Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Kemana Kamu?


__ADS_3

aku mungkin tak akan pernah bisa melepas mu..


tapi aku juga tak mampu menahanmu disini..


meski sakit perih rasa ini kau abaikan..


Kau menggoreskan luka tanpa kau sadari


Kau juga menciptakan bahagiaku..


Terimakasih atas singgahmu meski hanya sebentar


...Rayhan Mahendra / е н...


..............................................................................................


Azkia terus menatap layar ponsel yang sedari ia gengang, wajahnya terlihat lesu dan tidak ada semangat sama sekali. sesekali Azkia menatap bangku kosong yang berad disebelahnya, tanpa Azkia sadaei dia tersenyum saat mengingat tingkah jail Azka yang selalu mengganggunya.


Namun saat ini berbeda, Azkia merasakan sesuatu didalam hatinya terasa kosong.


"Padahal belum ada sehari gue gak liat lo, tapi rasanya sudah beberapa hari." Azkia tersenyum hambar, matanya masih menatap kosong bangku Azka.


Drrtt


Tiba - tiba saja ponselnya bergetar, dengan cepat Azkia membuka ponsel yang sedarin tadi ia genggam. Ternyata pesan singkat dari Azka.


"Aku baik-baik saja!" isi pesan Azka.


Ada sedikit senyum yang terlukis dibibir Azkia, dia terlihat senang akhirnya Azka memberinya kabar. Mungkin nanti saat bertemu dia akan meminta penjelasan dari Azka.


"Ki, kantin yuk." ajak Nayla, yang menyadarkan Azkia dari lamunannya.


"Udah ada kabar dari Azka?" tanya Devan.


Azkia hanya menunjukkan pesan singkat yang Azka kirimkan, lalu mereka menuju kantin dengan hati yang lega.


Saat mereka asyik mengobrol, tangan Azkia tiba-tiba saja dicekal oleh Kevin. Kevin menarik Azkia menuju kantin membuat semua orang yang berada dilorong itu memerhatikan mereka.


"Lepasin!" bentak Azkia sambil berusaha melepaskan cekalan tangan Kevin.


Kevin hanya diam saja tidak memperdulikan ucapan Azkia, teriakan Azkia semakin membuat Kevin mempererat pegangannya. Dibelakang ada Devira dan Nayla yang mereriaki Kevin, namun tetap saja tidak membuat Kevin berhenti.


Rayhan yang kebetulan sedang berada di lorang itu pun menghampiri Devira dan Nayl, menanyakan apa yang sedang terjadi pada Azkia.


Kemudian mereka mengikuti Azkia dan Kevin yang ternyata berjalan kearah kantin. Kebetulan sekali kantin hari ini sangat ramai membuat mereka menjadi pusat perhatian tidak terkecuali Farah yang menatap Azkia penuh kebencian.


"Duduk!" perintah Kevin.


"Gak, gue gak mau!" kesal Azkia.


"Duduk gue cuma mau traktir lo makan aja, buat permintaan maaf gue soal bola basket waktu itu." jelas Kevin.


"Gak usah." ucap Azkia.


"Please, biar hilang rasa bersalah gue udah bikin jidat lo jenong." Kevin memohon kepada Azkia seperti anak kecil membuat Azkia sidikit goyah.


Tanpa menunggu persetujuan dari Azkia, Kevin langsung saja memesan makanan untuknya dan Azkia.


"Oh iya, kita belum kenalan.. gue Kevin." ucap Kevin sambil mwngulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Azkia." jawab Azkia malas, karena dia teringat pesan Azka agar menjaga jarak dari Kevin.


"Yaudah sekarang duduk." pinta Kevin untuk yang kedua kalinya.


"Gak mau, gue mau pergi aja." ucap Azkia, namun lagi - lagi tangan Azkia dicekal oleh Kevin.


"Gue belum izinin lo pergi." ucap Kevin.


"Lepasin tangan lo dari Azkia!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Rayhan. Dia berjalan mendekati Azkia diikuti Nayla dan Devira.


"Gak usah ikut campur!" ucap Kevin dengan mata yang masih menatap Azkia memyuruhnya duduk.


"Gue akan ikut campur kalo itu soal Azkia." kata Rayhan, tangannya menggapi lengan Azkia satunya.


"Sok pahlawan, lo!" ejek Kevin sambil menarik tangan Azkia agar mendekat kepadanya.


"Lepasin dia kesakitan." perintah Rayhan, dia juga menarik tangan Azkia satunya.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mereka berdua saat Azkia di perebutkan oleh Kevin dan Rayhan.


"Mungkin yang kemaren belum berhasil tapi kali ini pasti berhasil." ucap seseorang yang sudah mengabadikan moment tersebut.


"Lo yang lepasin!" teriak Kevin tidak mau mengalah, dia semakin memperkuat tarikan tangannya.


Bruk


Tanpa pikir panjang Rayhan memukul Kevin sehingga membuatnya terhuyung kebelakang. Azkia yang melihat itu kaget melihat dua orang di hadapannya sedang berkelahi karenanya.


"STOPP!" teriak Azkia namun tidak didengarkan oleh meteka berdua.


Siswa yang lainnya hanya menonton saja sesekali terdengar cuitan dari mereka yang membuat suasana semakin panas.


"Kalian ini mau jadi jagoan!" bentak Pak Slamet.


"Ampun pak ampun, sa-sakit telinga saya." rengek Kevin sambil memegangi telinganya yang sudah di jewer pak Slamet hingga terlihat merah.


"Tadi sok jagoan sekarang baru kaya gini sakit?" ujar pak Slamet.


"Kamu juga, Han... ketua osis bukannya kasih contoh yang baik malah berantem." lanjut pak Slamet.


"Maaf pak!" jawab Rayhan.


"Gak tahu tuh, pak... ketua osis masa gitu." sindir Kevin.


"Lo yang mulai duluan." kesal Rayhan, dia sudah akan memukul Kevin lagi namun dihalangi oleh pak Slamet.


"Kalian berdua bersihkan toilet guru, sekarang juga!" perintah pak Slamet.


"Ta-tapi pak, kan dia yang mulai duluan." bela Kevin sambil menunjuk Rayhan.


"Gak ada tapi - tapian, kerja kan sekarang juga!" bentak pak Slamet.


"Baik." ucap Rayhan dan Kevin dengan wajah kesalnya. Mereka berdua menuju toilet guru diikuti pak Slamet.


"Kalian liatin apa? Bubar semuanya!" teriak Nayla untuk membubarkan mereka semua yang menonton Azkia.


"Lo gak papa, Ki?" tanya Devira.


"Baik kok."

__ADS_1


"Kevin kenapa maksa lo sih?" tanya Nayla.


"Entahla.. dia tadi bilang cuma buat ganti rugi udah buat jidat gue memar beberapa hari lalu." jelas Azkia.


"Tapi kok maksa banget, gak inget aja dia siapa pacar lo." ucap Nayla.


"Udahlah gak usah dipikirin yang penting udah selesai." saut Devira.


................


Azka sedang membaringkan tubuhnya diatas kasur milik Ken, badannya terasa sangat lelah. Semalaman Azka mengelilingi kota untuk menghilangkan kekesalannya kepada sang papa.


"Woy, ponsel lo bunyi terus itu!" teriak Ken sambil membuka pintu kamarnya.


"Biarin aja!" saut Azka.


"Berisik tau gak, angkat aja siapa tahu penting." saran Ken sambil duduk di kursi di depan meja belajarnya.


"Kalo penting nanti juga telepone lagi." jawab Azka dengan santai.


"Papa lo, mama lo, Devan, Attaya.. Azkia." ucap Ken sambil melihat panggilan tak terjawab itu.


Mata ken menyipit saat ada nomer tidak dikenal mengirimi Azka sebuah pesan gambar.


"Nomor tidak dikenal, Ka... lo gak ada niatan angkat telepone mereka atau balas chatnya?" tanya Ken sambil meletakkan ponsel Azka.


"Malas, dah sana gue ngantuk mau tidur." usir Azka.


"Wah ini anak amnesia ya, ini rumah gue woy!" kesal Ken sambil menggelengkan kepalanya.


Namun pada akhirnya Ken keluar dari kamar menuju ruang keluarga, sedangkan ponsel Azka terus berbunyi membuatnya terganggu.


Dengan malas Azka mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas, perlahan melihat satu persatu pesan masuk. Mata Azka terfokus pada nomor tidak di kenal yang mengiriminya sebuah gambar.


Dengan cepat Azka membuka pesan itu dan mengabaikan pesan yang lain.


Deg!


Hati Azka terasa perih saat melihat gambar yang baru saja ia buka, kemudian Azka menakan tombol hijau untuk menelepon nomer tidak di kenal itu. Dan lagi - lagi nomer itu tidak aktif.


"****!" umpat Azka sambil menggenggam erat ponselnya.


Di dalam gambar itu terlihat Azkia berada di tengah sedangkan selelah kanan ada Kevin, sebelah kiri ada Rayhan. Mereka berdua sedang menggengam tangan Azkia.


Dengan cepat Azka menekan tombol hijau pada kontak yang bertuliskan 'Manyun :)' namun sayang nomor Azkia tidak bisa di hubungi yang membuat Azka semakin kesal.


"Kemana sih kamu?" batin Azka sambil menatap ponselnya.


Azka lalu mengirimi Azkia pesan singkat, menyuruhnya untuk segera menghubungi Azka saat sudah melihat pesan yang Azka kirimkan.


Ponselnya berbunyi lagi yang ternyata panggilan dari sang mama yang membujuknya untuk pulang kerumah, Azka hanya diam saja sambil mendengarkan semua ucapan sang mama.


"*Azka pulang ya, mama khawatir sama Kaka." ucap yang mama disebrang telepon sana.


"Papa udah menyesali perbuatannya sama kamu, jadi pulanh ya." bujuk sang mama*.


Namun tetap saja nihil, sia - sia saja membuju Azka jika bukan karena keinginannya sendiri.


Azka langsung mematikan sepihak panggilan dari sang mama, lalu membuang ponselnya kesembarang arah. Matanya menatap langit - langit, lalu memejamkan matanya. Tangannya dia gunakan sebagai tumpuan ahar Azka merasa nyaman.

__ADS_1


................


__ADS_2