Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Lebih Cepat lebih baik


__ADS_3

Deringan alarm tidak mampu membangunkan Azka yang masih terbalut dalam selimut tebalnya. Rasa lelah setelah penerbangan dan juga makan-makan bersama sahabatnya membuat tubuh Azka pegal-pegal. Ia hanya menggeliat lalu kembali ke dalam mimpinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu tidak mampu mengusiknya. Hingga suara lembut terdengar jelas.


"Azka, ayo bangun udah pagi," katanya sambil membuka tirai pada kamar Azka.


"Lima menit lagi, mah!" ucap Azka sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Cahaya yang masuk mampu membuat indra pengelihatannya sakit, karena matahari sudah bertengger diatas.


"Katanya mau ke rumah Azkia, nanti keburu Azkianya berangkat kuliah loh!" bujuk sang mama.


Ya, orang yang membangunkan Azka adalah mama Kayla. Ia dan suaminya tiba semalam saat Azka sudah tertidur.


"Bentar lagi, mah! Masih pagi juga," rengek Azka seperti anak kecil.


"Pagi? Coba kamu lihat matahari udah diatas Kaka, kamu mau bangun jam berapa?" tanya sang mama sambil menarik selimut dari tubuh Azka.


Dengan malas Azka membuka matanya, ia mengusap-usap matanya agar bisa melihat dengan jelas. Cahaya matahari yang dibiarkan masuk ke kamar Azka membuat matanya sedikit sakit karena silau. Ia mengambil ponselnya yang berada diatas nakas.


Terlihat pukul 08:00WIB, membuat Azka dengan cepat menuju kamar mandi. Mama Kayla hanya mengeleng melihat tingkah anak semata wayangnya yang tidak berubah padahal sudah lulus kuliah. Setelah mama Kayla merapikan tempat tidur Azka, ia menuju dapur menyiapkan sarapan untuk Azka. Sedangkan Yudha sudah berangkat terlebih dahulu ke kantor.


Setelah selesai dengan rutinitasnya Azka menuju meja makan untuk sarapan. Kali ini Azka sarapan dengan sang mama, terlihat wajah lelah dari perempuan paruh baya itu.


"Kamu kapan rencananya mau nikahin Azkia?" tanya sang mama memecahkan kehengingan di antara mereka berdua.


"Secepatnya!" singkat Azka.


"Bagus, lebih cepat lebih baik," saut sang mama.


"Hmm," saut Azka.


"Kalau bisa bulan depan, kan Azkia juga udah selesai kuliahnya... tinggal skripsi kan?" saran sang mama.


"Nanti Azka bicarakan dulu sama, Kia.. mah." Azka sudah selesai dengan sarapannya.


Kemudian ia berpamitan kepada sang mama, sudah lama mobil milik Azka tidak pernah keluar rumah. Hanya sesekali mobil itu digunakan oleh Yudha.


Azka melirik sekilas jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangangnya, ia memacuk mobil sport itu dengan kecepatan sedang. Azka mencoba menghubungi Azkia, ia akan memberitahu jika ia akan datang terlambat.


"Kebiasaan banget sih, susah dihubungin!" geram Azka sambil melemparkan ponselnya pada kursi disebelahnya.


Azka menambah kecepatannya, ia ingin segera sampai di rumah Azkia.


......................


Setelah menempuk jarak yang tidak terlalu jauh ia sapai dirumah Azkia, Azka mengambil beberapa kantong paper bag yang sudah ia siapkan untuk oleh-oleh calon mertuanya itu.


Tok tok tok


Beberapa kali Azka mengetuk pintu utama rumah Azkia, hingga terlihat seorang ibu rumah tangga yang masih awet muda membukakan pintu untuk Azka.


"Azka!" ucapnya tidak percaya.


Azka tersenyum manis sambil menyalami calon mertuanya itu. Azka hanya pasrah saja saat mertuanya itu memeluknya erat, sudah seperti dengan anaknya sendiri.

__ADS_1


"Apa kabar tante?" tanya Azka.


"Baik-baik, kamu gimana kabarnya?" tanya mama Lala.


"Baik juga tan," saut Azka.


"Kok masih tante sih, panggil mama biar sama kaya Kia. Jangan bilang gara-gara kelamaan diluar negeri jadi lupa panggil mama," ucap mama Lala sambil menyuruh Azka masuk kedalam rumah.


"Gak lupa kok mah," ucap Azka canggung.


"Duduk dulu, mama pangilin Kia." langkah mama Lala terhenti.


"Oh iya tante.. eh mama! Ini ada sedikit oleh-oleh buat mama sama papa." Azka memberikan beberapa kantong paper bag itu kepada mama Lala.


"Duhh, gak usah repot-repot. Padahal liat kamu udah balik aja mama udah seneng, apalagi dikasih oleh-oleh.... jadi tambah seneng." ucap mama Lala sambil terkekeh. Membuat Azka ikut tertawa.


Mama Lala mendekati Azka lalu berbisik sesuatu yang hanya bisa di dengar oleh Azka. Sedangkan Azkia berjalan menuruni anak tangga saat mendengar tawa sang mama sampai terdengan ke kamarnya.


"Jadi kapan?" tanya mama Lala.


Azka menaikkan sebelah alisnya bingung dengan pertanyaan mama mertuanya, "Kapan apanya, mah?"


"Kapan di sah nya? Mama udah gak sabar pengen gendong baby," kata mama Lala sambil terkekeh.


"Secepatnya, mah!" saut Azka sedikit malu karena sang mama mertua membahas baby padahal ia saja belum menikah dengan Azkia.


"Yang pasti dong, tanggalnya?" desak mama Lala.


"Bulan depan," jawab Azka.


"Kelamaan, kalau bisa di cepetin aja." saran mama Lala.


"Gini kamu pastiin aja kapannya, nanti soal lain-lainnya biar jadi urusan mama sama mama kamu, gimana?" tanya mama Lala.


"Baik lah," saut Azka.


"Pokoknya lebih cepat lebih baik," kata mama Lala sambil berbalik akan memamghil putrinya. Namun, terlambat karena sang putri sudah berdiri di belakangnya sambil meilipat kedua tangannya di depan dada.


"Ini yang mau nikah sebernya siapa?" batin Azka.


"Eh anak mama yang cantik udah bangun aja padahal mau mama bangunin," ucap sang mama.


"Kalian bahas apa, kok bisik-bisik?" tanya Azkia yang sedikit curiga.


"Per—" belum selesai ucapan Azka sudah disambar terlebih dahulu oleh mama Lala.


"Permintaan, ya? Azka beliin oleh-oleh sesuai permintaan mama, kan?" tanya mama Lala mencoba menutupi dari Azkia.


Karena jika membahas soal pernikahan, Azkia pasti akan memiliki seribu alasan agar orang tuanya tidak membahas hal itu. Ia beralasan ingin fokus pada kuliah dan cita-cita terlebih dahulu.


"Bener?" tanya Azkia seolah tidak percaya.


"Bener, Nyun... tuh pesenan mama," ucap Azka sambil melirik paper bag yang ada di tangan mama Lala.


Azkia mengangguk paham, kemudian ia duduk di sofa memperlihatkan paha putihnya. Ya, Azkia hanya mengenakan kaos oversize warna hitam dibalut dengan celana jins diatas lutut. Sehingga jika ia duduk dengan posisi bersila diatas sofa akan memperlihatkan dengan jelas paha putihnya itu.


"Nyun," panggil Azka yang ikut duduk disebelah Azkia, cukup dekat bahkan bisa dibilang sangat dekat.

__ADS_1


Sedangkan mama lala sudah berada di kamarnya karena tidak sabar untuk melihat oleh-oleh yang Azka berikan.


"Hmm?" saut Azkia yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu pengen cepet-cepet kita nikah, ya?" tanya Azka.


"Hah!" Azkia tidak paham maksud perkataan Azka.


"Huft, kenapa kau selalu menggoda ku sayang?" bisik Azka sambil melirik pada paha Azkia.


Dia mengikuti tatapan mata Azka, dengan cepat Azkia menyambar batal sofa untuk menutupinya.


"Ihh, matanya liat apa!" dengus Azkia kesal.


"Lalu salah siapa?" tanya balik Azka.


Azkia tidak menjawab ia hanya memajukan bibirnya, yang membuat Azkia terlihat imut. Apalagi bibirnya yang sangat menggoda untuk Azka.


Azka mendengus, lagi-lagi ia mengingat kejadian kemarin yang membuatnya gagal merasakan bibir merah alami milik Azkia.


"Hayoo loh, pasti lagi mikirin yang gak-gak kan?" tuduh Azkia.


"Gak tuh," saut Azka.


"Halah, gak usah bohong.. kelihatan ya dari wajahmu!" ucap Azkia sambil terkekeh.


Azka mendekat dan berbisik pada telinga Azkia, "Kenapa harus dibayangin, kalau mau aku bisa praktekin sekarang,"


Bisikan itu membuat tawa Azkia memudar, ia salah jika menggoda Azka. Karena Azka paling jago dalam hal menggoda Azkia.


Melihat Azkia diam saja, Azka memegang wajah Azkia. Mengusap pelan bibir merahnya itu, hal itu membuat tubuh Azkia mematung.


"Mau coba?" tanya Azka dengan suara sangat lembut sekali.


Dengan cepat Azka mendorong tubuh Azka agar menjauh, bahkan ia bergeser daeo tempat duduknya semula. Wajahnya sudah merah merona bak kepiting rebut. Soal jantung? Jangan ditanya, jantung Azkia berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Wajahku kenapa panas gini rasanya, ini lagi jantung kenapa kek lagi DJ an," batin Azkia.


Ia melirik Azka yang masih menatapnya, lalu tatapan Azkia berpindah pada bibir ranum milik Azka.


"Sial, godaannya menggoda! Eh apaan sih, astagfirullah!" batin Azkia.


Ia menepuk-nepuk pelan pipinya agar sadar. Hal itu tidak pernah luput dari pantauan Azka.


Tuk!


Azka mengetuk pelan Jidat Azkia, "Hayoo! Siapa yang pikirannya kotor!" ucap Azka sambil terkeheh, membuat pipi Azkia semakin merona.


"Gak, aku gak mikirin bibirmu kok!" jawab Azkia tanpa sadar.


Dengan cepat Azka menutup mulutnya dan meruntuki mulutnya yang asal bicara itu.


"Hahahaaaa! Ketahuan." tawa Azka pecah memenuhi ruang tamu rumah Azkia.


...----------------...


Kali aja ada yg mau masuk grub nya author

__ADS_1



__ADS_2