
Sedangkan Lena sedang marah-marah tidak jelas didepan perusahaan, karena ia diberhentikan dengan tidak hormat gara-gara kejadian tadi diruangan Azka. Lena semakin membenci Azkia dan berniat untuk mencelakai Azkia agar bisa berpisah dengan Azka, kemudian ia bisa merebut hati Azka.
"Jadi sekertaris sementara, dipecat secara sepihak pula!" gerutu Lena.
"Ini semua gara-gara cewek itu, lihat aja gue gak akan lepasin lo gitu aja!" Lena mencekam kuat box yang berisi barang-barangnya itu. Sesekali keluar umpatan dari bibir merah karena pemerwah bibir itu.
Lena berbalik menatap perusahaan Azka lebih tepatnya ia menatap lantai yang dihuni oleh Azka. Box yang ia bawa dijatuhkan begitu saja lalu berkacak pinggang sambil memaki Azkia.
"TUNGGU AJA, TUNGGU PEMBALASAN GUE! APALAGI LO UDAH PERMALUIN GUE DIDEPAN ORANG YANG GUE SUKA. TUNGGU AJA GAK AKAN LAMA GUE AKAN BUAT LO MENDERITA!" teriak Lena keras hingga membuat karyawan kantor menatapnya sinis.
Lena sudah tidak perduli lagi dengan keadaanya saat ini yang menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Hingga ada dua sekuriti yang menghampirinya.
"Maaf mbak, janggan menganggu kenyaman kantor! Sebaiknya anda pergi sekarang juga atau kami pakai cara kasar!" tegas sekuriti.
"Kalian berani usir gue? Gue ini sekertarisnya CEO perusahaan ini!" kata Lena yang membuat kedua sekuriti itu mengurungkan niatnya.
"Maaf kalau begitu, tapi tetap saja anda tidak boleh membuat keributan disini. Sebaiknya anda pergi dari sini sekarang juga!" kata sekuriti.
"Gue juga mau pergi gak usah ngusir gitu, gue bukan gembel!" kesal Lena mengambil kembaki box yang tadi ia banting untung saja isinya tidak ada yang berharga.
"HEH! LO CEWEK PENGGANGGU TUNGGU BALASAN GUE!" teriak Lena lagi menatap lurus kearah rungan Azka.
"Pergi dari sini!" kata sekuriti itu sambil menghempaskan tubuh Lena kejalanan.
"Jangan harap anda bisa masuk ke perusahaan ini lagi!" setelah itu kedua sekuturiti pergi meninggalkan Lena.
Air mata Lena jatuh membasa pipinya, baru kali ini Lena diperlakukan seperti ini dihadapan orang banyak. Membuat hatinya semakin sakit dan berkobar untuk membalas dendam atas rasa sakit yang ia terima.
"Gue jamin lo bakalan rasain apa yang gue rasain saat ini juga! Lo tunggu aja, dasar cewek pengganggu!"geurtu Lena sambil membereskan barangnya yang berceceran dipinggir jalan.
Setelah itu Lena pergi dengan memberhentikan sebuah taxi yang ada disekitarnya. Tak henti-hentinya dia terus mengumpat dan menyumpahi Azkia.
......................
"Haching!"
"Kenapa, Nyun?" tanya Azka.
"Gak tau tiba-tiba bersin aja, kaya ada yang lagi ngonongin aku!" Azkia menatap Azka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Kali ini Azkia akan menemani Azka sampai jam pulang kerja, ia sangat malas jika dirumah sendirian. Azka menyibukan dirinya dengan sekripsi yang tinggal sedikit lagi, sesekali ia mengecek butiknya yang sudah hampir jadi.
Hanya ada suara jam dinding dan juga keyboard yang disentuh, hingga suara Azkia membuyarkan Azka.
"By?"
__ADS_1
"Hubby?" panggilnya.
"Hmmm?"
"Aku kok pengen makan ice cream, ya." kata Azkia.
"Oke aku suruh Devan beliin ya, tunggu!" Azka mengambil ponsel dan akan menghubungi Devan.
"Gak mau!" tolak Azka.
"Katanya mau ice cream, hmm?"
"Maunya kamu yang beliin, ice cream rasa strobery dua."
"Tapi aku banyak kerjaan, Nyun. Aku suruh Devan aja, ya?"
"Gak usah aja," ketus Azkia.
"Iya-iya, aku beliin. Kamu tunggu disini jangan kemana-mana." Azka mengusap pucuk kepala Azkia.
Setelah itu ia mengambil kunci mobil dan juga ponselnya, sebelum pergi ia mencium pucuk kepala Azkia sekilas.
"Mau kemana?" tanya Devan.
"Beli ice cream."
"Pengennya gue yang beliin," saut Azka sambil berjalan menuju lift.
"Ohh, nitip juga dong camilan, sekalian ya!" teriak Devan.
Azka malas menggapinya, setelah keluar dari lift Azka memasang tampang dinginnya seperti biasa. Ya karena wajah Azka yang hangat hanya ditunjukan pada orang-orang tertentu.
Azka memasuki sebuah minimarket yang tidak jauh dari kantornya tapi tetap saja ia keluar menggunakan mobil karena terlalu malas untuk berjalan. Azka memilih beberapa camilan yang ia sukai dan beberapa camilan untuk Devan, meskipun ia terlihat dingin tapi ia tetap perhatian kepada sahabatnya itu. Tak lupa juga dua cup besar ice cream rasa strobery, ia juga mengambil satu cup ice cream rasa coklat vanila.
Setelah selesai Azka mengantrikan belanjaannya didepan kasir, sambil menunggu orang didepannya selesai Azka lebih memilih bermain ponselnya.
"Azka?" panggil seseorang saat ia selesai membayar dikasir.
Azka hanya diam saja sambil menaikkan sebelah alisnya, ia sepertinya kenal dengan seseorang yang ada dihadapannya ini tapi siapa Azka lupa.
"Lo lupa sama gue?" tanyanya.
"Siapa?" ucap Azka.
"Gue Farah," katanya sambil tersenyum, melihat Azka yang masih tidak ingat Farah lalu menceritakan kejadian waktu disekolah beberapa tahun lalu.
__ADS_1
"Gue yang mencoba bunuh diri diroftop waktu kita SMA," jelasnya.
"Oh!"
"Waktu itu makasih, kalau gak ada lo mungkin gue udah gak disini lagi," kata Farah.
Azka diam saja, ia fokus memberikan belanjaannya pada petugas kasir.
"Gue juga mau minta maaf soal kejadian waktu itu, gue terlalu suka sama lo sampai gue terobsesi sama lo. Waktu itu gue gak bisa terima orang yang gue sayang milih orang lain dari pada gue," jelas Farah.
"Tapi sekarang gue udah sembuh dan gue udah sadar yang paling penting saat ini gue bisa lihat lo bahagia itu udah cukup. Karena gue juga mau bahagia walaupun gak sama lo," kata Farah dengan senyuman tulus dibibirnya.
"Hmmm," Azka tetap saja dingin.
"Gue cuma bisa doain lo bahagia sama Azkia, jaga dia baik-baik." kata Farah.
"Itu pasti!"
"Yaudah gue permisi dulu, bye Azka!" Farah melambaikan tangannya sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
Sekilas Azka mengamatinya hingga ia masuk kedalam sebuah mobil yang dibukakan oleh seorang laki-laki. Azka bisa menebak jika laki-laki itu adalah pacarnya karena terliht sangat jelas dari perhatiannya.
"Mantannya mas?" tanya pegawai minimarket.
"Bukan," saut Azka yang kembali fokus pada kasir didepannya.
"Oh, kirain mantan soalnya bicaranya seperti itu," katanya sambil menyerahkan kembali kartu atm milik Azka.
"Makasih!" Azka lalu pergi begitu saja dengan kantong kresek ditangannya.
"Dingin banget sih, tapi ganteng!" kata mbak kasir.
Azka meletakkan belanjaannya dikursi sebelah kemudi, lalu ia menyalakan mesin mobilnya.
"Hari apa sih ini?" gumamnya.
Azka mengingat kejaian beberapa tahun lalu saat dirinya harus berurusan dengan Farah, Siska dan masih banyak lagi para penggemarnya. Tapi hanya mereka berdua yang sangat merepotkan, untung saja Azkia masih bertahan dengan dirinya hingga saat ini. Walaupun banyak hal yang harus dilewati bersama, banyak rintangan yang selalu menyapa mereka berdua.
Azka bersyukur memiliki Azkia yang tidak menyerah dan terus berada disisihnya. Hingga kini mereka sudah menikh dan dikaruniai seorang baby yang belum lahir.
Azka akan sangat menjaga Azkia agar dia baik-baik saja begitu juga dengan anak yang ada didalam kandungannya.
...----------------...
Vote gratisnya kaka, like coment juga. Kalau minta fallback bilang ya :)
__ADS_1
...Semangat pagi walaupun hujan!...