
Akhirnya luka pada siku Rayhan diobati oleh Nayla setelah sempat terjadi perdebatan karena Rayhan tidak ingin diobati dan membiarkan lukanya.
"Sshh! pelan-pelan," ucap Rayhan.
"Pak dokter bisa sakit juga, ya?" ledek Devira.
"Dokter juga manusia," jawab Rayhan sambil tersenyum ramah seperti biasanya.
"Selesai," kata Nayla.
Rayhan menoleh melihat lukanya yang sudah diperban oleh Nayla, walaupun tidak parah tapi harus cepat diobati agar tidak infeksi.
"Terimakasih!" Rayhan menatap Nayla sekilas.
"Iya, kak sama-sama." kemudian Nayla membereskan kotak p3k itu.
Azka yang baru saja masuk kedalam Cafe bersama Azkia langsung duduk disebelah Devira, ia menatap tajam ke arah Rayhan.
"Kak Rayhan, makasih ya udah nolongin Kia," kata Azkia.
Rayhan mengangguk sambil tersenyum manis kepada Azkia, "Sama-sama, lain kali hati-hati!"
"Eheem!" deheman itu membuyarkan tatapan Rayhan.
"Ini semua bukan rencana lo, kan?" tuduh Azka.
"By, gak boleh gitu!" protes Azkia.
"Aneh aja gitu kenapa tiba-tiba ada dia disini dan bisa pas banget saat kamu mau ditabarak, Nyun!"
"Kebetulan," saut Rayhan.
"Mana mung—" ucapan Azka terpotong oleh Azkia.
"By, harusnya kamu berterima kasih pada Kak Rayhan, kalau gak ada dia mungkin aku udah ketabrak mobil itu tadi." jelas Azkia.
"Kamu belain dia?" geram Azka.
"Bukan hubby! Kamu itu negatif thinking mulu sih!" kesal Azkia.
"Udah! Kenapa kalian berdua jadi ribut sih? Mending kita dengerin kata orang yang bersangkutan," ucap Devira sambil melirik Rayhan.
Rayhan pun sadar jika ia sedang ditatap oleh mereka semua. Kemudian Rayhan menceritakan kejadiannya seperti apa yang ia lihat tadi.
"Aku gak sengaja lihat mobil yang tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi padahal lampu sudah kuning, harusnya mobil itu memperlambat lajunya." kata Rayhan.
"Terus aku lihat barisan pejalan kaki yang baru saja menyebrang dan ternyata mobil itu memang sengaja menargetkan Azkia karena dia jalan paling akhir." lanjut Rayhan.
Mereka berempat mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Rayhan dengan seksama agar tidak ketinggalan satu berita.
"Kakak lihat orang yang ada didalam mobil gak?" tanya Nayla.
Rayhan menggeleng, "Gak lihat, mobil itu terlalu cepat!"
"Lo bisa kebetulan ada disini bukan karena ngikutin istri gue kan?" tanya Azka ketus.
"Hubby!"
"Aku baru selesai ketemu sama pasien disekitaran sini," jawab Rayhan jujur.
__ADS_1
"Baiklah, gue percaya sama ucapan lo! Tapi ingat, kalau semua ini ada sangkut pautnya sama lo, habis lo nanti!" bentak Azka.
"Udah jangan emosi mulu, kita selesain dengan kepala dingin." relai Devira.
"Beber kata Devira kita jangan emosi. yang paling penting Azkia baik-baik aja dan yang harus kita cari tau siapa pelakunya." Nayla ikut menimpali.
"Kalau ada bukti semua bisa dicari," kata Rayhan.
"Bukti?" ulang Azka.
"Tadi karyawan gue ada yang gak sengaja fotoin mobil itu," lanjut Azka membuat mereka semua menatap Azka dengan penuh harapan.
Ya, ada harapan untuk mencari pelaku yang mencoba menabrak Azkia.
Azka membuka ponselnya dan memperlihatkan foto mobil tersebut.
"Ini yang lo lihat tadi?" tanya Azka kepada Rayhan.
"Iya bener ini mobilnya," kata Rayhan.
"Kirim ke gue, Ka. Biar gue cari tahu siapa pemilik plat itu!" pinta Devira.
Dengan senang hati Azka mengrimkan bukti itu pada Devira, karena Azka tahu bagaimana kinerja Devira dan juga teman-temannya.
"Oke gue percayain masalah ini sama lo, Ra. Nanti gue suruh calon suami lo buat bantuin." kata Azka.
"Calon suami?" tanya Azkia dan Nayla kompak.
Devira menjadi malu dengan pertanyain itu, pasalnya ia ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada kedua sahabatnya tapi keduluan Azka.
"Siapa?" tanya Azka dan Nayla kompak lagi.
"Loh, kok gak ngasih tau kita. Jahat banget sih!" kesal Azkia.
"Katanya sahabat, kok Azka duluan yang tahu!" protes Nayla.
"Gue tau dari Devan," kata Azka.
"Ohh.. dan lo juga Ki, udah isi kenapa gak cerita sama kita!" kesal Nayla.
"Sebenarnya aku ini masih teman kalian gak sih?" Nayla terlihat sedih karena hal bahagia dari kedua sahabatnya itu tidak ia ketahui.
"Jangan sedih dong, Nay. Niatnya kan hari ini mau ngasih tau kalian," kata Nayla.
"Gue juga Nay, sebenarnya hari ini mau cerita sama kalian berdua tapi gak nyangka ada insiden kaya gini. Mana tuh mulut suami lo ember banget!" Devira menunjuk wajah Azka.
"Cih!" dengus Azka sedangkan Rayhan hanya diam menyimak obrolan mereka.
"Huft, udah berapa bulan kandungan lo, Ki?" tanya Nayla.
"Delapan minggu, Nay!" saut Azkia dengan bahagia seolah keterkejutannya tadi sudah hilang.
"Kamu hamil, Ki?" tanya Rayhan yang sejak tadi belum paham arah pembicaraan mereka.
Azkia mengangguk sambil tersenyum, "Iya, kak... doain lancar, ya!"
Deg!
Jantung Rayhan seolah terhantam oleh batu besar, terasa nyeri dan sesak melihat kenyataan yang harus benar-benar ia terima meski sekuat apapun ia menyangkalnya.
__ADS_1
Bahkan untuk menjawab perkataan Azkia pun Rayhan tidak sanggup, seolah semuanya kata yang akan ia lontarkan tertahan dikerongkongannya. Untung saja Azka tidak ada karena ia sedang menerima panggilan telepon.
"Kak Rayhan kapan nyusul?" tanya Devira yang paham akan situasi saat ini.
"Ah, iya nanti kalau udah ketemu sama jodohnya!" kata Rayhan tersenyum paksa.
"Nanti kita diundang, ya kak!" imbuh Nayla.
"Hehe iya, pasti! Oh iya, aku duluan ya. Ada pasien yang perlu dicek!" alabi Rayhan agar bisa pergi.
"Iya kak hati-hati, sekali lagi makasih!" Azkia melambikan tangannya dan diangguki oleh Rayhan.
"Sampai jumpa, kak!" Devira dan Nayla kompak berkata seperti itu.
"Nay lo kenapa ngikutin kata-kata gue mulu sih!" protes Devira.
"Gak kebalik, ya?"
"Udah-udah jangan ribut lah." Azkia menengahi berdetan karena hal sepele itu.
"Ketos mana?" tanya Azka yang baru saja kembali duduk disebelah Azkia.
"Kalau ada diajak ribut, gak ada dicariin." ejek Devira.
"Udah balik duluan, By! Telepon sama siapa?" tanya Azkia.
"Client," singkat Azka.
"Cewek apa cowok?" tanya Azkia memastikan.
"Cowok sayang, kenapa cemburu gak boleh teleponan sama orang lain gitu?" goda Azka sambil mencubit dagu Azkia.
"Jangan pamer didepan gue!" kesal Nayla.
"Minta halalin sama Atta, biar bisa kaya gini!" kata Azka sambil mencium pipi Azkia didepan dua sahabat Azkia.
"Maunya juga gitu, Ka!" lesu Nayla.
"Lalu?" jawab mereka semua.
"Atta sepetinya belum siap gitu, entahlah aku harus nunggu sampai kapan!" keluhnya dengan nada sedih.
Devira memeluk Nayla sedangkan Azkia mengusap pelan punggung tangan sahabatnya itu, mereka berdua sedang memeberi kekuatan pada Nayla.
"Sabar ya, semua akan indah disaat kamu siap!" kata Devira sambil mengusap punggung Nayla, Nayla memgangguk sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.
"Kita selalu ada buat kamu, Nay. Kalau mau cerita apapun datang aja kerumah, ya!" hibur Azkia.
Setelah beberapa saat Nayla tenang mereka memutuskan untuk kembali kerumah, Azka tidak kembali ke kantor karena ingin menemani Azkia dirumah ia takut Azkia kenapa-kenapa. Semua urusan kantor sudab diserahkan pada Devan dan Attaya.
Devira mampir ke kantor Azka untuk bertemu calon suaminya, sedangkan Nayla langsung kembali ke rumah sakit tempatnya magang.
"Ra, kalau ada kabar sekecil apapun lo harus kabarin gue!" pesan Azka sebelum mereka keluar Cafe.
"Siap! Jaga istri lo bener-bener, dalam perutnya ada anak lo!" kata Devira.
"Pasti itu!" kemudian Azka menuju mobilnya yang sudah terparkir didepan Cafe sambil mengandeng lengan Azkia.
...----------------...
__ADS_1