Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Semoga Kamu Suka, Nyun!


__ADS_3

Azka sedang sibuk mengemasi barang-barang yang ia butuhkan disana, tidak banyak yang ia masukkan kedalam koper. Hanya barang-barang yang sangat dibutuhkan Azka saja, selebihnya ia akan membelinya disana.


Tiba-tiba saja ponselnya terus berdering menandakan ada panggilan masuk. Azka melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, dengan wallpaper foto Azkia.


Setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, membuat sudut bibir Azka melengkung ke atas. Seseorang yang sejak kemarin Azka rindukan, namun enggan untuk menghubungi terlebih dahulu. Dan sekarang ia sangat bahagia karena mendapat telepon itu.


Azka menggeser warna hijau pada layarnya, lalu menempelkan pada telinga kirinya. Tangan satunya masih sibuk mengamas barang.


"Halo?" ucap Azka saat sudah tersambung.


"Hebat, ya!" ucap seseorang diseberang sana.


"Hah, hebat apa?" tanya Azka bingung.


"Ya hebat gak ada kabar dari kemarin," cibirnya.


"Maaf," singkat Azka namun lagi-lagi sudut bibirnya terangkat keatas.


"Kamu itu peka dikit dong," gerutunya.


"Hmmm,"


"Jangan hmm doang, aku serius ini." suaranya terdengar kesal.


"Iya sayang." kata Azka lembut yang membuat perempuan diseberang sana menyunggingkan senyumnya.


Orang yang sedang berbicara di telepone adalah Azkia. Jujur saja Azkia sudah tidak betah jika tidak menghubungi pacarnya yang dinginnya melebihi es dan cueknya sama seperti tembok kamarnya.


Azkia menurunkan egonya, melapangkan dadanya untuk menghubungi Azka terlebih dahulu. Ia tidak sanggup jika hanya diam saja dan menunggu.


"Dengerin ya, pacarku yang gantengnya melebihi pak satpam sekolah hehe," canda Azkia.


"Cih, masa di samain sama pak satpam, gak ada yang lebih bagus lagi?" tanya Azka, tangannya masih sibuk merapikan perlengkapan yang akan ia bawa.


"Canda, jangan ngambek... pacarku paling ganteng selangit gak ada duanya. Tapiii..." ucap Azkia menggantung membuat Azka mengentikan aktifitasnya.


"Tapi apa?" tanya Azka penasaran.


"Tapi.... ngeselin banget! Masa tau pacarnya ngambek bukannya dibujuk kek atau di tanyain kenapa gitu biar gak maraha lagi. Lah ini, cuma diem aja, gak ada kabar pula." gerutu Azkia.


Azka hanya tersenyum sambil merebahkan tubuhnya diatas sofa, ia melirik koper yang masih terbuka. Berat itulah yang Azka rasakan jika bisa harus berangkat ke luar negeri.


"Azka, kamu dengerin gak sih?" suara kesal itu menyadarkan Azka.


"Denger kok, maaf! Gak ada niatan buat diemin kamu, aku cuma lagi banyak pikiran aja!" saut Azka sambil memijat pelipisnya.


"Hmmm, iya gak apa-apa kok. Lain kali jangan gitu lagi, kalau ada masalah cerita sama aku aja siapa tahu aku bisa bantu." kata Azkia.


"Iya, makasih." kata Azka.

__ADS_1


"Kamu sibuk, ya?" tanya Azkia.


"Dikit kok, kenapa? Kamu dah makan?" tanya Azka


"Belum dari pagi, hehe." suaranya terdegar lemas.


"Siap-siap gih, lima belas menit lagi sampai." ucap Azka.


"Eh, mau ap—" Tut! terdengar suara panggilan dari seberang sana.


"Kebiasaan banget belum selesai ngomong lansung di matiin, ngeselin!" Azkia melempar ponselnya lagi.


Kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas kasur, matanya terasa lelah karena sejak pagi hingga siang ia menatap layar laptopnya.


Sedangkan Azka meninggalkan barang-barang yang masih belum ia masukkan kedalam koper. Ia menyambar jaket jins yang tergeletak di dekatnya, tidak lupa kunci motor yang berada diatas nakas.


Saat melewati ruang tamu ia melihat Attaya dan Devan sedang asik bermain game, melihat Azka yang terlihat rapi membuat mereka berdua bertanya-tanya.


"Mau kemana?" tanya Attaya.


"Keluar!" singkat Azka.


"Udah packingnya?" tanya Devan.


"Belum." lalu Azka pergi begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaan sahabatnya lagi.


"Kalau belum kenapa keluar?" tanya Attaya.


"Biarin aja, ketemu kekasih hatinya.... YES MENANG!" Attaya berhasil mengalahkan Devan yang sedang lengah.


"Heh! Curang, ulang! Ulang lah, curang lo!" kesal Devan sambil menyikut lengan Attaya.


...........


Tidak berapa lama Azka sudah sampai di depan rumah Azkia. Ia memakirkan motornya, setelah melepas helm Azka melanglah menuju pintu utama.


Ting Tong!


Suara bel terdengar sangat nyaring, setelah beberapa saat muncul seorang perempuan paruh bawa yang masih terlihat cantik dari balik pintu bercat putih itu.


"Azka?" sapanya.


"Sore tante," sapa Azka sambil menyalami tangan mamanya Azkia.


"Sore juga, mau cari Azkia, ya? Ayo masuk dulu." ajak mama Lala.


"Iya tante." Azka mengekor dibelakang mamanya Azkia yang menyuruhnya duduk diruang tamu. Setelah itu beliau naik ke lantai dua untuk memanggil Azkia.


Terlihat seorang gadis cantik menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia terlihat sangat cantik dengan pakaian santai. Bahkan rambut yang biasanya di biarkan tergerai kini terikat rapi, menambah tingkat keimutannya.

__ADS_1


"Kirain cuma bercanda doang." kata Azkia setelah sampai di depan Azka.


"Udah siap?" Azka balik bertanya.


"Siap!" singkat Azkia, Azka tersenyum sedikit lalu ia berpamitan kepada mamanya Azkia.


Azkia hanya mengekor saja dibelakang Azka sambil sesekali mulutnya menggerutu tidak jelas.


"Dih kebiasaan banget ditanya apa jawabnya apa!" gerutu Azkia.


Setelah berpamitan Azka memakaikan helm pada kepala Azkia, tak butuh waktu lama motor sport itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Mau makan apa?" tanya Azka.


"Hah!" Azkia tidak dapat mendengar dengan jelas suara Azka membuat Azka harus mengulang pertanyaannya.


"MAU MAKAN APA?" teriak Azka agar Azkia mendengarnya.


"Hah! Masak apa?" tanya Azkia.


"Cih!" Azka mendengus kesal, lagi-lagi Azkia tidak mendengar dengan jelas.


Tanpa bertanya lagi Azka membawa Azkia ke Cafe biasanya, disana memang banyak pilihan menu sehingga Azkia bisa memilih menu yang ia sukai.


Setelah sampai di depan Cafe, Azkia terlihat bingung. Azkia membuka kaca helm tanpa berniat melepasnya.


"Ngapain kesini?" tanya Azkia.


"Berenang!" jawab Azka santai.


"Hah masa mau berenang kan aku gak bawa baju, terus ini Cafe kan ramai ya kali berenang disini. Malu lah!" cerocos Azkia mengamati keadaan sekitar.


Azka malas menanggapinya, ia lebih memilih melepaskan helm yang dikenakan Azkia terlebih dahulu. Setelah itu tangannya menggandeng Azkia untuk masuk kedalam Cafe.


Kali ini Azka memilih tempat indoor, mengingat cuaca yang sedikit mendung. Ia tidak ingin Azkia sampai jatuh sakit jika berada di lantai atas, mengingat angin sore ini bertiup cukup kencang.


"Pesan aja sesuka kamu!" perintah Azka sambil membolak-balikkan buku menu.


Azkia melakukan hal yang sama, matanya terlihat berbinar saat di lihat banyak menu baru yang menurutnya adalah semua makanan favoritnya.


"Gila, menu baru di Cafe ini kenapa semuanya makanan kesukaan ku.. Kan jadi khilaf kalau kaya gini," gerutu Azkia sambil membolak-balikkan buku menu.


"Eh ini juga minuman favoritku!" ucap Azkia sangat antusias.


"Pesan aja semua kalau mau." ucapan Azka membuat Azkia tersenyum bahagia.


Azka pun juga sama, ia menyungingkan senyumannya sambil menatap Azkia.


"Semoga kamu suka, Nyun!" batin Azkia.

__ADS_1


...--------------------------------...


Hari Senin, jangan lupa tinggalkan vote gratisnya dan like coment kaka!


__ADS_2