Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Suka Dia Mak!


__ADS_3

Azka memetik gitarnya sedangkan, Bobo dia memaikan ketipungnya. Bobo memang keturunan orang jawa jadi wajar saja jika dia bisa memaikan alat musik seperti ketipung. Ketipung adalah alat musik seperti kendang namun ukurannya yang lebih kecil sehingga mudah di bawa kemana saja.


"Lagu apa?" tanya Azka.


"Serah, gue mah bisa ngikutin semua lagu haha." ucao Bobo dengan tingkat ke pedean yang tinggi.


"Dih songong nya muncul." kata Nayla sambil menggelengkan kepalanya.


"Okay ikuti ya!" perintah Azka, kemudian Azka memainkan sebuah lagu.


"Lihat ku disini... kau buatku menangis, ku ingin bahagia tapi tak bahagia... ku ingin dicinta tapi tak dicinta.... mencoba lupakan tapi ku bertahan." Azka mulai bernyayi dan kemudian Bobo mengikutinya dengan alunan ketipun.


"Kau terindah kan selalu terindah.. aku bisa apa tuk memilikimu." nyanyi Azka dan juga Bobo bersamaan sambil menghayati lagunya.


Perpaduan antara ketipung dan gitar Azka bisa membuat siapa saja yang mendengarnya ikutan berjoget, sama yang sedang mereka lalukan saat ini. Kecuali Azka dia tetap stay cool.


"Kau terindah kan selalu terindah... harus bagaimana ku mengungkapkannya kau pemilik hatiku." lanjut Azka menyanyi.


Drrttt


Tiba - tiba saja ponsel Azkia berbunyi, ternyata ada panggilan dari seseorang. Azkia yang melihat itu langsung saja menjauh dari teman - temannya, karena terlalu berisik jika menjawab telepon tetsebut di sebelah mereka.


Azka mengetahui jika ponsel Azkia ada panggilan telepone, namun yang Azka heran kenapa harus menjauh.


"Cih, segitu pentingnya sampe gue gak boleh denger ya?" batin Azka sambil melirik kepergian Azkia.


Kemudian mereka melanjutkan keseruan mereka, Devan juga ikut menyumbangkan suara emasnya. Begitu juga dengan Attaya namun saat Attaya uang bernyanyi semuanya menertawakannya karena liriknya salah semua dan juga nadanya tidak pas.


"Aku suka dia mak, aku cinta dia mak... aku mau dia mak... Dianya gak peka mak!" nyanyi Attaya.


"Stop stop! Gue pengen ngakak denger lo nyanyi hahaa." ucap Devira sambil memegang perutnya karena sakit menertawakan Attaya.


"Bener pipi gue sampe sakit ini." sambung Nayla sambil memegangi pipinya yang mulai kram karena terlalu banyak tertawa.


"Lo nyanyi apa ungakapan hati sih, Ta?" tanya Ciko yang heran dengan kelakuan Attaya yang absurd itu.


"Dua - duanya, puas lo." ucap Attaya.


Mereka hanya menertawakan Attaya, "Makanya langsung tembak jangan nunggu dia peka." saran Devan.


"Kenapa emang?" tanya Attaya polos.


"Susah, susah buat cewek peka kalo kita suka dia." ucap Devan sambil melirik ke arah Devira.


"Ohh gitu." ucap Attaya mengangguk.


"Mending kaya gue, Ta." ucap Bobo dengan bangganya.

__ADS_1


"Kek lo?" tanta Attaya heran.


"Iya kaya dia jomblo abadi." saut Ciko dengan tepat sasaran.


"Hahaha..." tawa mereka.


"Kayak lo gak jomblo aja, sesama jomblo jangan saling mengejek." kata Bobo.


"Gue single ya, bukan jomblo!" bantah Ciko.


"Sama aja woy!" ucap Attaya.


Azka tidak fokus kepada mereka karena pikirannya teralihkan oleh Azkia yang belum kembali sedari tadi.


"Udah malam kaluan tidur gih." ucap Azka yang matanya tidak fokus melihat siapa.


"Eh iya udah malam tidur lah." ajak Devira kepasa Nayla.


"Kia mana belum balik?" tanya Nayla, mereka hanya menggelengkan kepala.


"Kalian tidur dulu, gue susulin Kia." ucap Azka sambil berdiri.


"Baiklah." ucap Attaya.


"Yaudah sana kalian tidur gue jaga di sini dulu." ucap Devan.


"Siaplah, nanti bangunin aja." kata Bobo masuk kedalam tendanya dengan Ciko.


Sedangkan Attaya masuk kedalam tenda sendirian. Devan duduk di depan api unggun yang masih menyala walaupun hanya kecil, sedangkan Azka sudah menyusul Azkia di pnggiran pantai.


.........


Dipinggir Pantai.


Azkia masih menerima telepone itu dengan suara yang terlihat bahagia, Azka tidak bisa mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan karena deburan ombak yang lumayam kencang.


"Okay, sampai ketemu ya! Jangan lupa oleh - olehnya yang banyak, awas kalo lupa.!" ucap Azkia dengan bahagia terlihat jelas dari cara dia berbicara. Seolah saja dia sedang merindukan orang yang sedang berbicara dengannya lewat telepon itu.


"....."


"Siap Bos! Miss you too." kata Azkia sambil mematikan ponselnya, kemudian dia berbalik ternyata sudah ada Azka yang berada di belakangnya dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya. Mata yang terus memandang kearah Azkia dengan penuh tanda tanya besar.


"Udah?" tanya Azka.


"Iya udah, ayo balik... yang lainnya kemana kok sepi?" tanya Azkia sambil berjalan melewati Azka yang masih diam di tempatnya.


"Tidur." jawab Azka sambil mengikuti langkah Azkia, kemudian Azka bertanya karena penasaran yang sudah tidak bisa di hilangkan.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Azka.


"Hah?" ucap Azkia dan berbalik menghadap Azka, karena suaranya tidak terlalu jelas.


"Telepon siapa?" ulang Azka lagi.


"Saudara, buruan tidur juga udah malam." ucap Azkia sambil memberikan jaketnya kepada Azka.


"Makasih ya." ucap Azkia.


"Hmm." balas Azka sambil menyusul Devan di dekat ali unggun, sedangkan Azkia sudah berada di dalam tenda bersama Devira dan juga Nayla.


"Saudara sampe kangen - kangen gitu, sama gue aja enggak kek gitu." gumam Azka sambil memetikkan senar gitarnya.


"Apaan, Ka?" tanya Devan yang tadi fokus kepada ponselnya.


"Bukan apa - apa." saut Azka.


"Hm.. tidur gih gue yang jaga ntar gantian." saran Devan sambil bersandar pada sebuah kayu.


"Duluan aja." ucap Azka, peahan dia memainkan ritme lagu yang membuat siapa saja yang mendengarnya terlelap dalam tidur. Sama seperti Devan saat ini dia sudah tertidur di depan tenda bersama Azka yang masih terjaga.


"Orang yang telepone tadi sama seperti yang sebelumnya atao beda orang?" pikir Azka, Azka belum bisa menghilangkan rasa penasarannya karena menurut Azka banyak hal yang belum dia ketahui tentang Azkia. Termasuk siapa masa lalunya yang masih belum sepenuhnya Azkia lupakan.


"Besok harus minta penjelasannya, iya harus." ucap Azka, dia meletakkan gitarnya dan menaruhnya di dekatnya. Kemudian dia membaringkan badannya di atas matras bersebelahan dengan Devan.


Azka menggunakan kaki Devan sebagai bantalan, karena Devan sudah tertidur jadi dia tidak akan mempermasalahkan itu. Setelah beberapa saat mata Azka sudah terpejam, lelah capek dan mengantuk menjadi satu.


Attaya yang berada di dalam tenda sendirian merasa terganggu karena menyadari jika temannya tidak berada di sebelahnya.


"Azka sama Devan kemana?" tanya Attaya pada dirinya sendiri.


Kemudian Attaya bangun dan mengcek di luar tenda, ternyata benar disana ada Azka dan juga Devan. Tiba - tiba saja Attaya tertawa, namun dia bungkam agar tidak mengganggu yang lainnya.


"Cih, ini kalo cewek - cewek di sekolah tahu kelakuan dua idola mereka pasti pada kabur pindah ke gue haha." ucap Attaya dengan pede nya.


"Jangan sia - siakan, setia momet harus diabadikan." kata Attaya sambil mengambil ponselmya di dalam tenda.


Klik


Bunyi dari ponsel Attaya saat menfoto Devan dan Azka, mereka berdua terlihat seperti dua pasangan kekasih jika orang - orang melihat posisi sekarang ini.


Devan tidur dengan badannya menyandar ke sebuah kayu yang lumayan kuat untuk menyangga tubuhnya, sedangkan Azka dia tidur di pangkuan Devan dan juga entah sadar atau tidak tangan Devan berada di atas tangannya Azka membuat semakin romantis saja.


"Jadi inget waktu ngcam acara sekolah, mereka berdua seperti itu sampai membuat heboh kaka kelas hahaa." ucap Attaya sambil mengingat kejadian sebelum memberi kejutan kepada Bobo waktu itu.


Setelah puas memandang mereka, Attaya melanjutkan tidurnya lagi. Udara memang semakin dingin membuat mereka susah tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


......................


__ADS_2