku kan cuma ngomong dedek bayi apa masalahnya coba?" tanya Attaya bingung, sedangkan Nayla hanya diam saja pipinya sudah memerah.
"Hayoo jangan-jangan kamu mikirin buat de—" mulut Attaya langsung dibekap ileh Nayla, bisa-bisanya ia berbicara seperti itu tanpa difilter.
"Gak aku gak mikir itu!" Nayla menatap tajam Attaya.
"Hmmbb," Attaya berusaha melepaskan bekapan Nalya karena ia sudah sesak nafas.
"Kamu pengen jadi jomblo, ya?" tanya Attaya setelag bekapannya dilepas Nayla.
"Gak kok!" Nayla merasa bersalah karena terlalu kecang membekap mulut dan hidung Attaya.
"Niat banget bekapnya." Attaya mengatur nafasnya karena sedikit sesak.
"Maaf!"
__ADS_1
"Gak usah minta maaf kamu gak salah kok, lagian kalau mau dedek kita juga bisa buat adonannya," kata Attaya santai.
"Atta!" jika Nayla sudah memanggil nama Attaya langsung tanpa embel-embel sayang jelas sekali kalau Nayla sedang marah.
"Jangan dipotong dulu, belum selesai aku ngomong!" tegas Attaya.
"Hmmm,"
"Kalau mau buat adonan kita nikah dulu, yuk kapan?" tanya Attaya menggoda.
"Ya kamu itu kapan ngajak seriusnya," jawab Nayla cepat.
"Secepatnya!"
"Aku sebagai perempuan cuma bisa menunggu kepastian, aku mau maksa kamu buru-buru kalau kamu belum siap ya percuma. Karena nikah gak hanya kita berdua tapi menyatukan dua keluarga sekaligus." Nayla menatap wajah kekasihnya itu dengan wajah serius tanpa ada senyum sedikit pun.
"Kalau kamu serius sama aku dan mau ngajak aku kejenjang yang lebih serius lagi, kamu cukup datang kerumah bertemu dengan orang tuaku dan jangan lupa ajak orang tuamu sekalian." lanjut Nayla, Attaya hanya diam sambil mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pujaannya ini.
Perkataan Nayla semuanya benar dan memang itulah yang harus dilakukan Attaya jika ia menginginkan hubungan mereka selangkah lebih maju dari sekedar pacaran. Toh mereka pacaran sudah lama sekali, kedua keluarga juga sudah tau akan hal itu.
Tapi Attaya masih belum siap karena ia merasa belum mampu menjadi kepala kelurga, ia takut tidak bisa membahagiakan Nayla sepeti yang sudah orang tuanya lakukan. Attaya memutuskan menerima tawaran jadi asisten pribadi Azka karena terlepas dari Azka adalah sahabat, ia juga ingin seperti Azka yang sudah bisa meghendel perusahaan dan beberapa bisnis lainnya tanpa bantuan sang Ayah.
Attaya ingin seperti itu dan bisa membahagiakan Nayla dengan hasil jerit payahnya sendiri. Walaupun Attaya juga memiliki beberapa bisnis yang ia bangun sendiri tapi ia masih merasa belum cukup pantas untuk Nayla.
Tapi perkataan Nayla membuat ia sadar sepenuhnya, sebuah keluarga bukan hanya materi yang harus ia cari melainkan ada kebahagian yang bisa diciptakan saat bersama.
Nayla yang menyadari Attaya termenung, ia langsung memegang tangan Attaya dan mengusapnya pelan.
"Aku mau nunggu kamu kok, sampai kamu benar-benar siap bertemu kelurgaku bersama kedua orang tuamu." kata Nayla lembut.
Attaya tersenyum manis sambil menatap wanita cantik didepannya ini, ia bersyukur memiliki wanita seperti Nayla yang jauh berbeda dari wanita kebanyakan.
Attaya tau jika Nayla menginginkan satu langkah lebih maju dari hubungannya sekarang ini, tapi ia tidak mengutarakannya langsung pada Attaya. Ia mau menunggu Attaya hingga siap, meski entah kapan itu Nayla tidak tahu.
"Makasih, aku akan secepatnya buat hubungan kita lebih dari sekedar pacaran!" Attaya menarik lengan Nayla sehingga ia tertarik dan menabrak dada bidang Attaya, ia merasakan sentuhan hangat dipinggangnya.
Ya, Attaya memeluk Nayla erat bahkan ia juga membenamkan wajahnya pada curuk leher Nayla yang tertutup rambut panjangnya. Hingga wangi dari Nayla mampu menenangkan pikirannya.
Nayla pun tidak tinggal diam, ia juga melingkarkan tangannya dipingang Attaya. Nalya membalas pelukan Attaya, sesekali ia juga mengusap pelan punggung Attaya.
"Iya, aku tunggu!" jawab Nayla.
Niatnya Attaya hanya menggoda Nayla saja tapi siapa yang menyangka jika tanggapan Nayla seperti itu, membuat Attaya semakin yakin dengan pilihannya. Ia tidak salah dalam memilih pasangan hidup.
__ADS_1
...----------------...
Semua perempuan pasti menginginkan kejelasan dalam hubungan mereka bukan karena terburu-buru melainkan perempuan menginginkan sebuah kepastian agar menghilangkan semua keraguan dalam hatinya! ~ E H ~