
Azka yang sudah selesai mandi turun kebawah, tapi sebelum itu dia sudah memaafkan Azkia. Terlebih lagi emosi Azkia kali ini tidak bisa terkontrol dengan baik. Dengan susah payah akhirnya Azka bisa menenangkan Azkia dan menyakinkan dia jika dirinya tidak marah dengan Azkia.
Azkia memeluk Azka sangat lama, bahkan ia sampai tertidur dalam pelukan Azka. Kemudian Azka membaringkan Azkia diatas ranjang, ia menyelimutinya hingga batas leher. Azka mencium kening Azkia lama, setelah itu ia menuju meja makan karena lapar.
"Kia mana?" tanya Axel.
"Tidur bang," singkat Azka, sedangkan mereka hanya beroh ria saja mendengar ucapan Azka.
"Masih pagi kok tidur?" tanya Melati yang baru saja datang bersama Zenna.
"Capek nangis," gumam Azka.
Melati memberikan bubur ayam yang tadi ia beli kepada Azka, dengan lahab ia memakan sarapannya itu. Zenna yang sangat nyaman bersama Azka kini kembali mengganggu Azka. Zenna memaksa duduk dipangkuan Azka, padahal sudah dilarang oleh kedua orang tuanya. Tapi Zenna tida perduli, bahkan dia meminta Azka untuk menyuapinya.
Azka yang tidak terbiasa dengan anak kecil sedikit kaku saat menyuapinya. Namun dengan telaten Azka menyuapi Zenna bubur sehingga satu mangkok bubur itu habis dimakan berdua dengan Zenna.
"Zenna, kita pulang dulu ya nanti kesini lagi." ajak Melati sambil merentangkan tangannya untuk menggendong Zena.
"Zee dicini aja, cama oom!" ucap Zenna sambil memeluk Azka erat.
"Om Azka sibuk sama tante Kia, Zenna ikut mama pulang ya. Nanti sore kita main lagi kesini," bujuk Melati.
"Huaaa Zee mau cama oom, gak mau pulang." tangis Zenna pecah begitu saja. Ia benar-benar ingin bersama Azka.
"Biarin Zenna disini," ucap Azka sambil memenagkan Zenna.
"Tapi dia gampang rewel, Ka. Nanti kumau kuwalahan?" kata Axel.
"Ayoo Zenna pulang sama papa ya, om Azka capek habis lari-lari." bujuk Axel.
Zena tidak menjawab ia memilih menyembunyikan wajahnya didada bidang Azka. Tangannya memeluk erat Azka, hingga mencengkram baju yang dipakai Azka.
"Biarin aja disini, ya kan Zee?" ucap Azka lembut.
Zenna mengangguk sambil melirik kedua orang tuanya. Axel pasrah saja, ia tidak menyangka jika anak pwrempuannya bisa sedekat ini dengan adik iparnya.
"Yaudah papa sama mama pulang dulu, Zenna disini sama om Azka. Tapi inget gak boleh nakal ya, nanti om Azka marah kalau Zenna nakal. Okee?" ucap Axel.
"Oce!" lirik Zenna.
Kemudian Axel dan Mentari pamit pulang terlebih dahulu karena masih banyak barang yang belum mereka bereskan. Bahkan mereka belum menyentuh sama sekali barang bawaan mereka. Sedangkan Bima dan Lala sudah pergi setelah sarapan, mereka menghadiri acara rekan bisnisnya.
Azka menggendong Zenna menaiki anak tangga, ia akan membawa keponakannya itu ke dalam kamar. Zenna yang digendong hanya nurut patuh.
Clek
__ADS_1
Terlihat Azkia masih terlelap dalam tidurnya bahkan ia tidak terusik dengan kehadiran Zenna. Zenna turun dari gendongan Azka, ia mencubit pipi Azkia tap tetao saja tidak bisa membangunkannya.
Kemudian Zenna bermain dengan Azka dilantai yang sudah diberi karpet berbulu. Bahkan Zenna bisa tertawa lepas bersama Azka begitupun dengan Azka. Ia sangat menikmati waktunya bersama Zenna, terlebih Zenna sangat imut dan lucu. Sekilas wajahnya terlihat mirip seperti Azkia waktu kecil, hal itu membuat Azka semakin menyayangi Zenna.
Tanpa mereka sadari Azkia sudah terbangun tapi ia hanya diam saja sambil mengamati keseruan suami dan keponakannya itu yang terlihat seperti ayah dan anak.
"Udah bangun?" tanya Azka.
"Hmm," singkat Azkia yang ikut bermain dengan Zenna.
"Ante... oom Aca buat Zee, ya?" Zee memohon dengan wajah imutnya membuat Azkia gemas.
"Oom Azka punya tante, jadi gak boleh buat Zenna." jawab Azkia lembut.
Zenna yang mendengar itu langsung berlari memeluk Azka, seolah tidak mengizinkan Azkia menyentuhnya.
"Oom Aca unya Zee!" teriaknya, hal itu semakin membuat Azkia ingin menggoda Zenna.
Azkia mendekat dan memeluk Azka juga sama seperti Zenna, ia menempelkan wajahnya pada bahu Azka.
"Ini punya tante, Zee gak boleh deket-deket." kata Azkia sambil mencubit pipi Zenna.
"Gak mau, oom Aca unya Zee," rengeknya sambil memangis keras. Hal itu membuat Azka panik, karena sangat susah mendiamkan Zenna saat menangis.
"Sayang, gak boleh gitu," ucap Azka kepada Azkia.
Azka memgatur nafasnya, ia heran dengan sikap Azkia saat ini. Yang tiba-tiba mudah marah, bahkan sampai berebut dengan Zenna yang masih kecil.
"Bukan gitu sayang," bujuk Azka.
"Itu Zenna aja dipeluk aku gak!" kesal Azkia sambil menatap Zenna yang menjulurkan lidahnya disela-sela menangis.
Azka merentangkan tangannya, melihat itu Azkia langsung berhambur memeluk Azka. Sehingga Azka memeluk dua perempuan beda usia itu secara bersamaan.
Azka tersentak kaget saat Azkia yang tiba-tiba saja mencium bibirnya, ia panik karena disana ada Zenna. Tapi siapa sangka jika Azkia sudah menutup mata Zenna dengan telapak tangannya.
"Sayang!" kata Azka nadanya sedikit tinggi.
"Kamu jahat!" ucap Azkia lalu pergi meninggalkan Azka dan Zenna.
"SAYANG!" teriak Azka tapi tidak dihiraukan oleh Azkia.
Lalu Azka melirik Zenna yang menatapnya bingung, "Zenna tadi liat, gak?" tanya Azka.
"Liat apa oom?" tanya Zenna polos untung saja dia sudah berhenti menangis.
__ADS_1
"Emm itu tadi," kata Azka, ia bingung bagaimana menjelaskan pada Zenna.
"Mata Zee adi ditutup, ante Kia." polos Zenna yang memang benar kenyataannya, Azka bernafas lega mendengar hal itu.
"Zenna main disini dulu ya, om mau cari tante Kia dulu," kata Azka sambil menurunkan Zenna agar duduk dikarpet.
"Iya oom Aca." Zenna menurut saja ia bermain dengan berbagai boneka miliki Azkia dan juga tv yang sudah diputar film kartun.
Azka turun kebawah mencari Azkia, rumah ini cukup sepi karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Azka sudah mencari Azkia dimana pun tapi belum juga menemukan keberadaannya.
"Sayang, kamu dimana?" panggil Azka.
"Sayang!" tapi tetap saja tidak ada suatan.
Hingga Azka melihat didekat taman duduk seorang perempuan, ia sedang termenum sambil menatap kosong bunga-bunga didepannya.
"Sayang?" panggil Azka, ia hanya menoleh sekilas saja kemudian Azka duduk disebelahnya.
"Kenapa hmm?" tanya Azka.
Azkia menggeleng, "Gak tau," singkatnya.
Azka membawa Azkia masuk kedalam pelukannya, ia mengusap lembut punggung Azkia. Sesekali Azka mencium kening Azkia. Nyaman, pasti itu yang dirasakan Azkia saat ini hingga ia sudah terlihat tenang.
"Denger ya, aku itu milikmu jadi gak usah berebut sama Zenna. Dia masih kecil belum tau apa-apa," ucap Azka dengan lembut ia melepaskan pelukannya dan menatap Azkia.
"Iya!" patuh Azkia.
"Kamu lagi pms, ya?" tanya Azka.
"Gak kok," jawab Azkia.
"Kok moodyan?" tanya Azka, sedangkan yang tanya hanya menggeleng saja.
Kemudian Azka mengajak Azkia kembali kekamarnya karena sudah lama meninggalkan Zenna sendirian.
"Gendong," rengek Azkia.
Azka hanya menaikkan sebelah alianya menatap Azkia.
"Gendong, aku mau digendong hubby!" kata Azkia.
"Manja!" ledek Azka.
Dengan pasrah Azka menggedong Azkia hingga sampai dikamarnya, berat? Lumayan tapi Azka masih kuat buktinya ia menggendong Azkia sampai didalam kamae.
__ADS_1
...----------------...