Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Asam Manis


__ADS_3

Setelah sampai dirumah Azka langsung menyuruh Azkia untuk membersihkan dirinya sedangkan dia sendiri bergegas menuju dapur untuk mengambil air putih dan juga sepiring nasi beserta lauknya.


Saat Azkia keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Azka yang membuka pintu kamarnya. Azkia hanya mengenakan daster saja jika berada dirumah, entahlah semenjak ia hamil ia merasa lebih nyaman menggenakan daster. Daster yang Azkia pakai tidak sama seperti daster yang membuat dirinya seperti ibu-ibu, melainkan membuatnya terlihat lebih cantik dan menawan lagi.


"Kenapa bengong disitu?" tanya Azka.


"Hah, siapa yang beli kedondong?" tanya Azkia.


"Kenapa jadi kedondong kan aku bilangnya beggong bukan kedondong, Nyun!" tegas Azka.


"Oh kirain kedondong, salah denger ternyata. Tapi aku juga lagi pengen makan kedondong, By!" pinta Azkia yang sudah duduk disebelah Azka.


"Iya nanti," kata Azka yang menyodorkan beberapa vitamin pada Azkia.


"Gak mau!" tolak Azkia sambil membuang wajahnya kesamping.


"Diminum dulu vitaminnya, Nyun. Habis itu aku cariin kedondongnya!" bujuk Azka.


"Bener, ya?" Azkia mengancungkan tangannya didepan wajah Azka.


"Iya sayang," kata Azka.


Kemudian Azkia meminun vitamin yang diberikan Azka, setelah itu dia memakan roti isi yang dibuatkan Azka. Karena Azka tau sang istri pasti tidak berselera makan nasih sehingga tadi ia membuatkan roti isi tanpa telur.


Setelah selesai Azka berpamitan pada Azkia untuk mencari kedondong, entahlah Azka akan mencari dimana sore-sore begini. Sedangkan buah itu sangat jarang terlihat dipasaran.


Mobil Azkia menembus jalanan yang tidak sepi itu, matanya terus melihat sekeliling kali aja dia menemukan apa yang sedang dicari. Sebenarnya Azka bisa meminta tolong pada sahabatnya untuk ikut membantu tapi ia urungkan, karena Azka tidak mau mengganggu kebersamaan sahabatnya itu.


Azka sempat berhenti didepan kios penjual buah, namun tetap saja tidak ada buah kedondong. Penjual itu berkata jika buah kedondong tidak banyak dipasaran, kalau ada itupun dipohonnya langsung. Sedangkan Azka tidak tahu siapa yang memiliki pohon kedondong yang sudah berbuah.


Sudah cukup lama Azka menelusuri jalanan itu, hingga ia sepintas melihat pohon kedondong disalah satu rumah yang ia lewati. Azka kembali kedepan rumah itu, terlihat banyak tanaman yang menghiasi perkarangan rumah itu.


Ting Tong


Azka menekal bel yang ada didekat pagar rumah itu, terlihatlah wanita paruh baya keluar dari dalam rumah lalu menghampiri Azka yang tengah berdiri didepan pagar.


"Siapa, ya?" tanya wanita paruh baya itu sambil membuka pintu gerbang.


"Hmm, perkenal saya Azka," kata Azka sambil menyalami wanita itu.


"Iya, mau promosi alat kesehatan ya?" tanyanya.

__ADS_1


"Eh, bukan... saya kesini karena tidak sengaja melihat diperkarangan rumah ibu ada yang saya cari sejak tadi," kata Azka.


"Apa? Memang diperkarangan rumah saya ada apa?" tanyanya penasaran.


"Kedondong," saut Azka sambil menunjuk pohon kedodong yang tidak terlalu tinggi itu.


"Ohh, lalu?


"Saya mau beli buah kedondong itu buk," kata Azka.


"Maaf ya nak tapi saya tidak menjualnya, soalnya anak saya sendiri menyukainya." kata ibu pemilik rumah.


"Tapi saya butuh banget, bu. Berapa pun akan saya bayar," ucap Azka dengan serius.


"Ini bukan masalah uang nak, memangnya buat apa buah kedondongnya?" tanya ibu itu.


"Istri saya sedang hamil, dan dia ingin makan buah kedondong." jelas Azka.


"Ohh, jadi istrinya lagi nyidam. Saya kira tadi sales hehe," kata ibu itu.


"Iya bu, boleh saya beli?" tanya Azka.


"Masuk dulu saya ambilkan kantong kresek dulu."


Lalu memgambil beberapa buah kedondong dari pohonnya langsung. Pohon kedondong itu memiliki buah yang sangat lebat hingga terlihat seperti buah tanpa daun.


"Nih, berikan pada istrimu yang sedang hamil itu semoga bermanfaat, ya."


"Terima kasih, bu. Ini buat beli kedondongnya," kata Azka sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Gak usah, saya iklas... semoga kandungannya sehat-sehat," ucap ibu itu sambil menolak uang pemberian Azka.


"Sekali lagi terimakasih banyak, istri saya pasti senang. Kalau gitu saya permisi dulu, semoga ibu dan keluarga diberi kesehatan dan kelancaran rezekinya." ucap Azka.


"Amiin, aku tidak menyangka orang yang terlihat dingin seperti mu ini bisa bermulut manis," ledek ibu itu sambil terkekeh.


Ya ibu itu tahu sifat Azka dari cara dia berbicara dan tatapan matanya yang terlihat tidak bersahabat pada orang baru, tapi ia juga tidak menyangka Azka bisa berbicara semanis itu.


Setelah berpamitan Azka segera bergegas menuju rumahnya, ia yakin Azkia sudah menunggunya sejak tadi.


Dan benar saja Azkia sudah menunggu Azka diteras rumah sambil membaca sebuah buku. Ia terlihat begitu serius dengan buku didepannya itu sampai tidak menyadari keberadaan Azka.

__ADS_1


Lalu Azka menyerahkan kantong kresek itu didepan wajah Azkia, membuat Azkia mendongakan kepalanya namun setelah itu senyumnya merekah.


"Makasih," kata Azkia mengambil buah kedondong itu dari dalam kresek.


"Tunggu, mana aku cuci dulu jangan asal makan buah yang belum dicuci." Azka langsung mengambil buah kedondong yanh Azkia pegang kemudian ia masuk kedalam rumah untuk mencucinya.


Azkia hanya bisa tersenyum sambil mengamati punggung Azka yang sudah masuk kedalam rumah.


Tak selang berapa lama Azka sudah keluar dengan membawa sepiring buah kedondong yang sudah dikupas bersih dan beberapa yang masih utuh tapi sudah dicuci.


"Nih," kata Azka.


Azkia langsung mengambil buah yang masih utuh itu, lalu memakannya dengan lahab.


"Kan udah ada yang aku potong, Nyun!" protes Azka.


"Pengen yang ini, By! Yang itu kamu aja yanv makan enak kok," kata Azkia.


Azka yang penasaran mengambil satu potong lalu memakannya.


"Asem banget, jangan dimakan!" ucap Azka langsung merebut sisa buah yang ada ditangan Azkia.


"Gak asem, By. Enak loh ini tuh, mana balikin jangan diambil aku masih mau makan," kata Azkia dengan wajah cemberutnya.


"Asem banget ini nanti perut kamu sakit!" tegas Azka.


"Gak mau tau aku mau makan itu, mana!" kata Azkia sambil mengatungkan tangannya meminta pada Azka.


"Gak boleh, nanti sakit lagi perut kamu!" tegas Azka.


"Tadi kan udah makan nasi, jadi gak apa-apa. Lagian itu gak asem, aku suka By!" Azkia memasang wajah imutnya membuat Azka tidak kuta dan meberikan buah kedondong itu lagi.


"Satu aja oke!" kata Azka.


Azkia mengangguk saja daribpada ia tidak bisa menikmati buah kedondong yang manis asem itu, tapi Azkia menyukainya dan terasa segar dimulut.


Azka ikut duduk dikursi sebelah Azkia sambil menikmati suasana sore menjelang malam. Azka juga meminta bibi untuk membuatkan segelas kopi, sedangkan Azkia hanya meminta teh hangat.


Sore itu terasa lebih tenang dan damai bersama hangatnya mentari sore yang menemani mereka berdua.


...----------------...

__ADS_1


"Hanya duduk berdua denganmu, aku merasakan kenyamanan!" ~ E H


__ADS_2