Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Azka Sakit


__ADS_3

Suasana hangat sangat terasa di meja makan itu, canda tawa terlihat begitu penuh kasih sayang diantara mereka semua. Terkadang perselisihan ayah dan anak saat rebutan lauk saja bisa membuat mereka lebih dekat. Azka yang berada disana bersama keluarga Azkia pun hanya diam saja sambil melihat kehangat keluarga Azkia.


"Kapan keluarga gue seperti mereka.." batin Azka melihat pemandangan yang jarang di temukan jika di rumahnya.


"Loh kenapa bengong Nak.. Ayo ini makan yang banyak biar cepet pulih badannya.." ucap Mama Azkia sambil menaruh ayam goreng diatas piring Azka.


"I-iya tante, makasih.." ucap Azka sambil menarik nafas panjang.


"Sepertinya kita pernah ketemu ya?" tanya papah Azkia


"Dimana ya om?" tanya Azka


"Hah papa pernah ketemu orang nyebelin ini dimana?" tanya Azkia


"Hussttt kalo ngomong itu yang baik Ki.." bentak mama.


"Iya - iya mah.." jawab Azkia sambil cemberut.


"Itu loh waktu papa kecopetan, kan papa pernah bilang kalo ada anak muda yang bantuin papa dan di juga jago beladiri.. Papa aja sampe bengong liatnya padahal kan lawan preman yang badannya gede.." cerita Papa sambil mengingat kejadian waktu itu.


"Oh iya Azka inget, jadi om yang waktu itu?" tanya Azka


"Iya, waktu itu makasih banget loh udah nolongin.."


"Sama - sama Om.." ucap Azka sambil mengangguk.


"Nah kan bener pilihan mamah gak salah kan pah..?" tanya mama kepada suaminya.


"Iya bener mah, kalo ini papah bisa tenang.." ucap papa dan mama yang penuh teka teki.


"Maksut papa?" tanya Azkia menyelidik.


"Bukan apa - apa sayang, udah buruan di habisin makannya.."


Makan malam kali ini terasa berbeda untuk Azka, karena malam ini dia bisa merasakan makan malam yang hangat yang sudah lama Azka rindukan. Andai orang tuanya tidak sibuk pasti bisa seperti ini, walaupun jarang.


Setelah makan malam, Pak Sam mengantarkan Azka pulang ke rumahnya. Terlebih dahulu Azka berpamitan kepada orang tua Azkia, dan mengucapkan terimakasih karena saat Azka sakit dia mendapatkan perhatian seorang ibu yang sangat Azka rindukan. Apalagi ayah Azkia yang ramah terhadapnya. Rasa hangat itu bisa masuk kedalam hati Azka yang sudah lama membeku.

__ADS_1


"Om tante, Azka pamit pulang dulu makasih untuk makan malamnya.." ucap Azka sambil mencium tangan orang tua Azkia bergantian.


"Iya, sering - sering main kesini ya.." ucap MamaAzkia sambil mengelus lengan Azka.


"Iya tan, nanti diusahakan ya.."


"Nanti kalo main kesini kamu harus ajarin om beladiri, biar jago kaya kamu.." ucap papa Azkia.


"Siap Om..!"


"Hilih jelas jago lah orang dia hobby nya cari masalah.." sindir Azkia sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


"Hmm..." malas Azka


"Azkia! Gak boleh kayak gitu.." tegur Mama


Setelah itu Azka pulang kerumahnya diantar oleh Pak Sam, sebenarnya Azka ingin naik taxi saja numun mama Azkia melarangnya dan memaksa Azka pulang di antar Pak Sam.


.........


Rumah Azka


"Baru pulang nak..?" tanya Bibi


"Iya Bi, tolong siapkan air anget ya Azka mau mandi.. Azka sedang tidak enak badan Bi.." perintah Azka lembut.


"Baik, tunggu sebentar ya.. Mau di bikinin bubur juga?" tanya Bibi sambil menutup pintu.


"Gak usah Bi tadi Azka udah makan dirumah temen.." jawab Azka sambil merebahkan badan di sofa ruang tamu.


"Kalo gitu mau Bibi bikinin jahe susu? Biar angetan badannya..?" tanya Bibi


"Boleh Bi.." jawab Azka sambil memejamkan matanya.


"Oh ya Bi, Papah sama Mama belum ada kabar kapan pulangnya..?" tanya Azka sebelum Bibi benar - benar menghilang dari ruang tamu.


"Mungkin minggu depan sudah balik nak Azka, yang sabar aja.." ucap Bibi sambil menahan air matanya saat Azka menanyakan kapan orang tuanya kembali dari perjalanan bisnis.

__ADS_1


Bibi sudah menemani Azka sejak kecil jadi Bibi mengatahui benar bagaimana sifat Azka dan kelakuannya. Bibi merasa wajar saja karena sikap Azka yang sekarang itu hanya semata - mata mencari perhatian dari orang tuanya. Azka merindukan saat - saat dia bisa bercanda tawa seperti dulu sebelum kedua orang tuanya sesibuk ini.


Setelah mandi Azka merebahkan badanya diatas kasur, memandang langit - langit kamar yang samar teringat kejadian saat dirumah Azkia tadi. Tanpa sadar bibir Azka tersenyum simpul sambil mengingat kejadian tadi, apalagi orang tua Azkia lebih perhatian kepada Azka membuat Azkia cemberut terlihat lucu.


Tok tok tok


Suara pintu kamar di ketuk membuyarkan lamunan Azka, Azka menyuruhnya masuk. Ternyata Bibi yang mengetuk pintu membawakan Segelas jahe susu untuk Azka.


"Ini jahe susunya den.." ucap Azka


"Taruh situ dulu Bi.. Azka masih pusing.." ucap Azka


"Mau di panggilkan dokter?" tanya Bibi yang terlihat khawatir.


"Gak usah Bi, nanti juga sembuh kalo udah tidur.. Mungkin Azka cuma kecapekan saja.." tolak Azka karena Azka memang susah jika berhubungan dengan obat - obatan.


"Baiklah, kalo ada apa - apa panggil Bibi saja.." pinta Bibi yang merasa sedih melihat Azka sakit.


"Hmmm.." ucap Azka sambil memejamkan matanya


Ddrrrttt dddrrrrttt


Suara dari hp Azka terus berbunyi memecahkan keheningan dalam kamar Azka. Berulang kali berbunyi namun tetap saja tidak ada jawaban, dan akhirnya si penelepone menyerah tidak menghubungi lagi.


Kepala Azka terasa berat, badanya sakit semua di tambah kurangnya istirahat membuat Azka menjadi drob. Badannya pun terasa panas, bibirnya mulai pecah - pecah. Bibi yang melihat itu mau tidak mau memanggil dokter keluarga Azka untuk datang dan memeriksa Azka.


Tanpa Azka ketahui ternyata bibi juga menghubungi orang tuanya, memberitahukan jika Azka sedang sakit. Setelah menerima telepone dari bibi ornag tua Azka segera bergegas mencari tiket pesawat untuk pulang ke rumah.


Azka di beri obat lewat suntikan karena Azka memang anaknya susah sekali untuk minum obat, bahkan sampai obatnya di buang ke tong sampah agar tidak meminumnya.


Setelah doker pulang, Bibi mengompres jidat Azka agar panasnya segera turun. Bibi memandang wajah Azka yang sedang sakit, bibirnya terlihat pucat dan pecah - pecah. Luka lebam bekas tonjokan Bobo pun masih terlihat, tak jarang Azka mengigau memanggil mamanya membuat Bibi semakin sedih melihatnya.


"Kasian sekali kamu den, mungkin kamu rindu dengan orang tua mu sampai memimpikan mereka dalam tidurmu.. Tapi tenang saja sebentar lagi mereka akan pulang.." ucap Bibi sambil meneteskan air mata karena sedih melihat Azka saat sakit seperti ini.


.


..."Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu"...

__ADS_1


.


Azka sakit nih gimana dong?


__ADS_2