
Siang sudah berganti dengan gelapnya malam. Lampu-lampu jalan sudah terlihat menyala, membiarkan cahayanya menerangi malam yang gelap.
Suara bising kendaraan berlalu-lalang menemani perjalan mereka berdua. Entah sejak kapan keheningan ini tercipta, yang jelas sejak Azka membukakan pintu untuk Azkia ia sudah diam membisu dengan sikap dinginnya lagi. Membuat Azkia sedikit heran karena perubahan sikap Azka yang seperti semula. Azkia sempat berfikir apakah dirinya mamiliki kesalahan sehingga membuat Azka menjadi seperti sifat awal mereka bertemu?
"Azka?" Azkia mencoba memanggil Azka yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
Tidak ada jawaban bahkan Azka tak bergeming sekalipun, membuat Azkia gusar.
"Tadi siang masih Azka kan, terus kenapa sekarang mode es lagi." batin Azkia sambil melirik wajah Azka.
"Azkaaa!" panggil Azkia lagi.
"...."
"Sayang! Kamu kenapa sih?" tanya Azkia yang mulai kesal, ia sedikit menggoyangkan lengan Azka.
"Bahaya!" ucap Azka tegas.
Karena Azka sedang menyetir mobil sehingga akan bahaya bila Azkia menggoyangkan lengannya. Pipi Azkia terlihat menggembung, bibirnya terlihat sedikit mengkerucut membuat Azka tidak tega.
"Maaf, Nyun! Mungkin dengan cara kek gini bisa membuat mu kuat saat waktu itu datang!" batin Azka sambil mencengkram kuat stang mobilnya.
Sebenarnya Azka tidak tega bersikap seperti ini lagi kepada Azkia. Tapi, menurut Azka ini adalah cara terbaik agar membuat Azkia tidak menangis saat Azka benar-benar keluar negeri.
Lebih baik Azkia marah kepadanya daripada harus melihat air mata Azkia.
"Kamu marah sama aku?" tanya Azkia lagi sambil sedikit takut.
"Jangan diemein kek gini, Ka! Aku gak suka, berasa ngomong sendiri tau gak!" gerutunya sambil melipat tangan didepan dada.
Sebenarnya ingin sekali mulut azka terbuka menjawab semua pertanyaan Azkia, sebisa mungkin Azka menahannya. Agar semua yang ia rencanakan berjalan lancar.
"YUADAH!" kesal Azkia sambil menatap ke arah luar jendela.
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sampai disebuah Cafe Rindu. Ya, Cafe ini adalah tepat favorit Azka dan Azkia. Karena hampir setiap saat jika keluar mereka pasti akan kesini.
Azka menutup mobilnya dengan kasar, ia melihat kesamping yang masih tertutup rapat. Seoalah gadis itu tidak ingin keluar dari dalam mobil karena kesal.
Azka menghela nafasnya, karena tekadnya yang sudah bulat membuat Azka membuang sikap hangatnya kepada Azkia. Dengan langkah malas, Azka membukakan pintu penumpamg untuk Azkia.
"Turun!" perintah Azka.
"Gak mau! Akudisini aja, buat apa juga turun kalau dikacangin mulu," gerutunya sambil membuang muka.
"Yaudah, gue tinggal!"
Deg!
"Apa gak salah denger, Azka pake kata gue padahal udah lama dia pake aku kamu! Pake acara ninggalin sendirian lagi," batin Azkia yang melihat Azka mulai melangkah.
"Jahat!" ucap Azkia sambil menghentakkan kakinya menuju kedalam Cafe terlebih dahulu.
"Maaf, Nyun!"
Azka mengikuti langkah kaki Azkia, ada sedikit jarak yang ada pada mereka berdua. Devan yang sejak tadi sudah berada di parkiran tanpa sengaja melihat pemandangan itu.
"Kenapa lo gituin, Azkia?" tanya Devan yang mensejajari langkah kaki Azka. Disebelahnya ada Devira yang menggandeng lengan Devan.
"Hmmm,"
"Jangan hmm doang, gue gak paham bahasa kalbu!" kesal Devan membuat Devira tekekeh.
__ADS_1
"Terus gimana?" tanya Azka polos.
"Astaga! Ya jelasin kenapa sikap lo berubah kasar gitu ke Azkia padahal tadi siang bucin banget!" gerutu Devan sambil memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Lo kan udah tahu alasannya apa!" ucap Azka santai seolah tidak ada masalah apapun. Padahal hatinya berkata lain.
"Jangan bilang lo kaya gini gara-gara lusa lo mau berangkat?" tebak Devan yang memang benar.
"Berangkat kemana?" tanya Devira.
"Luar negeri!" singkat Devan.
"WHAT!" teriak Devira kaget membuatnya mendapat tatapan dari beberapa pengunjung.
"Hmm, ya gitu!" jawab Azka.
"Kenapa lo gak bilang kalau lusa udah berangkat, Kia pasti sedih banget tau hal ini," ucap Devira sambil memikirkan perasaan Azkia.
"Nah, itu yang gue gak mau! Gue gak mau liat dia sedih, mending gue liat dia benci sama gue dari pada harus kiat dia nangis didepan gue... gue gak tega!" ucap Azka sambil menatap jauh kedepan dimana Azkia berada berada.
"No coment gue!" ucap Devira sambil mengangkat kedua tangannya keatas.
"Hey! Kalian ngapain disitu sini!" ucap Bobo yang melambaikan tangan pada Azka Devan dan juga Devira.
Mereka bertiga kompak mengangguk, Devira membalas lambaian tangan teman-temannya.
"Saran gue, lo bilang apa adanya sama Azkia... gue tahu berat buat kalian berdua harus berjauhan untuk sementara waktu, tapi mau bagaimana pun kalian udah tunangan harus ada kejujuran diantra kalian." nasehat Devira membuat Azka berfikir dua kali soal ia yang tidak memberitahu Azkia.
"Good luck, Ka! Gue kesana duluan!" lanjut Devira.
"Iya nanti aku susul!" terika Devan yang hanya mendapat acungan jempol dari Devira.
"Haruskah gue jujur, Nyun?" guman Azka.
Kali ini mereka makan bersama teman satu kelas, sehingga area indor Cafe ini sudah dipesan oleh kelas mereka.
Azka masih diam ditempatnya menatap Azkia yang tertawa bahagia saat bercansa dengan teman-temannya.
"Semoga kamu selalu bisa tertawa seperti itu, Nyun! Jangan nangis." gumam Azka.
"Woy diem aja disitu, udah kek patung selamat datang aja, Ka!" teriak Attaya.
"Emang patung kan," ucap Azkia sambil mencebikkan mulutnya.
Azka memasukkan tangannya kedalam saku celana, ia berjalan mendekat. Tepatnya dimeja para sahabatnya itu. Sayangnya hanya tersisa satu bangku yang berada disebelah kanan Azkia.
Mau tidak mau Azka duduk disitu dengan disuguhkan pemandang masam dari Azkia.
Nayla yang memperhatikan mereka sejakntadi ikut mengomentari.
"Kalian marahan, ya? Kok gak bucin kek biasanya?" tanya Nayla polos.
DUK!
Devira menginjak kaki Nayla yang berada didekatnya.
"Ini anak gak bisa liat situasi dan kondisi apa!" batin Devira.
"Gak usah di dengerin, omongan orang lamper mah suka seenaknya!" ucap Devira yang mengerti akan situasinya.
"Assshh! Sakit Devira!" rintih Nayla.
__ADS_1
"Dikit!" ucap Devira sambil membuat simbol sedikit dengan isyarat jemarinya.
"Dikit ya dikit tapi sakitnya itu loh, dan satu lagi gue gak laper!" kesal Nayla.
"Iya-iya maaf bercanda doang!" ucap Devira sambil terkekeh.
Sedangkan Azka ia hanya diam saja, benar-benar mirip seperti patung. Namun patung yang bisa kemana-mana sendiri.
Azkia hanya diam termenung sesekali ia tertawa garing saat dirasa ada yang cukup menarik.
Saat makan tanpa sadar Azka memberikan kuning telurnyabpada mangkuk Azkia, itu sudah menjadi kebiasaan Azka saat makan bersama Azkia.
Ada senyum tipis melihat kebiasaan Azka yang ternyata masih ia lakukan meski sedang mode cuek.
"Makasih!" ucap Azkia.
"Hmm, makan yang banyak!" kata Azka sambil mengambilkan beberapa daging dan menaruhnya pada mangkuk Azkia.
"Gak mau nanti gendut!" protes Azkia.
"Gendut kek panda!" celetuk Azka.
"Ihh apaan sih, masa ngatain pacarnya gendut kek panda!" kesal Azkia sambil mencubit perut Azka berkali-kali.
"Sakit!" ucap Azka tegas.
"Maaf-maaf, reflek!" ucap Azkia sambil mengusap lembut ditempat Azkia mencubit tadi.
"Uhuukk, inget masih ada kita disini!" keluh Bobo yang tidak bisa makan dengan nyaman saat melihat keharmonisan Azka dan Azkia.
Yang terlihat dingin dan cuek namun sangat perhatian dan saling melengkapi. Membuat siapapun akan iri dengan tingkah mereka.
"Gue jadi kenyang!" ucap Ciko yang sejak tadi diam.
Entah kenapa Ciko bisa teringat akan bar-barnya ketua kelas sebelah yang tidak lain adalah Clarisa.
"Gila!" ucap Ciko cepat sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Bobo.
"Gak!"
"Lo jangan mikirin orang lain, pokoknya lo gak boleh punya pacar dulu... biar gue udah dapat nanti baru lo boleh pacaran!" ucap Bobo sambil memegang kedua lengan Ciko.
"Siapa lo ngatur-ngatur gue!" kesal Ciko.
"Gue, gue belahan jiwa lo!" ucap Bobo asal.
BYUR!
Minuman yang sedang Devira minum tiba-tiba tersembur keluar saat mendengar ucapan Bobo.
"Ih, jorok, Ra!" kesal Nayla sambil mengambiil tissu.
"Maaf-maaf gak sengaja, gara-gara Bobo ini," ucap Devira.
"Loh kok gue sih!"
...----------------...
Jangan lupa Vote like comentnya dong!
__ADS_1