Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Penetapan Tanggal


__ADS_3

Dengan bujukan dan rayuan dari kedua orang tuanya, akhirnya Azkia menyetujui percepatan pernikahannya dengan Azka. Yang terpenting tidak akan mengganggu dirinya mengerjakan skripsi dan juga pembuatan butik yang sudah ia mulai.


Dan disinilah mereka saat ini, dirumah Azka untuk membahas tanggal pernikahan mereka. Azkia terlihat diam saja mendengarkan para orang tua yang asik membahas keperluan pernikahan mereka berdua.


Azka menyadari raut wajah Azkia yang terlihat tidak nyaman.


"Nyun, kamu gak seneng nikah sama aku?" bisik Azka.


Pertanyaan yang muncul dari mulut Azka membuat Azkia terkejut. Ia tidak menyangka jika Azka akan berfikiran seperti itu


"Kok kamu ngomong gitu?" tanya Azkia ikut berbisik.


Azka tersenyum samar, "Beneran gitu ya?" tanya Azka lagi.


Setelah itu Azka meninggalkan ruang tamu yang tengah sibuk itu, ia memilih duduk di tepi kolam renang menikmati hembusan angin malam.


"Azka?" panggil Azkia namun tidak dihiraukan oleh Azka.


Azka berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengikuti Azka, masalah pernikahan ia serahan kepada orang tuanya saja. Terserah mereka mau bagaimana Azkia menurut.


"Azka?" panggil Azkia yang sudah duduk di sebelah Azka.


Terlihat Azka menyandarkan tubuhnya pada kursi, tangannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya yang terasa pening. Matanya terpejam rapat seolah ia sedang tertidur.


"Tembok!" panggil Azkia lagi sambil menggoyangkan lengan Azka.


"Hmmm," sautnya.


"Kenapa didalam tadi bilang gitu?" tanya Azkia.


"Bilang apa?"


"Bilang kalau aku gak senang nikah sama kamu," ucap Azkia ragu.


"Kenyataannya gitu, kan?" tanya balik Azka.


"Gak gitu, aku tuh bahagia banget bisa nikah sama kamu!" tegas Azkia membuat Azka menoleh kearah Azkia untuk mencari kebenaran dari perkataannya.


"Masa?" tanya Azka sambil sedikit memiringkan kepalanya.

__ADS_1


Azkia mengangguk, "Iya beneran, kalau aku gak bahagia pasti aku udah kabur, kan?" tanya Azkia.


"Ohh, jadi kamu mau kabur dari aku?" tanya Azka.


"Ih, bukan gitu konsepnya," ucap Azkia sambil cemberut.


"Iya-iya, Nyun!" Azka mengusap pelan pucuk kepala Azkia karena gemas.


"Yaudah ayo masuk lagi, nanti dicariin sama papa mama," bujuk Azkia.


Kemudian Azka menurut saja dengan Azkia, tanganya ia biarkan digandeng oleh Azkia hingga masuk ke ruang keluarga.


"Kalian dari mana?" tanya Yudha.


"Cari angin," singkat Azka.


"Kia, sini duduk dekat mama," kata mama Lala.


Azkia kemudian duduk diantara mama Lala dan mama Kalya, mereka berdua sangat antusias dengan pernikahan ini. Bahkan mereka dengan senang hati mengurus semua kebutuhan Azka dan Azkia.


"Jadi pernikahan kalian akan dipercepat," ucap mana Kayla.


"Minggu depan," jawab mama Lala.


"WHAT!" ucap Azka dan Azkia bersamaaan.


"Itu bukannya terlalu cepat?" tanya Azka.


"Lebih cepat lebih baik kan, lagian mama pengen cepet gendongg cucu," kata mama Kayla.


"Sama, pasti lucu liat anak mereka berdua," kata mama Lala.


"Tapi mah, pah?" protes Azka.


"Kenapa Azka, kamu mau nolak?" tanya Yudha kesal.


"Azka kan baru tiga hari balik, baru juga kemaren Azka sibuk dengan urusan kantor." jelas Azka.


"Kamu tenang aja, soal acara pernikahan biar kami yang mengurusnya... kamu fokus saja pada pekerjaanmu begitu juga Azkia, fokus sama skripsinya biar cepat lulus," jelas Yudha.

__ADS_1


Azka dan Azkia hanya bisa pasrah saja dengan keputusan orang tua mereka. Mungkin memang benar yang mereka katakan lebih cepat lebih baik.


Untung saja mereka mengizinkan Azka dan Azkia memilih dekorasi pengantin dan juga pakaian yang akan mereka pakai.


Malam semakin sudah larut, keluarga Azkia memutuskan untuk segera pulang kerumah. Sudah banyak yang mereka bahas untuk keperluan pernikahan Azka dan Azkia.


......................


Azka merebahkan tubuhnya diatas kasur, pikirannya kacau karena orang tuanya yang mendesaknya untuk segera nikah. Namun disisih lain ia sangat bahagia karena hal itu, mungkin dia belum siap dengan status yang berubah menjadi suami.


Karena saat Azka sudah mengikarkan ijab qobul itu berarti semua tugas dan kewajibannya sebagai seorang suami harus dijalankan. Azka hanya takut tidak bisa memberikan kebahagian untuk Azka, terlebih lagi untuk anaknya kelah.


Azka tidak ingin jika anaknya nanti merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Maka dari itu, Azka akan berusaha keras untuk membahagiakan istri dan juga anaknya kelah.


"Hmmm, bentar lagi kamar ini gak akan sepi lagi," gumam Azka.


Ia sudah membayangkan bagaiaman akan menggoda Azkia nantinya, karena Azka sangat suka melihat wajah panik Azkia saat digoda. Terlihat menggemaskan, apalagi ketika wajah itu antara blusing dan marah.


"Aku akan berusaha buat kamu selalu bahagia, Nyun," gumam Azka.


Pikirannya asyik dengan Azkia, hingga tanpa sadar ia terlelap dalam tidurnya. Tidur Azka kali ini sangat nyenyak, bahkan ia sampai memimpikan Azkia.


......................


Lain halnya dengan Azka, kini Azkia tidak bisa tidur. Ia sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Entahlah apa yang sedang mengusik pikirannya.


"Bentar lagi, gimana dong?" gumam Azkia.


"Aku belum siap jadi istri, arrgghh!" keluhnya Azkia.


Pikirannya kacau, tapi ia harus melakukan itu karena ia dan Azka sudah lama bertunangan.


"Nanti kalau aku gak bisa jadi istri yang baik gimana? Terus Azka marah sama aku?" gumamnya sambil merebahkan tubuhnya.


Azkia mengcengkeram rambutnya, ia tidak tahu harus bagaimana nanti saat sudah nikah bersama Azka. Apalagi orang tuanya meminta untuk tidak menunda memiliki momongan.


Disisih lain Azkia masih harus memikirkan skirpsinya yang benar-benar membuatnya pusing. Banyak yang harus Azkia revisi, karena dosen yang membimbingnya tidak semudah dosen lainnya. Dosen pembimbing Azkia ingin semuanya itu perfec. Sehingga membuat Azkia sedikit tertekan.


"Udah ah, jalanin aja ya kan... hah!" terdengar hembusan nafas kasar dari Azkia.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2