Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Merajuk


__ADS_3

Dengan santainya Azkia duduk di kursi kebesaran sang suami, kakinya ia silangkan pada kaki kirinya. Satu tangan ia gunakan untuk menumpu dagunya sambil menatap tajam sang suami. Azka hanya bisa diam sambil menelan slavinanya, ia tidak menyangka jika Azkia memiliki aura yang begitu menekan membuatnya sedikit takut.


"Maksudnya apa?" tanya Azkia dengan nada ketus.


"Semua ini tidak seperti yang kamu lihat, Nyun." jelas Azka.


"Lalu?"


Azka menjelaskan semuanya dari awal hingga datangnya Azkia, sedangkan Azkia diam mendengar dengan seksama. Ia mecari kebohongan dari mata Azka tapi sayangnya tidak ada, mata itu berkata jujur begitu juga dengan mulutnya.


"Pecat!"


"Siapa?" tanya Azka polos.


"Sekertaris kamu itu lah, aku gak mau liat dia disini lagi saat aku keluar dari ruangan ini." tegas Azkia.


"Tapi aku belum ada penggantinya, Nyun," kata Azka sedikit ragu.


"Gak mau tau, pokoknya pecat dia!" tegas Azkia.


"Tapi, Nyun."


"Oh atau kamu sudah ada rasa sama perempuan cabe itu!" gertak Azkia.


"Mana ada,"


"Yaudah pecat dia sekarang juga, aku gak mau lihat hama itu lagi disini!" ketus Azkia sambil membuang wajahnya malas melihat azka.


"Semua urusan biar dibantu Attaya, pokoknya aku gak mau liat dia titik gak pakai koma atau apapun."


"Baiklah," jawab Azka pasrah.


"Kenapa kamu gak rela kalau dia dipecat? Kamu gak bisa liat dia lagi gitu, kamu nyesel?" tuduh Azkia yang merasa jawaban Azka tidak enak didengar.


"Gak sayang gak, aku gak nyesel."


"Yang bener?" tanya Azkia.


"Bener, kenapa aku harus nyesel coba? Aku cuma lagi khawatir sama kamu kalau marah-marah seperti ini, kasian dedek bayinya." Azka berjongkok didepan Azkia dengan kedua lutut yang ia gunakan sebagai tumpuannya. Tangannya mengusap pelan perut Azkia dengan penuh perasaan.


"Jadi jangan marah-marah lagi oke?" lanjut Azka.


"Pecat dia dulu!" perintah Azkia.


Azka mengambil ponselnya yang sejak tadi ia letakkan di atas nakas, setelah menemukan nomor yang ia cari Azka langsung melakukan panggilan telepon.


"Ha—" belum sempat menjawab sudah di potong oleh Azka.


"Suruh sekertaris itu ambil surat pemberhentian di HDR, dan bilang jangan pernah menginjakkan kakinya disini lagi." ucap Azka pada seseorang diseberang sana.


Tut!


Tanpa menunggu persetujuan Azka langsung mematikan panggilan itu, ia tidak ingin jika Attaya banyak tanya perihal pemberhentian sang sekertaris.


"Udah, kan? Jangan ngambek lagi," kata Azka sambil memegang bahu Azkia.


"Bujuk lah biar aku gak marah," kata Azkia.

__ADS_1


"Caranya?" tanya Azka polos, pasalnya ia sama sekali tidak tahu caranya membujuk seseorang agar tidak marah lagi.


"Tauk lah!" kesal Azkia, ia lalu berdiri dan hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Azka.


"Mau kemana?" tanya Azka tanpa melepaskan cekalannya.


"Pergi lah, buat apa disini bikin tambah bad mood aja!" Azkia menghempaskan tangan Azka dan pergi begitu saja.


Greb!


Azka memeluk Azkia dari belakang, wajahnya ia sadarkan pada bahu Azkia. Meski Azkia terus berontak tidak ada niatan untuk melepaskan pelukan itu.


"Sayang jangan merajuk sepeti anak kecil," lirih Azka.


"Apa aku seperi anak kecil?" bentak Azkia.


"Ini semua karena kamu yang mulai, kalau aja tadi aku gak datang tepat waktu aku gak bisa bayangin apa yang akan kalian lakukan!" lanjut Azkia.


"Bukan gitu sayang." Azka membalik tubuh Azkia agar menghadapnya.


"Aku gak ada niatan macem-macem, dia sendiri yang pura-pura jatuh bahkan aku sudah mendorongnya!" jelas Azka.


"Tapi kamu menikmatinya, kan!" bentak Azkia.


"Gak sayang, kamu jangan negatif thingking gini," bujuk Azka.


"Gimana aku gak negatif thingking kalau aku lihat kalian seperti itu!" tanya Azkia yang masih saja emosi.


"Nyun, dengerin aku baik-baik... itu semua kecelakaan dan itu semua perbuatan Lena bukan aku, aku mana berani macam-macam dibelakangmu." kata Azka lembut.


"Istriku lihat mataku, kata-kataku semuanya jujur gaka ada yang aku tutupin." Azka menagkup pipi Azkia membuat mereka saling bertatapan.


Azkia yang tidak tega dengan wajah sang suami yang terlihat sedih, lagi pula Azkia tahu semuanya kejadian daria awal sampai akhir. Karena Azka sudah berada didepan pintu sejak Lena menumpahkan kopi pada jas Azka. Hanya saja dadanya terasa sakit dan sesak saat melihat itu, membuatnya marah-marah tidak jelas seperi ini. Ditambah kondisinya yang hamil muda membuat moodnya mudah sekali berubah dalam hitunhan detik.


Azka menarik Azkia masuk dalam pelukannya, ia mengusap pelan punggung Azkia. Terasanya nyaman dan hangat hingga Azkia membalas pelukannya, pelukan Azkia sangat erat seolah tak ingin melepaskan Azka.


Ia tidak ingin suaminya di goda oleh cabe seperti Lena. Karena ia tahu betul dengan tujuan Lena, Lena itu sama seperti perempuan penggoda diluar sana yang hanya menginginkan harta dan juga tahta terlebih lagi Azka adalah seorang CEO dengan wajah yang sangat tampan.


"Aku gak mau kamu dibagi-bagi," kata Azkia manja.


"Lah, emang aku apaan dibagi-bagi," kesal Azka sambil mengerutkan bibirnya.


Ia terlihat imut membuat Azkia tidak tahan untuk mencubit pipinya.


"Sakit, Nyun," rengek Azka.


"Salah sendiri pasang wajah imut gitu," lagi-lagi Azkia mencubit kedua pipi Azka.


"Oh iya tumben tiba-tiba ke kantor?" tanya Azka.


"Kenapa? Gak suka?" sewot Azkia, entah kenapa mood Azkia berubah lagi membuat Azka harus ekstra sabar.


"Suka kok, tapi tumben gitu kesini tanpa diminta," jelas Azka dengan hati-hati.


"Soalnya aku kangen, tiba-tiba pengen ketemu gitu... Apalagi habis lihat foto kamu by, aku makin kangen." jujur Azkia sambil menggulung-gulungkan dasi Azka.


"Gimana, cocok gak?" tanya Azka penuh harap, sesekali ia memainkan rambut barunya itu.

__ADS_1


"Gak!"


"Sudah ku duga," kata Azka lesu.


Sedangkan Azkia terkekeh melihat perubahan wajah Azka yang semakin kusut bak baju yang sudah lama tidak disetrika.


"Gak cocok tapi cocok buanget! Dan aku suka!" kata Azkia sambil tersenyum manis.


"Yang bener?"


"Iya hubby, aku suka sama model ini... gak nyangka juga sih bisa cocok banget sama kamu, kalau orang lihat pasti kamu dikira anak mafia!" Azkia sibuk bermain dengan rambut baru Azka, jari-jari lentiknya menelisik setiap helai rambut hitam Azka bahkan wangi khas Azka yang jelas diindra penciuman Azkia.


Azka menyadarkn wajahnya dicuruk leher Azkia seolah sedang mencari ketenangan disana, Azkia tidak mepermasalahkan itu hingga tiba-tiba ada yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ka, sebenarnya apa yang se...dang, terjadi?" tanya Attaya yang langsung berbalik badan karena ia masuk diwaktu yang tidak tepat.


"Bodoh, kenapa gue lupa kalau Azkia ada disini... Mata gue lama-lama sakit liat keromantisan ini," batin Attaya.


"Ngapain?" tanya Azka.


"Emm gak jadi dilanjut aja, gue keluar dulu." kata Attaya tanpa berbalik menatap Azka.


"Semua tugas Lena sekarang lo yang hendel!" kata Azka sebelum Attaya kelur dari ruangan itu.


"Apa! Gak bisa gitu dong, kerjaan gue jadi asisten aja banyak apalagi ini tambah sekertaris. Bisa-bisa gue botak sebelum menikah," protes Attaya.


"Terus, cari sekertaris kan gak gampang," jawab Azka.


"Aku tau siapa yang cocok jadi sekertaris," perktaan Azkia ini membuat Azka dan Attaya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Weh tumben rame, ada apa ini?" tanya seseorang yang baru saja datang.


"Itu orangnya." tunjuk Azkia dengan dagunya.


"Gue kenapa?" tanyanya polos.


Devan risih karena ditatap seperti itu oleh mereka bertiga.


"Cocok!" kata Azka.


"Pas banget!" saut Attaya.


"Setuju kan?" tany Azkia.


"Setuju," kata Attaya dan Azka bersamaan sambil mendekati Devan yang bingung.


"Lo jadi sekertaris!" kata Attaya dengan senyum liciknya.


"What! Kok gue Lena kan ada!" protes Devan.


"Gue pecat!" jawab Azka.


"Kenapa?"


"Gue yang suruh!" kali ini bukan Azka melainkan Azkia yang menjawabnya.


"Duh, dasar suami takut istri." gerutu Devan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2