Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Bodo Amat


__ADS_3

...Aku takut kau berpaling dariku, disaat aku tak selalu berada disisihmu....


...Azkia (E H)...


..._____________________________...


Azka tidak ikut upacara bendera ia memilih ke rooftop, pikirannya semakin semrawut. Ditambah lagi dengan seseorang yang ia tabrak tadi.


"Sial! Kenapa dia disini sih, ribet!" kesal Azka.


Azka menendang apapun yang ada di hadapannya sekarang ini, entah itu kaleng bekas ataupun kursi. Setelah itu Azka terduduk di lantai bersandar pada dinding yang sedikit berdebu.


Drrtt drtt


Ponselnya terus bergetar menandakan ada panggilan masuk, dengan malas Azka menggeser warna hijau yang terlihat pada layar ponselnya.


"Halo?"


"Cepat balik ke kelas, gak mau tau!" ucapnya setelah itu menutup panggilannya tanpa persetujuan Azka.


Azka mematap layar ponselnya sebentar lalu masukkannya kedalam kantong cenalanya.


Sebenarnya Azka malas untuk masuk kelas namun bagaimana lagi, pacarnya menyuruhnya masuk kelas. Mau tidak mau akhirnya Azka menurutinya.


_____


Azka langsung duduk disamping Azkia, sedangkan Azkia memasang wajah masamnya saat melihat Azka.


"Kenapa ini anak?" batin Azka.


"Siapa tadi itu?" tanya Azkia.


"Siapa?" tanya balik Azka.


"Ka, lo tau gak ada murid baru... dan dia—" ucapan Attaya terpotong saat suara pak Ipul sudah terdengar.


"Selamat pagi anak-anak," sapanya.


"Pagi pak,"


"Kalian kedatangan teman baru, ayo sini masuk perkenalkan namamu." perintah pak Ipul.


Siswi itu masuk kedalam kelas, membuat semua orang terpaku akan kecantikannya. Siapa yang tidak mengagaumi gadis cantik berkulit putih itu, terlihat lebih feminin dan lembut.


"Pagii, perkenalkan nama saya Sinta Permata Putri... kalian bisa panggil saya Sinta," ucapnya sambil tersenyum manis.


"Haii Sinta," sapa mereka kompak.


"Cecan lagi dong," saut Dio.


"Bidadari ngab!" teriak Bobo bahagia.


"Jatuh dari langit dihadapanku," nyanyi Dio.


"Eaaa," seru mereka kecuali Azka dan kawan-kawan.


"Itu yang mau gue bilang, Ka," kata Attaya.


"Hmm," saut Azka malas.


"Kok dia bisa sekolah disini?" tanya Devan sambil membalik badan menatap Azka.


"Jangan-jangan ngikutin lo lagi, Ka," tebak Devan.


"Belum bisa move on," tambah Attaya.


"Itu bukannya cewek yang tabrakan sama kamu tadi kan?" tanya Azkia penasaran.


"Iya," kata Azka sambil mengangguk.


"Siapa?" tanya Azkia.


"Gak penting," jawab Azka malas.


Azka lebih memilih merebahkan kepalanya diatas meja, salah satu lengannya ia buat menjadi bantalan.


"Yang bener?" tanya Azkia memastikan, lagi-lagi Azka hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Sinta berjalan menuju bangku yang kosong tepatnya di sebelah kiri Nayla, namum ia lebih memilih berjalan memutar melewati bangku Azka padahal Sinta bisa langsung berjalan kearah kiri Nayla.


"Carmuk tuh sama kamu, Ka!" seru Azkia yang terlihat kesal.


"Bodo amat," saut Azka malas.


"Awas kalo macem-macem," ancam Azkia.


"Iya sayangku," saut Azka sambil menyunggingkan senyuman.


"Apa sih," ucap Azka malu-malu.


Sedangkan Sinta ia terus menatap ke arah Azka dan Azkia duduk, walaupun terhalang oleh Nayla dan Devira.


Kemudian pak Ipul melanjutkan pelajarannya, sedangkan Azka melanjutkan tidurnya. Untung saja ia duduk di bagian belakang sehingga tidak terlihat jika sedang tertidur.


Jam pelajaran pun berganti istirahat, Azkia dengan sengaja membatin buku diatas meja membuat Azka kaget dan terbangun.


"Upps maap," ucap Azkia.


"Hmm,"


"Tau gak anak baru itu dari tadi ngeliatin kamu terus," Azkia mengadukan kepada Azka apa yang ia lihat.


"Biarin aja," saut Azka malas.


"Kantin kuy," ajak Devan.


"Lo yang bayarin ya," seru Devira yang bangkit dari tempat duduknya.


"Oke tapi ada sayartnya." kata Devan sambil menaikkan alisnya.


"Yee bilang aja gak mau bayarin pake syarat segala, klao gak iklas mah gak usah!" ucap Devira dengan sewot.


"Lo pms ya, mirip singa," bisik Devan di telinga Devira membuat wajahnya merah padam. Antara malu dan marah menjadi satu.


"DEVAN! PUNYA MULUT LEMES BANGET KEK CEWEK!" teriak Devira agar Devan mendengarnya.


Sedangkan yang lainnya mereka menutup telinganya mendengar teriakan Devira.


"Heh toak masjid, bikin telinga gue sakir aja!" kesal Dio.


"Dah yuk beb kita ke kantin aku lapar," ajak Attaya sambil menggandeng tangan Nayla.


Azka pun melakukan hal yang sama dengan Attaya membuat Devira semakin kesal.


"Nasib gue gini amat, tangan sampai lumutan gak ada yang gandeng," ucap Devira sambil melihat telapak tangannya.


Tiba-tiba ada tangan yang menjulur di dekat wajah Devira membuatnya melihat siapa pemilik tangan itu.


Melihat tatapan Devira, membuat Bobo buka suara.


"Dari pada gak ada yang gandeng, sini gue gandeng kasian udah lumutan berjamur tuh," ledek Bobo sambil tertawa.


"Najis!" Devira menampik uluran tangan Bobo hingga menimpulkan suara.


Plak!


"Wah sialan lo," kesal Bobo sambil mengusap punggung tangannya.


................


Azka dan yang lainnya sudah duduk di meja kantin sebari menunggu makan mereka datang. Tak jauh dari sana ada Siska yang mencoba mendekat ke meja Azka. Dengan Santainya ia duduk disebelah Azka bersama Mikael, sedangkan kedua dayangnya entah kemana.


Hal itu membuat mereka semua menoleh kearah Sisma, dengan tatapan tidak suka.


"Gabung ya, mejanya penuh semua," ucap Siska.


Mau tidak mau mereka membiarkannya karena memang meja kantin sangat penuh saat jam istirahat seperti ini.


Pesanan mie ayam mereka sudah tiba, bersamaan dengan munculnya Sinta.


"Halo boleh gabung kan? Mejanya udah gak ada yang kosong," ucapnya ramah.


"Iya," saut Nayla.


Sedangkan Attaya dan Devan saling tatap seolah sedang berbicara lewat tatapan mata mereka, Azkq hanya diam saja sejak tadi seolah tak menganggap mereka semua.

__ADS_1


"Bakalan seru nih," gumam Attaya sambil menendang kaki Devan yang berada di depannya.


Posisi duduk mereka saat ini adalah Attaya Nayla Azkia Azka Siska dan di depan mereka ada Devan Devira Bobo Sinta dan Mikael. Untung saja meja yang mereka gunakan adalah meja yang cukup untuk mereka semua karena ukurannya yang lumayan panjang.


Mereka semua makan dengan lahabnya, saat Azka akan mengambil saos namun tangannya kalah cepat dengan Siska. Ya Siska lah yang mengambilkan saos itu untuk Azka.


"Ini sayang," ucap Siska sambil memberikan saosnya kepada Azka.


Azka mengambil saos itu tanpa sepatah katapun, lalu memberikannya kepada Azkia.


"Makasih," saut Azkia yang duduk disebelah Azka membuat Siska berdecak kesal.


"Cih," kesal Siska sambil mengaduk-aduk baksonya.


"Buruan dimakan!" perintah Mikael sambil menatap lekat Siska sedangkan Siska lagi-lagi hanya mendengus kesal.


Suara lembut itu memecah kecanggungan diantara mereka semua.


"Apa kabar, Ka?" tanya Sinta yang duduk di depan Azka.


"Lo kenal Azka?" tanya Bobo tidak percaya.


"Iya kenal kok," jawab Sinta lembut membuat Bobo salah tingkah.


"Most wanted mah emang beda ya, gue mah apa cuma remahan krupuk yang tidak terlihat," kata Bobo yang langsung mendapatkan jitakan dari Devan.


"Kalo ngomong suka bener," saut Devan dan Devira bersmaaan.


"Cieee sehati, sampai ngomong gitu aja barengan," ledek Attaya.


"Jadian aja," lanjut Nayla.


"Setuju!" seru mereka keculi Azka Siska Mikael.


Sinta hanya tersenyum melihat keseruan mereka meledek Devan, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Azka.


"Gue pergi dulu," bisik Azka kepada Azkia.


"Okee, jangan nakal," kata Azkia sambil tersenyum manis.


"Siap ibu negara!" tangan Azka terulur menepuk pucuk kepala Azkia.


"Uhuukk, duh kesek gue liat yang beginian," ucap Bobo sambil berpura-pura batuk.


"Jomblo ngenes amat ngab!" saut Devira yang berada di sebelah Bobo.


"Kek situ gak aja," kata Bobo.


"Mau kemana, Ka? tanya Siska namun tidak digubris oleh Azka dia terus melangkah menjauhi mereka.


"Mau kemana?" tanya Mikael yang melihat Siska bangkit dari duduknya.


"Mau—"


"Habisin dulu makanannya!" perintah Mikael membuat Siska kesal.


"Singanya udah jinak, El?" tanya Devan.


"Lagi berusaha jinakin," saut Mikael yang membuat mereka semua tertawa.


Mereka paham arah pembicaraan Devan, Sinta hanya ikut tertawa tanpa mengerti apa yang di tertawakan.


"Gue duluan ya, mau keruang guru," ucap Sinta.


"Gue anterin ya, kan lo murid baru kali aja belum tau ruang guru dimana," tawar Bobo.


"Modus!" celetuk mereka semua sambil menatap Bobo yang tertawa canggung.


"Usaha dikit aja, aelah," gerutu Bobo.


"Gak usah makasih, duluan ya," ucap Sinta sambil memamerkan senyumannya.


"Ada yang panas tapi bukan api," ucap Attaya.


"Terus apa beb?" tanya Nayla.


"Hatinya," ucap Attaya dan Devan bersamaan sambil tertawa.

__ADS_1


Mereka berdua sadar jika Azkia menahan kecemburuannya saat melihat Sinta yang seolah kenal dengan Azka, dan tadi ikut pergi setelah Azka pergi. Untuk Siska, Azkia tidak terlalu ambil pusing karena dia tahu jika Azka tidak menyukai Siska.


..........................................


__ADS_2