
Setelah makan dan bekemas mereka berdua langsung menuju rumah Azka. Rumah itu lah yang akan mereka tempati sedangkan orang tua Azka mereka tinggal diluar kota. Karena perusahaannya sekarang yang menangani adalah Azka, Yudha memilih mengurus bisnisnya yang lain bersama sang istri.
"Masih sakit?" tanya Azka ketika melihat wajah sang istri terlihat tidak baik-baik saja.
"Hah?"
"Mikirin apa?" tanya Azka fokus pada jalanan.
"Gak mikirin apa-apa sih, lagi capek aja," elak Azkia.
"Yakin?" tanya Azka memastikan.
"Iya," jawab Azkia sambil mengangguk, kemudian hening tidak ada pembicaraan sama sekali. Hanya suara mesin dan tlakson kendaraan lain yang mengisi perjalanan mereka.
Sebenarnya pikiran Azkia masih tertuju pada instastory yang menandainya tadi. Untung saja Azka tidak terlalu aktif dengan media sosial, ia tidak terlalu menyukai dunia maya. Sehingga dapat dihitung berapa kali Azka membuka sosial medianya selama satu tahun.
Setelah menempuk perjalanan mereka berdua akhirnya sampai disebuah rumah yang sudah tidak asing lagi baik Azkia, rumah Azka. Mereka berdua disambut oleh Yudha dan Kayla. Azkia mendapatkan pelukan hangat dari Kayla. Kayla merasa lega anak semata wayangnya sudah ada yang mengurus, ia berharap Azkia bisa memberikan kasih sayang yang selama ini jarang ia berikan kepada Azka.
"Anak mama sudah pulang?" tanya mama Kayla sambil memeluk Azka.
"Sudah mah," jawab Azkia karena Azka hanya diam saja.
"Ayo makan dulu, mama udah siapin makanan kesukaan kalian berdua," ajak mama Kayla sambil menggandeng lengan Azkia.
Sedangkan Azka sedang berbincang-bincang dengan Yudha diruang tamu, mereka membahas beberapa proyek yang akan ditangani Azka. Sejak saat perjodohannya dengan Azkia, sedikit demi sedikit Azka sudah mulai menerima kasih sayang yang diberikan Yudha dan istrinya. Walaupun tidak ditunjukkan secara langsung, tapi Azka tahu sebenarnya kedua orang tuanya itu sayang menyayanginya. Dan sekarang Azka mulai dekat dengan mereka berkat Azkia. Walaupun perlahan Kayla yakin mereka bisa seperti dulu lagi.
"Pah, Kaka... ayo makan malam dulu!" ajak mama Kayla.
Kemudian mereka menyudahi pembicaraan itu dan menyusul kedapur. Disana sudah ada Azkia yang duduk didepan mama Kayla, mereka berdua terlihat begitu akrab membuat Azka tersenyum tipis.
Azka duduk disamping samg istri, lalu dengan cekatan Azkia mengambilkan nasi beserta lauknya dipiring Azka. Hal itu sudah diajari mama Kayla bagaimana melayani semua kebutuhan suami dan bagaimana menjadi seorang istri yang baik.
"Makasih," ucap Azka.
Azkia mengangguk, tangannya berkeringat dingin karena ini baru pertama kalinya Azkia mengambilkan nasi untuk suaminya.
Kemudian mereka semua makan dengan tenang hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
__ADS_1
"Kalian kapan bulan madunya?" tanya Yudha setelah selesai makan.
"Entah," jawab Azka sambil minum jusnya. Sedangkan Azkia hanya diam saja dan melanjutkan makannya.
"Besok aja gimana, mama udah gak sabar gendong cucu... pasti seru! Jadi rumah ini gak akan sepi lagi. Ya, kan Kia?" kata mama Kayla.
"Uhuukk uhuuk!" mendengar penuturan sang mertua membuat Azkia tersedak, dengan cepat Azka memberi segelas minuman untuk Azkia.
"Hati-hati," ucap Azka.
"Aduh sayang pelan-pelan makannya," kata mama Kayla.
"Besok juga gak masalah, kamu kan masih libur," kata Yudha.
"I-itu sepertinya gak bisa, besok Kia harus ketemu sama dosen pembimbing biar skripsinya cepat selesai," kata Azkia ragu-ragu.
"Gimana Kaka?" tanya mama Kayla.
"Kaka nurut aja mah sama, Kia." setelah mengatakan itu Azka pamit menuju kamarnya untuk istirahat.
"Ditunda apanya? Kan sudah," gumam Azka sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Azkia masih membantu sang mama membereskan sisa makanan, karena hari ini bibi Mira sedang libur. Yudha sudah kembali kekamarnya mempersiapkan barang yang akan dibawa, karena nanti ia akan keluar kota bersama sang istri.
......................
Azka sudah terlelap diatas kasusnya, perjalanan pulang membuatnya lelah setelah semalam ia kurang tidur.
Azkia masuk kedalam kamar, ia menyapu pandangannya diseluruh ruangan yang akan ditempatinya. Ia disambut dengan wangi khas Azka sangat kentara saat pintu kamar dibuka.
Kamar yang bernuansa abu-abu putih itu terlihat nyaman. Barang-barang Azkia sudah tertata rapi bersandingan dengan milik Azka. Ada meja rias yang sengaja disediakan oleh Kayla untuk Azkia. Azkia tidak perluh meja belajar baru, karena ia bisa menggunakan meja belajar Azka.
Setelah puas mengamati kamar, Azkia memutuskan untuk mandi. Walaupun sudah tidak terasa nyeri, Azkia tetap berhati-hati.
Setelah urusannya dikamar mandi selesai, Azkia duduk didepan meja rias. Ia mengamati lehernya yang masih terlihat kemerahan, tidak hanya satu tapi lebih dari dua.
"Ini gimana kalau sampai besok gak ilang?" gumam Azkia sambil menggosok bekas kemerahan itu.
__ADS_1
"Huft, habis besok diledekin Devira sama Nayla." batin Azkia, ia sedang memoles wajahnya dengan sedikit cream malam. Tak lupa ia memakai pelembab agar bibirnya tidak kering.
Perlahan Azkia ikut membaringan tubuhnya disebelah Azka, ia tidak mau mengusik ketenangan itu. Karena bayang-bayang kemarin masih jelas dibenak Azkia.
Tapi, harapan itu musnah saat tangan kekar milih Azka langsung menarik tubuh Azkia agar mendekat. Matanya masih terpejam, namun ia bisa merasakan jika ada pergerakan disisih ranjangnya.
Azka mendekap Azkia masuk dalam pelukannya, seolah Azkia adalah guling untuknya.
"Hubby, lepasin... aku gak bisa tidur kalau seperti ini," rengek Azkia sambil mencubit pipi Azka.
"Dingin," kata Azka.
"Kalau dingin pake jaket, lah." katanya sambil mencoba melepas tangan yang melingkar diperutnya itu.
Azkia bersusah payah agar keluar dari pelukan Azka, tapi sayangnya semakin ia berusaha semakin erat pula pelukan yang Azka berikan.
"Huftt!" dengus Azkia.
"Diamlah, dan cepatlah tidur... atau aku akan memakanmu," ucap Azka dengan suara khas orang bangun tidur.
Mendengar itu membuat Azkia pasrah, dan mencoba memejamkan matanya didalam pelukan Azka.
Beberapa menit setelah itu terdengar nafas Azkia yang beraturan, ia sudah terlelap nyenyak. Wajahnya terlihat damai dan cantik itulah yang Azka lihat.
Azka tersenyum melihat setiap inci wajah istrinya, ia masih tidak menyangka jika sekarang dia memiliki guling hidup.
Azka mencium kening Azkia cukup lama, tangannya menyisipkan anak rambut Azkia yang menutupi wajah cantiknya.
Ia mengusap pelan bibir merah ranum milik Azkia, lalu ia mencium bibir itu sekilas agar tidak membangunkan Azkia.
"Hmmm," Azkia merasa tidurnya terusik.
"Tidurlah, istriku sayang!" Azka menepuk-nepuk punggung Azkia pelan.
Membuat Azkia kembali terlelap, kemudian Azka juga ikut tidur dengan tangan yang tidak pernah melepaskan pelukannya.
...----------------...
__ADS_1