Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Antara Rindu dan Curiga


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, kini mereka sudah sibuk dengan kegiatan kuliahnya masing-masing. Azkia juga sudah mulai masuk kuliah, ia memilih jurusan desain. Karena sejak kecil Azkia memiliki cita-cita membuka sebuah boutique dengan hasil gambarannya sendiri.


Sedangkan Devira ia memilih jurusan hukum, sifatnya yang tegas dan tidak mudan goyah membuatnya ingin menjadi pengacara. Nayla lebih memilih jurusan psikolog, ia berharap generasi penerusnya memiliki kesehatan mental yang bagus.


Devan dan Attaya tentu saja mereka memilih jurusan bisnis mengingat mereka akan meneruskan bisnis orang tuanya. Ciko yang notabenya adalah kutu buku lebih memilih jurusan sastra, sedangkan Bobo lebih memilih jurusan ilmu komunikasi mengingat sifatnya yang sangat cocok bila menjadi public relations.


Azkia banyak mengikuti kegiatan di kampus, kegiatan yang ia ikuti kebanyakan tentang desain. Azkia tidak ingin terlalu berlarut dalam kesedihannya, ia juga harus mewujudkan impiannya itu. Sehingga tidak ada waktu bersedih dengan alasan hubungan jarak jauh.


Tak jauh berbeda dengan Azkia, Azka mulai sibuk dengan semua kegiatannya. Bahkan ia jarang sekali bisa leluasa memegang ponselnya. Karena setelah pulang kuliah, Azka harus magang di perusahaan yang sudah direkomendasikan oleh sang papa. Mau tidak mau Azka harus menurutinya, jika tidak Yudha mengancam dengan membatalkan pertunangannya.


Padahal Yudha tidak ada niatan untuk membatalakn pertunangan Azka. Ia berbicara seperti itu hanya untuk menggertak Azka saja.


Sesibuk apapun Azka, ia selalu berusaha untuk memberi kabar kepada Azkia. Entah pesan itu dibalas atau tidak Azka selalu mengabarinya. Dan Azka juga mengharuskan Azkia selalu memberikan kabar, pernah Azka marah karena ponsel Azkia sulit sekali dihubungi.


Seperti malam ini, Azka terlihat gundah karena sejak tadi ia tidak bisa menghubungi Azkia. Bahkan tidak ada pesan masuk dari gadis itu, hal itu membuat Azka yang sedang capek menjadi mudah tersulut emosinya. Walaupun hal itu sangat sederhana, ia akan marah-marah tidak jelas.


Azka terlihat mondar-mandir di balkon apartemennya. Tangannya sibuk munghubungi Azkia. Namun tetap saja ponsel Azkia tidak dapat dihubungi. Biasanya Azkia selalu memberikan kabar terlebih dahulu kepada Azka, apapun yang ia lalui selalu memberitahu Azka. Namun akhir-akhir ini Azkia semakin susah dihubungi dan juga ia melupakan janjinya yang akan terus pamit kepada Azka.


Azka melirik pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan dengan model elegan. Jam tangan itu sangat cocok dikenakan Azka, membuatnya terlihat seperti ceo muda yang sangat berkarisma.


Jarum jam sudah berada tepat pada angka 12 yang berarti di tempat Azkia pukul 12 siang. Harusnya Azkia sudah pulang kuliah, karena hari ini ia hanya ada kelas pagi.


"Kemana sih kamu, susah banget di hubungi," keluh Azka.


Niat hatinya ingin mendengar suara Azkia setelah ia pulang kerja, namun apa daya Azkia tidak dapat dihubungi sama sekali. Membuat hati Azka gundah, antara khawatir dan curiga menjadi satu.


"Udah dibilangin jangan pernah matiin ponsel, masih aja dilakuin!" gerutu Azka sambil merebahkan dirinya diatas kasur.


Untuk sesaat Azka menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus tertuju pada wajah cantik Azkia. Badannya lelah begitu juga dengan pikirannya.


Sekali lagi Azka menghubungi Azkia, namun tetap saja sama. Azka mengirimi Azkia sebuah pesan singkat.


"Lagi dimana?"

__ADS_1


"Sama siapa? Kenapa ponselnya gak aktif, kenapa gak kasih kabar kalau sibuk?"


"Kan gue udah bilang jangan pernah nonaktifin ponselnya, kenapa diulang terus sih!"


Begitulah isi pesan singkat yang dikirim Azka, pesan itu terlihat masih centang satu yang artinya belum terkirim ke Azkia.


Mata Azka mulai terpejam, namun terasa sangat sulit. Ia kembali duduk dan menatap layar ponselnya seperti orang bodoh. Lagi-lagi Azka berharap ada pesan masuk dari Azkia. Ia tidak akan bisa tidur nyenyak jika belum mendapatkan kabar gadis itu.


"Kamu tuh masih sayang sama aku gak sih?" gumam Azka sambil menatap foto selfi dirinya bersama Azkia.


"Ini cuma perasaan gue, atau emang lo sekarang berubah?" katanya lagi.


Perlahan ibu jarinya mengusap benda pipih itu tepat diwajah Azkia, ia sangat merindukan Azkia. Bahkan jika bisa Azka akan terbang sekarang juga dan menemui Azkia. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


"Liat aja nanti, gue abaikan baru tau rasa. Huh!" gerutu Azka sambil membuang ponselnya disembarang arah. Untung saja hanya berada di kasur jika tidak mungkin sudah rusak ponsel itu.


Azka berdecak kesal, rindu ini sangat menyiksa batinnya. Namun ia tidak bisa berbuat apapun, mengingat tidak ada sahabatnya yang satu jurusan dengan Azkia.


"Gue itu penting gak sih buat, lo?" kesal Azka.


Azka merebahkan lagi tubuhnya, lengan kirinya ia gunakan untuk menutup mata. Kepalanya terasa sangat pening, sesekali Azka memijat pelipisanya.


Tiba-tiba saja ponselnya yang sejak tadi diam kini terus berdering. Dengan malas Azka menatap layar ponsel itu, terlihat sebuah nama yang sejak tadi ia harapkan.


Ada sedikit kehangatan namun ego yang sangat besar membuat Azka enggan untuk menerima panggilan telepon.


Drrtt drttt!


"Terima gak ya?" ucap Azka.


"Gue lagi kesel sama lo, tapi gue kangen, Nyun!" gumam Azka lagi.


Azka berguling kesana-kemari, niat hatinya untuk menerima panggilan itu namun disisih lain Azka masih kesal dengan Azkia yang hilang begitu saja.

__ADS_1


"Biarin lah, terserah! Salah sendiri gak ada kabar seharian." ucap Azka sambil meletakkan kembali ponselnya.


Ting!


Suara pesan masuk membuatnya penasaran, Azka melihat pesan itu pada layar tanpa berniat mambukanya.


"Ka, udah tidur?"


"Angkat dong, kalau belum tidur!"


Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Azkia. Tangan Azka sudah bergerak ingin membalasnya namun ia urungkan lagi.


"Bodo amatlah!" gumamnya.


Sedangkan Azkia ia tidak berhenti begitu saja, Azkia terus mengirimi Azka pesan hingga hampir seratus pesan. Dan juga beberapa panggilan tak terjawab.


Azka hanya melihatnya, sebenarnya tidak ada niatan untuk balas dendam. Namun Azka juga ingin Azkia bisa merasakan apa yang ia rasakan saat tidak bisa menghubunginya.


Antara panik, khawatir, curiga dan juga rindu bercampur menjadi satu di dalam hati Azka.


"Angkat dong sayang kalau belum tidur," chat masuk dari Azkia.


Setelah itu terlihat panggilan masuk lagi dari Azkia.


"Angkat gak angkat gak?" gumam Azka.


...----------------...


...SELAMAT HARI PAHLAWAN!!...


...----------------...


Gak nyangka udah 200eps aja ini Bad Boy Bucinnya! Kalau seoason 2 jadi satu di sini gimana? jadi lanjut terus disini cuma nanti ada tulisan S2 gitu, (kalau jadi😅)

__ADS_1


__ADS_2