
Mereka berempat tengah makan dengan tenang, sesekali Azkia mencairkan suasana yang tidak begitu nyaman itu. Azka terdiam dengan wajah datarnya begitu juga dengan Raina, sedangkan
Axel selalu mencuri pandang ke arah Raina yang membuat gadis itu merasa risih.
“Kita ini lagi mengheningkan cipta, ya?” Celetuk Axel yang tidak bisa menahan kesunyian itu.
“Maksudnya, bang?” Tanya Azkia, sedangkan Azka dan Raina hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dimaksudkan.
“Dari tadi kita cuma diem-diem aja kaya orang lagi mengheningkan cipta, tau gak?” Canda Axel.
“Hmm.” Saut Azka.
Entah kenapa Azka belum bisa dekat dengan abang sang pacar. Terasa masih ada jarak di antara mereka berdua,
mungkin karena Azka yang terlihat cuek sehingga Axel mengira jika Azka susah bergaul.
“Kita lagi bicara lewat telepati bang, bukan mengheningkan cipta hehe.” Saut Azkia. sambil tertawa renyah.
“Ka, gue angkat telepon dulu dari mama.” Pamit Raina melangkah menuju luar Cafe karena di dalam terlalu berisik.
“Iya.” Jawab Azka.
“Lo liburan ke mana aja, Ka?” tanya Axel basa-basi.
“Ngcamp waktu itu sama anak-anak.” Jawab Azka sembari menyeruput kopi americanonya.
“Gak ada rencana mau liburan lagi?” Tanya Axel.
“Waktu itu udah ada wacana cuma Azka dapet musibah jadi ditunda dulu.” Saut Azkia.
“Gimana kalo kita liburan bareng?” Saran Axel.
“Boleh.”
“Jangan lah, tanganmu kan belum sembuh total itu.” Tolak Azkia yang sedang mengkhawatirkan kondisi bahu Azka yang belum pulih sepenuhnya.
“Tenang aja, Nyun.” Jawab Azka menatap lembut ke arah Azkia, gadis itu tersenyum.
“Yaudah kalo gitu kita barbequan aja, gimana? Tanya Axel.
“Oke, Setuju kalo itu.” Jawab Azkia dengan antusias.
“Atur aja, gue ngikut.” Ucap Azka sambil melihat layar ponselnya.
“Okay, jadi setuju tinggal kapan dan di mananya, kan? gue ikut gak papa, kan?” Tanya Axel mengingat dirinya paling tua
di antara mereka.
“Ikut aja, bang.” Jawab Azka.
“Temen kita asyik kok, pasti seru nanti.” Kata Azkia.
Di luar Cafe
Raina menerima telepon dari sang mama, beliau menanyakan kabar putrinya yang sedang berada jauh darinya. Namun, saat keluar dari Cafe tanpa sengaja gadis itu di tabrak oleh seseorang yang membuatnya hampir terjatuh. Untung saja Raina bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh.
“Maaf.”
“Iya.” Jawab Raina sambil terus berjalan.
Tanpa di sadari sling bag yang ia kenakan tersangkut pada jaket orang tersebut yang mengakibatkan Raina tertarik ke
belakang karena orang itu juga tidak menyadarinya saat melangkah.
“Ehh.” Ucap Raina tertarik ke belakang mengikuti langkah pria itu.
Badan Raina tidak bisa seimbang pada akhirnya dia jatuh dan menimpa orang itu.
Bruk
“Lo?”
“Lo!” Ucap mereka bersamaan.
Tanpa disadari mereka telah menjadi pusat perhatian para pejalan kaki dan pengunjung Cafe.
“Mau sampe kapan?” Tanya Rayhan, ya orang itu adalah Rayhan. Dia sering ke Cafe itu untuk sekedar membaca buku
__ADS_1
atau sekedar bersantai bersama Jojo dan Nia.
“Ha?” Gadis itu tidak paham maksud dari perkataan Rayhan.
“Mau sampai kapan lo di atas gue, berat.” Keluh Rayhan berusaha bangun karena mereka berdua terjatuh hingga tanpa sengaja Raina duduk di punggung Rayhan.
“Eh sorry!” Ucap Raina bergegas bangkit.
Rayhan pun sama dia berdiri sambil membersihkan bajunya yang sedikit kotor.
“Lain kali hati-hati.”
“Iya.” Jawab Raina.
“Masa iya ketemu ada insiden tabrakan mulu hehe.” Ucap Rayhan terkekeh.
Raina tak memedulikan perkataan Rayhan, dia lebih memilih masuk ke dalam Cafe kembali kepada Azka dan yang lainnya.
Namun, tanpa sengaja saat melangkah terdengar suara yang tidak asing.
Krek
Raina dan Rayhan saling pandang dengan wajah yang seolah bertanya suara apa itu? Kemudian mata mereka mengarah
menuju sumber suara.
Ternyata di kaki Raina ada sebuah ponsel yang layarnya sudah retak karena terinjak oleh Raina. Dengan cepat gadis itu melangkah mundur membiarkan pemilik ponsel mengambilnya.
“Astaga ponsel gue!” Ucap Rayhan berjongkok di depan Raina untuk mengambil ponselnya yang sudah retak tak
berbentuk lagi.
“Ma-maaf gak sengaja.” Ucap Raina merasa bersalah.
“Parah banget.” Gumam Rayhan.
Dia mengacuhkan perkataan Raina dan lebih fokus pada layar ponselnya yang sebagian menyala dan sebagian lagi gelap.
“Gue akan tanggung jawab.”
“Udah lah gak usah.” Tolak Rayhan melangkah masuk ke dalam Cafe.
menatap perempuan yang berdiri di depannya.
Tangan Raina menjulur ke arah Rayhan untuk meminta ponselnya. Namun, di salah artikan oleh Rayhan dia mengira gadis itu sedang mengajaknya berkenalan.
“Rayhan.” Kata Rayhan menerima uluran tangan Raina.
“Cih, siapa yang ngajak kenalan.” Ucap Raina setengah kesal.
“Lalu?” Tanya Rayhan bingung sekaligus malu karena sudah salah mengira.
“Ponsel lo.” Kata Raina singkat.
“Kenapa?” Tanya Rayhan yang tidak paham dengan Raina yang hemat kata itu.
“Ponsel lo mana gue benerin.” Kesal Raina merebut ponsel itu dari tangan Rayhan.
“Gue bisa benerin sendiri.” Tolak Rayhan berusaha mengambil kembali ponselnya tetapi tidak bisa.
“Gue gak menerima penolakan.” Jawab Raina yang langsung memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya.
“Yaudah Makasih, ya.” Ucap Rayhan pasrah namun masih bisa tersenyum manis kepada Raina.
“Punya bolpoin?” tanya Raina.
“Buat apa?”
“Mana?” Bukannya menjawab Raina balik bertanya kepada Rayhan.
“Nih.” Ucap Rayhan memberikan bolpoin.
Rayhan selalu membawa bolpoin ke mana pun dia pergi dan juga buku yang selalu dia baca.
Raina menerima bolpoin itu kemudian dia mendekat selengkah ke arah Rayhan dan menarik tangan kiri Rayhan. Dengan wajah datarnya gadis itu menuliskan sesuatu di
telapak tangan Rayhan. Setelah selesai, Raina memberikan bolpoin itu kepada Rayhan dan pergi begitu saja dari hadapnya.
__ADS_1
Raina tidak kembali ke dalam Cafe melainkan menuju parkiran di mana dia memarkirkan mobilnya tadi. Sedangkan
Rayhan hanya termenung melihat kepergian Raina sama seperti pertemuan pertama mereka berdua waktu itu.
“Cewek aneh, tapi cantik.” Gumam Rayhan.
“Asstt gue mikirin apaan sih, inget bentar lagi ujian harus fokus. sakit hati yang kemaren aja belum sembuh masa mau main hati lagi.” Ucap Rayhan kepada dirinya.
Sesekali dia menggelengkan kepalanya menolak pikiran yang menghantuinya soal Raina.
Saat di depan pintu Cafe, Rayhan bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan selama liburan. Saat melihatnya tersenyum membuat perasaan Rayhan kembali tenang dan nyaman seolah ada sihir yang menyerangnya.
“Eh kak Rayhan ... di sini juga?” Tanya Azkia tersenyum manis.
Azkia sendirian karena Azka sedang berada di kasir sedangkan Axel dia sudah keluar terlebih dahulu sebelum Azkia.
“Ah iya Ki, sendirian aja ini ... kamu sama siapa?” Tanya Rayhan sambil tersenyum tidak kalah manisnya dengan Azkia.
“Sam—“ Ucap Azkia terpotong oleh suara yang berada di belakangnya.
“Sama gue!” Ucap Azka dengan wajah datarnya.
“Oh, kalian lagi bareng, ya? Udah mau pulang, Ki?” Tanya Rayhan lagi.
“Udah kak, kita udah lama disini.” Jawab Azkia ramah.
Entah kenapa Azka yang melihat itu merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya, seperti tergores sesuatu yang membuat hatinya perih. Dengan kasar Azka menggandeng tangan Azkia agar segera pergi dari Cafe tersebut. Lelaki itu tidak rela jika Azkia berlama-lama bersama Rayhan.
“Eh, Kak, Kita balik duluan, ya. Bye-bye.” Ucap Azkia melambaikan tangannya kearah Rayhan yang masih diam melihat kepergian Azkia, tangannya pun ikut membalas
lambaian tangan Azkia.
“Kok nyesek sih.” Gumam Rayhan membuang napasnya dengan kasar, setelah itu ia kembali masuk ke dalam Cafe.
“Hei, Azka pelan-pelan jalannya, sakit ini tangan.” Keluh Azkia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman erat Azka.
Setelah mendengar itu Azka melepaskan genggamannya, kemudian meniup pelan pergelangan tangan Azkia yang
kesakitan.
“Jangan ulangi!” Ucapnya.
“Apa?” Tanya Azkia tak paham.
“Jangan tersenyum seperti itu di hadapan laki-laki lain.” Ucap Azka kembali meniup lengan Azkia.
“Kenapa?”
“Aku gak suka.” Jawab Azka menahan kekesalannya.
“Iya iya, dasar beruang kutub bilang aja cemburu.” Kata Azkia sambil terkekeh.
“Siapa juga yang cemburu?” Sangkal Azka.
Azkia menangkupkan tangannya di pipi Azka membuat si empunya menoleh ke arahnya dengan wajah yang masih di tekuk.
“Aku suka kok kalo kamu cemburu.” Ucap Azkia tersenyum memperlihatkan lesung pipinya membuat senyumannya itu
terlihat manis.
Wajah Azka yang tadinya kesal kini perlahan mulai tersenyum walaupun hanya sedikit.
“Mau sampai kapan mersa - mesraannya, udab kek supir aja gue.” Celetuk Raina sambil membuka kaca mobil
“Berisik aja!” Kata Azka sambil menatap tajam Raina, sedangkan Azkia hanya terkekeh melihat perdebatan mereka berdua.
“Gue tinggal juga ini.” Ancam Raina sambil menjulurkan lidahnya mengejek Azka.
“Gue bilangin mama loh.”
“Yee, kang ngadu!” Kesal Raina, kemudian mereka pulang kerumah masing - masing.
“Daa, jelek." Ucap Azka sambil melambaikan tangannya ke arah Azkia.
“Biarin jelek yang penting kamu sayang aku!” Teriak Azkia sambil terkekeh.
......................
__ADS_1
...“Terimakasih, masih bertahan hingga detik ini bersamaku... Dengan semua kekuranganku ini..”...
...— E H —...