
Beberapa bulan sudah berlalu kini usia kandungan Azkia sudah masuk sembilan bulan, berarti hanya kurang beberapa minggu lagi Azka junior akan lahir kedunia. Azka yang sangat over protective pada Azki pun selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Bahkan saat cek up ke dokter Azka juga setia menemani.
Setelah Azkia hamil, Azka memang berubah menjadi suami siaga. Apapun yang Azkia mau pasti akan dituruti, walaupun tengah malam sekalipun.
Pernah Azka yang masih nyenyak dalam tidurnya harus terbangun saat sang istri mengguncang badannya. Azka yang baru tertidur pun terpaksa bangun padahal matanya sangat berat.
Azkia membangunkannya tengah malam karena ingin makan nasi goreng yang dijual dipinggir jalan. Padahal jam sudah memunjukan pukul 2 dini hari, membuat Azka mendengus kesal namun tetap saja ia pergi mencarikan nasi goreng pesanan Azkia.
Untung saja setelah lama mencari masih ada satu pedang kaki lima yang buka, tapi pas Azka ingin pesan ternyata sudah habis tak tersisia. Hanya tinggal satu bungkus dan itu pesanan orang.
Dengan berbagai bujuk dan tawaran yang Azka berikan akhirnya orang itu merelakan nasi gorengnya untuk Azka, sedangkan orang itu diganti dengan tiga lembar uang seratus ribu.
Mahal? Pasti tapi bagaimana lagi demi sang istri yang sedang hamil Azka rela mengeluarkan uang dengan nomilan yang lumayan tinggi dari pada ia harus mencari ketempat lain yang belum tentu ada.
Dan sekarang Azka juga menjadi suami siaga saat Azkia mengeluh jika perutnya merasa tidak nyaman, dengan cekatan Azka langsung membawa Azkia pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter Ratna.
"Aku gak apa-apa, By!" ucap Azkia sambil memegang lengan Azka.
"Gak sayang kita harus temuin dokter Ratna, apalagi ini sudah dekat sama perkiraan baby lahir," ucap Azka dengan serius.
"Hmm, terserah kamu aja By," ucap Azkia.
Azka mengusap perut Azkia sambil sesekali menciuminya. Bahkan Azka sering sekali mengajak bicara baby yang ada didalam perut Azkia. Azka sangat senang saat sang baby meresponnya dengan gerakan-gerakan yang dapat dirasakan Azka.
"Anak papa jangan nakal, ya. Kita mau ketemu sama dokter Ratna," ucap Azka sambil mengusap perut Azkia.
"Gak nakal kok, moga aja gak mirip sifatnya sama kamu ya, by!" Azka langsung menatap tajam kedua manik mata sang istri.
"Anak aku ya mirip aku lah, Nyun!" protes Azka.
"Maksud aku sifatnya yang dingin jangan sampai nurun ke anak kita gitu!" jelas Azkia.
"Ya kita lihat saja nanti, Nyun!" Azka mengusap lagi perut Azkia setelah itu segera menyalakan mesin mobilnya dan bergegas menuju rumah sakit.
Azkia menatap Azka lekat, entahlah ia tidak bisa mengekspresikan lagi kebahagiaannya memiliki suami seperti Azka.
"Makasih," kata Azkia sambil menatap wajah suaminya itu.
"Sama-sama," ucap Azka sambil menggengam erat jemari Azkia dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menyetir mobil.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai dirumah sakit, untung saja Azka sedang libur sehingga ia bisa seharian menemani dan menjaga Azkia.
"Gimana dok, keadaan istri saya?" tanya Azka.
__ADS_1
"Baik semuanya baik," jawab sang dokter.
"Lalu kenapa tadi ngeluh kalau perutnya sakit, apa lahirnya mau dipercepat?" tanya Azka polos.
"Biasanya bisa maju ataupun mundur dari tanggal yang sudah ditetapkan, tapi untuk saat ini sepertinya belum mau lahir." jelas sang dokter.
"Oh, kirain!" kata Azka menghela nafasnya.
"Sabar, by. Nanti juga lahir, sabar aja!" ucap Azkia sambil mengusap lengan Azka.
Setelah selesai mereka berpamitan pada dokter Ratna. Tanpa sengaja saat berjalan dikoridor rumah sakit mereka bertemu dengan Rayhan dan sang istrinya yang akan menuju ruangan dokter Ratna. Walaupun merek berdua seorang dokter tapi masih membuatuhkan dokter lain karena mereka bukan spesialis dokter kandungan.
"Hai, Azkia?" sapa Rayya.
Azkia sempat mengingat-ingat siapa wanita yang menyapanya saat ini, karena jujur saja Azkia lupa. Hingga dia melihat siapa laki-laki yang berada disebelah gadis itu, Rayhan.
"Haii," sapa Azkia sambil menghentikan langkahnya.
"Habis cek kandungan, ya?" tanya Rayya.
"Iya, kamu juga ya? Udah berapa bulan?" tanya Azkia.
"Mau 7 bulan, kalau kamu?" tanya Rayya sedangkan para suami hanya diam saja menyimak pembicaraan mereka.
"Waah selamat, ya! Semoga sehat-sehat dan lancar sampai persalinannya," ucap Rayya sambil mengusap perut Azkia pelan.
"Iya, kamu juga... yaudah kita duluan ya!" kata Azkia karena ia tahu jika Azka tidak nyaman dengan percakapan itu.
"Iya hati-hati!" Rayya melambaikan tangan pada Azkia, setelah itu melanjutkan langkahnya menuju ruangan dokter Ratna.
Azka hanya diam saja sampai mereka sampai di dalam mobil, hal itu membuat Azkia heran padahal tadi ia begitu berisik mengenai keadaanya.
"Kenapa?" akhirnya Azkia yang buka suara terlebih dahulu.
"Apa?" tanya Azka bingung.
Azkia memutar kedua bola matanya malas, "Kenapa diem aja?" tanyanya.
"Laper," ucap Azka jujur.
"Kirain marah gara-gara tadi ketemu sama Kak Rayhan," kata Azkia.
"Yang penting dia udah gak gangguin kamu lagi, aku tang kok!" saut Azka jujur.
__ADS_1
"Kan emang dari dulu udah gak gangguin, by." kata Azkia.
"Iya tapi dia masih suka sama kamu," jelas Azka sambil melirik Azkia.
"Tapi kan aku gak, by!" bantah Azkia.
"Tapi dia iya walaupun kamu nganggep dia cuma sekedar teman, tapi dia nya mikir yang lain." ketus Azka karena cemburu.
"Udah ah gak usah dibahas, bahasnya apa jadinya," kesal Azkia.
Azka tak menanggapi lagi, ia memilih diam dan bergegas mengemudikan mobilnya untuk mencari makanan yang ia mau.
Azka berhenti disebuah kios penjual buah, ia turun dan segera membeli buah yang ia inginkan.
"Katanya cari makan?" tanya Azkia.
"Gak jadi," kata Azka.
"Kenapa?"
"Tiba-tiba pengen makan jambu air yang warna hijau ini," kata Azka sambil menunjukkan kantung kresek yang berisi jambu air.
"Masa masih nyidam?" tanya Azkia bingung.
"Gak tau, cuma pengen makan aja kok!" kata Azka.
"Hmmm, baiklah.. oh iya By, nanti kalau kamu libur gimana kalau kita cari barang-barang buat baby!" ajak Azkia.
"Sekarang aja gimana?" tanya Azka.
Azkia melihat jam pada layar ponselnya yang masih menunjukkan pukul 14:00 WIB, sehingga ia mengiyakan saja ajakan Azka terlebih perutnya juga sudah tidak sakit lagi.
Mereka berdua membeli keperluan baby dari mulai pakaian, tempat tidur, selimut dan masih banyak lagi untuk menyambut kehadian sang bayi.
Bahkan mereka berdua sering ribut hanya karena persoalan warna baju saja, Azka yakin jika anaknya adalah seorang perempuan sedangkan Azkia sebaliknya.
Sehingga saat memilih barang selalu dua pilihan, yang pertama Azka dan yang kedua pilihan Azkia sendiri. Hingga tak terasa mereka sudah membeli hingga beberapa kantung belanjaan hanya untuk sang baby.
Setelah Azkia mengeluh capek mereka berdua memutuskan untuk segera pulang kerumah agar Azkia bisa langsung istirahat.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1