Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Patung Ganteng


__ADS_3

Akhirnya acara yang berlangsung sejak pagi tadi kini sudah selesai juga. Azka dan Azkia sudah berada didalam kamarnya, untuk malam ini mereka semua akan tinggal dihotel tempat resepsi dilaksanakan. Terlalu lelah untuk kembali kerumah, bahkan Yudha dan Bima masih saja menemani rekan bisnis mereka.


"Akhirnya ketemu kasur." Azkia langsung merebahkan dirinya diatas kasur yang berukuran besar itu.


Azka hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah mantan pacarnya itu yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Aku mandi dulu," ucap Azka berjalan menuju kamar mandi. Badannya sudah terasa lengket dan bau tentunya, karena seharian harus menemui tamu-tamunya hingga malam.


"Iya," jawab Azkia. "Ternyata seharian tersenyum juga melelahkan apalagi jika pura-pura, ya?" gumam Azkia.


Tanpa sadar Azkia sudah terlelap dalam alam mimpinya, ia merasa sangat lelah sekali hari ini. Terlebih lagi kakinya terasa pegal, karena setiap ada tamu yang akan memberikan selamat ia harus berdiri. Sedangkan ia mengenakan hils yang lumayan tinggi.


Hampir dua puluh menit Azka menghabiskan waktunya didalam kamar mandi, kini ia sudah terlihat lebih segar. Azka hanya mengenakan cenala kain selutut dibalut dengan kaos lengan pendek berwarna hitam. Dilehernya ada handuk kecil untuk mengeringkan rambut yang masih terlihat basah.


Azka berdiri didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya, terlihat Azkia yang masih terdiam pada posisi semula sebelum Azka masuk kedalam kamar mandi.


"Nyun?" panggil Azka.


Namun tidak ada suatan dari Azkia, Azka berjalan mendekat disisi ranjang dimana Azkia berada. Terlihat Azkia terlelap, wajahnya terlihat kelelahan.


"Sebegitu capek kah," gumam Azka sambil menyelipkan anak rambut Azkia.


Ia merasa kasian melihat Azkia, hingga tidak tega untuk membangunkannya. Tapi, Azkia belum ganti baju dan membersihkan make up, terlihat tidak nyaman untuknya. Azka akhirnya memutuskan untuk membangunkan Azkia.


"Nyun, bangun dulu gih bersih-bersih," ucap Azka sambil menoel pipi Azkia.


Tidak ada pergerakan sama sekali, membuat Azka gemas. Ia mencubit pipi Azkia hingga siempunya pipi mengeluh kesakitan.


"Ughh!"


"Bangun, mandi dulu!" perintah Azka.


"Bentar lagi mah, sepuluh menit lagi Kia bangun," rengeknya sambil berbalik membelakangi Azka, Azkia mengira yang membangunkannya adalah sang mama.


"Eh ini suami mu kenapa jadi mama," geram Azka.


Azka memiliki sebuah ide yang akan membuat Azkia bangun dari tidurnya, "Sayang, bangun dulu... kalau gak bangun aku cium loh," bisik Azka tepat ditelinga Azkia.


Dan benar saja setelah mendengar itu Azkia langsung bangun dari tidurnya, bahkan ia langsung bergeser menjauh dari Azka.


"Ma-mau apa?" tanya Azkia panik.


"Mau makan kamu," ucap Azka dengan mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Azkia.


"Ja-jangan macem-macem, ya!" Azkia langsung berdiri dan menjauh dari tempat tidur.


Azka terkekeh melihat kelakuan istrinya itu, "Udah mandi dulu sana, nanti masuk angin loh."


Azkia masih saja diam tanpa pergerakan, membuat Azka mendekatinya lalu berbisik.


"Atau mau aku yang mandiin," bisik Azka.


"Gak! Gak perlu, aku bisa mandi sendiri," ucap Azkia langsung berlari menuju kamar mandi. Bahkan tanpa sadar Azkia sampai membanting pintu kamar mandi saat menutupnya.

__ADS_1


BRAK!


"Astaga! Kenapa si beruang kutub berubah jadi macan sih," monolog Azkia.


"Serasa mau diterkam hidup-hidup," keluhnya sambil menyilangkan tangan didepan dada.


Azkia tidak mau berlama-lama memikirnya, ia bergegas membersikan diri. Yang pertama dilakukan adalah membersihkan wajahnya dari semua make up, lalu ia berendam dengan air hangat ditambah sedikit aroma terapi untuk mengurangi pegal-pegalnya.


Sekitar tiga puluh menit Azkia selesai dengan rutinitas mandinya. Namun ia melupakan sesuatu yang membuat Azkia panik.


"Han-handuknya mana!" pekik Azkia frustasi. Bisa-bisanya ia melupakan handuk dan juga pakaiannya.


"Aduh, gimana ini? Masa minta tolong sama Azka tapi malu, dia udah tidur belum, ya?" ucap Azkia pada dirinya sendiri.


"Gimana nih ginana?" monolognya sambil mondar-mandir seperti setrika.


Sedangkan Azka yang merasa Azkia terlalu lama didalam kamar mandi, membuatnya khawatir ia takut terjadi sesautu pada Azkia. Azka mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok


"Nyun?" panggil Azka.


"Iya, kenapa?" tanya Azkia.


"Kamu kenapa lama sekali didalam, tidak terjadi sesuatu kan?" tanya Azka.


"Oh, anu itu aku baik-baik aja kok," saut Azkia dari dalam kamar mandi.


"Terus kenapa betah banget didalam, nanti masuk angin," ucap Azka, ia mencoba membuka pintu kamar mandi namun pintu itu dikunci dari dalam.


Azkia tidak punya pilihan lain karena semakin lama didalam kamar mandi ia merasa kedinginan, Azkia membuka pintu kamar mandi. Namun hanya kepalanya saja yang muncul dari balik pintu bercat putih itu.


Azka menyerkitkan alisnya, ia heran dengan tingkah Azkia.


"Kenapa cuma kepalanya aja yang kelihatan?" tanya Azka.


"Anu itu se—," ucap Azkia ragu.


Azka yang tidak sabaran langsung memotong ucapan Azkia. "Apa?" tegasnya.


"A-aku lupa bawa handuk," ucap Azkia sambil menunduk malu.


"Astaga kenapa gak bilang dari tadi, kan bisa minta tolong sama aku... kamu pikir aku ini patung apa yang cuma bisa diem aja," gerutu Azka tapi tetap saja ia mengambilkan handuk untuk Azkia dari dalam almari.


"Emang patungkan?" lirih Azkia tapi tetap bisa didengar oleh Azka.


Entahlah pendengaran Azka yang tajam atau karena didalam kamar tidak ada suara apapun sehingga Azka dapat mendengar jelas suara Azkia yang pelan sekalipun.


Klek!


Azkia membuka pintu kamar mandi, ia terkejut saat melihat Azka masih didepan pintu kamar mandi dengan tangan yang dilipat didepan dada.


Sedangkan ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan sampai dadanya, membuat bahu dan lehernya terlihat jelas.

__ADS_1


"Aaaaaa!" teriak Azkia, dengan cepat Azka membekap mulut Azkia dengan tangannya. Membuatnya mundur beberapa langkah hingga menabrak dinding kamar.


"Kenapa teriak sih?" tanya Azka dengan tatapan tidak suka.


"Em mmbbb eemnhh," ucap Azkia tidak jelas karena mulutnya masih dibekap Azka. Azka yang paham langsung melepaskan tangannya dari mulut Azkia.


"Kamu itu bikin kaget aja, kenapa berdiri didepan pintu kamar mandi sih? Gak sopan banget," kesal Azkia, ia tidak menyadari posisinya saat ini.


"Kan kalau kamu butuh apa-apa aku bisa langsung bantu," jawab Azka.


"Ya tapi gak berdiri didepan pintu juga, udah kaya patung selamat datang aja," kesal Azkia.


"Masa ada patung seganteng ini?" tanya Azka sambil memainkan rambutnya dengan tangan kiri, karena tangan kanannya berada di pinggang Azkia.


"Siapa yang bilang kamu ganteng, percaya diri sekali," dengus Azkia.


"Banyak sih yang bilang, perempuan-perempuan disekolah kita dulu juga bilang begitu, kan?" Azka menatap dalam manik mata Azkia.


"Iya-iya, sang most wanted sekolah yang dikagumi banyak orang tapi sayangnya tidak ada yang berhasil mencairkan gunung es itu selain aku," ucap Azkia dengan bangga, tanpa sadar ia juga terpaku pada ketampanan Azka saat ini.


Azka tidak memperdulikan ocehan Azkia, ia telah terpaku pada bibir merah Azkia. Azka semakin mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak diantara mereka berdua. Tangannya menarik dagu Azkia agar mendongak menatapnya. Azkia yang sudah terpaku pada Azka hanya diam saja.


"Hatchiiii!" tanpa diduga Azkia bersin saat bibir Azka akan menciumnya.


"Ma-maaf," ucap Azkia tidak enak.


Azka sedikit mundur, wajahnya terlihat kaget bercampur kesal. Ia melepaskan tangannya yang berada pada pinggang Azkia.


"Buruan ganti baju, nanti sakit," kata Azka lalu berjalan menuju tempat tidur.


Sedangkan Azkia yang sadar belum memakai baju pun langsung berlari membuka kopernya, ia mengambil baju yang akan dipakai. Lalu berlari menuju kamar mandi lagi.


Setelah beberapa menit Azkia keluar dengan pakaian tidurnya, ia melihat Azka sedang memainkan ponselnya diatas rajang sambil bersandar.


Azkia merasa sedikit canggung gara-gara kejadian tadi, dengan menunduk ia ikut berbaring disebah Azka.


"Lampunya matiin." perintah Azka.


Lalu Azkia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang berada didekatnya. Azkia kembali berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Astaga canggung banget," batin Azkia.


"Aku harus ngapain, ini pertama kalinya tidur bareng cowok," batinnya lagi.


Ia merasakan kasur disebelahnya bergerak, itu berarti Azka sudah berbaring disebelahnya. Membuat jantung Azkia ber DJ ria.


"Tidurlah, sudah malam," ucap Azka terdengar lembut.


Azkia hanya mengaguk walaupun tidak terlihat oleh Azka karena selimut itu menutupinya hingga atas kepala.


...----------------...


Kalian tadi datang gak pas resepsi Azka Azkia? ya walaupun tanpa undangan online wkwk

__ADS_1


Makasih ya suport system kalian semua, pembaca lama maupun yang baru!


Kalian Terbaik!! 😊😊


__ADS_2