
Setelah sampai bandara, Azkia segera turun dari motor dan berlari tanpa arah masuk ke dalam bandara. Ia sangat terburu-buru sampai melupakan Devira yang telah mengantarnya sampai di bandara.
"Cih, gue nya ditinggalin!" gerutu Devira sambil melepas helm. Setelah memarkirkan motornya Devira akan menyusul Azkia.
Sedangkan Azkia berusaha mencari keberadaan Azka. Ia menoleh ke sana kemari untuk menemukan sosok yang telah mengisi hatinya, namun sayang belum juga ia temui sosok yang ia cari.
Dari kejauhan terlihat postur tubuh yang mirip dengan Azka, membuat mata Azkia berbinar. Ia segera berlari mengahampirinya, dengan cepat Azkia menepuk bahu seseorang itu.
"AZKA!" panggilnya.
Membuat orang itu menghentikan langkah kakinya dan menoleh kebelakang.
"Siapa?" tanya orang itu yang ternyata bukan Azka.
"Eh, Maaf-maaf salah orang!" ucap Azkia sambil sedikit membukuk.
Gadis itu segera berlari menuju ruang tunggu, berharap Azka masih disana namun sayangnya ia masih tidak menemukan Azka. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, itulah yang Azkia rasakan. Begitu banyak orang membuatnya kesulitan untuk menemukan Azkia.
"Kamu dimana?" ucap Azkia yang terus mencari Azka.
Matanya sudah tidak bisa menahan cairan bening yang sudah tertahan sejak tadi. Pikirannya sangat kacau, bahkan kakinya terasa sangat lemas. Azkia berusaha menghubungi Azka, namun nihil. Ponsel Azka sudah tidak aktif lagi, membuat pikiran Azkia semakin kalut.
Dilihatnya seseorang tengah duduk di salah satu kursi ruang tunggu, ia tengah sibuk melihat tiket dan paspor yang ada di tangannya.
Azkia mendekatinya, ia sangat berharap itu adalah Azka, namun lagi-lagi Azkia salah orang. Matanya yang basah membuat penglihatannya sedikit buram, dan juga pikiran Azkia sudah dipenuhi dengan Azka. Sehingga sudah beberapa kali Azkia salah mengenali orang.
Azkia terus berlari menyusuri setiap kursi ruang tunggu yang lumayan luas itu, membuat Azkia menjadi pusat perhatian orang-orang sekitarnya.
Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat terdengar suara dari petugas bandara yang memberitahukan pesawat yang akan membawa Azka segera lepas landas.
Mendengar itu membuat kaki Azkia benar-benar lemas, ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Hatinya sakit, sakit hingga tidak bisa diungkapan lagi dengan kata-kata. Karena ia tidak bisa menemukan Azka
"Azkaa!" teriaknya dalam tangis.
Bahkan Azkia sudah tidak perduli lagi dengan tatapan orang-orang yang menganggapnya gila. Bagaimana tidak, saat ini Azkia tengah bersimpuh di lantai dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Sesekali ia memanggil nama Azka, berharap orang itu muncul di hadapannya sekarang. Tapi, sayangnya itu hanya mimpi. Karena setahu Azkia pesawat dengan tujuan negara yang akan Azka datangi sudah take off beberapa menit yang lalu.
Azkia masih menangis tersedu-sedu, hingga ia tidak menyadari ada seseorang yang mendekatinya dengan tangan kiri yang menyeret sebuah koper. Ia mengenakan kacamata hitam yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Orang itu berdiri tepat dihadapan Azkia yang masih bersimpuh di lantai. Ia ikut berjongkok agar sejajar dengan tubuh Azkia. Azkia yang menunduk hanya bisa melihat sepasang sepatu hitam mengkilat mendekatinya
__ADS_1
Perlahan matanya menelusuri setiap lekuk yang ada di depannya ini. Dari mulai sepatu perlahan naik ketas hingga terlihat wajah yang tidak asing untuk Azkia, mata yang tertutup oleh kaca mata hitam. Mata Azkia mengerjab beberapa kali, bahkan ia menggosok-gosok matanya agar nampak jelas sosok dihadapnnya saat ini.
"Bukan mimpi kan?" gumam Azkia sambil memastikan sosok itu nyata.
"Az-Azkaaa!" ucap Azkia sambil mendekat untuk memeluk erat seseorang itu yang tak lain adalah Azka.
"Kamu, kamu jahat!" Azkia menepuk pelan dada bidang Azka, laki-laki itu tidak bergeming bahkan membiarkan Azkia memukulnya.
"Maaf!" lirih Azka sambil memeluk erat Azkia.
Lalu Azka mengajak Azkia untuk duduk di kursi ruang tunggu. Azka terlihat sangat tidak tega melihat kondisi Azkia saat ini, dan ini lah salah satu alasan Azka tidak memberitahu Azkia soal keberangkatannya.
Azkia masih diam saja sambil menatap Azka, tangannya terus memegang erat jemari Azka. Seolah Azkia tidak mengizinkan Azka pergi kemanapun.
"Jangan nangis," ucap Azka sambil mengusap air mata Azkia dengan tangan kirinya.
"Gak bisa, aku gak bisa buat air mata ini berhenti gitu aja... air mata ini ngalir gitu aja apalagi saat aku tahu, kamu berangkat sekarang." kata Azkia sambil tersedu.
Azka kembali menarik Azkia dalam pelukannya, hatinya benar-benar perih melihat Azkia yang seperti ini. Mata Azka terasa memanas, namaun sebisa mungkin ia tidak menunjukkannya pada Azkia.
"Maaf, kemarin aku gak sempet ngomong sama kamu," ucap Azka sambil melepaskan pelukkannya dan menatap kedua manik mata Azkia.
"Harusnya aku yang minta maaf, aku gak tau kalau kamu mau ngomong soal ini. Dan maaf tadi pagi ponselku lowbet." jujur Azkia.
"Terus kenapa kamu bisa disini, bukan kah pesawatmu sudah take off?" tanya Azkia.
"Memang," singkat Azka yang membuat Azkia kebingungan.
"Lalu?" tanya Azkia.
"Aku ikut penerbangan selanjutnya." jawab Azka.
"Kenapa?" tanya Azkia polos.
TUK!
Azka menyentil jidat Azkia pelan,"ada yang lari kesana kemari sambil menangis, kan kasian!" Azka tersenyum tipis.
"Hufftt," keluh Azkia. "Boleh gak sih gak usah keluar negeri sekarang?" ucapan Azkia terjeda beberapa saat.
"Aku belum rela kalau kita LDR an." lanjutnya.
__ADS_1
"Sama!"
Terlihat wajah Azkia sangat berharap Azka tetap disini. Matanya masih terlihat berkaca-kaca.
"Aku pasti kembali, jadi tolong bersabarlah!" Azka memegang erat kedua tangan Azkia.
Berat itulah yang mereka rasakan saat ini, dua hati yang saling mencintai harus terpisah karena sebuah tuntutan dari orang tua.
Azkia mengangguk,"Akan ku coba, tapi janji jangan biarkan ada hati yang lain masuk!"
Azkia menyodorkan jari kelingkingnya pada Azka, dengan senang hati Azka menautkan jari kelingkingnya.
"Janji." Azka tersenyum manis.
"Asal kamu tau, Ka.. segala hal tentangmu membuatku sulit berjauhan," batin Azkia.
"Nyun," panggil Azka.
Azkia yang terlihat bengong langsung memperhatikan Azka.
"Aku gak akan selalu ada disisihmu, tapi aku harapan kamu tetap jaga hatimu untukku..." kata Azka sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak, sedangkan Azkia ia hanya diam memperhatikan Azka dengan seksama.
"Aku minta, kamu selalu kasih kabar... tunggu aku kembali, aku janji.. Aku pasti kembali, kamu jangan nakal disini. Ya?" pesan Azka yang membuat Azkia menangis lagi.
Jika boleh jujur Azkia ingin sekali berbuat hal konyol agar Azka tetap disini, seperti mengancam akan melukai dirinya. Tapi, Azkia tidak boleh seegois itu. Ia akan berusaha untuk menjalani hubungan jarak jauh ini, dan membuat Azka percaya padanya.
"Aku janji!" Azkia memeluk erat tubuh Azka, dia terisak dalam tangisnya lagi hingga dada bidang Azka terasa basah.
Azka juga mengeratkan pelukannya, baru kali ini ia merasakan sangat sulit untuk berpisah dengan seseorang. Baru kali ini Axka bisa sesedih ini, bahkan tanpa Azkia ketahui Azka sudah meneteskan air matanya. Namun, dengan cepat Azka menghapusnya. Ia tidak ingin Azkia mengetahuinya, karena itu akan membuat Azkia semakin rapuh.
Sedangkan ketiga sahabatnya menatap mereka dari kejauahan, karena tidak ingin menggangu moment Azka dan Azkia.
"Berasa lagi nonton drama sad ending," celetuk Attaya sambil mengerjapkan matanya yang terasa panas melihat sahabatnya itu.
"Kok gue ikut sedih, gue gak bisa bayangin perasaan Kia saat ini." ucap Devira sambil bersandar pada bahu Devan.
Devan mengusap lengan Devira,"Gue juga gak bisa bayangin perasaan Azka." kata Devan.
"Mereka pasti bisa jalanin ini semua!" saut Attaya, dan diangguki oleh Devan dan Devira
...--------------------------------...
__ADS_1
..."Kita berpisah dahulu, mendewasakan...
...diri, lalu bertemu kembali.."...