Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Aku Suka Rasa Ini


__ADS_3

Sudah beberapa kali terdengae helaan nafas dari Attaya yang duduk tidak jauh dari Devan, membuat Devan yang sedang mengerjakan pekerjaannya menjadi terganggu.


"Kenapa?" tanya Devan tanpa megalihkan wajahnya dari layar komputer.


"Kangen," lirih Attaya.


"Siapa?"


"Nayla, gue udah lama gak ketemu dia semenjak jadi asisten. Pergi pagi pulang malam gitu terus tiap hari sampai gak ada waktu, giliran ada waktu dia sibuk." curhat Attaya.


"Kasian sekali kau nak!" canda Devan sambil terkekeh.


"Si..al..an!" kesal Attaya sambil memukul lengan Devan.


"Sakit ogeb! Izin sana sama Azka siapa tau diizinin kan?" saran Devan.


"Lo gak tau aja si Azka gimana,"


"Gimana?" tanya Devan.


"Dia lebih serem kalau dikantor, tatapan matanya seolah menghipnotis gue. Apapun yang dia perintahkan gak bisa gue tolak!" kata Attaya.


"Mana ada kaya gitu, lo aja yang penakut!" ejek Devan.


"Entahlah, gue cuma pengen ketemu Nayla. Ya kali bosnya ngbucin sama istrinya sedangkan gue jadi obat nyamuk. Sesekali dia dia jadi obat nyamuknya gitu, bair rasain gimana liat orang bucin." curhat Attaya tanpa jeda.


"Sutt! Itu belakang lo," kata Devan namun hanya gerakan bibir tanpa bersuara, membuat Attaya gagal paham.


Sejak tadi Devan sudah memberikan kode tetap saja Attaya tidak menyadarinya hingga Devan memutar kepala Attaya kebelakang.


"Eh ada Azka, udah lama disini?" tanya Attaya sambil menunjukkan senyum terpaksanya, sesekali Attaya melirik kebelakang dimana Devan berada. Lirikkan Attaya seolah terdiri dari beratus silet yang sangat tajam, membuat Devan sedikit takut tapi itu bukan salahnya karena sejak tadi sudah diberitahu jika Azka dibelakangnya.


"Bukan salah gue," kata Devan sambil menaikan bahunya keatas.


Attaya berbalik menatap Azka yang masoh diam menatapnya.


"Da-dari mana, Ka? Tumben gak nyuruh gur?" tanya Attaya sambil memaksa tersenyum.


"Pulang sana!" kata Azka ia melangkah dan memberikan camilan untuk Devan.


"Si-siapa yang pulang?" tanya Attaya memastikan.


"Lo!" singkat Azka.


"Kenapa, soal tadi gue minta maaf... gue gak sengaja bilang kaya gitu," kata Attaya yang sudah berdiri dari duduknya.


"Gue tau," singkat Azka.


"Jadi gue gak harus pulang, kan?" tanya Attaya memastikan.


"Pulang." singkat Azka.


"Kan gue gak sengaja jadi kenapa gue harus pulang padahal jam kerja belum habis, lo ma—"


"Mau ketemu Nayla, gak?" tanya Azka sambil menaikkan sebelah alisnya.


Attaya mengangguk cepat, "Mau!"


"Yaudah pulang sana!" perintah Azka.

__ADS_1


"Lo suruh gue pulang biar bisa ketemu sama Nayla? Bukan karena marah gue ngomongin lo?" tanya Attaya tidak percaya.


"Iya!"


Attaya langsung berhambur memeluk Azka dengan sangat erat membuat Azka kaget, terlebih lagi hal itu bersamaan dengan Azkia yang membuka pintu ruangan Azka langsung disuguhi pemandangan itu.


Azkia hanya diam membulatkan matanya sambil menutup sebelah mulutnya karena terkejut.


"Makasih, makasih banyak Ka! Gue kira lo marah sama gue dan ngusir gue." rengek Attaya dalam pelukan Azka.


"Minggir! Gak usah peluk-peluk!" kesal Azka, ia sangat berusaha menjauhkan Attaya.


Devan yang melihat itu hanya tertawa terbahak-bahak, Attaya memeluk Azka dengan penuh perasaan sedangkan Azka terlihat jijik dengan Attaya.


"Peluk terus sampai besok!" ledek Devan.


"Kalian ngapain?" kini Azkia buka suara.


Azka yang fokus menyingkirkan tubuh Attaya baru menyadari jika Azka sudah ada didekatnya, begitu juga dengan Attaya.


"Gak ngapa-ngapain," kata Azka.


"Pelukan!" saut Attaya yang menbuat Azka menatapnya tajam.


"Oh oke, lanjutin aja aku gak mau ganggu kok," ucap Azkia sambil mengambil bungkusan kresek dari tangan Azka.


"Nyuun!" rengek Azka seolah meminta bantuan Azkia.


"Lanjutin aja aku gak marah kok, aku mau makan ice cream dulu," kata Azkia sambil menepuk bahu Azka seolah sedang menyemangati.


Brak!


Azka, Attaya dan Devan saling menatap dalam diam, setelah beberapa menit Azka melihat cela sehingga dia menghempaskan tubuh Attaya dari hadapannya.


"Lo pulang sekarang atau lembur!" gertak Azka.


Dengan cepat Attaya langsung bergerak mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya yang tergeletak diatas nakas. Namun saat akan melangkah menuju lift ia dihentikan oleh Azka.


"Mau kemana?"


"Katanya suruh pulang?" jawab Attaya.


Azka mengatungkan tangannya seolah meminta sesuatu pada Attaya.


"Apa?" tanya Attaya polos.


"Kunci mobil gue," singkat Azka.


"Lah gue pulangnya gimana?"


"Terserah lo!" kata Azka.


Dengan berat hati Attaya melemparkan kunci mobil Azka yang tadi memang ia letakkan di meja dekat dengan tempat duduk Attaya.


Hap!


Azka berhasil menangkan kunci mobil itu, Attaya hanya menggerutu saja tapi ia senang bisa pulang cepat dan bertemu Nayla.


"Lah gue gimana, Ka. Masa sendirian disini?" tanya Devan.

__ADS_1


"Lo mau ketemu Devira? Atau lo mau disini saja lihat gue bucin sama istri gue?" tanya Azka.


"Gue permisi," kata Devan karena dia paham maksud perkataan Azka.


"Dan makasih, setiap hari aja kaya gini!" ucap Devan yang sudah lari sampai depan lift.


"Cih! Jadwal hari ini emang sudah kosong, makanya gue izinin kalian." dengus Azka.


Azka masuk kedalam ruangan menemui Azkia yang sudah hampir menghabiskan satu box ice cream strobery. Dan juga beberapa makanan ringan yang sudah Azkia buka berceceran di sofa.


"Hmmm," Azka duduk disebelah Azkia.


"Mau?" tanya Azkia sambil menyodorkan sendok ice cream didepan wajah Azka.


"Gak suka strobery." kata Azka sambil mengamati sang istri yang lahab memakan camilan.


Azkia tidak sadar jika ia makan sepeti anak kecil yang berceceran kemana-mana, karena terlalu asyik menikmati ice creamnya.


"Kebiasaan banget, sih," kata Azka mengambil tissu yang ada diatas nakas, lalu tissu itu digunakan untuk membersihkan tangan Azkia yang terkena bumbu dari makanan ringan. Sedangkan Azkia hanya patuh saja dengan perlakukan Azka.


Azka tersenyum sambil menggeleng ketika melihat bibir Azkia masih ada sisa ice cream yang belum masuk sepenuhnya kedalam mulut.


Tangan Azka memegang kedua sisih pipi Azkia, tanpa basa-basi ia mendekatkan wajahnya.


Cup!


Satu sentuhan yang membuat Azkia kaget, hingga bola matanya membulat sempurna menatap wajah didepannya, begitu dekat dengannya hingga Azkia mampu mencium aroma mint khas milik Azka.


Azkia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Azka, ia juga mengizinkan Azka mengabsen setia rongga yang ada dimulutnya hingga ia kehabisan nafas lalu mendorong tubuh Azka menjauh.


"Lembut dan dingin seperi ice cream," batin Azkia sambil memegang bibirnya.


"Hah! Ada sisa ice cream tadi," kata Azka setelah ia bisa mengatur nafasnya.


"Kan ice cream strobery katanya gak suka?" tanya Azkia.


"Kalau dari sini suka kok," kata Azka sambil memegang bibir Azkia membuatnya salah tingkah.


"Dan aku rasa cukup enak rasanya, mau lagi!" kata Azka sambil berbisik ditelinga Azkia.


Percayalah wajah Azkia benar-benar merah saat ini dengan perlakukan Azka yang suka menggodanya.


"Gak boleh, kalau mau itu masih." Azkia menujuk box ice cream yang memang isinya masih ada.


Azka menggeleng, "Mau ku ini!"


Setelah mengatakan itu Azka langsung melahab dengan rakus ice cream yang Azka maksud tadi, walaupun Azkia berontak ia tidak menyudahinya.


Cup!


"Aku suka rasa ini!" bisik Azka sambil mengatur nafasnya.


Wajah Azkia sudah sangat merah sepeti tomat rebus begitu juga dengan telinganya. Azkia menutup mulut Azka menggunakan telapak tangannya, ia tidak ingin mendengar apapun lagi karena yang keluar dari mulut Azka sangat mematikan, khususnya untuk jantung Azkia.


...----------------...


..."Apapun itu jika bersangkutan denganmu, aku pasti suka!" ~Azka A~...


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa klik Vote disebelah hadiah yang berdekatan dengan like :)


__ADS_2