Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Janji Azkia


__ADS_3

Saat Azka pergi dari lapangan basket, Siska mengikutinya sambil membawa minuman dan juga handuk yang akan di berikan kepada Azka. Siska terus memanggil - manggil nama Azka, namun Azka tetap tidak menanggapinya. Karena saat ini Azka sedang menahan amarahnya, jika tidak entah apa yang sudah Azka perbuat kepada Rayhan.


"Ka, Azka ih tungguin." ucap Siska sedikit manja.


"Azkaa!" teriak Siska dengan berlari mengejar Azka yang terus berjalan, namun tiba - tiba saja Azka berhenti membuat Siska menabrak punggung Azka.


"Aduhh, kalo mau berhenti nyalain lampunya dulu kek... biar gue bisa ngerem kan." ucap Siska sambil mengelus jidatnya.


"Lo pikir gue mobil apa." kesal Azka


"Hehee maaap.... nih." ucap Siska sambil memberikan handuk dan juga minuman kepada Azka.


"Hmm." ucap Azka sambil melihat pemberian Siska tersebut.


"Buat lo, gue tau lo haus kan." ucap Siska penuh perhatian.


"Gak usah!" ucap Azka sambil berlalu meninggalkan Siska. Saat Siska akan mengikuti Azka, Azka berhenti dan berkata, "Jangan ikutin gue, atau lo gak usah muncul di depan gue lagi!" tanpa berbalik melihat Siska.


"Ta— " ucapan Siska belum selesai namun Azka sudah memotong ucapan Siska terlebih dahulu.


"Gue serius!" bentak Azka kepada Siska, kemudian Azka benar - benar pegi meninggalkan Siska sendirian.


"Ka, tolong ajarin gue caranya lupain lo... biar gue gak sesakit ini dengan semua penolakan lo." lirih Siska sambil berbalik menuju kelasnya. Namun Siska sangat terkejut saat dia membalikkan badannya, ada Mikael disana dengan kedua tangan yang berada di depan dada. Badan Mikael di sandarkan pada dinding dengan pandangan yang sulit di artikan oleh Siska.


"Sejak kapan lo di situ?" tanya Siska kepada Mikael.


"Sejak lo ngasih dia minum." singkat Mikael sambil menghampiri Siska. Siska melangkah mundur saat dia tahu Mikael mendekat ke arahnya, namun Mikael terus sajak mendekat hingga menyudutkan Siska di tembok.


Lalu Mikael berbisik pada telinga Siska, "Gue yang akan ajarin lo caranya melupakan dia." tangan Mikael mengambil air mineral dan juga handuk yang di bawa oleh Siska. Lalu pergi meninggalkan Siska sambil melambaikan tangannya.


"Dasar geje." gumam Siska lalu pergi kembali ke kelasnya lagi.


Sedangkan Azka sudah berada di taman belakang sekolah, dia tiduran di salah satu bangku di taman tersebut.


Azkia sibuk mencari Azka kesana - kemari, namun belum juga menemukan Azka membuat Azkia frustasi. "Hist, kemana sih? dasar tukang ngambek." keluh Azkia sambil terus berjalan mencari Azka.


Langkah kakinya akhirnya sampai di taman belakang, karena tempat ini lah yang belum Azkia datangi. Dari kantin kelas sampai ke atap sekolah pun sudah Azkia cari namun belum juga menemukan Azka. Azkia memutari taman itu, lumayan sepi karena semua siswa masih melihat pertandingan basket dan juga pertandingan yang lainnya.


"Azkaa, Ka! Azkaa yuhuu.." teriak Azkia terus memanggil nama Azka, dia berharap Azka ada disini karena dia sudah lelah berjalan mencari Azka sedari tadi.

__ADS_1


"Azkaa!" teriak Azkia lagi, kemudian dia melihat ada seseorang yang sedang tidur di bangku taman. Azkia yakin jika itu adalah Azka, perlahan Azkia menghampirinya. Saat sudah sampai di depan Azka, Azkia berjongkok dan menatap Azka untuk beberapa menit.


"Ka, Azka bangun." kata Azkia sambil menggoyangkan tubuh Azka agar terbangun dari tidurnya.


"Mmmm..." ucap Azka masih memejamkan matanya.


"Azka sayang bangun." ucap Azkia di telinganya yang membuat Azka tiba - tiba bangun dengan panggilan sayang dari Azkia.


Azka membuka matanya dan samar melihat sosok cantik yang sedang berada di depannya saat ini, setelah beberapa saat nyawa Azka sudah terkumpul dia baru menyadarin jika cewek tersebut adalah Azkia.


"Ngapain di sini?" tanya Azka judes.


"Kok gitu sih, masih ngambek ya?" tanya Azkia sambil duduk di sebelah Azka.


"Hm.."


"Jangan gitu lah." ucap Azkia sambil memegang tangan Azka, namun dengan cepat Azka menarik tangannya agar tidak di pegang oleh Azkia.


"Gitu gimana?" tanya Azka sambil berdiri dari duduknya.


"Jangan ngambek, nanti gantengnya ilang loh." canda Azkia berusaha melunakan hati Azka yang sedang marah.


"Tunggu! Jangan diemin gue kek gini, Ka... iya - iya gue salah." ucap Azkia sambil menahan tangan Azka supaya tidak meninggalnya, namun Azka hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Azkia, karena Azka ingun mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Gue salah, Ka... seharusnya gue cuma nyemangatin lo doang, gue harusnya gak nyemangatin kak Rayhan... maaf buat lo marah sama gue, Ka." jelas Azkia masih menggenggam tangan Azka dengan erat seolah dia tidak mau jika Azka meninggalkannya.


"Gue tau, lo kecewa sama gue, Ka... tapi jujur gak ada niatan sedikitpun buat lo marah atau niatan buat macem - macem, karna gue cuma nyemangatin doang gak lebih dari itu." kata Azkia yang sudah hampir menangis melihat Azka yang tidak meresponnya sama sekali.


"Lo tau kan di hati gue cuma ada lo doang, Ka... gak ada yang lain, jadi maaf.. maaaf sayang, janji gak akan gitu lagi." ucap Azkia sambil menangis tersedu - sedu membuat Azka tidak tega dengan hal itu.


Azka menghirup nafas panjang, seolah cara itu yang bisa menenangkannya saat ini. Mau bagaimana pun Azka tidak akan tega melihat seseorang yang dia sayangi menangis, dengan pelan Azka mengusap air mata Azkia yang membasahi pipi mulus itu.


"Janji gak akan ulangin lagi?" tanya Azka dengan lembut.


"Janji!" ucap Azkia sambil mengangguk patuh, "Maaf, aku aku gak ada maksut buat kamu marah."


"Iya, udah jagan nangis.... nanti tambah jelek loh." kata Azka sambil mencubit pipi Azkia gemas. Azkia langsung memeluk Azka dengan erat, entah kenapa semakin membuat tangis Azkia kecang dalam pelukan Azka. Kemudian Azka juga membalas pelukan itu, terasa nyaman pelukan Azka untuk Azkia.


Setelah tangisnya mulai reda, Azka mengajak Azkia ke kantin. Karena sedari tadi Azka belum minum sama sekali, tenggorokannya terasa sangat kering. Azka menggandeng tangan Azkia dengan lembut, mereka berdua beriringan menuju kantin.

__ADS_1


Sesampainya di kantin Azka menyuruh Azkia mencari tempat duduk, sedangkan dia mengambilkan ice cream coklat dan juga yogult blueberry untuk Azkia, sedangkan untuk dia sendiri hanya mengambil satu botol pocari swet.


Azka menempelkan ice cream di pipi Azkia membuatnya kaget karena dinginnya sampai menembus kulit pipinya. "Dingin." ucap Azkia sambil mengambil ice creamnya.


"Biar adem." ucap Azka sambil meminum minumannya.


"Iya, dingin kaya kamu.... tapi aku suka." gombal Azkia yang membuat Azka tesedak minumannya.


"Uhuuukk.."


"Hati - hati kalo minum, gak kan ada yang minta juga." ucap Azkia sambil menepuk - nepuk bahu Azka agar hilang rasa sakit akibat tersedak.


"Hmmm... udah pinter nggombal ya." kata Azka sambil tersenyum tipis, tangannya mencubit pelan hidung Azkia karena gemas.


"Ihh sakit." ucap Azkia. Tiba - tiba saja mereka di kagetkan dengan kedatangan sahabat mereka berdua.


"Hayoo loh yang lagi bucin lupa sama kita - kita." teriak Attaya di belakang Azka dan juga Azkia membuat mereka berdua terpelonjat kaget.


"Ya allah, ngagetin aja sih!" kesal Azkia sambil memegangi ice creamnya yang hampir tumpah.


"Dasar anak ayam, bikin jantungan aja!" kesal Azka


"Maap bos, habis kalian ini dari tadi kita cariin malah disini lagi ngbucin huh." kesal Devan sambil duduk di sebelah Azka.


"Heleh.." kata Azkia


"Gimana udah baikan?" tanya Devira kepada Azkia. Azkia hanya mengangguk karena dia sibuk makan ice cream.


"Udah bucin kok, mana bisa marah lama - lama hahaha.." sindir Nayla


"Bodo." jawab Azkia dan Azka kompak.


Kemudian mereka menghabiskan istirahat di kantin dengan canda dan tawa. Namun ujung - ujungnya yang membayar semua makanan mereka juga Azka, tapi Azka tidak mempermasalahkan itu karena sahabat yang tulus sangat sulit di cari di zaman seperti ini.


"Makasih Azka.."


"Thanks booss!"


......................

__ADS_1


__ADS_2