Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Sok Kuat!


__ADS_3

"Azka tunggu!" panggil Sinta.


Sinta memang sengaja mengejar Azka yang selalu saja menghindarinya sejak tadi, ada banyak pertanyaan yang ingin Sinta tanyakan.


"AZKA!" teriak Sinta lagi.


Namun tetap saja tidak membuat Azka berhenti, dengan tertatih Sinta menyoba menyusul Azka.


Duk!


Tanpa sengaja bahu Azka bertabrakan dengan Kevin, mereka saling tatap sebentar kemudian berlalu.


"Azka!" panggil Sinta yang sudah mulai mendekat.


"Sinta, kamu ngapain disini?" tanya Kevin terlihat jelas kebahagiaan dari wajahnya.


"Hai, Kevin... a-aku sekarang sekolah disini," ucap Sinta. Ia tidak menyangka jika akan satu sekolah lagi dengan Kevin maupun Azka.


"Yang bener?" tanya Kevin tidak percaya.


"Iya, masa kamu gak sadar aku kan udah pake seragam sekolah ini," ucap Sinta sambil menunjuk bajunya.


"Hehe maaf aku gak liat, soalnya aku seneng banget bisa ketemu sama kamu lagi," ucap Kevin.


"A-aku juga kok, Vin," kata Sinta, matanya terus mengawasi kemana Azka pergi.


"Yaudah ayo, aku anterin keliling sekolah... pasti kamu belum sempat berkeliling kan?" tanya Kevin.


Tanpa pemersi Kevin sudah menggandeng tangan Sinta sama seperti dulu, ia akan selalu ada saat Sinta diacuhkan Azka.


Mau tidak mau Sinta menurut mengikuti Kevin untuk berkeliling sekolah, niatnya untuk menghampiri Azka gagal sudah.


......................


"Bob, tuh cewek sebelah lo tadi siapa sih... kok baru liat gue?" tanya Siska pada Bobo.


"Kenapa lo nanyain gue?" tanya Devira sewot.


"Sebelah gue... Devira ini," jawab Bobo sambil melihat sebelahnya yang memang ada Devira.


"Bukan dia, yang baru aja pergi," saut Siska, ia mengabaikan ucapan Devira.


"Ohh itu tadi Sinta namanya, murid pindahan," saut Bobo.


"Oh pantes sok kecantikan banget sama Azka," gerutu Siska.


Azkia hanya mengangguk-angguk saja mendengar perkataan Siska.


"Mereka ada hubungan apa, Ta? Keknya lo tau sesuatu?" tanya Azkia kepada Attaya.


"Hah! Hubungan apa? Gue gak tau apapun tuh," elak Attaya namun terlihat jelas di mata mereka.


"Heh, lo bakpia! Kalo lo gak bisa jaga Azka mendingan Azka buat gue aja, gue siap kok jagain dia biar gak direbut sama uler berkedok bidadari," ucap Siska dengan sombongnya.


"Gak salah tuh, uler teriak uler," ucap Devira sambil terkekeh.


"Gak sadar diri amat mbak," ejek Nayla.


"Lo kira Azka mau sama cewek modelan kaya lo itu!" gertak Azkia, ia sudah cukup sabar sedari tadi tapi tidak degan kali ini.


"Masih mending modelan kaya gue dari pada lo, rata kek triplek mang asep!" kesal Siska.


Byurr!


"Mulut disekolahin biar kalo ngomong pake filter, lah ini malah makin gak karuan!" kesal Azkia, tanpa sadar ia menyiram Siska dengan air minumnya.


"****!" Siska marah mendapati baju seragam dan wajahnya basah kuyup.


"Upps maaf, tangan gue licin," ucap Azkia sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Siska yang tidak terima akan hal itu langsung melakukan hal yang sama, namun bukan minuman melainkan bakso yang ada di hadapannya ia siramkan ke wajah Azkia.


"Makan nih bakso!" seru Siska sambil menyiramkan kuah bakso kepada Azkia yang tengah berdiri di sebelahnya.


Membuat mereka semua panik hingga bingung harus melakukan apa, untungnya saat bersamaan ada seseorang yang membantu Azkia.


Orang itu menghadang kuah bakso yang masih sidkit panas agar tidak menyentuh wajah Azkia.


"Rayhan!" teriak Jojo dan Nia yang kaget dengan apa yang dilakukan Rayhan.


"Sshhh," rintihnya.


"Kak Rayhan!" teriak Azkia panik saat sudah membuka matanya.


Azkia sempat memejamkan matanya saat Siska menyiramnya dengan kuah bakso.


"Lo gak apa-apa?" tanya Jojo yang langsung mendekati mereka.


"Kak, ada yang luka gak?" tanya Azkia panik.


"Mikael, bawa cewek lo pergi!" seru Devan.


Tanpa berkata apapun lagi Mikael langsung membawa pergi Siska dari kantin, membuatnya menjadi pusat perhatian seiisi kantin.


"Lepasin, gue masih belum puas bukam tuh mulut cewek jelek!" teriak Siska sambil terus berontak, namun tetap saja kalah dengan kekuatan Mikael yang memaksanya menjauhi kantin.


"Gue gak apa-apa kok," seru Rayhan yang melihat kekawatiran mereka semua.


"Gak usah bohong deh, kak... punggung lo kena kuah bakso masih agak panas itu tadi," ucap Nayla.


"Gak usah sok kuat!" ucap Nia.


Tanpa pikir panjang lagi Azkia menarik tangan Rayhan menuju uks, dia merasa bersalah melihat Rayhan yang meringis kesakitan. Walaupun bukan keinginan Azkia, bagaimana pun berkat Rayhan wajahnya tidak terkena kuah bakso.


"Mau kemana?" terik Attaya.


"Uks!" singkat Azkia.


"Kenapa jadi ribet gini sih?" tanya Bobo.


"Entahlah Bob, gue kalo jadi Azka mukan udah jadi playboy," ucap Devan sambil terkekeh.


"Palyboy apaan satu aja gak punya lo," sindir Attaya sambil tertawa terbahak.


"Playboy gagal tampil, puas lo!" gertak Devan.


Bobo dan Attaya tak ada hentinya mentertawakan Devan hingga membuatnya kesal.


...............


Setelah pulang sekolah Azka berpamitan kepada Azkia melalui pesan singkat, karena sejak dikantin tadi Azka tidak kembali ke kelas. Dia bolos lagi seperti baiasnya hingga membuat guru-guru itu hafal dengan kelakuan Azka.


"Nyun, aku gak bisa anterin pulang soalnya disuruh papa ke kantor." pesan singkat Azka sudah terkirim tinggal dibaca oleh Azkia.


Dengan malas Azka mengendari mobilnya keluar dari area sekolah, soal tas sekolah selalu ia serahkan kepada Attaya untuk membawanya pulang.


Setelah menempuh sekitar tiga puluh menit sampailah Azka di perusahaan orang tuanya.


Semua orang menunduk saat Azka memasuki loby perusahaan, walaupun Azka masih mengenakan seragam sekolah.


Bahkan seragam itu tidak terlihat rapi, bagaimana tidak semua kancing terbuka memperlihatkan kaos putih polos yang menyelimuti tubuh Azka.


Berpadu dengan celana abu-abu yang dibuat ketat dengan kaki jenjangnya, dibagian lututnya ada sekit sobekan bekas ia jatuh waktu itu.


Entah kenapa pesona Azka yang seperti itu membuat banyak karyawati terpesona terhadapnya.


Clek!


"Kamu sudah sampai, duduklah," ucap Yudha saat melihat anak semata wayangnya tiba dikantor.

__ADS_1


Azka duduk di sofa depan meja kerja Yudha, kakinya sengaja ia selonjorkan diatas meja. Tangnya bersedekap di depan dada, sambil mengapati setiap sudut ruangan sang papa.


"Udah makan siang?" tanya Yudha sambi terus sibuk dengan kerjaannya.


"Belum," saut Azka malas.


"Mau makan dulu, atau nanti," tanya Yudha.


"Nanti," singkat Azka.


Yudha membuang nafasnya kasar, dia heran mengapa anaknya sedingin ini padahal kemaren waktu makan malam tidak sedingin sekarang.


"Tunggu bentar lagi, papa udah rekomendasiin patner kamu untuk belajar bisnis... kamu akan cepat akrab dengannya," ucap Yudha.


"Hmmm,"


Sekitar dua puluh menit Azka menunggu namun orang yang di maksud papanya belum juga sampai.


Azka yang merasa jenuh akhirnya memutuskan untuk mencari udara segar, namun saat membuka pintu bersamaan dengan seorang gadis cantik yang mengenakan cardigan warna mokka.


"Azka?" sapanya ramah.


"Ngapain ngikutin gue!" kesal Azka.


"Azka, kamu jangan kasar sama perempuan... Sinta yang nantinya akan jadi patner mu dalam belajar bisnis," saut Yudha yang sudah berdiri dibelakang Azka.


"Apa! Gak ada yang lain?" geram Azka.


"Kenapa memangnya, bukan kah kalian sahabatan waktu SMP?" tanya Yudha.


"Iya om, kita sahabat waktu SMP," ucap Sinta dengan lembut.


"Terus apa masalahnya?" tanya Yudha.


"Tapi, pah... Azka gak mau kalo patneran sama dia, mendingan Azka gak usah belajar bisnis!" bentak Azka.


"Ingat bentar lagi kamu akan jadi suami, dan kamu harusnya tahu apa tugas suami itu kan... menjaga, merawat dan membiayai semua kebutuhkan istrimu kan," ucap Yudha tepat di telinga Azka.


Untungnya Sinta tidak mendengar itu karena dia sudah dipesilhakan duduk di sofa yang tadi Azka tempati.


"Jadi pikirkan baik-baik! Kamu harus belajar mandiri!" tegas Yudha sambil menepuk bahu Azka.


"Tapi gak harus sama dia kan, pah!" geram Azka.


"Papa belum ketemu orang yang cocok, untuk beberapa waktu berlajarlah dengannya... dia cukup pintar dalam hal bisnis," seru Yudha.


"Tapi pa—,"


"Atau pertunanganmu papa batalkan!" ancam Yudha.


"****!" umpat Azka yang menjadikan Azkia sebagai kelemahannya.


Yudha mengahampiri Sinta yang sibuk dengan ponselnya, sesekali mereka tertawa bersama. Entah apa yang mereka bahas Azka tidak ingin mengetahuinya.


Dengan kasar Azka ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Sinta, terlihat gadis itu tersenyum manis kepadanya.


"Yaudah, kalian berbincanglah dulu... om mau rapat dulu, nanti ada sekertaris om yang bakalan anterin berkas yang akan kalian tangani," ucap Yudha sambil memrapikan jasnya.


"Baiklah om," jawab Sinta.


Azka hanya diam saja menatap luar jendela dengan memasang wajah datar yang tak pernah hilang dari wajahnya, terlihat jelas jika Azka tidak menyukainya.


Yudha sudah pergi rapat kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan Yudha.


Hening, sunyi dan canggung itulah yang Sinta rasakan, sesekali ia melirik kearah Azka yang masih sama dengan posisinya tadi.


"Ehem... gimana kabarmu, Ka?" Sinta mencoba bertanya untuk memecahkan kesunyian itu.


Azka hanya diam saja membuat Sinta canggung, karena tak ada tanggapan dari Azka.

__ADS_1


.....................


Selamat bermalam minggu kalian semua, tetap pake masker dan jaga jarak yak! Tapi jangan ada jarak diantara kita :v


__ADS_2