Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Aku Gak Sanggup


__ADS_3

Mata Azkia terasa panas ia tidak bisa membendung lagi, ia terisak dalam tangisnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya mencegah Azka namun bagaimana lagi, jika itu semua menyangkut masa depannya. Azkia tidak bisa berbuat apapun selain mendukung dan mensuport Azka.


"Gimana?" tanya Azka sangat berharab.


Azkia masih saja terdiam membisu, bahkan ia tidak berani menatap mata hazel milik Azka. Ia tidak sanggup menatap mata yang selalu membuatnya candu itu, mata hazel yang jernih dan terkadang terlihat sendu. Ditambah bulu mata yang lentik, terkesan menusuk namun ada kehangatan yang membuat Azkia selalu ingin menatapnya.


Tapi kali ini tidak, ia bingung harus bagaimana. Tanpa Azka ketahui beberapa hari lalu orang tua Azkia sudah berpesan jika ia meneruskan kuliah di dalam negeri saja. Karena Axel, kakaknya sudah berada di luar negeri. Mereka tidak ingin jika harus berjauhan dengan kedua anaknya.


"Nyun?" panggil Azka dengan lembut.


Azka sangat berharap Azkia menyetujui ajakannya.


"A-aku aku gak," ucapan Azkia terbata-bata.


Seolah kerongkongannya terdapat benda yang mengganjal membuatnya kesusahan berbicara.


"Gak apa?" tanya Azka lembut.


"Aku gak aku huaa." Azkia tidak dapat lagi membendung air matanya yang sejak tadi sudah keluar.


Kini tangisnya semakin menjadi membuat beberapa orang yang berada di Cafe itu menatap ke arah mereka berdua. Banyak yang bertanya-tanya kenapa Azkia menangis sampai seperti itu.


Dengan cepat Azka berdiri dan menghampiri Azkia, ia berdiri tepat disamping Azkia. Tangannya terulur untuk merengkuh tubuh Azkia kedalam pelukannya.


"Kenapa nangis?" tanya Azka sambil mengusap punggung Azkia.


Bukannya menjawab tangis Azkia semakin kencang, membuat Azka kebingungan. Baru kali ini ia melihat Azkia menangis hingga tidak memperdulikan lagi bagaimana penampilannya saat ini. Azka jarang sekali melihat air mata gadisnya itu, yang Azka tahu Azkia adalah gadis yang tangguh. Bahkan saat disakiti oleh Siska atau yang lainnya ia tidak akan memangis hingga seperti ini.


"Jangan nangis lagi, malu diliatin anak kecil itu," ucap Azka sambil mengusap air mata Azkia menggunakan ibu jarinya.


Perlahan tangis itu mulai reda, namun belum sepenuhnya. Sesekali masih terdengar isakan dari bibir tipis Azkia.


"Az, Azka." panggil Azkia sambil mendongak melihat wajah tampan Azka.


Azkia terpaku akan ketampanan Azka saat ini, Azka menajdi salah satu pemandangan yang paling menawan di antara jingganya langit.


"Iya?" ucap Azka sambil mengerutkan keningnya menunggu perkataan Azkia.


"Aku gak mau jauh, aku gak sanggup!" ucap Azkia sambil memeluk erat Azka.


Tangan Azkia melingkar erat di pinggang Azka, seolah ia tidak ingin melepaskannya bahkan semenit pun.

__ADS_1


Ada senyum tipis yang menghiasi sudut bibir Azka saat mendengar penuturan Azkia, perasaan hangat menjalar dirongga hatinya.


"Aku juga!" ucap Azka tegas.


Azkia mendongak menatap mata hazel Azka yang sudah membuatnya candu, ia seolah sedang mencari kebenaran dari perkataan Azka.


"Lalu?" tanya Azkia.


"Apa?" tanya Azka bingung, ia tidak paham maksud pertanyaan Azkia.


"Beneran kuliah di luar negeri?" tanya Azkia.


Azkia sangat berharap laki-laki dihadapnnya ini berkata 'tidak' namun raut wajah Azka terlihat sangat bimbang. Azka tidak tahu harus berkata apa, keputusan papanya memang ada benarnya. Karena semua bisnis keluarganya akan diserahkan kepada Azka, ia butuh mencari relasi agar bisa mengembangkan bisnisnya. Namun, disisih lain ia tidak bisa berjauhan dengan orang yang sudah membuatnya jatuh hati.


Melihat Azka yang tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Azkia membuka suaranya lagi.


"Mama bilang, aku gak boleh lanjutin kuliah diluar negeri... soalnya Bang Axel udah disana, masa semua anaknya disana." ucap Azkia sedih.


DEG!


Mendengar perkataan Azkia membuat hati Azka terasa perih, harapannya bisa kuliah bersama Azkia di luar negeri pupus sudah. Badannya mendadak menjadi lemas tidak bertenaga, seperti ada yang hilang dari jiwanya.


"Jadi kita jauhan, nih?" tanya Azka seolah dia baik-baik saja.


"Kamu gak bisa kuliah disini, aja?" tanya Azkia.


"Aku usahain, aku bakalan bujuk papa!" ucap Azka menenangkan Azkia.


Azka berharap papanya bisa membatalkan semua rencananya itu, dengan berbagai cara Azka akan berusaha agar tidak berjauhan dengan Azkia.


"Iya, semoga Om Yudha batalin semuanya," ucap Azkia sambil memeluk erat pinggang Azka.


Kepalanya ia sandarkan pada perut six-pack milik Azka. Jika boleh Azkia ingin waktu berhenti saat ini juga, Azkia tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menjalani hari-harinya tanpa Azka yang akan terpisah jarak dan waktu.


Azka mengusap lembut kepala Azkia, ia juga merasakan hal yang sama dengan Azkia.


Langit bersemu jingga sudah mulai memudar beganti dengan warna biru kehitaman yang menandakan malam akan segera datang. Matahari pun sudah bersembunyi berganti dengan bintang-bintang.


"Jangan nangis lagi, kita pasti bisa lewatin ini semua." tutur Azka, Azkia mengangguk mengiyakan perkataan Azka.


Perlahan tangan Azka meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak diatas nakas. Tangannya sibuk menyentuh benda pipih itu, kemudian tangannya terangkat keatas memperlihatkan wajahnya dan juga Azkia dalam satu frame berlatar belakang senja yang sudah berganti malam.

__ADS_1


KLIK!


Suara dari ponsel itu menyadarkan Azkia dari lamunannya, ia baru sadar jika Azka mengambil foto mereka berdua.


"Ihh, kenapa difoto kan aku jelek habis nangis!" kesal Azkia sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Iya jelek, tapi aku suka!" ucap Azka membuat Azkia tidak jadi marah.


"Apaan sih, gombal mulu," ejek Azkia sambil mendorong sedikit tubuh Azka.


"Gak ada gombal-gombalan, karena semua itu fakta!" ucap Azka sambil mendekat lagi.


Ia masih ingin berfoto dengan Azkia, membuat Azkia heran karena biasanya Azka bukan tipe cowok yang suka diajak foto.


"Tumben ngajakin foto, biasanya kalo gak di paksa dulu gak akan mau," gerutu Azkia, namun tetap saja ia ikut berpose saat Azka memencet tombol bulatan pada camera ponselnya.


"Lagi pengen." singkat Azka membuat Azkia tersenyum tipis.


Setelah dirasa hati Azkia sudah membaik, Azka memutuskan untuk mengajak Azkia pulang. Karena mereka sudah keluar sejak sore tadi, Azka merasa kasian melihat Azkia yang terlihat kelelahan setelah menangis sesegukan.


Azka melepaskan kemeja yang ia kenakan, hanya menyisahkan kaos berwarna hitam polos yang masih melekat pada tubuhnya.


Tanpa permisi Azka mengikatkan kemejanya dipinggang ramping milik Azkia, perlakuan Azka yang tiba-tiba membuat Azkia kaget.


SET!


kemeja itu audah terikat rapi dipinggang Azkia, menutupi kaki mulus Azkia yang hanya menggunakan rok jins selutut.


"Ehh, ngapain?" tanya Azkia sambil menghentikan langkahnya.


"Lain kali kalau pake baju jangan yang kekurangan bahan, apalagi perginya gak sama aku!" ucap Azka tepat ditelinga Azkia, membuat Azkia merinding.


"Iy-iya maaf, gak akan lagi... kalo gak sama kamu," ucap Azkia.


Azkia tidak berani menoleh karena ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.


Tarikan tangan Azka membuat Azkia tersentak kaget, mematahkan pikiran-pikiran kotor yang muncul di benak Azka.


Azka terus menggandeng tangan Azkia hingga parkiran Cafe.


"Tangan yang lebar dan hangat, tidak seperti sifatnya yang dingin," gumam Azkia sambil mengamati tangannya yang tengah digandeng Azka.

__ADS_1


...--------------------------------...


"Aku gak bisa bayangin jika kita harus terpisah jarak dan waktu, ku harap semua ini hanya mimpi yang akan hilang setelah aku bangun!" ~ Azkia A ~


__ADS_2