Bad Boy Bucin

Bad Boy Bucin
Awas, tunggu pembalasan


__ADS_3

Azka, Attaya dan Devan mendapatkan hukuaman dihari pertamanya masuk sekolah, tidak ada maaf untuk mereka karena memang sudah menjadi peraturan sekolah. Sesekali Azka mengusap dahinya yang sudah penuh dengan kringat, begitu juga dengan kedua sahabatnya itu.


"Cukup, kalian boleh kembali." ucap Rayhan.


Mereka bertiga dihukum selama satu jam pelajaran di tambah saat upacara tadi, itu sudah cukup lama untuk mereka bertiga.


"Akhirnya, lengan gue sampai kram." keluh Attaya sambil mengibaskan lengannya agar tidak kram lagi.


"Sama." kata Azka.


"Gak lucu banget sih kita, baru masuk udah di hukum." Devan menggelengkan kepalanya meratapi nasibnya.


"Dahlah balik yuk." ajak Attaya dan di angguki oleh mereka berdua.


Sepanjang koridor kelas masih sepi karena saat ini belum menunjukkan jam istirahat, dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang mengamati mereka bertiga.


"Kok tiba - tiba horor gini." kata Devan sambil memegang tengkuknya.


"Azka sayang!" teriak seseorang dari belakang mereka bertiga.


"Nah kan horor!" ucao Devan lagi.


Suara cempreng itu sudah sangat mereka kenali, karena suara itu yang selalu menganggu Azka. Azka lebih memilih melanjutkan langkagnya, ia tidak mau memperdulikan suara yang memanggilnya itu.


"Azka, tungguin dong!" teriaknya.


"Sayang kenapa jalan terus sih?" Siska berhasil menarik pergelangan tangan Azka, membuatnya berhenti dengan wajah datarnya.


Orang yang berteriak itu adalah Siska Kumalasari, seseorang yang tidak pernah lelah mengganggu Azka. Tepatnya untuk mendapatkan hati Azka.


"Apaan sih!" bentak Azka sambil mengibaskan tangannya yang di pegang oleh Siska.


"Kangen, udah hampir sebulan gak ketemu." tangannya menarik lengan Azka dan memeluknya erat.


"Apaan sih!" kesal Azka sambil berusaha melepaskan tangan Siska.


"Kantin yuk, gue traktir... pasti kalian hauskan?" ajak Siska.


"Haus sih." jawab Attaya.


"Ayo, Ka... sekalian kangen - kangenan." ucap Siska dengan manja.


"Gak!"


"Masa lo gak kangen sama gue yang cantik ini." bujuk Siska lagi.


"Gak!" ucap Azka dengan tegas yang membuat Devan dan Attaya tertawa.


"Gak papa kalo gak kangen, kan gue yang kangen sayang." kata Siska, dia tidak mudah menyerah begitu saja.


Dari kejahuan terlihat Azkia dan Devira, mereka sedang membawa beberapa buku. Tadi mereka berdua disuruh wali kelasnya untuk mengambil beberapa buku dari perpustakaan sekolah.


"Eh Ki, lo liat deh itu bukannya pacar lo ya?" tujuk Devira pada beberapa orang di depan mereka.


"Iya, ngapain tuh sama nenek sihir?" tanya Azkia sambil menjamakan matamya.


"Digodain kali." kata Devira asal.


"Cih, samperin!" Azkia melangkah kan kakinya mendekat kearah Azka dan Siska. Semakin mendekat Azkia bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ayo lah, Ka gue traktir ... kalian berdua juga." Siska mencoba menunjukkan wajah manisnya untuk membuat Azka luluh, namun sayangnya masih sama saja Azka tetap kekeh dengan pendiriannya.


Azkia kesal saat mendengar perkataan Siska, lalu dia memberikan semua buku yang ia bawa kepada Devira.


"Bawa dulu, ya!" perintah Azkia.


"E-eh ini bera—" Devira malas melanjutkan perkataannya karena sudah melihat punggung Azkia yang sudah menjauhinya.

__ADS_1


"Sialan, gue ditinggalin sama buku - buku paket ini." keluh Devira sambil berusaha menyusul Azkia.


"Lo masa gak kangen sama gue, Ka... padahal gue tuh kangen banget sama lo, sampe gue mimpiin lo." ucap Siska sambil menarik tangan Azka agar mengikutinya.


"Lepas!" bentak Azka.


"Untung lo cewek, kalo cowok udah habis sama gue!" lanjut Azka.


Devan dan Attaya hanya diam melihat pertunjukan itu, mereka merasa terhibur karena sudah lama mereka tidak melihat drama percintaan ini setelah libur semester.


"Emang kenapa kalo cewek, lo gak berani pukul gue kan." ucapnya sambil tersenyum sidikit mengejek.


"Berani!" ucapan Azkia begitu terdengar mengintimisasi.


Azkia langsung menyerobot lengan Azka agar bisa terlepas dari Siska, dan kini Azkia lah yang memeluk erat lengan Azka.


Azka hanya bisa diam melihat tangannya dipeluk erat oleh pacarnya, secara tidak sadar Azka tersenyum tipis hingga tidak terlihat jika dia sedang tersenyum.


"Azka mungkin gak bisa mukul lo, tapi gue bisa!" kata Azkia percaya diri, setiap kata yang ia ucapkan penuh dengan kekesalan.


"Azka itu punya gue, minggir gak!" bentak Siska sambil mendorong tubuh Azkia kebelakang.


Sayangnya pertahanan Azkia terlihat kuat, dia masih mampu menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terhuyung kebelakang.


"Lo siapa?" tanya Azkia dengan tersenyum sinis.


"Gue pacarnya!" ucap Siska.


"Ngaca mbak, dirumah gak ada kaca ya? Perlu gue beliin? Berapa, lima cukup?" tanya Azkia sambil terkekeh.


Perkataan Azkia membuat Siska semakin tertohok dan marah, sesekali siska mengumpat didalam hatinya.


"Lo berani ya!" tangan Siska sudah terangkat keatas dan siap untuk menampar pipi mulus Azkia.


Dengan cepat Azkia melepaskan pelukannya, dia menangkap tangan Siska saat tangan itu hampir menyentuh pipinya. Kemudian mengayunkan tangan Siska menuju pipi Siska sendiri.


Suara tamparan yang sangat keras itu membuatnya meringis kesakitan.


"Awh." keluh Siska sambil mengusap pipinya yang tertampar oleh tangannya sendiri.


"Enak kan?" tanya Azkia sambil tersenyum manis, namun terlihat sadis.


"Gila, nih cewek berani banget sama gue... awas ya lo gue bales." batin Siska.


Azka yang ingin membantu hanya cengoh dibuatnya, begitu juga dengan Attaya dan Devan.


Plok Plok


Terdengar suara tepuk tangan dari Devan dan Attaya yang melihat keberanian Azkia.


"Keren!" ucap mereka berdua sambil mengacukungkan kedua jempol tangannya.


"Udah yuk, jangan lama - lama sama nenek sihir nanti ikutan kriput." ajak Azkia, sambil tersenyum sinis kearah Siska.


Azka mengikuti langkah kaki Azkia, ada senyum yang terpancar dari bibir tipis itu. Dia tidak menyangka jika Azkia akan seberani itu, apalagi hal yang dilakukannya tadi membuatnya takjub.


"Awas lo ya BAKPIA! Tunggu pembalasan gue!" teriak Siska sambil menghentakkan kakinya, kemudian dia pergi menuju kelasnya.


Saat berbalik Siska melihat Devira dan dengan sengaja Siska menyenggol bahu Devira, membuat semua buku yang ia bawa jatuh ke lantai.


"Shit! Kalo jalan pake mata! Dasar nenek lampir!" kesal Devira sambil merapikan kembali buku - buku yang berserakan di lantai.


Devan membantu mengumpulkan buku itu, setelah terkumpul ia tidak menyerahkannya kepada Devira melainkan ia bawa sendiri.


"Mana gue aja, tadi gue yang disuruh!" tangan Devira berusaha mengambil tumpukan buku yang sudah berada di dekapan Devan.


"Gue aja." ucap Devan lembut.

__ADS_1


"Hah, yaudah terserah." mereka berdua berjalan menuju kelas dan meninggalkan Attaya sendirian.


"Woy gue jangan ditinggalin, jomblo kenapa horor gini." ucap Attaya sambil berlari kecil menyusul Devan.


Sedangkan Azka dan Azkia sudah berada di depan pintuk kelas namum mereka belum juga masuk kedalam kelas. Azka heran melihat tingkah Azkia yang hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya tidak seperti tadi saat melawan Siska.


"Kenapa?" tanya Azka.


"Tangan gue masih gemetaran, ga-gak nyangka banget sampai kaya gitu tadi." Azkia menunjukkan tangannya yang masih bergetar setelah perkelahiannya dengan Siska tadi.


"Cih, tadi aja sok - sokan kaya pahlawan sekarang gemetaran." ejek Azka sambil terkekeh.


"Ih, ngeselin banget sih.. udah di bantuin juga." kata Azkia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya - iya makasih ya, jelek!" ucap Azka sambil mengacak - acak rambut Azkia pelan.


"Kalian kenapa gak masuk?" pertanyaan itu sukses membuat Azka dan Azkia kaget.


Perlahan mereka berdua menoleh kearah belakang, terdapat Pak Slamet yang telah beridiri dibelakang mereka dengan wajah garangnya.


"Ini juga mau masuk pak!" jawab Azka.


"Awh awh." keluh mereka berdua karena telinga mereka berdua telah dijewer oleh Pak Slamet selaku guru BK.


"Sa-sakit, pak!" keluh Azkia.


"Lepasin pak, pacar saya kesakitan itu." ucap Azka spontan yang berhasil membuat pipi Azkia merona.


"Ohh jadi kalian gak masuk kelas, malah pacaran di depan kelas gitu!" bentak Pak Slamet.


"Bukan gitu pak!" ucap Azka.


Attaya, Devan dan Devira tertawa saat mereka baru saja sampai di depan kelas, dan di suguhi pemandangan yang lucu itu.


"Kalian kenapa bengong disitu, mau saya jewer juga?" tanya pak Slamet penuh intimidasi.


"Ga-gak mau pak!" ucap Attata berlari masuk kedalam kelas.


"Gak usah pak makasih." ucap Devan sambil mengangguk memberi salam kepada pak Slamet, kemudian mengikuti Attaya masuk kedalam kelas.


"Kasian wlee." ejek Devira kepada Azkia.


"Pak, itu Ira ngejek saya pak." adu Azkia kepada pak Slamet.


"Gak pak bohong." Devira langsung berlari kecil masuk kedalam kelas.


"Pak, lepasin malu." bisik Azka.


Pasalnya mereka berdua menjadi tontonan siswa lain yang baru saja selesai berolahraga.


"Iya pak kita gak akan ngulangin lagi iya kan, Ka!" ucap Azkia sambil memohon sedangkan Azka mengangguk patuh.


"Janji?" tanya pak Slamet.


"Janji!" ucap mereka berdua kompak kemudian saling pandang dan terkekeh.


Pak Slamet melepaskan jewerannya sambil menggelengkan kepalanya melihat kedua siswa itu. Telinga mereka terlihat memerah karena jeweran yang cukup lama itu.


"Lama - lama telinga gue kaya telinga gajah." keluh Azkia saat sudah duduk dibangkunya.


"Lebar dong." kata Azka sambil terkekeh.


"Hih nyebelin!" kesal Azkia sambil menjewer telinga Azka.


............


"Jangan menjadi payung untuk seseorang yang menyukai hujan, tapi jadilah air agar kamu bisa bersamanya :)"

__ADS_1


~е н~


__ADS_2