
Wajah Azkia benar-benar tidak bisa dikondisikan lagi, kusut seperti setrikaan baju. Kepalanya terasa pusing, Azkia ingin segera pulang kerumah dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Entahlah rasanya ia malas memikir semuanya, karena semakin dipikir membuat kepalanya sakin sakit.
"Duh, kunci mobil gue dimana sih," gerutu Azkia sambil menggeledah isi tasnya.
"Emangnya lo bawa mobil?" tanya Nayla.
"Gue gak bawa mobil, tapi naik mobil," saut Azkia yang masih mencari kunci.
"Eh, kok jadi ngelawak?" ucap Nayla sambil terkekeh.
"Tapi didepan gak ada mobil lo, Azkia," kata Devira.
"Hah, terus mobil gue kemana dong?" tanya Azkia panik.
"Kalau hilang gimana itu kan mobil kesayangan gue, hiks!" lanjut Azkia membuat beberapa pengunjung Cafe menatap mereka.
"Coba inget-inget dulu, kali aja lo kesini dianterin atau naik ojol." Nayla mencoba menenangkan Azkia agar tidak semakin panik.
"Dianterin?" ulang Azkia sambil memgingat kejadian tadi pagi saat ia berangkat ke kampus.
"Oh iya gue dianterin Azka, astaga kenapa bisa lupa sih!" gerutu Azkia sambil menepuk jidatnya.
"Masih berasa single aja, mbak?" sindir Devira.
"Yang ada dipikiran lo itu cuma skripsi sampai suami sendiri dilupain," kata Nayla.
"Maklum, Ra... biasanya apa-apa sendiri, sekarang dianterin dijemput... terus tidur juga ada yang nemenin, semua itu kan butuh penyesuaiannya," kata Azkia panjang lebar.
"Iya, yang udah punya suami tidur ada yang nemenin." ejek Nayla sambil terkekeh.
"Gak usah mulai deh, aku lagi gak mood bercanda. Aku capek mau pulang," ucap Azkia.
"Yaudah kita anterin, ayok!" ajak Devira.
"Serius?" tanya Azkia.
"Iya ayo buruan sebelum berubah pikiran ini," kata Devira yang sudah bersiap, begitu juga dengan Nayla tapi ia membawa mobilnya sendiri.
Selama perjalanan banyak hal yang mereka berdua ceritakan, terutama Devira yang terus memberikan nasehat kepada Azkia.
Tidak butuh lama mereka sampai didepan rumah Azka, tanpa masuk terlebih dahulu Devira langsung berpamitan. Karena ia sudah ada janji dengan temannya untuk mencari bahas skripsi.
Azkia masuk kedalam rumah yang disambut hangat oleh Bik Mira asisten rumah tangga yang biasanya mengurus semua keperluan rumah.
Setelah selesai berbincang Azkia memutuskan untuk istirahat didalam kamar seperti rencannya tadi. Tapi sebelum itu Azkia membersihkan dirinya terlenih dulu karena hari pun sudah sore.
__ADS_1
Setelah selesai, Azkia langsung merebahkan dirinya diatas kasur big size milik Azka yang sekarang juga sudah menjadi miliknya. Dalam hitungan menit Azkia sudah terlelap dalam tidurnya, ia lupa belum memberikan kabar kepada Azka jika pulang terlebih dahulu.
......................
Azka masih sibuk dikantor dengan semua tumpukan berkas yang harus ia periksa, sesekali ia melirik kearah ponselnya yang diletakkan tidak jauh dari tumpukan berkas itu.
"Kok gak dibales sih, masih sibuk bimbingan?" gumam Azka.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Azka tersadar dari lamunannya.
"Masuk!" perintah Azka.
Terlihat gadia cantik yang tak lain adalah swkertarisnya, Lena.
"Maaf pak mengganggu, saya cuma ingin sampaikan jika pertemuan dengan bapak Surya diundur besok siang." kata Lena.
"Oke," singkat Azka tanpa melihat Lena.
"Lalu ini beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani," kata Lena sambil memberikan dua berkas untuk ditamda tangani Azka.
"Taruh situ," kata Azka dingin.
"Ini bos ganteng dingin banget, mana cuek banget lagi," gerutu Lena didalam hati.
"Bapak ganteng, bikin saya terpesona!" saut Lena spontan.
"Saya sudah punya is—" tiba-tiba saja perkataan Azka terpotong saat Devan masuk kedalam ruangan Azka tanpa permisi.
"Ka, ini berkas yang lo suruh gue tanganin sudah selesai," kata Devan sambil berjalan masuk kedalam ruangan Azka.
Azka menatap tajam sahabatnya itu, pasalnya dia sudah berkali-kali menjelaskan jika didalam kantor harus menggunakan bahasa yang formal. Tapi lihatlah saat ini, Devan tanpa rasa bersalah berbicara non formal pada Azka terlebih lagi ada bawahannya.
"Devan!" tegas Azka.
"Maaf, kebiasaan hehe," ucap Devan.
"Jika sudah tidak ada lagi, silahkan keluar!" kata Azka dingin.
Lena yang tidak merasa namanya disebut hanya diam saja, ia berfikir jika Devan yang disuruh keluar dari ruangan Azka.
"Kenapa masih disini, apakah tidak dengar saya bilang apa?" tanya Azka dengan ketus.
"Mbak sekertaris apakah anda memiliki riwayat tidak bisa mendengar?" tanya Devan yang terkesan menyindir.
__ADS_1
"Eh, tidak pak... kalau begitu saya permisi dulu," kata Lena sambil sedikit membungkuk.
"Hahaha," Devan tertawa lepas saat melihat wajah panik Lena.
"Ada yang lucu?" tanya Azka.
"Kamu itu jangan galak-galak sama sekertaris mu, nanti bisa tua sebelum waktunya," ledek Devan sambil tertawa.
"Biarkan saja, aku tidak perduli," saut Azka kembali pada berkasnya. Sedangkan Devan ia masih duduk manis didepan Azka.
"Satu lagi, kalau lagi dikantor harus gunakan bahasa formal jangan lo gue, paham?" tanya Azka.
"Siap! Paham," kata Devan, "kalau gak lupa," lanjutnya lagi dan langsung mendapatkan tatapan tajam Azka.
Sedangkan diluar ruangan, terlihat Lena yang terus mondar-mandir tidak jelas didepan mejanya.
"Dingin banget sumpah!" gumam Lena.
"Tapi ganteng, kira-kira pak Azka udah punya pacar belum?" monolognya.
"Pasti belum, mana ada yang bisa lelehin es kaya dia." ucap Lena yakin sambil mengangguk.
"Oke, Lena! Lo harus berusaha dapatin hatinya Pak Azka, jangan sampai ditikung orang," gumam Lena memyakinkan dirinya sendiri.
"Lena!" panggil seseorang.
"Iya, pak!" jawab Lena dengan cepat berbalik badan.
"Kamu ngapain mondar-mandir udah kaya setrikaan aja?" tanyanya.
"Ah, sa-saya sedang olahraga pak, Attaya. Capek duduk terus," elaknya.
"Semoga aja pak Attaya gak denger aku ngomong apa," batin Lena.
"Oh, bener juga yang kamu bilang. Saya juga capek duduk dari tadi, makanya ini saya jalan-jalan," ucap Attaya sambil terkekeh.
Sejak dulu sifat Attaya yang mudah bergaul dengan siapa saja, membuatnya jadi disukai banyak pegawai kantor padahal dia belum lama bekerja dikantor itu.
"Iya, pak!"
"Saya ke ruangan Pak Azka dulu, kamu lanjutkan saja olahragamu itu," kata Attaya sambil terkekeh.
Lena menghembuskan nafasnya lega, ia berayukur jika Attaya tidak mendengar semua ucapannya. Lena tidak mau jika ada orang tau tentang perasaannya, karena dia belum tau apakah orang itu akan mendukungnya atau menghalanginya. Sehingga sebisa mungkin Lena tidak akan memberitahu perasaanya kepada siapaun, kecuali orang yang benar-benar Lena percayai.
"Pak Azka, tunggu saya melelahkan hati anda!" ucap Lena semangat.
__ADS_1
...----------------...