
Setelah acara selesai Bobo langsung bergegas pulang bersama calonnya, karena ia akan mengurus semua keperluan acara nikahannya beberapa hari lagi. Bisa dibilang acara ini sangat mendadak membuat keluarga Bobo dan Oryza harus ekstra kerja cepat namun hasilnya harus memuaskan.
Bobo harus mengeluarkan biaya yang cukup besar karena semua serba dadakan sehingga harha berbeda dari yang sudah booking beberapa bulan sebelumnya. Tapi itu tidak jadi masalah buat Bobo karena acara bukan sekedar mengikrarkan janji suci melainkan sebagai bentuk syukur karena sudah dipertemukan dengan jodohnya.
Setelah mengurus baju yang akan dikenakan saat hari H, Bobo langsung bergegas mengantarkan Oryza ke rumahnya. Tapi sebelum itu mereka mampir sebentar ke sebuah toko emas untuk mengambil cicin pernikahan mereka.
"Bagus, makasih mbak!" kata Bobo kepada karyawan toko.
"Sama-sama, mas!"
Setelah itu ia segera kembali ke mobilnya karena Oryza ada didalam mobil sedang tertidur pulas, ia tidak tega membangunkan Oryza sehingga mengambil cincin itu sendiri.
Selama perjalanan Bobo selalu melirik calon istrinya itu, ia bersyukur sekali bisa diterima dengan setulus hati oleh Oryza.
Hingga tak terasa mereka berdua sudah sampai dikediaman Oryza, perlahan Bobo menepuk pipi Oryza untuk membangunkannya.
"Zaa?" panggil Bobo.
"Emmm," saut Oryza yang merasa tidurnya terusik.
"Za, bangun dulu udah sampai... jangan tidur disini nanti pegel-pegel badanmu." kata Bobo sambil menggoyangkan lengan Oryza pelan.
"Za, Oryza Wijayakusuma!" panggil Bobo swdikit keras membuat Oryza langsung membuka matanya.
Bobo menyunggingkan senyumnya melihat wajah bingung Oryza, terlihat lucu.
"Bagun dulu, pindah kamar sana baru lanjut tidur," kata Bobo.
"Emang udah sampai?" tanya Oryza.
"Sudah, sampai sesuai dengan alamat yang anda tuju." Bobo berbicara layaknya seorang driver pada umumnya.
"Makasih, nanti saya kasih bintang 5 ya!" Oryza pun ikut menimpali candaan Bobo.
"Iya, udah sana buruan masuk rumah terus istirahat ya!" kata Bobo sambil mengacak-acak rambut Oryza.
"Ini juga mau pulang kok, kamu juga langsung pulang gak usah keluyuran kemana-mana. Apalagi bentar lagi kita mau nikah, kalau bisa jangan kemana-mana dulu!" pinta Oryza.
"Iya sayangku cintaku!" kata Bobo sambil mencium punggung tangan Oryza yang masib dalam genggaman Bobo.
"Aku serius jangan iya-iya aja!" ketus Oryza.
"Emang ada tampang gak serius dari wajah tampanku ini?" tanya Bobo.
"Emm, iya-iya percaya!" kata Oryza.
Lalu Oryza berpamitan pada Bobo sambil bersalaman lalu mencium punggung tangannya, Bobo yang diperlakukan seperti itu hatinya merasa hangat.
"Aku masuk dulu, ya! Kamu juga cepetan pulang, inget gak usah mampir kemana-mana!" kata Oryza.
"Iya, langsung pulang nanti aku kabarin, oke?" ucap Bobo.
"Okee, awas aja kalau sampai gak ngabarin!" Oryza langsung keluar dari mobil Bobo bergegas masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Zaa!" panggil Bobo.
"Iya?" tanya Oryza sambil berbalik menatap Bobo.
"Salam buat mama papa, maaf gak bisa mampir!" teriak Bobo yang mulai menyalakan mesin mobilnya. Sedangkan Oryza hanya mengacungkan jari jempolnya setelah itu masuk kedalam rumah.
Bobo masih setia didepan pintu pagar Oryza, ia ingin melihat calon istrinya sampai masuk kedalam rumah.
"Calon istri idaman," gumam Bobo.
......................
Azkia sempat mengeluh perutnya sakit sehingga selepas acar pernikahan Devan dan Devira mereka langsung menuju rumah sakit untuk mengecek keadaan Azkia.
Azka masih menunggu diruang ruangan, sedangkan Azkia masih didalam bersama dengan dokter kandungan.
Cukup lama Azka menunggu hingga seorang perawat yang membantu sang doter keluar, perawat itu memberitahu Azka agar masuk kedalam karena sang dokter akan menjelaskan kedaan Azkia.
"Gimana dok?" tanya Azka tang baru saja masuk kedalam ruangan, wajahnya benar-benar terlihat cemas.
"Bapak tenang dulu, ayo duduk sini dulu. Saya akan jelaskan semuanya." kata dokter yang bernama Ratna.
Azka menurut saja ia duduk dikursi yang sudah disediakan didepan meja sang dokter sedangkan Azkia masih tiduran diatas bankar.
"Jadi gimana keadaan kandungan istri saya dokter?" tanya Azka.
"Sebenarnya istri bapak—" dokter itu belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong oleh Azka.
Dokter Ratna mendengus kesal dengan sifat Azka yang tidak sabaran itu, ia memijit pelipisnya agar mengurangi rasa pusingnya.
"Dokter kok diem aja sih?" tanya Azka lagi karena Dokter Ratna hanya diam saja sejak tadi.
"Bagaimana saya mau bicara, kalau omongan sayaa selalu kamu potong," kata dokter Ratna.
Azkia yang mendengar itu hanya bisa terkekeh saja sedangkan Azka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf dok, saya sangat khawatir dengan keadaan istri saya!" kata Azka malu.
"Iya saya paham, jadi tolong dengarkan saya dulu dan jangan dipotong!" pinta sang dokter, Azkia mengangguk menyetujuinya
"Keadaan kandungan Azkia baik-baik saja, ia hanya kecapekan saja. Jadi kalau bisa diperbanyak istirahat, kurangi kegiatan yang tidak penting dan hindari kegiatan yang membuatnya cepat lelah," kata dokter Ratna.
"Baik dok," jawab Azka.
"Ini saya berikan beberapa vitamin agar memperkuat kandungannya dan kesehatan sang ibu," kata dokter Ratna sambil memberikan selembar kertas pada Azka.
"Baik, dok!" kata Azka.
"Sekarang Azkia sudah bisa dibawa pulang," kata dokter Ratna.
"Baik, dok!" kata Azka.
Sedangkan dokter Ratna menggelengkan kepalanya melihat kelakuan calon papa muda itu.
__ADS_1
"Astaga, Azkia kamu sabar sekali menghadapi suamimu yang seperti robot ini!" kata dokter Ratna yang menggelengkan kepalanya melirik Azkia.
"Hahaa!" tawa Azkia akhirnya pecah juga, karena sejak tadi Azkia sudah menahan tawa.
"Kenapa?" tanya Azka bingung sambil menghampiri sang istri yang masih tiduran diatas bankar.
"Lucu," kata Azka masih tertawa.
"Apanya yang lucu, Nyun?" tanya Azka.
"Kamu gak sadar, By? Dari tadi jawaban kamu itu seperti robot." Azkia berusaha duduk.
"Baik, dok! Baik, dok!" ledek Azkia sambil terkekeh diikuti snag dokter.
Azka yang menyadari itu hanya bisa senyum canggung, karena Azka benar-benar tidak sadar dengan jawabannya itu. Yang ada didalam pikirannya hanya keadaan Azkia dan juga buah hatinya itu.
"Baik, dok!" ledek Azkia lagi sambil dibantu Azka untuk turun dari bankar.
"Hati-hati," kata Azka.
Lalu Azka dan Azkia berpamitan pada sang dokter saat semua pemeriksaan selesai.
"Dok kami permisi dulu," kata Azka.
"Pemirsi dok dan terima kasih banyak atas waktunya," kata Azkia.
"Baik, Az!" jawab Dokter Ratna menirukan seperti Azka tadi yang membuat Azka malu.
"Eh maaf ya efek denger kata seperti itu terus kan jadi ngikut!" canda snag dokter.
"Haha iya dok, dokter bisa ngelucu juga," kata Azkia.
"Biar gak spaneng," ucap sang dokter sambil terkekeh.
Setelah itu Azka dan Azkia pulang kerumahnya, tapi Azka terlebih dahulu mampir ke apotik untuk menebus resep yang diberikan sang dokter.
Azka juga membeli beberapa vitamanin untik dirinya dan juga snag istri. Setelah selesai mengantri obat Azka masuk kedalam mobil ia memberikan satu kresek vitamin pada Azka.
Azka menatap Azkia sekilas, lalu perlahan ia mendekat dan mengusap pelan pertu Azkia yang sudah terlihat membesar itu.
"Ngapain?" tanya Azkia polos.
"Cuma mau kasih tau sama dia kalau disini ada papanya yang selalu jagain dia," ucap Azka sambil mengusap perut Azkia lagi.
Azkia menyunggingkan senyumannya mendengar penuturan Azka, ia sangat bersyukur menilik suami seperti Azka.
"Love you, By!" kata Azkia sambil mencium pucuk kepala Azka membuatnya diam mematung.
"I love you too, istriku!" bisik Azka.
"Suami idaman!" batin Azkia sambil menatap lekat wajah Azka
...----------------...
__ADS_1