
Setelah beberapa hari Azka dirawat di rumah sakit akhirnya hari ini sudah diperbolehkan pulang. Sahabat - sahabatnya setiap hari selalu bergantian menjaga Azka, begitu juga dengan orang tuanya. Jika siang mereka sibuk mengurusi pekerjaannya, kalo malam baru bisa menjaga Azka.
Hari ini Azkia tidak bisa ikut menjemput Azka dari rumah sakit karena harus keluar kota menghadiri acara pernikahan saudaranya. Jadi hanya ada orang tua Azka dan kedua sahabatnya, mereka bertiga bagaikan amplop dan prangko tidak bisa terpisahkan. Dimana ada Azka pasti disitu ada Attaya dan Devan.
"Udah semua?" tanya papa Yudha.
"Udah pah." jawab mama Kayla.
"Gak ada yabg tertinggalkan?" tanyanya lagi.
Mereka semua menggelengkan kepalanya namun tidak dengan Attaya, "Ada om." jawab Attaya.
Mereka semua bingung dengan ucapan Attaya, apa yang tertinggal jika semuanya sudah tertata rapi tinggal membawanya ke mobil.
"Perasaann saya om yang tertinggal wkwk." canda Attaya membuat mereka semua tertawa.
"Ada - ada aja kamu, Ta." kata mama Kayla sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum manis yang menghiasi bibir tipisnya itu.
"Astaga ini bocah!" ucap Devan sambil menepuk jidatnya.
"Kamu jomblo ya Ta? Apa perluh Om cariin pacar biar perasaannya tidak tertinggal lagi." canda papa Yudha, walaupun terlihat tegas dan berwibawa namun terkadang juga terlihat kocak seperti Azka.
"Cariin aja om, dia jomblo ngenes." ledek Devan sambil tertawa.
"Dia mah cemen pah, gak berani ungkapin perasaannya." ledek Azka, kemudian dia mendapatkan tatapan tajam dari Attaya.
"Nanti keburu hilang lo, Ta." imbuh mama Kayla.
"Apa perlu om ajarin caranya mendapatkan perempuan yang disuka, gini - gini dulu om punya banyak penggemar loh." kata papanya Azka sambil menepuk bahu Attaya.
"Eng-enggak perluh om, Atta bisa atasi sendiri kok hehe." ucap Attaya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nanti keduluan orang lain... Nangis!" ledek Azka membuat semuanya terkekeh.
"Enak aja, gue gak nangis ya nye—" ucapan Attaya terpotong saat ada seorang cewek cantik berambut panjang masuk kedalam ruangan Azka.
"Kaka..!" teriaknya sambil berlari kearah Azka yang sedang duduk disofa bersebelahan dengan mamanya.
Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung tertuju pada suara itu.
Perempuan itu memeluk Azka dengan erat, hingga membuat Azka kesakitan.
"Awhh, bisa - bisa gue dirawat lagi kalo kayak gini." keluh Azka sambil berusaha melepaskan pelukannya.
"Eh maaf, habisnya kangen banget sih sama muka tembok ini." ucapnya sambil melepaskan pelukannya.
"Gini - gini banyak yang suka loh wlee." ucap Azka sambil menjulurkan lidahnya mengejek perempuan itu.
Karena gemas perempuan itu mengacak - acak rambut Azka hingga membuat siempunya rambut kesal.
"Ish kebiasaan." keluhnya.
"Uhuukk." suara dari Yudha membuat perempuan itu tersadar jika bukan hanya Azka saja yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
"Eh om tante apa kabar hehe maap gak kelihatan tadi." ucapnya sambil menyalami orang tua Azka.
"Kamu dari dulu gak pernah berubah ya Aina." ucap Kayla sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan orang yang diajak bicara hanya terkekeh saja.
"Kapan balik dari Amerika?" tanya Yudha.
"Udah beberapa hari yang lalu Om, tapi Aina masih sibuk jadi baru bisa jenguk Kaka." ucapnya sambil tersenyum manis.
"Oalah pantes, kamu nginep di apartemen ya?" tanya Yudha lagi.
"Iya om." jawabnya.
"Jenguk apaan, udah mau pulang juga." ucao Azka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Uluh - uluh Kaka ngambek ya." candanya yang membuat semua tertawa.
Attata dan Devan saling pandang seoalah mereka sedang berbicara lewat tatapan mata.
"Siapa?" tanya Attaya.
"Gak tau, kayaknya pernah liat tapi lupa." jawab Devan, begitulah arti tatapan mereka berdua. Karena sebenarnya mereka kenal dengan perempuan yang di panggil Aina itu namun mereka berdua lupa karena sudah lama tidak bertemu.
Mereka semua berjalan menuju parkiran rumah sakt, orang tua Azka pergi terlebih dahulu karena Azka naik mobil bersama Devan.
Saat di lorong rumah sakit tidak sengaja Rayhan melihat Azka yang sedang bersama seorang perempuan, mereka terlihat sangat dekat. Pasrempuan itu membantu Azka berjalan dengan menggandengan lengan Azka, Azka memang sudah sembuh namun masih ada beberapa tempat ditubuhnya yang masih terasa sakit apalagi bahunya yang masih terbalut perban.
"Itukan Azka, kenapa dia disini?" gumam Rayhan memandang lurus kedepan dimana Azka berada.
"Cewek itu siapa, sepertinya bukan Azkia kan... tapi kaya pernah liat itu cewek tapi dimana?" gumam Rayhan.
"Gak mah, cuma kaya liat temen Han aja tadi." jawab Rayhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah ayo pulang, mama udah selesai jenguk temen mama." ajak mama Rayhan sambil berjalan terlebih dahulu didepan Rayhan.
"Kenapa Azka sama cewek lain, terus Azkia gimana?" batin Rayhan, pasalnya Rayhan tidak melihat Attaya atau pun Devan karena mereka berdua berjalan terlalu cepat dari pada Azka.
"Rayhan, kok bengong ayo pulang." perintah mama Rayan.
"Iya mah!" ucap Rayhan sambil sedikit berlari menyusul mamanya.
.............
Setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka sudah sampai di rumah Azka, mamanya yang sudah pulang terlebih dahulu sudah menyiapkan berbagai makanan kesukaan Azka dan sahabatnya.
"Assalamualaikum." ucap mereka berempat.
"Waalaikumsalam, ayo masuk mamah udah masakin makanan kesukaan kalian." ajak mama Kayla sambil menuntun Azka masuk.
Mereka mengikuti mama Kayla menuju ruang makan, tercium wangi masakan yang menggugah selera mereka.
"Wahh banyak banget tan masakannya." kata Attaya yang langsung duduk dikursi.
"Tumben." ucap Azka saat sudah duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Kok tumben sih?" tanya Aina yang duduk disebelah Azka sedangkan Devan dan Attaya di depan mereka.
"Cih, mana pernah inget sama anaknya udah makan belum... yang mereka inget cuma kerja dan kerja aja." sindri Azka.
Deg.
Hati mama Kayla seperti tersayat saat mendengar petkataan putranya itu, memang jarang sekali mama Kayla masak untuk Azka. Bahkan Azka sendiri sudah lupa bagaimana rasa masakan mamanya itu.
"Ka, gak boleh gitu dong sama mamanya sendiri." ucap Aina.
"Azka suutt." kata Devan sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah - udah tante gak papa kok, emang yang di bilang Kaka itu bener... maafin mama ya, sekarang kamu makan yang banyak ini semua mama yang masak." ucap mama Kayla sambil tersenyum pedih, tangannya sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk Azka.
"Hm." seru Azka malas menanggapi mereka semua.
"Ayo, yang lainnya juga makan ya jangan malu - malu." seru mama Kayla sambil meniup nasi yang sudah berada disendok, dia berniat untuk menyuapi Azka.
"Iya tan, gak akan malu kok hehe." ucap Attaya.
"Lo mah soal makanan cepet, giliran sama hantu boongan aja takut huu." sindir Devan.
"Makan itu penting, Van... kalo laper nanti jadi lemes gak ada tenaga wkwk." kata Attaya sambil menyuapkan nasinya kedalam mulut.
"Gak ada tenaga buat nangis ya!" ledek Devan.
"Hahahaa."
"Masa ganteng - ganteng gini cengeng sih?" ucap Aina sambil terkekeh.
"Dia itu hati hello kitty." Azka ikut menimpali candaan mereka.
"Sialan lo, untung sakit coba kalo gak... udah habis lo, nyet!" kesal Attaya sambil melemparkan kerupuk kearah Azka.
"Wlee..." ledek Azka sambil menjulurkan lidahnya, tangannya menarik sebelah kelopak matanya.😜
"Udah - udah ayo habisin dulu makannya." ucap mama Kayla yang gemas dengan tingkah putranya dan teman - temannya itu.
"Ayoo aaa Azka!" ucap mama Kayla sambil menyodorkan satu sendok makan yang sudah terisi nasi dan lauk.
"Apan sih mah, Kaka makan sendiri aja... udah gede ini." ucap Azka sambil menolak suapan sang mama.
"Udah gak papa, ayo aaaa." ucap mamanya lagi yang belum menyerah untuk menyuapi Azka.
"Azka ma—" saat Azka akan menolak lagi tiba - tiba suapan itu sudah masuk kedalam mulutnya dengan terpaksa Azka mengunyah suapan dari sang mama.
"Oh iya Om Yudha kok gak kelihatan tan?" tanya Devan di sela - sela makannya.
"Ohh tadi pergi ke kantor katanya ada yang harus di cek gitu." ucap mama Kayla sambil menyuapi Azka, Azka pun hanya pasrah saja disuapi sang mama. Sebenarnya dia juga menikmati perlakuan mamanya itu.
"Ohhh.." mereka mengaguk mengerti.
..............
__ADS_1
"Yang perluh kamu ingat hanya, aku akan selalu ada saat kamu butuh seseorang untuk sekedar mendengar keluh kesahmu!
...— E H —...