
Tepat pukul sepuluh pagi, Devan berserta yang lainnya sudah sampai di rumah sakit tempat dimana Azka dirawat. Azkia mengajak Devira dan juga Nayla, namun sebelumnya Azkia sudah menceritakan semua kronologinya sampai Azka bisa di rawat dirumah sakit.
Mereka berlima menyusuri lorong tempat dimana Azka di rawat, suasananya begitu ramai karena banyak pengunjung yang sedang berkunjung untuk menjenguk saudara atau teman mereka.
"Assalamualaikum." sapa Devan yang membuka pintu ruang rawat Azka dan diikuti yang lainnya.
"Waalaikumsalam." jawab orang tua Azka.
"Pagi tan, om." sapa mereka semua serentak.
"Pagi, kalian mau jenguk Azka ya?" tanya mama Kayla.
"Iya tan, gimana keadaan Azka?" tanya Attaya, masih terlihat jelas raut kesedihan yang terlihat di matanya.
"Alhamdulilah, Azka udah sadar... dia masih tidur habis minum obat tadi." jawab papa Yudha.
"Alhamdulillah!" teriak mereka semua, karena terlalu senang sampai melupakan jika didepan mereka ada orang tua Azka.
"Eh maaf tan, terlalu bahagia sampai reflek teriak." ucap Devan yang mewakili isi hati mereka semua.
Orang tua Azka tersenyum melihat tingkah teman - teman Azka itu, setelah itu orang tua Azka meminta Devan dan Attaya untuk menjaga Azka terlebih dahulu. Karena mereka akan pulang untuk bersih - bersih diri tetlebih dahulu, sejak kemaren orang tua Azka belum pulang kerumah. Dari bandara mereka langsung menuju rumah sakit, didalam pikiran mereka hanya ada Azka saja.
"Atta, Devan." panggil papanya Azka.
"Iya om?" jawab mereka berdua kompak.
"Om sama tante nitip Azka dulu ya sama kalian, om sama tante mau pulang dulu." pinta papanya Azka.
"Siap om." jawab Attaya.
"Iya. om sama tante pulang aja dulu istirahat... kita akan jagain Azka." kata Devan.
"Terimakasih ya.. tante senang Azka punya temen seperti kalian." ucap mama Kayla sambil tersenyum manis, senyumnya merip sekali dengan Azka.
"Sama - sama tan." jawab mereka semua.
Mama Kayla mendekati bangkar putranya, "Kaka.. mama sama papa pulang dulu ya, nanti balik lagi kesini." bisik mama Kayla kemudian ia mencium pucuk kepala Azka.
Setelah itu mereka berdua berpamitan kepada teman - teman Azka.
"Nitip Azka ya." kata mama Kayla, mereka hanya mengangguk.
"Iya tan." jawab Attaya.
"Assalamualaikum." ucap orang tua Azka.
"Waalaikumsalam." jawab mereka Serentak. Suasana di dalam ruangan sangat tidak nyaman entah kenapa mereka diam dengan pikirannya masing - masing.
"Nay, beli minum yuk." ajak Devira mencoba mencairkan suasana.
"Yuk, Kia mau ikut?" tanya Nayla.
"Gak usah biar dia jagain Azka, gue sama Attaya mo beli buah dulu." ucap Devan sambil menunggol kaki Attaya untuk memberikan kode.
__ADS_1
"Gak papa kan disini sendiri, Ki?" tanya Attaya.
"Iya, gak papa." ucap Azkia sambil mengangguk.
Kemudian mereka meninggalkan Azkia sendiri hanya bersama Azka yang sedang tertidur. Azkia menatap lekat wajah yang sedang tertidur, wajahnya seperti tidak memiliki beban apapun.
"Tau gak, aku seneng banget saat denger kamu udah lewatin masa kritis... sampai aku gak bisa berkata apapun tadi karena terlalu seneng." ucap Azkia sambil menatap lekat pria yang sedang tertidur itu.
"Aku takut banget.." perkataannya terhenti, bersamaan dengan air mata yang tiba - tiba metes saat Azkia mengingat mimpi buruk itu.
"Aku gak mau hal itu terjadi, ak-aku akan nyalahin diri ku sendiri kalo sampe itu terjadi, Ka... Aku takut kamu ninggalin aku hiks hiks." lanjut Azkia sambil menangis tersedu - sedu. kepalanya ia sadarkan pada punggung tangan Azka.
Azka sebenarnya sudah bangun sejak orang tuanya berpamitan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, namun dia mengurungkan niatnya saat samar - samar me dengar suara Azkia.
"Tenang aja, mana mungkin aku ninggalin cewek cengeng kayak gini." ucap Azka sambil mengelus pelan pucuk kepala Azkia dengan tangan yang masih di infus.
"Az-Azka!" ucap Azkia sambil memeluk Azka tanpa sadar, dalam dada bidang Azka dia menangis.
"Makin jelek kan kalo nangis." ledek Azka sambil mengelus punggung Azka.
"Kamu tuh jangan buat aku khawatir." ucap Azkia bibirnya mengerucut dengan air matanya yang masih saja menetes.
"Maaf, maaf udah buat kamu khawatir nyun!" ucap Azka menatap lekat kedua manik mata Azkia. Azkia hanya mengangguk pelan.
"Aku juga minta maaf, karena gak cerita semuanya sama kamu.. gara - gara aku kamu jadi kayak gini." kata Azkia matanya sudah merah karena menangis.
"Apapun yang terjadi jangan pernah nyalahin diri kamu sendiri, jangan nyiksa diri kamu sendiri ya.. janji?" tanya Azka sambil mengusap pelanair mata Azkia dengan ibu jarinya. Kemudian dia mengacungkan jari kelingkingnya untuk berjanji.
"Mana mungkin aku gak nyalahin diri aku sendiri kalo semua ini penyebabnya aku." batin Azkia.
"Uhukk."
"Mau minun?" tanya Azkia.
"Hmm." saut Azka, Azkia mengambilkan segelas putih yang berada diatas nakas dekat bangkar Azka.
"Awh." rintih Azka saat menerima uluran gelas itu, Azkia yang melihat Azka kesakitan dengan pelan membantunya untuk minum.
"Makasih." ucap Azka, sambil tersenyum tipis bibirnya masih terlihat pucat.
"Mau makan buah? aku kupasin ya." tanya Azkia sambil mengambilkan jeruk lalu mengupasnya.
"Ayoo aaa." ucap Azkia sambil menyodorkan potongan buah jeruk yang sudah ia kupas bersih kulitnya.
Akhirnya Azka menerima suapan dari Azkia yang awalanya Azka ragu menerima suapan jeruk itu, namun ketika melihat mata Azkia yang bebinar berharap Azka menerima suapannya.
"Enak?" tanya Azkia sambil tersenyum.
"Manis kaya yang nyuapin." gombal Azka, membuat Azkia salah tingkah, Azkia mundur beberapa langkah untuk membuang sampah.
"Jangan mundur lah."
"Hah, kenapa?"
__ADS_1
"Cantiknya kelewatan."
"Hilih, basi tau gak haha." kata Azkia namun tetap saja bisa membuatnya merona.
"Nyun?" panggil Azka.
"Iya?" jawab Azkia bingung dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu itu 134." kata Azkia dengan wajah dibuat sedatar mungkin.
"Hah?" tanya Azkia bingung.
"Tidak ada duanya." kata Azka sambil tersenyum manis.
"Astagfirullah jantung gue rasanya mau keluar." batin Azkia.
"Ciiieee." suara serempak dari belakang Azkia membuatnya kaget terpelonjat.
"Bos gue udah sembuh nih dah bisa gombal." ledek Devan.
"Lo tau gak, gue sampe nangis kemaren liat lo kayak gitu." ucap Attaya saat duduk disebelah Azka.
"Nangis?" tanya Azka dengan memiringkan kepalanya sedikit.
"Iya, gara - gara lo kita semua nangis tau gak!" kesal Devan sambil memukul pelan lengan Azka.
"Awh." rintihnya.
"Eh sorry." kata Devan mulai panik.
"Dasar baru juga sembuh dah gombalin sahabat gue lo wkwk." kata Devira sambil menaruh makanan diatas nakas.
"Lo mau digombalin juga, Ra?" tanya Devan.
"Gak!"
"Dih, gitu aja nggas kek tukang gas." canda Devan yang membuat mereka semua tertawa namun tidak dengan Azka dia hanya tersenyum karena masih sakit jika tertawa.
"Lo kenapa, Ta?" tanya Azka yang melihat Attaya sedikit sedih.
"Huuaaaaa." Attaya langsung memeluk Azka dan menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainnya.
Azka bingung dengan sikap Attata yang seperti ini, karena jarang sekali Attaya seperti itu. Azka melihat kearah Devan, dengan matanya seolah ia sedang berbicara, "Atta kenapa?"
Sedangkan Devan dan yang lainnya hanya menaikkan bahu mereka sebagai tanda tidak tahu.
"Kenapa?" tanya Azka sambil menepuk pelan punggung Attaya.
"Jangan gitu lagi, Ka... gue kemaren syok banget liat lo yang kaya gitu di depan mata gue Ka, gue takut banget kalo terjadi sesuatu sama lo!" ucap Attaya sambil menangis tersedu - sedu.
Devan yang mendengar itu ikut menghampiri Azka dan Attaya, mereka saling berpelukan. Ada rasa bahagia, sedih dan haru melihat tulusnya persahabatan mereka.
"Iya, gue gak akan gitu lagi." ucap Azka, ada sedikit air dipelupuk matanya suaranya sedikit bergetar saat berkata seperti itu.
__ADS_1
"Udah dong jangan sedih - sedih gini, kan gue jadi nangis liatnya." kata Nayla yang ikut menangis namun sambil tersenyum membuat mereka menertawakan Nayla.
.............