
"Bagaimana, sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Siap!" ucap Azka sambil mengangguk.
Namun sebelum acara ijab qobul dimulai, terdengar MC mempersilahkan seseorang untuk melantunkan ayat suci Al-quran. Mereka dengan khitmat mendengarkan lantunan ayat suci itu.
Tidak seperti biasanya kali ini Azka terlihat gugup sesaat setelah penghulu menanyakan kesiapannya untuk ijab qobul. Pikirannya sedikit kalut jika nanti ia tidak bisa atau pun salah saat ijab qobul. Untung saja ia bisa menetralkan wajahnya sehingga tidak terlihat jika Azka sedang menahan kegugupannya.
Penghulu menoleh kesamping kanan dan kiri, ia memastikan semuanya sudah siap. Dan para saksi pun langsung mengangguk memberi tanda jika mereka juga sudah siap.
Sedangkan Azkia hanya diam saja sambil menunduk. Sesekali tangannya meremas kebaya yang ia pakai. Ia sedang mencoba menenangkan hatinya yang sejak tadi berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia sangat gugup dan nerves, seakan dia yang akan mengucapkan ijab qobul.
"Kok gue deg-degan, sih!" batin Azkia. Ia hanya melirik Azka sekilas menggunakan ekor matanya.
Azka menerima uluran tangan sang papa mertua, yaitu Bima. Beliau yang akan menikahkan Azka dan putrinya, Azkia. Bima menaikkan sebelah alisnya karena tangan Azka terasa sangat dingin, seperti sedang memegang sebongkah es.
Bima hanya tersenyum samar, ia menjadi teringat moment saat dirinya menikahi Lala. Tangannya juga dingin bahkan banyak keringat yang kelur dari pelipisnya. Bima salut dengan Azka yang masih bisa terlihat tenang padahal sebenarnya ia sedang grogi.
Bima memantapkan tangannya yang sudah dipegang erat oleh Azka, membuat Azka mendongak dan menatap Bima dengan yakin.
"Jangan panik, bismillah dulu," ucap penghulu agar Azka tidak tegang.
Azka mengangguk mengerti, ia menarik nafasnya panjang lalu perlahan mengeluarkannya lewat mulut.
Suasana cukup hikmat hingga terdengar suara Bima yang mengatakan, "Saya nikahkan engkau Azka Aldric bin Yudha Pratama Aldirck dengan putri saya Azkia Aghata binti Bima Aghata dengan mas kawin 100gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Azkia Aghata binti Bima Aghata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Azka dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu.
"SAAAHHH!!"
"SAAAHH!!!" ucap sahabat Azka dan Azkia kompak dan sangat keras.
Suara paling nyaring yang menusuk kuping bersumber dari para sahabat Azka dan Azkia. Mereka bersorak seolah sedang menonton pertandingan sepak bola dan tim yang mereka dukung berhasil mencetak gol.
Penghulu dan saksi lainnya hanya bisa menggeleng dengan tingkah anak zaman sekarang ini.
"Alhamdulillah," ucap penghulu lalu diikuti mereka semua lagi seperti paduan suara.
Suasana terlihat haru saat Azka berhasil melafalkan ijab qobul dalam satu tarikan nafas. Wajah Azka yang awalnya terlihat tegang kini sudah kembali seperti semula, ia merasa sangat lega. Bahkan tanpa ia sadari matanya sudah berair, ada senyuman kepuasan karena ia tidak mengulang.
__ADS_1
Tanpa sadar Azkia meneteskan air mata bahagia, mulai hari ini dia sudah resmi menyandang gelar seorang istri. Begitu juga dengan orang tua Azka dan Azkia mereka tampak haru melihat anaknya sudah menikah.
Setelah itu Azka menyerahkan maharnya kepada Azkia lalu memasangkan cicin pada jari manis milik Azkia begitu juga sebaliknya dengan Azkia. Dengan perasaan gugup Azkia mencium punggung tangan Azka yang sudah sah secara agama dan negara menjadi suaminya.
Kini giliran Azka yang mencium kening Azkia, cukup lama Azka mencium kening milik istrinya itu. Entah apa yang Azka doakan saat mencium kening sang istri terlpas dari perintah fotografer.
"Oke, tahan dulu!" ucap fotografer yang sejak tadi sudah mengabadikan moment sakral itu.
"Yak bagus, 1 2 3.. oke sudah!" ucap fotografer.
Kini giliran pak penghulu yang berbicara, "Nak Azka?" panggilnya.
"Iya?" jawab Azka sambil menatap penghulu yang ada didepannya, tepatnya disamping Bima.
"Sayang tidak dengan perempuan disebelahmu ini yang telah menjadi istrimu?" tanya pak penghulu.
"Sayang!" jawan Azka tegas.
"Setia?" tanyanya lagi.
"Setia," jawab Azka.
"Siap bisa!" reflek Azka menjawab seperti seorang maba yang sedang ditanya oleh seniornya. Hal itu membuat mereka semua terkekeh.
Penghulu itu tersenyum lalu bertanya lagi kepada Azka, "Pengen bahagia?"
"Pengen!" ucap Azka.
"Kuncinya ada pada ibumu," ucapnya.
"Ibumu, ibumu... jangan sampai kau buat ia menangis karenamu tingkahmu yang melukai hatinya," ucap pak penghulu lagi.
Azka mengangguk, entah kenapa matanya terasa panas. Saat itu juga ia mengingat semua perlakuan yang terkadang membuat mamanya menangis. Karena sang mama terlalu sibuk dengan bisnisnya, hingga terkadang membuat Azka kurang mendapatkan kasih sayangnya.
"Bila pengen bahagia, resep nomer satu terletak pada ridho ibumu... sayang ibumu yang telah dicurahkan padamu, kau balas dengan membuat bangga beliau berdua," ucap pak penghulu sedang memberikan wejangan pada Azka.
"Paham, nak?" tanya pak penghulu.
"Paham," jawab Azka, tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya. Dengan cepat Azka menghapus air mata itu.
"Tanda tangan." perintah pak penghulu menyerahkan dua buku dihadapan Azka dan Azkia, buku itu bertuliskan 'akta nikah'. Kemudian mereka diberi arahan dimana untuk menandatanganinya.
__ADS_1
Terlihat tangan Azkia sedikit gemetaran saat akan menandatangani akta nikah mereka. Hal itu membuat Azka tersenyum samar dengan kelakuan istrinya, ia tidak menyangka jika ada waktunya ia dapat melihat sisi gugup dari sang istri yang biasanya terlihat ceria dan bar-bar.
Setelah itu Azka dan Azkia berpose sambil memamerkan cincin dan juga akta nikah mereka saat sang fotografer meminta mereka berdua berpose untuk mengabadikan moment itu. Kemudian fotografer itu memotred beberapa pose dari sisi yang berbeda.
Setelah itu pak penghulu mulai menengadahkan kedua tangannya, beliau mulai memimpin doa.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." ucap pak penghulu.
"Amiiin," ucap mereka semua serempak.
Setelah itu mereka saling bersalaman dengan pak penghulu dan berterimakasih telah membatu. Azka berjalan mendekati sang mama, ia menangis sambil bersimpuh didalam pangkuan mama Kayla.
Mama Kalya pun ikut menangis sambil memeluk putra semata wayangnya. Beliau mengusap punggung Azka yang bergetar karena menangis.
"Maafin Azka, mah!" kata Azka sambil menangis.
"Mama maafin Kaka, mama juga minta maaf sering buat Kaka kesal... mama jarang ada waktu buat Kaka, tapi perluh Kaka tau," ucapan mama Kalya sedikit tertarhan ditenggorokannya. Karena ia larut dalam suasana haru ini.
"Mama selalu sayang sama Kaka melebihi apapun didunia ini, sampai kapan pun sayang mama gak akan berubah buat Kaka!" ucap mama Kayla sambil menangis dan memeluk Azka. Azka pun membalas pelukan itu.
Pelukan yang terasa hangat dan menenangkan hati Azka. Pelukan tulus yang Azka rindukan selama beberapa tahun ini. Yudha ikut bergabung memeluk erat kedua orang yang sangat berharga untuknya.
Seorang papa yang selama ini terlihat kaku dan keras kepada putranya bisa bersikap lembut juga. Sekarang ini beliau juga meneteskan air matanya melihat sang anak sudah menikah dan sedang menangis meminta maaf pada mamanya. Bagaimanapun juga Azka adalah putra satu-satu yang sangat ia sayangi.
"Udah dong, kita lagi happy gak boleh sedih lagi, ya?" ucap mama Kayla sambil memegang kedua pipi Azka.
Azka mengangguk mengiyakan ucapan sang mama, kemudian Azka juga memeluk Yudha erat seperti anak kecil. Azkia tersenyum sambil meneteskan air mata. Begitu juga para saksi lainnya, mereka ikut larut dalam suasana.
Tidak dipungkiri keempat pendamping Azka juga menangis melihat bos mereka seperti ini. Mereka seolah juga merasakan apa yang sedang Azka rasakan.
Kini giliran Azkia yang memeluk Kayla dan Yudha secara bergantian, begitu juga dengan Azka yang memeluk Bima dan Lala. Tidak ketinggalan Axel, tapi sebelum memeluk Azka ia sempat meninju lengan Azka.
"Gue titip adek gue satu-satunya, ya. Jagain dia, jangan sakitin dia!" nasehat dan ancaman dari Axel.
"Iya bang!"
Kemudian satu persatu sahabat Azka dan Azkia memberikan selamat pada mereka berdua sebagai pengantin baru.
...----------------...
Kok nangis sih, kek berasa lagi didepan mereka ya?
__ADS_1